“Ada satu cerita yang sangat terkenal di kalangan para malaikat, seseorang di antara mereka mengetahui rahasia tuannya. Kekuatan Naga.”
“Akan ada seorang manusia yang di beri kekuatan naga. Rumor yang sudah berusia ratusan tahun itu sampai saat ini masih sangat terkenal di antara mereka yang hidup di atas sana dan mereka yang hidup di dunia yang berbeda. Gaib.”
“Hingga saat ini, kisah itu masih menjadi tanda-tanya bagi mereka semua. Mengapa? Dan kualifikasi apa hingga manusia itu mendapat kekuatan naga? Makhluk paling kuat sejagat raya.”
“Dan hari ini, mereka semua di kejutkan dengan malam yang terang benderang akan cahaya yang memancar indah di langit sana. Perpaduan warna biru putih ungu itu menampilkan bulan besar yang cerah. Akankah rumor itu menjadi suatu kenyataan? Kim Jeon Woo itukah kau?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aul rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Kim Jeon Woo cepat buka bajumu!"
Kedua bola mata Kim Jeon Woo membelalak tak percaya! Perintah pak Sim kali ini sungguh membuatnya tak percaya apa yang barusan ia katakan. Begitu pun dengan semua anak murid di kelas tersebut.
Lee Seung Man, Yeon Gi Nam, Park Jang Gu tertawa mendengarnya.
"Ta-tapi pak! Untuk apa saya melakukan itu?" Kim Jeon Woo mulai panik, kali ini ia benar-benar ketakutan dengan apa yang mungkin akan di lakukan pak Sim padanya.
"Tentu saja untuk membantu ku mengajar anatomi pada anak-anak."
"Kenapa saya pak?"
Mendengar pertanyaan tersebut pak Sim mulai terlihat kesal, ia pun segera menjelaskan apa sebabnya ia memilih Kim Jeon Woo.
"Haih anak ini! Karena dari tadi kau tidak memperhatikan penjelasan ku! Guru mu ini sedang mengajar berani-beraninya menundukkan kepala mu terus. Apa wajahku ini ada di lantai Hah?!"
Penjelasan dan amarah yang bercampur itu membuat Kim Jeon Woo tak bisa berbuat apa-apa, ia pun hanya bisa menuruti perintah pak Sim.
Hari itu menjadikan Kim Jeon Woo hari paling buruk di banding hari buruk lainnya. Ia di lecehkan! Tubuh bagian depannya di raba-raba dan di sentuh sana sini mengundang banyak gelak tawa untuk mereka yang membulli Kim Jeon Woo.
Semua orang tahu, pak Sim juga tahu, pada hari itu tubuhnya masih lah luka-luka, masih penuh lebam dan penuh rasa sakit yang tiada tara bandingannya.
Malu? Marah? Jijik? Sedih? Kesal? Sedih?
Semua emosi buruk itu kini hanya sedang mengerubungi pikiran Kim Jeon Woo. Anak itu hanya diam menatap kosong lantai bawah sana tanpa berkata apa-apa.
Sudah tak ada lagi harapan ia untuk memikirkan bahwa mungkin masih ada orang yang ingin menolong dirinya. Munculnya rasa ingin tertawa keras pun mulai ada di pikiran Kim Jeon Woo seolah anak itu akan gila karena kehidupan nya yang tidak bahagia.
~
"Aigoo, Kim Jeon Woo benarkan?"
Suara itu! Kim Jeon Woo sangatlah kenal dengan suara itu. Seperti biasa dengan tidak tahu malunya guru itu menghampiri pembicaraan Kim Jeon Woo dengan wali kelasnya pak Gyeong.
"Haha iya benar pak. Saya Kim Jeon Woo." Jawab Kim Jeon Woo dengan ramah. Ia sebisa mungkin menunjukkan wajah manisnya di seluruh isi kantor ini.
Bahkan guru-guru yang lainnya sempat tersenyum manis melihat kejadian itu.
Kalian pikir ini nyata? Tentu tidak, ini hanya sandiwara!
Dan benar saja apa yang Kim Jeon Woo pikirkan itu benar, tujuan pak Sim datang kemari bukanlah menyapa Kim Jeon Woo dengan begitu ramah tidak seperti biasanya. Melainkan untuk dekat dengan orang yang ada bersamanya saat ini, Kang Ha Jun.
"Iya iya." Ucap pak Sim yang kini mengalihkan pandangan kagumnya pada Kang Ha Jun, sosok yang membawa mobil Lamborghini ke sekolah ini.
"Dan anda siapa tuan?" Lanjutnya sembari bertanya dengan wajah berseri-seri.
