Tanpa sengaja menerima tawaran Alvino Pramaditya seorang Ceo sekaligus salah satu pewaris Pramaditya Group untuk mentandatangani surat nikah kontrak dengannya.Alvino akan menceraikan Feli ketika Feli berhasil memberikan Alvino seorang putra.
Feli terpaksa menerima tawaran Alvino karena untuk melunasi hutang ayahnya dan membayar tagihan rumah sakit adiknya yang menunggak.
Ketika semuanya berjalan dengan lancar Feli dan Alvino mengalami kecelakaan yang disebabkan Ayah Feli.
Didetik-detik kecelakaan Alvino berkata lirih pada Feli sembari memegang perut besar Feli "Aku Mencintaimu"
Siapa sangka?Pernyataan Alvino dahulu dengan yang sekarang sangat berbeda?Namun Feli merasakan perasaan yang sama seperti Alvino.
Baru saja cinta bersemi namun ada saja hambatannya,Feli dikirim jauh dengan indetitas baru oleh Ibu Kandung Alvino ke kota yang sangat kecil.
Tiga tahun berlalu setelah kecelakaan itu Alvino dan juga putranya hanya mengetahui Feli sudah meninggal tanpa mengetahui kebenarann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pinkyboy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Penantian akan harapan dan mimpi yang sudah terwujud
Alvino sedang dalam perjalanan menuju kedai Feli dengan mata yang tak lepas memeperhatikan Layar tabletnya.
Sorot mata mulai menyipit dan hati yang sudah gelisah karna melihat istri dan anaknya tertawa lepas dengan pria lain.Ia takut akan ditinggal dan diacuhkan lagi,ia tak ingin terjadi untuk kedua kalinya lagi yang membuatnya sangat kesakitan.
"Aku tak suka melihat istri dan anakku tertawa dengan pria lain!"
"Aku tak mau kehilanganmu lagi"
"Ada ketakutan yang begitu besar pada diriku!"
"Tolong jangan lakukan ini lagi padaku!Aku terlalu takut"Lirih batin Alvino.
"Tuan apa kau baik-baik saja?"Tanya Alex yang melihat tingkah laku Alvino dari kaca mobilnya.
"Cepatlah aku sangat gelisah"Jawab Alvino.
Alex mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangar tinggi,ia tak tau apa yang ada dipikiran Alvino.Yang jelas ia melihat kemarahan sekaligus ketakutan dimata atasannya itu.Sudah bertahun-tahun ia menemani Alvino dari suka maupun duka,ia sudah benar-benar tau akan sifat baik maupun buruk atasannya itu.
Alex sangat salut akan sikap setia atasanya itu.Dahulu Alvino yang alex kenal ia sangat suka bermain perempuan,Alvino menganggap wanita hanya sebagai budak nafsunya saja.Namun saat bertemu dengan Feli kepribadian dan juga hidupnya jelas sangat jauh berbeda.Apalagi ditambah kehadiran Elvin,anaknya.Janganpun bermain wanita,menyentuh wanita lainpun ia tak sudi.
"Alex cepatlah!"Perintah Alvino sambil melonggarkan dasinya.
"Baik tuan"Jawab alex menambah kecepatan mobilnya.
.
.
.
Feli duduk disamping Lili dan juga Luis.Ia juga menyuapi Elvin cake dengan segelas susu yang dibuat khusus oleh Luis.
"Aku akan merayakan pesta pernikahanku dengan Alvino mungkin dalam waktu dekat"Ucap Feli.
"Jika itu pilihanmu aku ikut senang"Lirih Luis dengan nafas yang berat dengan wajah yang menunduk kecewa.
"Aku juga akan memindahkan kedainya kekota agar lebih mudah mengunjunginya"Jawab Feli.
"Apa nanti saya akan dipecat?"Tanya Lili.
"Tenanglah,aku akan mencarikanmu tempat tinggal.Kau bisa pindah dari sini dan memulai semuanya disana denganku"Ucap Feli.
"Makasih aku senang mendengarnya"Jawab Lili.
"Kau sudah kuanggap adikku,jadi kalo ada apa-apa kau bisa menghubungiku Atau Luis yah"
"Aku?"Tanya Heran Luis.
"Heem,kau mau membantu Lili kan!"Ucap Feli menatap tajam sorot mata Luis.
"Papah!Mom liat papah dateng!"Teriak Elvin memalihkan pandangan Luis dan Feli.
Feli tersenyum senang takkala ia tau alasan suaminya mendatanginya.Bertahun-tahun lalu ia tak pernah dicemburui olehnya,namun berbeda dengan sekarang ia sangat jelas memperlihatkan kecemburuannya.Ternyata begini rasanya dicemburui oleh orang tercinta.
"Kau datang?"Tanya Luis sembari menyesap kopi yang ada diatas mejanya.
"Yang harusnya menanyakan itu aku bukan kau!"Jawab Alvino dengan mata mulai menyipit.
Feli terkekeh geli melihat ekspresi wajah lucu sang suami.Sorot mata yang tajam dengan rahang yang mulai mengeras menunjukan ia benar-benar sedang cemburu.
