Ini cerita pertama Typ yang asli malu-maluin. Wkwk.
"Dia tidak baik untuk kau perjuangkan dan dia bukan orang yang tepat untuk kau menaruh kepercayaan. Kau perlu banyak belajar tentang rasa. Bahwa seseorang yang benar-benar diperuntungkan untuk diri, tidak akan mengubah kau menjadi lebih buruk, walaupun dia sudah pergi sekalipun. Kau akan terus menjadi diri yang baik."
"Maksudnya yang terbaik buat gue itu, lo?" tanya Bara refleks. Tidak salah bukan? Itu yang Bara tangkap dari penjelasan Spica. Gadis itu hadir memang berusaha membuatnya jadi lebih baik.
Spica tersenyum sinis. "Yang perlu kau tahu ... Saya hadir di kehidupan seorang Aldebaran El Nath karena di bayar."
....
Spica adalah penjara, untuk kehidupan Bara yang bebas. Sedangkan bagi Spica, Bara itu ujian, mengporandakan hidupnya yang tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXV
Spica mampir sebentar ke mini market untuk membeli amplop coklat ukuran sedang, untuk tempat uang yang sudah diambilnya tadi. Yeah, gadis itu berniat untuk mengembalikan semua uang yang pernah Sujaya berikan, kecuali uang kost. Spica hanya merasa tidak pantas menerima uang itu, apalagi jumlahnya sangat besar untuk ukuran Spica. Serasa memakan gaji buta.
Letak cafe tidak terlalu jauh dengan mini market, Spica cukup menyebrang jalan untuk sampai ke sana. Setelah itu memarkirkan sepedanya di parkiran khusus sepeda.
Alunan musik berjudul secret crates-springtime stroll terdengar samar di telinga begitu memasuki cafe dengan suasana santai. Lampu-lampu dengan penutup tradisional yang terbuat dari rotan menghiasi bagian atas cafe, sedikit nuansa alam dengan adanya tanaman
hias sintetis di beberapa tempat dan hampir memenuhi bagian atas cafe, terselip antara lampu-lampu yang menggantung indah.
Spica memang jarang ke cafe, karena memang itu buka tempat tongkrongannya. Tapi sesekali bolehlah. Dan cafe yang di datangi pasti cafe ini, Laa Cafe. Satu alasannya, Spica sudah lumayan paham dengan menu dan harganya. Gadis itu tidak berani datang ke cafe lain, takut harga yang mereka patok untuk setiap menunya lebih mahal dari Laa Cafe. Spica tidak ingin membuang uangnya terlalu banyak, dan berakhir menyesal karena mendekati akhir bulan hanya bisa memakan mie instan untuk sarapan dan makan malamnya.
Walaupun Laa Cafe tidak semurah di pedagang kaki lima, tapi harga di setiap menunya tidak beda jauh dari harga pedagang kaki lima. Selain itu, kasir dan waiters di Laa cafe juga ramah, Spica jadi mudah dan tidak takut menyusahkan setiap kali memesan. Karena Spica, gadis itu cukup ribet jika sudah berhadapan dengan makanan. Seperti saat ini, gadis itu pergi ke bagian kasir untuk memesan minuman sembari menunggu Sujaya.
"Satu jus wortel kental, tanpa gula ataupun susu, murni hanya wortel dan air."
Spica mengambil selembar uang 20 ribu di saku kemeja polosnya. Menaruh uang tersebut di atas meja kasir.
Mba-mba kasir mengangguk, mengambil uang Spica. "Baik mba, pesanan segera datang," ucapnya sambil tersenyum, tidak lupa memberikan sisa uang Spica yang tidak terpakai.
Setelah memesan, Spica memilih tempatnya, meja dekat jendela dengan pemandangan jalan raya. Spica duduk bersandar di salah satu kursi yang tersedia. Duduk dengan kepala bertongka dagu di tangan yang bertumpu di wajah meja.
Hari makin siang, sekitar pukul 9 lebih 30 menit. Spica mengfokuskan pandangannya ke jalan raya yang mulai ramai. Mengamati lalu lalang orang dengan berbagai rupa. Kebayangkan sebuah keluarga kecil dengan kendaraan motornya, Spica menduga mereka akan pergi ke tempat wisata atau tempat hiburan lainnya. Tak jarang juga menemui sepasang yang terlihat mesra berboncengan, jika bukan kakak beradik, pasti sepasang kekasih. Gadis itu tidak yakin mereka sahabat. Karena baginya, tidak ada kata sahabat diantara cowok dan cewek.
Kegiatan Spica jeda oleh kedatangan waiters yang mengantar pesanannya. Waiters cowok dengan seragam putih yang dipadukan apron coklat khas Laa Cafe, terlihat pas di tubuh si waiters cowok tersebut.
Spica membenarkan posisi duduknya ketika si waiters memindahkan segelas jus wortel dari nampan ke meja, tepat di depan Spica.
"Segelas jus wortel tanpa pemanis," ucap waiters diakhiri dengan senyum manis.
Sesaat Spica terpana. Mana mungkin senyum manis dari seorang cowok berbadan ideal dan wajah bersih tidak mengguncang jantungnya? Semua cewek normal pun akan merasa jungkir balik melihatnya. Walaupun itu seorang waiters sekalipun, tidak ada yang bisa menyangkalnya. Tapi untuk menahan agar tidak terlalu berlebihan terpesona padanya mungkin bisa. Dan itu yang dilakukan Spica saat ini.
"Terimakasih," ucap Spica dengan wajah datar.
