Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Menghilangkan masalahnya
Daniel menggeleng keras. Kakinya mundur satu langkah, tangannya terangkat menunjuk lurus ke arah Blair dengan wajah tak percaya.
“Apa yang...” suaranya bergetar, “apa yang kau lakukan?! Bukankah, kau bilang dari dunia hukum?! Kenapa kau melakukan ini? Ini… ini sangat gila!”
Blair hanya tersenyum.
Ia menegakkan tubuhnya perlahan, lalu melirik ke arah pria yang tergeletak di lantai. Wajah itu meringis, tubuhnya menggeliat menahan sakit. Blair mengamatinya sekilas, tanpa emosi, seolah melihat benda rusak.
Kemudian pandangannya beralih ke arah para siswa lain, Emily dan teman-temannya. Mata Blair berkilat singkat di balik cahaya redup.
“Bukankah kalian sudah membayar untuk menghilangkan masalah ini?” ucapnya tenang. “Kalian ingin semuanya lenyap, bukan?”
Tak ada yang menjawab. Blair tersenyum lebih lebar.
“Karena aku sudah mendengarnya… bukankah wajar kalau aku ikut membantu?”
Ia memiringkan kepala. “Menghilangkan masalahnya. Sekaligus pelakunya.”
Blair menunduk sedikit, bibirnya bergerak pelan.
“Satu…”
"Dua…”
“Tiga.”
Lampu berkedip.
Dalam sekejap, Blair menghilang dari pandangan.
Daniel mengumpat kasar, matanya bergerak liar mencari sosok itu. Napasnya memburu, jantungnya berdegup keras di telinga.
Lalu—
lampu menyala kembali.
Blair sudah berdiri tepat di depan salah satu teman Daniel. Tangannya menggenggam pergelangan pria itu dengan tenang, hampir lembut.
“Tangan ini,” ucap Blair pelan, “yang kau gunakan untuk menahan kendali seseorang…”
Ia menatap lurus ke mata pria itu.
“Aku akan mengambilnya.”
Siku Blair menghantam lengan pria itu ke arah yang mustahil. Suara retakan tulang terdengar jelas dan mengerikan. Blair tak berhenti. Ia menekuknya lagi, memutar dengan presisi kejam hingga tulang itu benar-benar patah terbagi dua.
Jeritan melengking memecah gudang.
Blair melepaskan genggamannya. Tubuh pria itu ambruk ke lantai, menggulung sambil memeluk lengannya yang hancur.
Emily dan teman-temannya mundur bersamaan. Tubuh mereka gemetar, wajah pucat, tenggorokan tercekat. Tak satu pun berani bersuara.
Blair sudah bergerak lagi.
Satu per satu, ia melesat ke arah sisa teman Daniel. Setiap gerakan singkat. Tepat. Brutal.
Sebuah lutut. Sebuah bahu. Sebuah kaki.
Suara tulang patah bergantian dengan erangan kesakitan.
Tak sampai satu menit—
semua tergeletak. Kecuali Daniel.
Ia menatap sekeliling dengan mata gemetar. Teman-temannya meringkuk di lantai, menahan rasa sakit, tak mampu berdiri. Daniel menggeleng, melangkah mundur dengan napas terengah.
“Kau… kau gila,” katanya lirih. “Tidak ada Hakim yang melakukan ini.”
Blair tertawa kecil.
“Siapa yang bilang aku hakim?”
Ia menunjuk dirinya sendiri. “Tubuh ini memang seorang hakim.”
Lalu jarinya mengetuk dadanya perlahan.
“Tapi bukan yang di dalamnya.”
Blair melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah.
Daniel menegang saat tatapan Blair menyapu tubuhnya dari kepala hingga kaki.
“Jangan menatapku seperti itu,” hardiknya, suaranya hampir pecah.
Blair tertawa singkat. “Oh, tenanglah.”
Ia berhenti tepat di depannya, senyum itu masih terukir rapi.
“Aku menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu.”
Blair mendongak, menatap mata Daniel tanpa berkedip.
“Bukan satu bagian seperti teman-temanmu dapatkan,” katanya lembut.
“Tapi kedua tangan… dan kakimu.”
Daniel membeku.
Napas Daniel semakin berat. Dadanya naik turun tak beraturan saat ia mundur sekali lagi, tumitnya hampir tersandung tubuh temannya yang tergeletak.
“T-tidak—” suaranya serak. "Jangan lakukan itu!"
Dalam satu kedipan mata, Blair sudah berada di hadapannya.
Tangannya mencengkeram leher Daniel. Kuat. Tepat di bawah rahang. Udara terputus seketika. Daniel refleks meraih pergelangan itu, kukunya mencakar, tapi tak ada celah.
Blair memutar tubuhnya dengan satu gerakan bersih.
Punggung Daniel menghantam lantai gudang dengan suara dentuman keras. Udara keluar dari paru-parunya sekaligus. Tubuhnya menegang, mulutnya terbuka lebar tanpa suara.
Ia tersedak.
Namun Blair belum selesai.
Ia menekan kaki ke dada Daniel, menjaga pria itu tetap di lantai. Tatapannya tenang, nyaris bosan, seolah sedang mengatur waktu.
“Bernapas,” ucap Blair pelan. “Lakukan perlahan.”
Daniel terengah, paru-parunya terbakar. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau.
Blair menunduk sedikit, rambut panjangnya menjuntai, bayangannya jatuh tepat di wajah Daniel.
“Bertahanlah sedikit lebih lama,” lanjutnya lembut. “karena aku... tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah.”
Kakinya menekan sedikit lebih keras.
Daniel menggeliat, tubuhnya bergetar, matanya mulai memerah. Di sekeliling mereka, gudang sunyi, hanya diisi erangan pelan dan napas tersengal.
Blair memiringkan kepala, mengamati reaksinya.
“Kau tahu?” katanya lagi. “Orang-orang selalu mengira, mati cepat adalah hukuman.”
Ia tersenyum tipis.
“Padahal… hukuman adalah menunggu giliranmu mati, sambil menyaksikan yang lain mati lebih dulu."