Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar Mommy

Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Nikahmuda / Nikah Kontrak
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callmeyusri

Agung Pramono adalah seorang mahasiswa disebuah fakultas kuliner di sebuah kota Jakarta.Hidupnya berubah total setelah bertemu dengan Sarah Athala Nanda, bosnya di restoran tempatnya bekerja.Sarah seperti malaikat yang datang menolong kehidupannya. Walau beda usia tidak menyurutkan niat Sarah untuk melamar Pramono. Dengan sabar Sarah membimbing Pramono menjadi seorang Chef yang terkenal.Akankah perjalanan cinta beda usia akan berjalan lancar?Atau harus kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callmeyusri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Emosi

Kring... kring....

Alarm di ponselku mengagetkan. Kuraih ponselku ternyata sudah pukul 6 pagi. Segera aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini adalah hari pertama aku pergi ke restoran tempat aku magang. Harus pagi-pagi sekali agar bisa sampai di sana tepat waktu.

Setelah semuanya beres, segera kurapikan barang-barangku tanpa melihat notifikasi di ponselku. Siapa saja yang telah menghubungi atau mengirim pesan kepadaku. Aku langsung keluar dari kamar hotel.

Pukul 07.15 pagi, aku turun ke bawah ke lobby untuk sarapan pagi. Secangkir kopi dan 1 roti croissant mampu mengisi perutku yang lapar. Setelah aku bayar tagihan di hotel itu segera aku panggil taksi untuk membawa aku ke tempat yang aku tuju sebuah kota di dekat Sungai Musi.

Taksi sudah membawaku ke kota itu. Pagi yang cerah dengan hawa dingin pagi hari. Hari ini adalah hari minggu, jadi suasana di kota itu masih terlihat lengang. Taksi yang kutumpangi menyusuri jalan di kota ini.

Di dalam taksi, perlahan kubuka ponselku dan membuka banyak pesan yang ada di dalamnya. Ada pesan dari Reni, Aska dan terutama Sarah. Ketika aku buka pesan dari Reni hanya kata- kata kapan baliknya Mas,hanya itu saja. Aska juga mengatakan hal yang sama anak laki-laki itu ingin segera aku pulang dan menemaninya bermain game. Pesan dari Sarah yang sangat aku tunggu hanya tertawa. Hanya emoji tertawa yang di dikirimkannya.

Rasanya ingin sekali aku mencubit pipinya setelah panjang lebar aku mengatakan kangen padanya hanya tertawa kecil yang dia sampaikan. Aku mencoba menghubungi Sarah untuk melepas rasa kangenku.

"Halo selamat pagi, Sayang," kataku.

"Pagi, Pangeranku. Bagaimana hari ini sudah enakan. Segar, kan?" tanya Sarah menjawab telponku.

"Aku merindukanmu, Sayang. Sehari rasanya lama, deeh," gumamku dengan mata terpejam.

"Duuh ... segitunya. Semangat Pangeranku," hiburnya.

Sarah masih belum dandan. Nampak masih mengenakan baju tidurnya. Yaah .... hari minggu dia tidak berangkat ke kantor. Hanya karyawan dan para kokinya yang tetap masuk.

"Coba kamu di sini, Sayang, pasti malam-malamku tidak sendirian lagi," rajukku.

"Ya kita sedang diuji, Sayang. Kita diuji dengan cinta dan kesetiaan."

Ketika mendengar kata kesetiaan itu, hatiku berdetak. Mungkinkah Sarah merasakan apa yang kurasakan? Yah kita sedang diuji dengan kesetiaan. Mungkin aku cemburu dengan Sarah ketika ada Pak Iqbal di sampingnya. Begitu juga dengan Sarah cemburu denganku karena aku masih muda.

"Apakah di tempat magang itu ada messnya, Sayang?" tanya Sarah lagi.

"Ada. Di sana pihak restoran menyediakan mess bagi karyawannya."

"Ya sudah, Sayang hati-hati, ya! Jangan lupa nanti kalau sampai di restoran itu kabari aku," pinta Sarah.

"Hari ini aku sibuk banget, Sayang. Anak-anak ngajak ke luar. Mereka ingin makan dan menemani Aska main footsal."

"Oh ya udah hati-hati ya, Sayang. Salam buat Aska. Nanti kalau Mas Pram balik dari Palembang, pasti ditemenin," kataku menghibur Sarah.

"Idih ... masnya atau papanya nih? Kamu dasar."

Aku terkekeh geli, bahkan badanku ikut terguncang. Supir taksi hanya melirik lewat kaca spion, dan tersenyum malu.

"Suatu saat nanti pasti jadi papanya, Sayang," kata Sarah.

"Iya dong. Nanti pasti Aska tahu. Apa aku kasih tahu sekarang, Sayang. Kalau Mas Pram adalah papa baru Aska," godaku pada Sarah.

"''Jangan dulu, dong!" teriak Sarah histeris.

"Ya udah mandi sana dulu, gih!"

"Kamu kalau pakai baju itu, aku pengennya pulang. Aku susah nggak ada kamu di Palembang," lanjutku.

"Mau aku susul, ya?" tanya Sarah "Yang benar saja, bisnismu gimana di Jakarta?

"''Ada deh. Ganggu ya? Sekalian pengen bulan madu gitu," tawar Sarah manja.

"Mau dong!" kataku.

"Ya udah, aku berangkat dulu ya, Sayang."

"Hati-hati ya!" pesan Sarah. Klik.. telponnya kumatikan.

Tak terasa taksi sudah sampai di tempat yang kutuju. Sebuah ruko yang tidak terlalu besar. Mungkin ini adalah alamat yang kumaksut. Supir taksi membantu menurunkan barang-barangku.

