Apa yang akan kamu lakukan saat satu-satunya keluargamu menjadikanmu sebagai pelunas utang? Apakah kamu akan menerima?
Menikah atas dasar perjanjian akankah berakhir bahagia?
Ini adalah kisah fiktif berdasarkan karangan author semata. Jika nama, tempat, dan latar memiliki kesamaan berarti hanya kebetulan semata...
Salam hangat, Sky Anggara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyanggara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MKP Chap 25 “Menjelang Pernikahan 2”
Tiba-tiba seorang wanita dengan gaun biru selutut datang menghampiri Arya.
“Selamat pagi semuanya, terima kasih karena telah datang memenuhi undangan pernikahan putra saya.” Ucapnya yang ternyata adalah ibu dari Arya.
“Tentu saja bu Mala, terima kasih juga atas jamuannya.”
Setelah perbincangan singkat itu, wanita yang tak lain ibunya Arya pun ijin pamit dengan menggeret lengan Arya.
Sesampainya di dekat pelaminan, bu Mala pun mengajukan pertanyaan kepada Arya.
“Tania mana? Kok belum dateng juga?” Tanyanya dengan nada sedikit kesal.
Pasalnya putranya itu sedari tadi hanya fokus bercerita dengan rekan bisnisnya tetapi tak mempedulikan kedatangan calon istrinya.
“Dia udah otw, ma... Mama kenapa sih?”
“Kamu masih nanya mama kenapa? Kamu udah ngelarang mama ketemu sama calon mantu mama dan sekarang di hari pernikahan kamu, kamunya malah santai gini. Heran mama sama kamu...” Ketus bu Mala yang dibalas helaan nafas berat Arya.
Melihat reaksi putra sulungnya tak bisa membuat bu Mala kesal sampai ke ubun-ubun.
Plakk...
Bunyi pukulan bahu yang di dapatkan serius oleh Bu Mala. Sedangkan sang korban hanya mampu meringis sakit.
“Mama kenapa mukul aku?”
“Cepat kamu telfon supir terus tanyain dia udah sampe mana!” Titah bu Mala yang lagi-lagi di sambut hembusan nafas kasar dari Arya.
Plakk...
“Sekarang apalagi Ma? Mama suka banget nyiksa anak sendiri.” Ucap Arya stres.
Sepertinya pria tampan itu tak menyadari kesalahannya. Ibu mana yang tak kesal jika ia menyuruh sesuatu namun mendapat helaan nafas seakan-akan enggan dan berat hati melakukan.
“Lama-lama mama masukin kamu ke perut. Sana telfon supir, awas aja 20 menit mereka belum dateng juga abis kamu sama mama...” Ucap ras terkuat di bumi itu mengancam dan berlalu pergi tetapi sebelum itu....
“Mama gak mau tau, kamu selesaiin gosip itu. Mama gak mau Tania sampe tau dan denger hal ini.”
Percayalah raut wajah Arya saat ini benar-benar masam. Bukan perkara ia malu di depan kolega juga rekan bisnisnya. Hanya saja ia kesal dengan ancaman sang ibu barusan.
Dalam waktu 20 menit mereka sudah harus tiba di gedung resepsi. Lantas Arya harus berbuat apa jika semisal mereka mengalami macet di jalan?
Ayolah!! Ibunya bukan sebentar tinggal di Ibukota, dan macet sudah menjadi momok kekesalan yang dialami penghuni kota.
‘Supirnya lelet banget... Aku udah bilang jam 10 paling telat udah harus nyampe. Minta di pecat kayaknya....’ Arya membatin.
Padahal baru tadi dia mengatakan jika macet adalah hal biasa terjadi di ibukota tetapi dengan enteng membatin seperti itu. Supir yang malang!!!
•••
Sedangkan di kota lain, nampak Surya yang begitu gusar akan sesuatu.
Beberapa hari ini tidurnya tak nyenyak memikirkan keberadaan Tania.
Hal yang cukup nekat dilakukan oleh Surya adalah dengan datang secara langsung ke kampus Tania untuk mencari informasi rumahnya.
Bertanya kepada Eca dan juga Rudi pun percuma. Mereka tak tau sedikitpun mengenai rumah atau bahkan kehidupan Tania. Mereka saja baru menjalin pertemanan saat menjadi satu tim magang. Tentunya mereka beda jurusan dan lokasi kelas sehingga jarang bisa bertemu.
“Kata ibu itu, Tania udah gak tinggal lagi disini.” Gumam Surya yang saat ini tengah berada di ruang kerjanya di kantor polisi.
...Flashback On...
Di dalam mobil Surya tengah duduk dan sedikit termenung. Saat ini ia telah berada di kampus tempat Tania, Eca dan Rudi berkuliah.
Tentunya ia datang dengan maksud mencari informasi mengenai Tania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...