Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Meridian Capital
Dengan bantuan Bagas yang kini bersedia bekerja sama, tim investigasi Wirawan Group mulai menelusuri lebih dalam struktur dan kepemilikan Meridian Capital. Yang mereka temukan jauh lebih rumit dari dugaan awal — perusahaan investasi itu ternyata hanya menjadi kedok bagi entitas yang lebih besar, dikendalikan oleh sebuah konsorsium rahasia yang selama ini beroperasi di balik layar berbagai sengketa bisnis besar di kota itu.
"Kami menemukan pola yang mengkhawatirkan," jelas kepala tim investigasi dalam rapat darurat di kantor Raka, menampilkan bagan kompleks di layar proyektor. "Meridian Capital sudah terlibat dalam setidaknya lima kasus serupa dalam sepuluh tahun terakhir — memanfaatkan celah hukum, konflik keluarga, atau skandal internal untuk melemahkan perusahaan target, sebelum akhirnya mengakuisisi saham mayoritas dengan harga jauh di bawah nilai pasar saat perusahaan itu berada di titik terlemah."
Raka mendengarkan dengan rahang mengeras, mencerna betapa terencananya serangan yang mereka hadapi. "Jadi skandal soal ayah kami, dan sekarang gugatan Bagas, semuanya bagian dari strategi yang sama?"
"Kemungkinan besar, ya," jawab kepala tim investigasi. "Meskipun kami belum bisa memastikan apakah Meridian Capital juga dalang di balik kebocoran informasi kepada Vania sebelumnya, mengingat waktu kejadiannya cukup berdekatan dan sama-sama menguntungkan mereka."
Alya, yang turut hadir dalam rapat itu, mengangkat tangan untuk bertanya. "Siapa sebenarnya yang mengendalikan konsorsium ini? Apakah ada nama yang bisa kita telusuri lebih jauh?"
Tim investigasi menunjukkan sebuah dokumen kepemilikan yang rumit, penuh lapisan perusahaan cangkang yang saling terkait. "Kami masih berusaha menembus lapisan terakhir kepemilikannya, tapi ada satu nama yang terus muncul sebagai salah satu pemegang saham senior di beberapa entitas terkait." Dia menunjuk sebuah nama di layar. "Handoko Group."
Ruangan itu mendadak sunyi. Raka menatap layar itu dengan tidak percaya. "Keluarga Handoko? Mitra bisnis lama kita, keluarga Aurora?"
"Bukan Handoko Group secara keseluruhan," klarifikasi kepala tim investigasi cepat, "tapi indikasi kuat mengarah pada salah satu cabang bisnis yang dikelola oleh kerabat jauh keluarga Handoko, bukan oleh ayah Aurora langsung. Kemungkinan ada faksi internal dalam keluarga besar Handoko yang tidak setuju dengan kerja sama bisnis mereka dengan Wirawan Group, terutama setelah pembatalan perjodohan antara Anda dan Aurora."
Alya teringat kembali pertemuannya dengan Aurora beberapa waktu lalu, mempertimbangkan kemungkinan itu. "Mungkin ini saatnya kita bicara langsung dengan Aurora. Dia mungkin tahu sesuatu soal faksi internal keluarganya yang tidak puas dengan keputusan pembatalan perjodohan itu."
Raka mengangguk setuju, segera mengatur pertemuan rahasia dengan Aurora keesokan harinya. Pertemuan itu berlangsung di sebuah rumah pribadi milik kenalan tepercaya Raka, jauh dari sorotan publik maupun kemungkinan mata-mata dari pihak lawan.
Aurora tiba dengan wajah cemas, jelas sudah mendengar sebagian kabar soal gugatan dan ancaman yang menimpa keluarga Wirawan. "Aku turut prihatin dengan semua yang terjadi," katanya begitu duduk. "Dan aku rasa aku tahu siapa yang mungkin berada di balik semua ini."
"Siapa?" tanya Raka langsung.
Aurora menghela napas berat. "Paman jauhku, Om Wisnu Handoko. Dia mengelola divisi investasi keluarga kami yang terpisah dari bisnis utama ayahku. Dia selalu tidak setuju dengan rencana perjodohan kami sejak awal, karena menurutnya kerja sama dengan Wirawan Group terlalu menguntungkan pihak kalian dibanding keluarga kami. Setelah pertunangan kami dibatalkan, dia sempat sangat marah, menuduh keluarga kami kehilangan muka dan peluang bisnis besar karena keputusan itu."
"Apakah kau tahu sejauh mana kekuatan dan sumber dayanya untuk melakukan semua ini?" tanya Alya.
"Dia cukup berpengaruh," jawab Aurora, wajahnya khawatir. "Dia mengelola dana investasi keluarga yang cukup besar, dan punya banyak koneksi di dunia hukum dan bisnis. Aku tidak terkejut kalau dia yang mendalangi pendekatan pada Bagas, atau bahkan mungkin terlibat dalam kebocoran informasi kepada Vania sebelumnya."
Informasi itu memberikan kejelasan baru, meski juga menegaskan betapa besar dan kompleks ancaman yang mereka hadapi. Bukan sekadar individu dendam seperti Vania, melainkan seorang pebisnis berpengalaman dengan sumber daya besar dan motif balas dendam personal atas pembatalan perjodohan yang menurutnya merugikan keluarganya.
"Aku akan mencoba mencari bukti lebih konkret dari dalam," kata Aurora, tekadnya terlihat jelas di matanya. "Aku merasa bertanggung jawab, mengingat semua ini bermula dari keputusan pembatalan pertunanganku dengan Raka."
"Kau tidak perlu merasa bersalah," kata Raka tegas. "Keputusan itu benar, dan kita berdua tahu itu. Tapi bantuanmu mencari bukti akan sangat berarti bagi kami."
Setelah pertemuan itu, dalam perjalanan pulang, Alya menatap keluar jendela mobil, memikirkan betapa rumitnya jaringan konspirasi yang mulai terungkap. "Raka," katanya pelan, "aku mulai khawatir. Kalau Om Wisnu ini benar-benar seberpengaruh yang digambarkan Aurora, kita mungkin menghadapi pertarungan yang jauh lebih panjang dan berbahaya dari yang kita duga sebelumnya."
Raka menggenggam tangan Alya, matanya penuh keteguhan meski jelas menyimpan kekhawatiran yang sama. "Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama. Dan kali ini, kita punya sekutu baru — Bagas dan Aurora — yang bisa membantu kita dari dalam."