Aku menghubungi seorang teman yang sudah berada di restoran itu.

Yah, alamatnya memang sudah benar. Aku mencoba menelpon Adit, temanku yang sudah lama kerja di restoran itu.

"Pagi, Adit. Aku dah nyampe di ruko," kataku menelpon Adit.

"Ok. Gue keluar sekarang ya." Adit menjawab panggilan telponku.

Aku menunggu sejenak di depan ruko. Sesaat kemudian Adit keluar dan menyambutku.

"Hai, Bro. Selamat datang di Palembang," sapa Adit menyambutku.

Dia memelukku dan membantuku membawakan barang-barang. Kebetulan hari ini Adit tidak bekerja, jadi dia bisa menemaniku.

"Halo bagaimana kabarnya? Aku kedatangan tamu istimewa nih," kelakarnya.

"Ah bisa aja Dit. Kamu yang profesional itu," kataku sambil meninju pundaknya.

Kami memasuki ruko sambil bercanda. Adit membawakan tasku, sementara aku membawa koperku. Adit membawaku ke sebuah kamar yang lumayan lebar. Ada dua ranjang sederhana komplet dengan kasur dan peralatan tidur. Ada juga lemari kecil di sudut kamar.

Kutaruh barang dan koper di pojok. Aku duduk di ranjang melepaskan lelah.

"Ini kamar kita, Dit?" tanyaku dengan mata memandang sekililing kamar. Terlihat sederhana dan rapi.

"Iya, Bos. Gimana? Kamu suka enggak? Apa mau menginap di hotel bintang lima," sindir Adit.

"Lagak kamu kayak bos aja Dit," jawabku sambil tertawa kecil.

"Eh siapa tau. Temenku yang ganteng ini sudah menjadi bos. Lihat saja penampilannya sekarang!" Adit mengamati dengan mengitari tubuhku.

Sial banget temanku ini. Dia ternyata sangat memperhatikan penampilanku. Sambil manggut-manggut kecil dan senyumnya yang penuh misteri.

"Apa kamu sekarang menjadi simpanan bos ya?" tanya Adit seolah menyelidik.

Mukaku menjadi merah. Jantungku mendadak ingin berhenti berdetak. Mengapa Adit bisa menanyakan hal ini?

"Hah... maksutmu apa?" tanyaku sambil mendelik.

"Hai ... jangan cepat emosi. Aku cuma bergurau kok," tangkisnya dengan memelukku.

Aku hanya menahan nafas. Tanganku sudah mengepal siap untuk menjotos mulutnya. Tapi aku berusaha untuk bersabar.

"Jangan cepat emosi, Bro," bisik Adit di telingaku.

"Ya sudah, Bro kamu ganti baju gih! Nanti aku antar ke restorannya. Sekalian kukenalkan dengan teman-teman lainnya."

"Baiklah, Pram. Aku minta maaf ya, atas pertanyaanku yang konyol tadi," tambah Adit dengan menyalamiku.

Terpaksa aku tersenyum dan duduk kembali di ranjang itu. Hampir saja emosiku tersulut dengan perkataannya. Menjadi simpanan bos? Aku tidak terima. Mengapa pertanyaan Adit menyinggung perasaanku? Mungkin dia hanya mengira-ngira. Aku yang terlalu perasa. Yah ... tepatnya aku sudah menikahi Sarah, bosku. Bukan menjadi simpanan bos.

Aku pamit dengan Adit untuk mengganti bajuku dengan baju seragam yang disodorkan pria itu. Seragam hitam dengan warna merah di krahnya. Lengkap dengan sebuah celemek.

"Wiih ... ganteng juga temanku ini," puji Adit.

Aku tersenyum dengan sedikit bergaya seperti seorang jagoan.

"Keren gak?" tanyaku percaya diri.

Adit mengacungkan kedua jempol tangannya. Tanda penampilanku sangat perfect. Kemudian kami berdua keluar ruko untuk menuju restoran yang akan menjadi tempatku magang.

Restoran itu hanya berjarak beberapa meter dari ruko penginapan karyawan. Adit mengajakku naik montor agar cepat sampai ke tempat itu. Aku hanya nurut saja.

Sesampainya di restoran, Adit mengajakku ke ruangan personalia.

Dia ingin memberitahu pimpinannya akan kedatanganku.

Tok ... tok

Adit mengetuk pintu ruangan itu. Aku berdiri di samping Adit dengan hati was-was. Bagaimana ya sosok pimpinan restoran ini? tanyaku dalam hati.

Lama tidak ada jawaban dari dalam. Kembali Adit mengetuk pintu.

Baru setelah ketiga kalinya, ada jawaban dari dalam.

"Masuk!" perintah seorang laki-laki dari dalam ruangan.

Untung pemimpin restoran tidak seorang wanita. Aku menghela nafas berat. Adit menepuk pundakku seolah memberikan semangat.

Kami masuk ke dalam ruangan. Tapi laki-laki masih membelakangi kami. Perawakannya gemuk dan agak pendek. Setelah kami berdiri di depannya, Adit memberikan salam.

"Selamat pagi, Pak," sapa Adit. Laki-laki itu membalikkan badannya dan tersenyum. Aku sedikit kaget dan agak syok. Ternyata laki-laki itu adalah....

1
Irfan Julianto
up
Irfan Julianto
nicee
Irfan Julianto
up
SMILE😊™
suami Santi?
SMILE😊™
semangat
SMILE😊™
semangat kak
Sneha♥️
mampir kak *tentara dan dokter*
HyH030400
mantap thor alur cerita nya, saya tunggu update selanjutnya
Christy amora
Hai thor..

saling support yuk, mampir juga di karya ku " Akhir Penantian Elina " 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!