Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Setelah seharian bekerja, Karina merasa tubuhnya benar-benar lelah. Namun, bukan hanya pekerjaan yang menguras tenaganya. Sikap Adrian sejak kemarin jauh lebih melelahkan pikirannya.
Pria itu berubah. Sangat berubah. Karina mengembuskan napas panjang sambil merapikan barang-barangnya.
"Kenapa sih, Adrian? Kalau memang marah, kenapa tidak bicara?"
Pikirannya kembali pada kejadian kemarin
"Katrin memeluknya, tapi dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku," gumam Karina dalam hati.
Lamunannya terputus ketika suara Tomy terdengar dari belakang.
"Mbak Karina, sudah mau pulang?"
Karina tersentak dan segera menoleh.
"Iya." Jawabannya singkat,
"Saya heran sama bos yang satu ini, "Kemarin bilang takut kehilangan, sekarang malah sok cuek, Sebenarnya ada masalah apa sih mba Karina?"
Karina terdiam, Ia menunduk sebentar sebelum menjawab
"Bukan kah seharusnya aku yang marah, melihat mereka sedang berpelukan kemarin."
Tomy menggaruk kepalanya.
"Bisa jadi mereka CLBK?"
Karina langsung mengangkat wajah.
"Maksud Pak Tomy?"
"Setahu saya, hubungan Pak Adrian dan Mbak Katrin dulu cukup serius. Bahkan kabarnya mereka hampir ke jenjang pernikahan."
"Lalu, mereka tidak jadi menikah?" kata karina semakin penasaran
"Kalau soal itu, Lebih baik Mbak Karina tanyakan langsung sama Pak Adrian."
Karina terdiam, ia baru menyadari kalau hubungan mereka sedekat itu, dan karina merasa selama ini dirinya terlalu berharap pada Adrian, mungkin saja Tomy benar, mereka bisa saja kembali seperti dulu dan mungkin saja Adrian masih menyimpan rasa pada katrin.
"Oh iya, Mbak. Pak Adrian kemarin malam bukannya datang ke rumah Mbak Karina?"
lamunan karina kembali tersentak, Karina langsung menoleh tajam.
"Apa?, "Adrian ke rumahku?"
Tomy mengangguk, Karina kembali terdiam Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat,
"Kalau Adrian datang ke rumah malam itu, mungkin.....?" Karina memejamkan mata, ia sudah bisa menebak kenapa adrian bersikap demikian padanya
"Mungkin apa mbak?" sahut Tomy
"Pasti dia melihatku bersama Dimas?" kata karina pelan.
"Mbak karina mau ke mana?" tanya Tomy ketika karina langsung beranjak dari kursinya
Karina berjalan cepat menuju ruangan Adrian, membuka pintu itu dengan cepat
"Adrian..." sapa Karina
Adrian yang berada didalam langsung menoleh kearah pintu yang terbuka, Mata mereka bertemu
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara, Namun Adrian langsung menghindari karina
"Aku banyak urusan." Nada suaranya dingin
"Kalau soal pekerjaan, bicara saja dengan Tomy."
Setelah mengatakan itu, Adrian mengambil beberapa dokumen dan berjalan melewati Karina, ia berdiri sendirian di tengah ruangan itu, dadanya terasa sesak, untuk sementara dia lebih baik berhenti berharap pada Adrian.
Suatu sore, setelah karina menyelesaikan tugasnya disalah satu tempat, ia tak sengaja bertemu dengan Katrin, wajah katrin terlihat tersenyum lebar melihat saat melihat Karina
"Apa kabar Karina?"
"Aku baik, ku harap kau pun baik."
"Hahaha." Katrin tertawa kecil "Apa kalian masih bertengkar?" tanya katrin dan ini kesempatan buat nya untuk membuat hubungan mereka making renggang.
"Dari mana kau tahu?"
"hahahah, katrin tertawa kali ini tawa yang bahagia
"Kau pikir Adrian bisa lepas dari Ku, tidak Karina, dia pasti akan kembali padaku, seberapa besar pun kau menjaganya."
Karina terdiam, dia teringat perkataan tomy yang mengatakan mungkin saja mereka bersama kembali, karina pun akhirnya memberanikan diri menayakan hubungan mereka saat ini
"Apa kau dan Adrian sekarang kembali bersama?"
katrin terdiam sesaat, ia berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu, ia berharap jawabanya bisa membuat hubungan mereka semakin jauh.
