Ketika takdir membawaku padamu, yang tak kucintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhansmiley, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Can change the way I feel
@Manado 02:05 am
"Mama sudah tidur” bisik Dimas pada Eirene.
Gadis itu mengangguk memaklumi. Sudah subuh, wajar kalau tidak ada yang bangun jam segini.
Eirene kemudian menyeret langkahnya mengikuti Dimas.
“Kamarmu diatas?”
Pria itu menjawab dengan gumaman tidak jelas.
Eirene mengangguk lagi, memperhatikan rumah Dimas yang sederhana dan jauh dari kata mewah. Ini hanya rumah kecil berlantai dua susun sedikit mirip dengan rumah milik keluarga Kafie.
"Jangan di perhatikan ini bukan istana Hartono”
Eirene mencebikkan bibir “kenapa kau selalu berkata begitu?”
Langkah Dimas yang sedang menaiki tangga yang hanya selebar kurang dari satu meter dengan koper di dua tangannya langsung terhenti. Hal itu otomatis membuat Eirene yang tidak tahu gerakan Dimas yang mendadak, otomatis menabrak punggung laki-laki itu.
Dimas membalikan badan, mengubah posisinya menghadap Eirene meski harus lebih menunduk karena posisi berdiri mereka tidak sejajar sebab berada di tangga penghubung lantai satu dan dua rumah ini.
Beberapa saat tatapan mereka saling berpaut, seakan terkunci dengan tatapan masing-masing, sampai kemudian kedua tangan Dimas yang sedang memegang koper terlepas lalu memerangkap wajah Eirene.
“Maafkan aku. Karena kau terpaksa harus menikmati kesederhanaan ini. Karena aku bukanlah pria kaya raya seperti….”
“ssttt…” Eirene meletakkan telunjuknya dibibir Dimas, membuat kalimat pria itu terhenti.
"Aku yang seharusnya minta maaf, aku menjebakmu.. aku memaksamu menikahiku dan bahkan membuatmu menderita”
“Aku yang bersalah padamu mas, karena kau harus kehilangan cintamu, itu karena sifat egoisku yang kekanakan dan...."
Dimas langsung melenyapkan jarak diantara mereka dengan langsung ******* bibir Eirene dengan seluruh perasaannya.
Awalnya semuanya mungkin berantakan, tidak ada perasaan lain selain benci yang sangat besar untuk gadis ini. tapi, semuanya perlahan berubah. Dimas membuka hatinya, belajar untuk memahami gadis ini.
Mencoba mengerti betapa kesepiannya seorang Eirene Hartono, gadis ini hanya perlu diperhatikan.
Dengan segala kelembutan, Dimas mengangkat tubuh Eirene, masih belum memutuskan hubungan bibir mereka, pria itu membawa Eirene menuju kamarnya meninggalkan koper-koper yang berserakan di tangga. Diikuti dengan ritme ciuman mereka yang semakin panas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
@Bali
05:00am
Sakala melirik tubuh gadis yang sedang terlelap di ranjang, mereka baru saja sampai di Bali beberapa jam yang lalu dan setelah mengisi perut, gadis itu langsung terlelap begitu saja.
Itu untungnya jika kau mempunyai uang yang banyak, segala hal yang tidak mungkin termasuk meminta cuti secara mendadak dari kantor istrinya langsung disetujui begitu ayahnya menelpon sang boss besar majalah itu.
Sang ayah bahkan tidak butuh waktu lama untuk mempersiapkan segala kebutuhan berbulan madu mereka.
Hanya dalam beberapa jam mereka sudah terbang ke Bali, menggunakan pesawat pribadi.
Pria ini menghembuskan nafas, melihat betapa damainya Hana Belle saat ini. Padahal ini adalah bulan madu mereka dan gadis ini malah tertidur. Come on..... dia ini pria normal.
"Dia berniat membuatku gila!!” runtuk Sakala kemudian menghempaskan tubuhnya, tidur membelakangi Hana Belle.
………………
10:50 am
Hana Belle membuka mata, sinar matahari pagi benar-benar mengusiknya sinar matahari yang menerobos masuk lewat kaca jendela yang sudah dibuka.
Gadis itu mengernyit, saat tubuh jangkung yang hanya memakai celana pendek keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Hana Belle menelan ludah, mencengkram selimutnya saat tubuh Sakala yang membelakangi cahaya matahari pagi itu terlihat seperti siluet yng harus diakui Hana Belle memang mempesona.
