Hidup Bintang berubah drastis ketika dirinya terjebak di dalam sebuah lift apartemen mewah yang mendadak berhenti di tengah-tengah gedung. Di tengah melawan rasa paniknya itu, dia menyadari ada seorang pria tampan yang juga berada dalam lift yang sama. Pria tampan itu membantunya mengatasi penyakit yang dia derita, yaitu Claustrophobia.
Ketika listrik kembali menyala dan kesadarannya telah pulih kembali, Bintang mendapati dirinya berada dalam kamar tidur pria tampan itu. Karena sangat shock dan malu, akhirnya Bintang berhasil kabur dari apartemen pria itu. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Bintang sangat terkejut karena si pria tampan ini berhasil melacak dirinya dan datang menemuinya.
Bintang berusaha keras untuk menolak keberadaan pria tampan itu dalam hidupnya. Mungkinkah Bintang menolak sentuhan hangat dari pria tampan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evita Lin 168, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Itu adalah sebuah kecelakaan saja buatku. Tidak ada yang lain.” Kata Bintang yang sedang menyembunyikan pergumulan dalam batinnya saat ini. Sebagian dia senang mendengar perkataan pria itu dan sangat ingin mempercayainya. Tetapi sebagian lagi dia tidak ingin memperdulikan perkataan pria ini. Bahkan dia tetap waspada pada pria ini. “Kita telah terjebak di dalam situasi yang sulit untuk dibahas.”
“Sebenarnya kita sama sekali tidak terjebak pada situasi apa pun. Sekarang kita tidak sedang berada di dalam lift, tidak ada listrik yang padam atau pun Claustrophobia. Saat ini siang bolong dan matahari sedang bersinar dengan terangnya. Jika ini adalah sebuah kecelakaan, seperti yang kamu katakan barusan, kenapa saat ini aku menginginkanmu lebih daripada sebelumnya?”
Felix mengatur posisinya sedemikian rupa sehingga Bintang tidak dapat mengabaikan kekuatan gairah pria itu. Pria itu menempel pada tubuh pada tubuh Bintang. Sementara bagian tubuhnya yang sensitif mulai merespon gairah itu.
“Kamu menginginkan aku karena bayi ini. Hanya itu, bukan?” Tanya Bintang pada pria itu.
Bibir Felix menyebarkan rasa hangat di bibir Bintang, pipi dan dagunya. “Yang ini tidak ada hubungannya dengan bayi yang sedang ada dalam rahim kamu.” Kata Felix geram sambil merapatkan tubuh mereka. “Sekarang hentikan kekonyolan itu dan berikan aku ciuman mesramu, Bintang.”
Setelah Bintang mengeluarkan erangan protes pada pria itu, akhirnya dia membiarkan Felix mempersatukan bibir mereka dengan penuh hasrat. Felix menekankan bibirnya pada bibir Bintang, mengusap bibir wanita itu dengan lidahnya sampai merekah.
Ciuman itu membuat hasrat Bintang mengalir deras di sekujur tubuhnya, seakan meruntuhkan benteng pertahanan dan penolakan Bintang yang paling kokoh. Dia mulai merasa terhanyut dengan perasaan yang tidak mampu dilawannya. Perasaan pasrah sekaligus perasaan aman yang pernah dialaminya saat berada di dalam pelukan pria itu.
Erangan penuh hasrat tiba-tiba saja terlontar dari kerongkongan saat Bintang melingkarkan tangan di leher Felix. Lalu dia mendesah pelan. “Ya, begitu, Bintang! Jangan ditahan-tahan! Percayalah padaku. Mendekatlah padaku seperti yang kamu lakukan malam itu.”
Kecupan dari pria itu terasa sangat lembut di bibir Bintang. Bisikan-bisikan dari pria itu juga terasa sangat menggoda, membuat Bintang bergetar penuh kerinduan. Tanpa disadari, Bintang mulai memanggil nama pria itu.
“Ya ampun!” Desah Bintang beberapa saat kemudian. Sementara Felix sibuk mematuk bibir atas Bintang. “Kenapa kamu lakukan ini padaku?”
Felix berlagak salah paham. “Karena kamu sangat mempesona, hangat dan lembut. Karena kamu juga sangat menyenangkan untuk dilihat, disentuh bahkan dicicip. Karena kamu juga menerima aku jauh di dalam hatimu, sampai sekarang aku memiliki bayi.”
“Maksudku bukan itu.”
“Aku tahu. Tetapi intinya sama saja.” Bibirnya membelai telinga Bintang saat dia membisikkan kata-kata itu. Bahkan hembusan napas pria itu terasa bagaikan belaian. Bintang mendongak dengan kepasrahan.
Bintang mengenakan baju hijau lumut dengan kerah berwarna putih. Di depan gaun itu terdapat sederet kancing mutiara.
