Cerpen ini ditulis dari sebuah kisah nyata seorang wanita yang mencintai seorang pria yang sama sekali tidak dia kenali secara benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirfa Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Marsha Untuk Richard
Richard,
Aku menulis surat ini di antara senyap yang menahan napas. Mungkin kamu tak akan pernah membacanya. Tapi aku tetap ingin menulis, karena ada luka-luka yang tak bisa sembuh jika hanya dipendam.
Selama ini aku berpikir bahwa cinta adalah tentang menemukan seseorang yang tepat. Tapi ternyata, cinta lebih sering tentang bagaimana kita bertahan di antara ketidaktepatan yang kita pilih sendiri.
Aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah bisa mengingkari itu. Tapi aku juga mencintai diriku sendiri. Dan mencintai diriku berarti belajar melepasmu—bukan karena kamu tak pantas dicintai, tapi karena aku terlalu lama menjadikanmu alasan untuk menyakiti diriku sendiri.
Kamu datang dengan nama palsu, dengan cerita yang setengah nyata. Tapi cinta yang kamu beri terasa sungguh-sungguh. Aku ingin percaya, kamu juga terluka saat menyakitiku. Dan itu cukup untukku berdamai.
Aku tidak menulis ini untuk membuatmu merasa bersalah. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa perasaan bukan sesuatu yang bisa dihapus dengan logika. Tapi juga bukan sesuatu yang harus kita jaga jika hanya membuat kita tenggelam.
Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan kebohongan. Tapi saat aku mulai mengira bahwa aku tidak cukup baik untuk menerima kebenaran. Aku mempertanyakan seluruh diriku, Richard. Apa aku terlalu banyak tanya? Apa aku terlalu cepat jatuh cinta? Tapi kemudian aku sadar, masalahnya bukan padaku. Kamu hanya belum selesai dengan dirimu sendiri.
Sekarang aku memilih untuk pergi. Bukan untuk melupakanmu, tapi untuk mengingat diriku yang dulu hilang karena terlalu sibuk mencintaimu.
Terima kasih karena pernah memelukku saat aku rapuh. Terima kasih karena pernah mengajakku menari di tengah badai. Tapi badai itu terlalu sering kamu ciptakan sendiri.
Jika suatu hari kamu bertemu perempuan lain, kuharap kamu tidak lagi menyembunyikan siapa dirimu. Biarkan dia mencintaimu karena kamu—bukan karena topeng yang kamu pakai.
Dan jika kamu kesepian, ingatlah bahwa pernah ada seorang perempuan yang mencintaimu dalam diam, bahkan ketika kamu memilih pergi.
Salam hangat, dari perempuan yang akhirnya belajar menutup pintu, bukan karena benci, tapi karena cinta yang sudah cukup.
Marsha.
Seminggu setelah kepergian Marsha, rumah tua di pinggir perbukitan itu kembali sepi. Tidak ada suara langkah kaki di pagi hari, tidak ada aroma teh chamomile, dan tak ada suara tawa kecil di sela angin sore. Richard menjalani hari-harinya seperti hantu. Ia makan seadanya, tidur hanya ketika tubuhnya tak sanggup menopang kesedihan, dan berbicara hanya pada udara.
Ia belum berani menyentuh apapun yang Marsha tinggalkan. Selimut di sofa masih berlipat seperti terakhir kali, mug teh masih terbalik di atas serbet, dan sapu tangan kecil berwarna krem tergantung di sisi kursi rotan.
Namun pagi itu, ada angin kencang yang datang membawa sesuatu dari loteng. Sebuah buku catatan kecil jatuh dari celah rak tua yang lapuk, tepat di dekat kaki Richard. Ia memungutnya, tanpa niat khusus—sekadar dorongan dari rasa bosan yang tak bisa dihindari.
Kulit buku itu sudah mulai usang, dengan pita penanda yang kusut dan kertas yang kekuningan. Di halaman pertama, tulisan tangan Marsha menyapa dalam tinta ungu yang khas.
"Untuk siapa pun yang menemukan ini: mungkin kau menemukan luka. Tapi yakinlah, luka yang dituliskan adalah luka yang perlahan akan sembuh."
Richard terpaku. Jari-jarinya bergerak perlahan membuka halaman demi halaman. Dan di tengah buku itu—terselip surat yang dilipat rapi, dengan judul kecil di sudut kanan: “Surat yang Tidak Pernah Dikirim”.
Ia membaca nama di atasnya.
Untuk: Richard.
Tangannya gemetar. Detak jantungnya seperti genderang di ruang sunyi.
Satu per satu kalimat Marsha dibacanya. Perlahan. Berulang. Setiap kata seperti peluru kecil yang menembus pelindung yang selama ini ia bangun. Ia tersenyum getir saat membaca bagian tentang topeng. Ia tertunduk ketika membaca kalimat “Aku terlalu lama menjadikanmu alasan untuk menyakiti diriku sendiri.”
Dan ketika sampai di bagian akhir—“Jika kamu kesepian, ingatlah bahwa pernah ada seorang perempuan yang mencintaimu dalam diam...”—air matanya jatuh tanpa suara.
---
Malam harinya, Richard menyalakan perapian untuk pertama kalinya sejak Marsha pergi. Ia duduk di kursi kayu itu lagi, memandangi halaman kosong di buku catatan yang sama.
Ia mengambil pena.
Balasan surat.
Marsha,
Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu. Tapi aku merasa aku harus menulisnya. Bukan untuk mengubah segalanya. Tapi untuk menjahit yang sudah sobek, walaupun tidak bisa kembali utuh.
