Menceritakan seorang Alena dan putranya, cerita fantasi dengan dunia modern.
Di negara Amerika ini, Alena bekerja sebagai sekretaris bosnya. Wanita itu memiliki seorang anak yang baru berusia 7 tahun. Semenjak kedatangan putra sulung dari Alexander, yang tak lain adalah bosnya sendiri. Kehidupan Alena tidak begitu normal, setiap melihat pria itu, Alena akan merasakan rasa pusingnya.
Di balik itu semua, terdapat kenangan masa indah mereka.
Hari demi hari penuh tantangan bagi mereka, Alena yang memiliki seorang putra yang begitu jenius, di perebutkan oleh para orang kaya.
Kabir sendiri memiliki paman yang melatihnya menggunakan kekuatan bela dirinya, di dampingi dengan seorang wanita yang memiliki kekuatan dari leluhurnya, semua orang akan takut saat mendengar namanya.
Feng yin salah satu orang yang ingin merebut Lucas dari Alena. Lucas adalah Kabir, Feng yin dengan segala kekuatan dan kekayaannya mampu melakukan segala cara untuk merebut Kabir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LorenzaMug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Bermurah Hati Hanya Akan Membuat Kita Rugi 25
Santi memegang tangan suaminya, melirik ke arah Kabir, "Kabir, bisa menutup matamu sebentar?" pinta Santi, Kabir yang begitu pengertian, ia kembali ke sofa dan berpura-pura tidur.
"Aku senang kau di sini, tinggal lah sebentar lagi." pinta Santi memohon. Qixuan memiringkan kepalanya menatap istrinya dengan lekat.
"Kalian, para wanita, benar-benar tidak memegang perkataan kalian sendiri, baru saja kau mengusirku, tapi sekarang, kau malah meminta ku diam di sini sebentar lagi." ledek Qixuan.
Segera melanjutkan, "Tapi, sayang sekali, obat bius itu akan membangunkan mereka sebentar lagi." ujar Qixuan, Santi memanyunkan bibirnya kesal. Qixuan terkekeh melihat wajah Santi yang seperti itu.
Santi hanya tersenyum, ia mendekatkan bibirnya, kemudian membelainya dengan miliknya. Qixuan terlena, namun segera menghentikannya. Memegang wajah Santi, dan berkata: "Setelah pulih, cobalah berterima kasih dengan cara yang terbaik." Ucapan itu, membuat Santi bergetar.
Santi mengumpat dalam hatinya, pipinya benar-benar seperti kepiting rebus sekarang. Qixuan mengecup kening istrinya, kemudian segera berdiri dari duduknya. Santi menghela nafas, ada rasa tak ingin di tinggalkan oleh pria itu. Dirinya ingin pria itu terus berada di sisinya, namun sepertinya tidak bisa.
Menatap punggung Qixuan, ia tersenyum dengan lebar. Jubah Saude itu begitu menjuntai ke bawah, Santi berpikir jika pria itu terlalu takut angin, karena itulah suaminya terus memakai jubah itu.
***
Di dalam ruangan gelap, hanya terdapat cahaya dari lampu kecil yang berwarna kuning. Changyi mengepalkan tangannya dengan kuat, buku-buku jarinya terlihat, memperlihatkan seberapa dirinya kesal.
Di hadapannya, pria tua itu sedang membungkuk, siapa lagi jika bukan Antoni. Pria yang di perintahkan untuk meracuni Kabir, malah salah sasaran.
"Ampun tuan, saya mohon hentikan!" teriak Antoni terus memohon. Pria tua itu melihat cucunya yang di cambuk dengan keras, terus bersujud memohon pengampunan dari Changyi.
"Salahkan dirimu karena melakukan kesalahan besar!" Kakinya menendang kepala Antoni, membuat pria itu terkapar di lantai. Antoni tidak mengkhawatirkan dirinya, justru pria itu lebih mengkhawatirkan kondisi cucunya saat ini.
"Lebih keras lagi!" perintah Changyi pada anak buahnya.
CTARRRR...
Cambuk itu menghantam kulit sang cucu yang kini berusia 17 tahun, Antoni semakin histeris, tidak tega dan tidak kuat melihat cucunya di hukum atas kesalahannya.
"Tuan, saya akan melakukan apapun, tapi saya mohon, lepaskan cucu saya, Tuan. Berikan kemurahan hati Anda pada saya, Tuan." Antoni bersujud di atas kaki Changyi kembali.
Pria itu tersenyum sinis, melirik Antoni yang begitu tidak berdaya.
CTARRR...
"Tuan!!!!" teriak Antoni histeris saat cambuk itu kembali di luncurkan. Kulit pria remaja yang halus itu, kini sudah terkikis sedikit demi sedikit, mengeluarkan darah dari punggungnya. Remaja itu menatap Kakeknya yang terus memohon, tanpa bisa melakukan apa-apa, remaja itu merasa dirinya tidak berdaya, merasa tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan Kakeknya.
"Arrrghhhh!!!!" teriak remaja itu saat cambuk mulai menghantam punggungnya yang sudah terluka, Antoni semakin histeris, salahnya karena sudah membuat kesalahan, kesalahan karena menerima tawaran dari orang itu.
Antoni menunduk dengan air matanya yang bahkan sudah keluar begitu banyak, pria tua itu menahan nafasnya yang sesak, sudah tidak berdaya melihat cucunya di perlakukan seperti itu.