"Kenapa?Apa ada yang salah?"Tanya Alvino pada Feli.
"Sepertinya Tuan Alvino sedang cemburu"bisik Feli mendekat ke suaminya.
Alvino tak menjawab ia malah lebih mengerucutkan bibirnya kedepan,bibir yang merah dan seksi yang membuat Feli sedikit gemas dibuatnya.Ia tak tahan ingin menciumnya,namun tak mungkin juga ia mencium Alvino depan umum apalagi depan Luis dan juga Elvino yang akan membuatnya kehilangan muka.
"Ayo pulang"Ucap Alvino mengendong Elvin lalu menarik tangan Istrinya.
"Papah aku mau main"Tolak Elvin.
"kita jalanjalan dipantai,oke?"Bujuk Alvino.
"Horee!!"sorak Elvin.
.
.
.
Ombak yang menerjang di laut saling berkejar memecah batu karang,hingga terlihat aneka keong yang bertebaran dari dasar lautan.Ombak yang menerjang terdengar tiada henti.
Empat mata memandang kearah Elvin yang berlari riang kesana kemari di bibir pantai.Penantian akan harapan dan impian yang tertunda sekian lama kini terwujud sudah.
Feli memejamkan matanya dipesisir pantai merasakan angin yang terus-menerus menerpa ke wajahnya.Tak lama ia membuka matanya sambil menghela nafas lalu tersenyum saat melihat suami dan anaknya bersuka cita bermain air laut didepannya.
"Mom,siniii!"Teriak anaknya membuyarkan lamunannya.Feli tersenyum dan berlari kearah suami dan anaknya yang sudah melambaikan tangannya.
Feli dan Alvino membantu Elvin melewati ombak dengan berpegangan tangan anaknya yang kecil.mereka bersuka riang dengan tawa canda yang tiada henti.
Disisi lain Luis yang melihat kebahagiaan mereka tertunduk seraya tersenyum meneteskan air matanya."Yah,aku senang mencintaimu,karena dengan melakukan itu aku merasa lebih hidup"lirih Luis.
Pada akhirnya kita memilih jalan masing-masing.Feli tak akan pernah tau tentang rasa yang Luis pendam dan tahan selama ini.Luis hanya sekedar manusia yang berusaha namun tiada hasil.Jalan yang selalu membawanya kembali keawal dan memulai lagi membuatnya sudah sangat kelelahan.
Tapi untuk kali ini,kali terakhir ia akan berhenti dan memilih jalan lain.Begitupun dengan Feli yang memilih jalan lain yang sudah pasti memiliki akhir.
"Biarkan aku memelukmu lewat doa, biarkan aku hanya mengagumimu dari jauh."Lirih batin Luis.
Sore ini menjadi saksi mata,akan sekeping hati yang kian pasrah.Rasa Ketidakpastian yang ditelan mentah,Menjadi tema pembicaraan yang kian membetah.
"Kuatlah kak"Ucap Lili yang datang dan duduk disebelah Luis.
"Pergilah"
"Salah satu momen paling membahagiakan adalah ketika kaka menemukan keberanian untuk melepaskan apa yang tidak bisa kaka ubah"Ucap Lili memandang Keluarga kecil Feli dari jauh.
Luis menoleh dan menatap wajah Lili,perempuan sederhana namun pekerja keras mengingatkannya pada kali pertama ia bertemu dengan Feli.
"Jangan stress,lakukan yang terbaik dan lupakan sisanya"Ucap Lili memberikan Segelas wine yang ia tuang.
"Terimakasih li"Jawab Luis menerima segelas wine dari Lili.
.
.
.
Hari semakin sore,Alvino memutuskan untuk menyewa villa didekat pantai yang sudah ia pesan melalui Alex,asisten pribadinya.Dalam perjalanan menuju villanya,ia melimpir sebentar ke toko pakaian yang ada didekat pantai.
Alvino membelikan sepasang Kaos bergambar hati dan bertuliskan Family,ia sengaja membeli sekaligus 3 kaos untuk Istri dan anaknya.Ia juga tak lupa menyuruh orang untuk memotret mereka saat memakai kaos itu.
"Cisss"Ucap alvino tersenyum lebar pada kamera ponsel miliknya.
"Ah terimakasih,ini untukmu"Ucap Alvino pada seseorang yang sudah membantu memotretnya.
"Kita terlalu mendadak"Ucap Feli.
"Tenanglah sayang,Aku sudah mengurus semua kebutuhan kita divilla."Ucap Alvino seraya menggendong Elvin ke pangkuannya.
"Heem,sangat mudah bagi orang yang memiliki uang untuk mengurus hal sekecil ini!"Ledek Feli.
"Mom,makasih"Ucap Elvin menimpa obrolan feli.
"Buat apa sayang"Tanya Feli mengelus rambut basah Anaknya.
"Makasih udah balik lagi,ini kali pertama aku main sama mom"Jawab Elvin.
Deg...
Deg...