Kamu benar. Aku belum selesai dengan diriku sendiri. Aku datang padamu dengan kebohongan karena aku takut. Aku takut kamu akan menolak ku jika kamu tahu aku hanya seorang pria yang lari dari nama dan sejarahnya sendiri. Tapi yang tidak pernah aku sangka adalah… kamu jatuh cinta padaku bahkan ketika aku paling tidak layak.
Suratmu seperti cermin, Marsha. Aku membacanya dan untuk pertama kalinya melihat pantulan diriku yang sebenarnya—rapuh, pengecut, dan kehilangan.
Tapi juga, aku melihatmu. Perempuan yang mencintaiku dengan tulus, meski aku datang dengan luka.
Aku tidak akan meminta kamu kembali. Karena aku tahu, ini bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang lebih mencintai. Ini tentang siapa yang berani memilih sembuh.
Kamu berani. Aku belum.
Marsha, jika suatu hari kamu membaca ini—di waktu yang entah kapan—aku hanya ingin kamu tahu: cinta yang tidak bisa kumiliki, tetap akan ku jaga dalam diam.
Salam dari lelaki yang akhirnya belajar… melepaskan.
Richard.
---
Beberapa minggu setelah itu, Richard pergi meninggalkan rumah tua itu. Ia meninggalkan buku catatan Marsha di rak paling depan perpustakaan desa, dengan halaman terakhir terbuka.
Tak ada nama, tak ada pengirim.
Hanya dua surat yang saling menyembuhkan, walau ditulis dalam waktu yang berbeda.
Di luar jendela perpustakaan, angin meniup pelan. Dan jika seseorang cukup peka, mungkin mereka bisa mendengar suara dua hati yang akhirnya saling mengikhlaskan.
Seminggu setelah kepergian Marsha, rumah tua di pinggir perbukitan itu kembali sepi. Tidak ada suara langkah kaki di pagi hari, tidak ada aroma teh chamomile, dan tak ada suara tawa kecil di sela angin sore. Richard menjalani hari-harinya seperti hantu. Ia makan seadanya, tidur hanya ketika tubuhnya tak sanggup menopang kesedihan, dan berbicara hanya pada udara.
Ia belum berani menyentuh apapun yang Marsha tinggalkan. Selimut di sofa masih berlipat seperti terakhir kali, mug teh masih terbalik di atas serbet, dan sapu tangan kecil berwarna krem tergantung di sisi kursi rotan.
Namun pagi itu, ada angin kencang yang datang membawa sesuatu dari loteng. Sebuah buku catatan kecil jatuh dari celah rak tua yang lapuk, tepat di dekat kaki Richard. Ia memungutnya, tanpa niat khusus—sekadar dorongan dari rasa bosan yang tak bisa dihindari.
Kulit buku itu sudah mulai usang, dengan pita penanda yang kusut dan kertas yang kekuningan. Di halaman pertama, tulisan tangan Marsha menyapa dalam tinta ungu yang khas.
"Untuk siapa pun yang menemukan ini: mungkin kau menemukan luka. Tapi yakinlah, luka yang dituliskan adalah luka yang perlahan akan sembuh."
Richard terpaku. Jari-jarinya bergerak perlahan membuka halaman demi halaman. Dan di tengah buku itu—terselip surat yang dilipat rapi, dengan judul kecil di sudut kanan: “Surat yang Tidak Pernah Dikirim”.
Ia membaca nama di atasnya.
menulisnya. Bukan untuk mengubah segalanya. Tapi untuk menjahit yang sudah sobek, walaupun tidak bisa kembali utuh.
Kamu benar. Aku belum selesai dengan diriku sendiri. Aku datang padamu dengan kebohongan karena aku takut. Aku takut kamu akan menolak ku jika kamu tahu aku hanya seorang pria yang lari dari nama dan sejarahnya sendiri. Tapi yang tidak pernah aku sangka adalah… kamu jatuh cinta padaku bahkan ketika aku paling tidak layak.
Suratmu seperti cermin, Marsha. Aku membacanya dan untuk pertama kalinya melihat pantulan diriku yang sebenarnya—rapuh, pengecut, dan kehilangan.
Tapi juga, aku melihatmu. Perempuan yang mencintaiku dengan tulus, meski aku datang dengan luka.
Aku tidak akan meminta kamu kembali. Karena aku tahu, ini bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang lebih mencintai. Ini tentang siapa yang berani memilih sembuh.
Kamu berani. Aku belum.
Marsha, jika suatu hari kamu membaca ini—di waktu yang entah kapan—aku hanya ingin kamu tahu: cinta yang tidak bisa kumiliki, tetap akan ku jaga dalam diam.
Salam dari lelaki yang akhirnya belajar… melepaskan.
Richard.
---
Beberapa minggu setelah itu, Richard pergi meninggalkan rumah tua itu. Ia meninggalkan buku catatan Marsha di rak paling depan perpustakaan desa, dengan halaman terakhir terbuka.
Tak ada nama, tak ada pengirim.
Hanya dua surat yang saling menyembuhkan, walau ditulis dalam waktu yang berbeda.
Di luar jendela perpustakaan, angin meniup pelan. Dan jika seseorang cukup peka, mungkin mereka bisa mendengar suara dua hati yang akhirnya saling mengikhlaskan.
sedang Vincent.... ntah knp dia dtg lagi, dl jg blm bersatu kan cm Marsha yg suka gangguin...
Marsha nih egois si mnrtku, iya ga sih🤔