"Ah, dia adalah...." Pak Gyeong hendak menjawab namun tiba-tiba saja Kang Ha Jun mulai memperkenalkan dirinya dengan begitu berwibawa.
"Saya Kang Ha Jun, saudara dari saudara bibi mendiang ayahnya Kim Jeon Woo." Begitulah Kang Ha Jun memperkenalkan dirinya sendiri yang kini membuat pak Sim kebingungan dengan ucapannya tersebut.
Alhasil, pak Gyeong pun memberitahu secara singkat siapa Kang Ha Jun ini.
"Pak Sim, dia adalah saudara jauh Kim Jeon Woo."
"Ah hahaha iya-iya baiklah. Kalau begitu aku akan pergi." Ucap pak Sim pergi dari sana dengan raut wajah yang sedikit malu.
"Baik pak guru." Seru Kim Jeon Woo dari belakang punggung pak Sim.
Raut wajahnya saat ini terlihat sangat menyenangkan apalagi setelah melihat pak Sim pergi dengan raut wajah seperti itu.
"Kim Jeon Woo, sekarang kau masuklah ke kelas. Belajar lah dengan fokus dan jangan lupa kerjakan tugas-tugas minggu sebelumnya." Titah pak Gyeong pada Kim Jeon Woo.
"Saya harap bapak menjaga saudara saya ini ya! Kalau sampai adik saya ini sakit lagi karena tekanan sekolah, entah apa yang mungkin akan saya lakukan pada sekolah ini." Kata Kang Ha Jun seraya memeluk bahu Kim Jeon Woo dengan senyumannya.
Melihat ancaman secara tidak langsung itu pun, pak Gyeong segera mengatakan iya dengan cepat walau Kim Jeon Woo masih tak percaya dengan ucapannya tersebut.
Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan tersebut, di sana Kang Ha Jun mulai mengatakan sesuatu pada Kim Jeon Woo.
"Hah! Sulit juga ya." Ucap Kang Ha Jun seraya menghela nafasnya.
Kim Jeon Woo tak berkata apa-apa untuk menjawabnya, ia tak tahu harus menjawab apa. Namun setelah itu ia pun segera berterima kasih kepada nya karena telah melakukan apa yang ia katakan malam tadi.
"Terima kasih."
"Hyung." Lanjut Kim Jeon Woo seraya pergi dari sana.
Mendengar Kim Jeon Woo memanggilnya Hyung, Kang Ha Jun tersenyum senang di buatnya. Entah apa mengapa kata itu mampu membuatnya tersipu malu.
"Wah Daebak!"
"Kim Jeon Woo, kau..."
"Wah Daebak Kim Jeon Woo! Wah Daebak!"
Kang Ha Jun lalu pergi dari sana dengan sikap tak karuan seperti anak-anak. Bahkan ia sempat melakukan zig-zag saat ia berjalan menghampiri mobil mewahnya tersebut.
Kepergian Kang Ha Jun menjadi tanda tanya bagi semua para guru di sana.
"Apa kau kenal dengan pria tadi?" Bisik-bisik para guru wanita di kantor itu.
"Aniya, aku tidak tahu." Jawab guru wanita yang lainnya.
"Wajahnya tampan, kurasa dia sudah punya pacar." Ucap yang lainnya lagi.
"Memangnya kenapa kalau dia masih sendiri? Kau mau menggaet nya ya!"
Mendengar rekan teman kerjanya berbicara seperti itu, guru yang masih lajang tersebut tersenyum-senyum sendiri seraya ia membela diri.
"Tentu saja! Jika ada kesempatan kenapa tidak?! Toh, aku juga masih cantik."
"Cih! Harusnya kalian dekat dulu dengan murid yang tadi di bawanya. Namanya Kim Jeon Woo kalau tidak salah."
"Dia dari kelas mana?"
"Anak murid pak Gyeong, kelas 11-2."
Semua guru-guru yang sedang menggibah di sana pun mulai menganggukkan kepala mereka masing-masing lalu mulai melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Di sisi lain Kang Ha Jun yang sudah berada di perjalanan merasakan semua bulu kuduknya berdiri merinding. Hal itu membuatnya mengusap-usap tengkuknya takut terkena demam.
"Kim Jeon Woo, aku akan membuat mu menjadi sosok terkenal nanti! Tunggu saja, aku sudah memilih mu menjadi target ku."
Tiba-tiba saja Kang Ha Jun mulai bergumam seperti itu. Mengingat kembali malam tadi pembicaraan dirinya dengan Kim Jeon Woo.