"Aku tau Adrian hanya bermain sebentar dengan mu, dan kali ini aku fan adrian akan lebih sering melewati malam bersama lagi, seperti dulu."
jawaban itu seperti sebuah pukulan keras bagi Karina, ia berlari begitu saja meninggalkan Katrin, dengan hati yang kini hancur, ia berusaha menahan air mata yang hendak keluar, namun tetap tak kuasa Sememtara Katrin tersenyum senang melihat hal itu, dia bahagia dan sangat bahagia, ia bisa memasukan karina kedalam lingkaran permainan nya, Hanya dengan beberapa kalimat, ia berhasil membuat Karina pergi dengan hati yang hancur.
"Bagus..." Katrin tersenyum puas.
Karina terus berlari menyusuri jalan tanpa arah dan tanpa tujuan. Air matanya masih mengalir deras, membasahi pipinya. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya.
Pikirannya terlalu penuh, Perkataan Katrin terus terngiang-ngiang di kepalanya, Karina menutup kedua telinganya seolah dengan begitu suara Katrin bisa menghilang dari kepalanya.
"Sudah... cukup..." bisiknya di sela isak tangis.
Namun semakin ia mencoba melupakan semuanya, semakin jelas bayangan Adrian muncul di pikirannya.
Ia tidak tahu sudah berapa jauh dirinya meninggalkan lokasi pemotretan, Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Tanpa sadar, Karina sampai di sebuah persimpangan jalan yang cukup ramai.
Lampu lalu lintas sedang berubah, beberapa kendaraan melaju dari arah kanan, Karina berdiri di pinggir jalan, tetapi pikirannya masih melayang ke mana-mana, Ia kemudian melangkah menyeberang.
Satu langkah.
Dua langkah.
Karina sama sekali tidak melihat ke arah datangnya kendaraan.
Tiba-tiba—
TIIIIINNN!
Suara klakson panjang menggelegar.
Karina tersentak.
Ia menoleh.
Matanya membelalak ketika melihat sebuah mobil melaju kencang tepat ke arahnya.
Karina mencoba mundur, Namun semuanya terjadi terlalu cepat.
BRAAAKK!
Tubuh Karina terpental beberapa meter sebelum akhirnya jatuh keras ke aspal.
Tas yang dibawanya terlempar. Ponselnya jatuh dan tergelincir jauh dari tubuhnya.
Suara rem mobil berdecit panjang.
Orang-orang yang berada di sekitar jalan langsung berteriak panik.
"Tabrakan!"
"Ada orang tertabrak!"
"Panggil ambulans!"
Karina terbaring tak bergerak, Pandangan matanya perlahan kabur. Suara-suara di sekitarnya terdengar semakin jauh, Ia mencoba membuka matanya, tetapi tubuhnya terasa begitu berat, Dalam pandangan yang samar, wajah Adrian kembali muncul di benaknya.
Entah mengapa, justru wajah pria itu yang menjadi hal terakhir yang ingin ia lihat.
"Adrian..."
Bibir Karina bergerak lemah.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
Setelah itu, pandangannya benar-benar gelap.
Sementara itu, beberapa orang mulai mengerumuni Karina. Pengemudi mobil keluar dengan wajah pucat dan tangan gemetar dan langsung membawa Karina ke rumah sakit terdekat, Tak seorang pun menyadari bahwa beberapa meter dari tempat Karina terjatuh, ponselnya masih menyala, Layar ponsel itu tiba-tiba menyala karena sebuah panggilan masuk dari Dimas
Nama itu terus berdering di layar, seseorang langsung menjawab panggilan tersebut dan memberitahu kejadian dilapangan, Dimas tersentak kaget dan langsung meluncur kerumah sakit yang disebutkan dalam panggilan telpon tadi. Dimas sama sekali tidak menduga akan mendapatkan kabar buruk tentang karina, setelah karina bertemu dengan Pria kaya itu, hidup Karina seperti banyak sekali menghadapi masalah sampai kini ia mengalami kecelakaan, Dimas berharap karina tidak akan bertemu kembali dengan pria yang telah merubahnya menjadi sekarang ini,
“Untuk kali ini, aku tidak akan memberitahu mereka.” berkata dimas dalam hatinya. Sebuah keputusan besar yang akan diambil Dimas, mungkin mampu mengubah kehidupan Karina menjauh dari pria lain selain dirinya.