Spica langsung meminum jusnya sampai setengah gelas. Jika ditanya rasanya enak atau tidak? Jujur Spica akan menjawab tidak. Tapi gadis itu sudah biasa meminum jus tanpa pemanis. Jadi rasanya biasa saja.
Tak lama setelah kepergian si waiters, Sujaya datang dari arah pintu. Pria paru baya itu langsung mencari keberadaan Spica.
Mereka sempat mengobrol sedikit, sebelum Spica menawarkan minuman pada Sujaya. Pria yang merupakan Ayah Bara itu menolak, dengan alasan sudah meminum kopi istimewa buatan istrinya.
Mereka akhirnya duduk berhadapan, Spica mengeluarkan uang yang telah di simpannya dalam amplop. Meletakkannya di atas meja, kemudian menggesernya ke arah Sujaya.
Sujaya tidak bodoh, pria itu bisa menebak isi dari amplop. Namun memilih untuk pura-pura tidak paham dengan maksud Spica.
"Apa maksudnya ini, Nak?"
"Bapak pasti paham," Spica menatap Ayah Bara datar. "Saya tidak berhak menerima ini, tugas saya tidak sesuai dengan apa yang saya dapat. Terlalu berlebihan. Pun sudah berakhir." Spica mengambil kesimpulan. Pikirnya, setelah hari dimana Bara tahu kalau dirinya adalah orang suruhan Sujaya yang di tugaskan untuk memantau Bara, pada hari itu pula tugas Spica selesai.
Sujaya tersenyum, tangannya mendorong kembali amplop tersebut. Menolak menerima isi amplop.
"Saya ikhlas nak. Dan yah, apa yang sudah kamu terima, tidak bisa kamu kembalikan lagi." Sujaya diam sesaat. Mengamati wajah Spica yang tidak memperlihatkan ekspresi apapun. "Sejujurnya saya ingin meminta bantuan mu kembali..."
Spica ingin menyanggah, namun Sujaya dengan cepat meneruskan kalimatnya.
"... Ini tidak sesulit sebelumnya. Yakinlah."
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke atas sejenak, "jadi?"
"Saya ingin kau menemani putraku, memantau segala kegiatan yang dia lakukan. Jangan biarkan dia pergi ke club, tawuran, ataupun hal negatif lainnya. Memerintah anak itu untuk belajar, saya tidak ingin masa depan Bara suram."
"Dengan mengorbankan masa depan saya? Kenapa tidak Bapak sendiri saja yang mengatur Bara? Bapak orang tuanya, bapak yang lebih berhak. Atau... suruh saja orang kepercayaan Bapak untuk bersama Bara." Spica menyanggah. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Sujaya.
"Kau orang kepercayaan saya Nak. Dah yah... saya tidak bisa mengurus Bara 24 jam karena kesibukan saya di kantor. Kau bisa belajar bersama Bara agar nilai-nilai mu tidak menurun. Saya akan memberikan fasilitas untuk kalian belajar, guru privat kalau perlu."
"Tapi saya tidak bisa 24 jam memantau Bara, saya punya kehidupan saya juga Pak. Lagi pula, saya dan Bara beda jurusan."
"Kau bisa memulai dari pulang sekolah. Dan masalah jurusan, itu tidak masalah. Saya bisa menyewa dua guru privat sekaligus."
"Manusia kaya dengan sifat penguasanya." Spica membatin.
Gadis itu diam sesaat, kembali memikirkan alasan. Sedangkan Sujaya tersenyum melihat ekspresi Spica yang seperti itu.
"Lantas apa kata orang yang melihat saya yang selalu di dekat Bara? Saya perempuan dan Bara laki-laki, kami tidak seharusnya..."
"Saya akan mengirim orang untuk menemanimu. Mereka akan menganggap kalian bersaudara. Kau tak perlu risau." Sujaya memotong kalimat Spica.
"Bersaudara? Memangnya siapa bapak ini sampai bisa menyeting otak manusia agar berpikir saya dan Bara itu saudara?"
Spica menghela napas pelan. Sebanyak apapun dirinya mencari alasan, Sujaya selalu menemukan kalimat untuk membalas alasan Spica. Sepertinya memang tidak ada jawaban lain selain mengiyakan.
"Jadi?" tanya Sujaya.
Spica akhirnya mengangguk, "baiklah saya setuju." Gadis itu berfikir sejenak. "Untuk guru privat, sebaiknya tidak usah. Saya tidak perlu guru privat. Dan untuk Bara, masukkan saja anak itu di tempat les biasa."
Spica tidak ingin di anggap memanfaatkan karena Sujaya memberikan guru privat untuknya. Lagipula gadis itu masih bisa belajar sendiri lewat buku dan juga internet.
"Bagus," ucap Sujaya senang mendengar keputusan Spica. Pasalnya pria paru baya itu sangat yakin Spica dapat merubah hidup Bara menjadi lebih baik lagi.
Melihat jam dinding yang terpasang di belakang kasir, Sujaya ingat pertemuannya dengan beberapa klien. "Maaf Nak, saya tidak bisa berlama-lama. Ada urusan yang harus saya selesaikan." Pamit Sujaya.
"Dan simpan kembali isi amplop itu, untuk memenuhi kebutuhanmu," ucapnya sebelum pergi.
Spica membeku saat hendak mengambil amplop, gadis itu tiba-tiba
teringat akan Bara yang membencinya. "Pak! Bagaimana dengan Bara?"
Sujaya menoleh, "sudah saya urus."