“Kau sudah bangun?”
Usaha pura-pura tidur gagal. Pada akhirnya Hana Belle berpura -pura menguap dan akhirnya bangun.
Gadis itu kemudian menyadari kalau pakaiannya sudah berganti dengan piyama tidur lelaki itu yang kebesaran di tubuhnya.
“Sakala kamu...”
“Aku tidak menemukan piyama tidurmu, karena itu aku mamakaikan milikku. Kau semalam mengigau dan gelisah karena kepanasan”
“Apa?!” Hana Belle menganga total.
“Memangnya kenapa? Sebagai suami yang baik aku melakukan sesuatu yang membuatmu nyaman”
Wajah Hana Belle sekarang memerah total saat mendengar ucapan Sakala, kali ini dia tidak punya muka lagi untuk sekedar melihat pada mata laki-laki itu.
“Memangnya kamu mikirin apa sih?”
Gadis itu buru-buru menggeleng, Sakala mendekatinya menyentil dahi Hana Belle membuatnya meringis kesakitan.
“Kamu tuh yah, suka banget mikir yang nggak-nggak. Bukankah sudah kubilang kalau aku akan menunggu sampai kamu siap? Aku bukan pria brengsek, Abell. Aku lebih suka kepasrahanmu bukan memaksamu” jantung Hana Belle berdetak kencang, dia menatap Sakala yang juga sedang menatapnya, darah berdesir.
Gadis ini tidak dapat menyangkal lagi, dia sudah jatuh kedalam pesona pria tampan ini, yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
“Ngomong-ngomong, kau memiliki bekas luka itu .. sejak kapan dan ….” Sakala belum menyelesaikan pertanyaannya, karena Hana Belle sudah berlari masuk kedalam kamar mandi.
Inilah yang dia paling takutkan, Hana Belle tidak ingin Sakala melihat bekas luka mengerikan di dadanya.
“Sakala Agung Atmadja... Kamu melihat apa saja?!!” teriaknya syok dari kamar mandi.
………………..
Dimas membuka mata dan langsung tersenyum ketika menyadari seorang gadis yang sedang tertidur sambil memeluknya, entah sejak kapan dia mulai menyukai saat- saat ini saat di mana mereka berdua begitu intim dan seakan tidak terpisahkan.
Dimas tidak bisa menahan wajahnya untuk memerah, ingatan tentang kegiatan mereka semalam yang begitu panas dan manis membuatnya berdebar dan merasakan sensasi yang seakan menyetrum. Awalnya memang terasa sangat menyakitkan, karena keduanya yang sama- sama tidak berpengalaman, tapi seiring berjalannya waktu, Eirene maupun Dimas mulai bisa menyesuaikan diri.
Kalau diingat lagi, dulu mereka juga hampir melakukannya kalau saja dia tidak salah menyebutkan nama.
"Mas Dimas?” suara panggilan diiringi ketukan pintu membuat Dimas Anthoni melepaskan pandangannya yang sejak tadi menatap wajah terlelap Eirene tanpa berkedip.
“Mo sampai kapan ngana kurung mama pe menantuku? Ngoni dua so se lewat jam sarapan. Cepat jo keluar kong makan siang deng mama"
Dimas meletakkan tangannya di kedua sisi telinga Eirene, “Iya ma” balasnya cukup keras dan segera memastikan lagi kalau Eirene tidak terusik.
"Cepet yah mas Dim”
"Iya mama”
Dimas berjengit, menatap Eirene yang masih menutup mata tapi malah sedang tersenyum lebar. Gadis itu yang menjawab saat ibunya meminta kepastian kedua.
“kita nggak akan menghabiskan waktu seharian di kamar kan mas Dim?”
"Ka...kamu nggak tidur?”
Senyum Eirene menjadi lebih lebar “nggak, aku sudah bangun dari tadi. Aku bahkan tahu kalau kamu terus saja menatapku sejak tadi” katanya dengan nada menggoda.
“Kamu..."
Eirene baru saja bangkit berdiri, berniat membersihkan diri dari aktifitas mereka semalam. Tapi Dimas malah menariknya dan kembali memerangkapnya.
Mungkin mereka berdua juga akan melewatkan jam makan siang ini, untuk memuaskan nafsu makan yang lain.
...****************...
*ngoni \= kalian
Mo \= mau
kong \= lalu*