Sambil membisikkan rayuan, tangan Felix sibuk membuka kancing-kancing itu. Pria itu menyelipkan tangannya di balik baju Bintang dan mulai menyentuh kedua gunung kembar miliknya yang dibalut bra nilon itu. Momen penuh keajaiban itu hancur berkeping-keping dan tubuhnya tiba-tiba saja menjadi menegang dalam pelukannya. “Jangan!” Kata Bintang penuh ketakutan, tetapi dia tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu.
Kata-kata yang diucapkan pria itu terdengar penuh kelembutan dam membujuk, “Bintang, bukankah tidak salahnya jika sepasang insan saling memadu kasih.”
“Kita bukan sepasang insan.”
“Ya, kita bukan sepasang insan. Tetapi, kita adalah sepesang kekasih yang sedang memadu kasih. Kamu sedang mengandung anakku. Aku juga pernah menyentuhmu, bukan?” Kata Felix sambil mengecup bibir Bintang. “Aku ingin menyentuhmu lagi, bahkan ingin menyentuh gunung kembarmu yang menggiurkan itu.”
“Kamu tidak boleh melakukan itu lagi sekarang.” Kata Bintang mengajukan protes pada pria itu. Padahal dia sedang merasakan sentuhan pria itu sangat nyaman dan hangat di tubuhnya.
“Kenapa tidak boleh? Aku pernah melakukannya bahkan sampai sekarang. Aku juga pernah menciummu.” Kata Felix sambil mengusap-usap puncak dada Bintang, yang langsung mengeras seketika itu juga. “Aku juga pernah membelaimu dengan lidahku.” dia berusaha menahan erangannya dalam pelukan hangat pria itu.
Melalui baju kaos pria itu, merasakan tekstur bulu-bulu halus di dadanya. “Aku hanya ingin diizinkan menyentuhmu sekarang. Semalam suasana di kamar sangat gelap dan kita memakai selimut. Aku ingin menyentuhmu di siang hari bolong, seperti ini, melihat tanganku menyentuh tubuhmu. Dan melihat tanganmu menyentuh tubuhku.”
Felix mulai mencium leher Bintang dengan hidung dan bibirnya serta mengusap telinga wanita itu dengan lidahnya.
Sentuhan itu tidak lagi menakutkan bagi Bintang. Tetapi malah meredakan ketakutannya. Sensasi samar-samar dan kabur sekarang seolah-olah berlomba-lomba untuk muncul dalam ingatannya. Puncak dadanya menegang, seakan-akan memohon agar Felix tidak menghentikan sentuhannya.
Ketika Felix berhasil membuka bibir Bintang dan membelai rongga mulut wanita itu dengan lidahnya, maka runtuhlah sisa-sisa keragu-raguannya. Perasaan tegang yang tadinya membelenggu dalam diri Bintang seketika itu juga luluh dan dia mulai larut dalam kenikmatan itu. Dia diam-diam dapat merasakan perubahan yang tiba-tiba itu sekarang menggeram senang.
“Sayang, jangan pernah takut padaku! Jangan pernah!” Bisik Felix pada telinga Bintang.
Pada saat itu, Bintang pun tidak merasakan takut sedikit pun. Dia menyelipkan tangannya di balik baju kaos pria itu serta mengalungkan tangannya ke leher pria itu.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu. Sementara tubuh maskulin pria itu menempel erat dengan tubuh femininnya yang lembut. Apa yang terjadi pada dirinya setiap kali bersama dengan pria itu?
Mengapa dia hanya mau menanggapi pria itu dan bukan dengan pria lain? Bintang sama sekali tidak tahu jawabannya. Dia tidak punya jawaban atas pertanyaannya itu. Dan sekarang dia sedang tidak ingin mencari jawaban atas pertanyannya itu.
Pria itu menjauhkan diri. Kemudian tangannya mengusap lembut gunung kembar milik Bintang dengan sikap yang posesif. Sambil menatap lekat-lekat mata Bintang yang indah, dia mengancingkan kembali baju wanita itu. Sorot mata Bintang seolah-olah memancarkan sebuah pertanyaan yang tidak terucapkan.
“Ini adalah proses belajar.” Sahut Felix pelan sambil mengusapkan bibirnya ke bibir Bintang. “Aku ingin kamu belajar mempercayaiku, sedikit demi sedikit.” Dia menarik napas dalam-dalam. “Sementara bagiku ini adalah ujian berat.”
Wajah Bintang merona sehingga dia menundukkan kepalanya. Felix tertawa lalu memeluk Bintang dengan erat sambil mengayunkan tubuhnya.
Felix menjauhkan tubuhnya, memaksa wanita itu memandang ke arah lurus pada matanya. Jemarinya menyelusuri lekuk bibir bawah Bintang yang masih terasa hangat dan sensitif akibat ciumannya tadi.
Kemudian dengan suasana hati yang tiba-tiba berubah, Felix menepuk pantat Bintang sambil berkata, “Sebaiknya kamu mandi dan berganti dengan baju yang lebih nyaman. Sementara aku akan membereskan kerjaan aku yang belum aku selesaikan tadi. "