Changyi tertawa keras melihat kedua orang itu, tidak ada rasa kasihan sama sekali, hanya ada rasa ingin membunuh. Changyi mendekat dan berlutut di hadapan pria yang terus bersujud di kakinya.
"CK ck ck, kasihan sekali, sang Kakek dan sang cucu, mereka saling menangis bahagia, hahaha!" Ledek Changyi. Antoni mengangkat kepalanya, tatapan matanya begitu tajam, kedua tangannya terkepal kuat.
Antoni melirik ke arah kanan, di saat seperti ini, Antoni ingin membalas perbuatan pria itu, dengan cepat Antoni mengambil batu yang ada di sana. Changyi terkejut melihat Antoni yang mengambil batu, segera berdiri.
BUGH! Tepat di kepalanya, Changyi memegang kepalanya yang sakit akibat batu besar yang melayang ke arahnya.
Anak buah Changyi segera menyelamatkannya dan menangkap pria tua itu.
"Hei!!!!" teriak Changyi marah.
"Dasar! pria tua yang menjijikkan! Beraninya kau melempar batu itu! Kemarin kau!" teriak Changyi. Antoni melebarkan matanya, tiba-tiba menyesali perbuatannya yang ia lakukan barusan. Changyi menyeret pria tua itu, menendangnya dengan keras hingga membentur ke dinding.
"Kakek!!!" teriak cucunya. Pria muda itu menangis sedih, menundukkan kepalanya.
"Itulah akibatnya jika berusaha menyerang ku!" sarkas Changyi. Pria itu menatap tajam pada remaja itu, menghempaskan tubuhnya dan duduk di kursinya lagi.
"Cambuk pria tua itu dua puluh kali dengan keras, jika masih hidup, lepaskan." Titah Changyi pada anak buahnya.
Mereka semua mengangguk, "Baik tuan!" seru mereka bersamaan. Changyi mengambil air minuman, mulai menyesap minuman itu seraya menonton Antoni yang akan di cambuk sebentar lagi.
Pria muda itu menatap nanar ke arah Kakeknya, berpikir jika dirinya tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan Kakeknya.
Setelah cambukan ke lima, Antoni benar-benar kehilangan banyak darah. Changyi keluar meninggalkan mereka dan anak buahnya.
Mobil sedan hitam sudah menunggunya, Changyi masuk ke dalam dan segera menyuruh supirnya untuk segera menjalankan mobilnya.
***
"Paman Antoni, dia menghilang?" tanya Alena pada dirinya sendiri. Setelah melihat kondisi Santi yang sudah membaik, Alena segera kembali ke rumahnya. Namun, sekarang tidak ada siapapun di rumahnya.
Kabir mendekat pada ibunya dan berkata: "Paman Antoni di tangkap oleh orang-orang berbaju hitam kemarin malam, sekarang dia mungkin sudah meninggal." Alena melebarkan matanya, terkejut saat mendengar ucapan putranya.
"Bagaimana mungkin? Kau mengenalnya, Kabir?" tanya Alena. Kabir menggeleng.
"Sekarang, kita harus menyelamatkan paman Antoni, kau pasti tahu di mana paman Antoni di kurung, kan?" ujar Alena. Kabir menggeleng kembali.
"Meskipun aku tahu, aku tidak akan memberitahu mu, Mom. Paman Antoni dalang di balik bibi Santi lumpuh. Dia juga menghabisi kedua penjaga bawah tanah milik paman Aditya. Mommy masih ingin menyelamatkan dia?" tanya Kabir tidak percaya.
Alena menutup mulutnya, penjaga bawah tanah? meninggal? Alena segera bertanya, "Paman Antoni melenyapkan penjaga itu? Tapi, bagaimana mungkin, dia sendirian?" Alena merasa tubuhnya lemas, ia mendudukkan tubuhnya ke sofa.
"Paman Antoni adalah orang suruhan, paman Antoni di bantu oleh orang lain."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu pasti, di antara ketiga konglomerat di negara China dan Jepang." jawab Kabir.
"Tapi, Kabir, setidaknya kita harus menyelamatkan Antoni, bagaimana jika dia masih hidup?" ujar Alena. Kabir menghela nafas kasar, merasa jika hati ibunya terlalu baik pada orang jahat.
"Lalu apa peduli ku, Mom? Dia orang jahat, pria jahat yang sudah membuat bibi Santi lumpuh!" balas Kabir. Alena menggeleng, orang jahat masih bisa di rubah menjadi orang baik. Alena berdiri, menatap putranya seraya berkata: "Jika tidak mau membantunya, terserah kau saja Kabir, tapi, mommy akan mencari paman Antoni."
Setelah mengatakan itu, Alena segera pergi dari rumahnya. Kabir menatap punggung ibunya dengan kesal, terlalu bermurah hati hanya akan membuat kita rugi. Kabir menghela nafas untuk ke sekian kalinya, mulai melangkahkan kakinya mengejar sang ibu.
Saat ini, Kabir melihat seorang pria yang dirinya kenal. Segera berlari menuju pada ibunya dan pria itu yang tak lain adalah paman Aditya.
"Paman, kau di sini?" tanya Kabir. Aditya segera menoleh dengan senyumannya dan mengangguk.