Arvan, pria mapan berusia 32 tahun yang tegas dan karismatik, terpesona oleh Elira, seorang gadis lembut berusia 22 tahun yang menjadi karyawan magang di kantornya. Di antara banyak wanita cantik yang mengelilinginya, hanya Elira yang mampu membangkitkan perasaan istimewa di hatinya.
Arvan memutuskan untuk menikahi Elira, meskipun harus mengakhiri pertunangannya dengan Ambar, putri kolega bisnis orang tuanya. Untungnya, Ambar sendiri tidak keberatan karena sudah memiliki kekasih. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan hadirnya seorang bayi perempuan.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Bayi mereka sering sakit-sakitan dan harus bolak-balik ke rumah sakit. Fakta pahit terungkap, memaksa Arvan dan Elira untuk menghadapi pilihan yang tak terhindarka. Berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
Nama Raka Andreas menjadi topik utama di berbagai portal berita. Berita kematiannya menyebar begitu cepat. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga media olahraga internasional.
Kecelakaan beruntun yang terjadi pada putaran terakhir kejuaraan musim ini meninggalkan luka mendalam bagi dunia motorsport.
Siapa yang menyangka balapan yang awalnya berjalan begitu kompetitif berubah menjadi tragedi besar hanya dalam hitungan detik.
Rekaman kecelakaan itu terus diputar berulang-ulang. Beberapa pembalap yang menuju garis finish kehilangan kendali. Dalam sepersekian detik semuanya berubah menjadi kekacauan.
Raka Andreas pembalap muda yang digadang-gadang menjadi ikon baru dunia balap. Dia sang juara bertahan justru menjadi salah satu korban paling fatal di musim terakhir. Lelaki berusia dua puluh delapan tahun itu telah tiada.
Banyak penggemar menolak mempercayainya. Media sosial dipenuhi foto-foto Raka, video kemenangan, potongan wawancara, juga ucapan belasungkawa dari berbagai pihak.
Bahkan tagar mengenang Raka menduduki peringkat pertama sepanjang hari. Dunia balap berduka kehilangan salah satu bintangnya.
***
Langit mendung sejak pagi seolah turut berduka atas kepergian Raka.
Ratusan orang memenuhi area pemakaman.
Keluarga, rekan sesama pembalap, sponsor. Tak ketinggalan awak media yang sudah menunggu sejak semalam.
Dan sudah pasti para penggemar yang selama ini selalu mendukung Raka dari tribun sirkuit.
Banyak yang datang membawa bunga. Selain mengenakan pakaian serba hitam sebagian lagi mengenakan atribut tim. Mereka membawa foto besar Raka. Isak tangis terdengar di mana-mana. Suasana terasa begitu haru.
Peti berwarna cokelat tua perlahan diturunkan ke liang lahat. Tak sedikit orang yang menundukkan kepala, memejamkan mata, ada yang menangis tanpa suara.
Di barisan keluarga...
Ambar berdiri dengan wajah pucat. Matanya sembab, tatapannya kosong.
Sejak kemarin ia nyaris tidak berbicara. Bahkan ketika banyak orang datang memeluk dan menguatkannya, Ambar hanya diam.
Ia seolah masih belum percaya apa yang terjadi.
Tangannya menggenggam erat kain hitam yang ia kenakan. Tubuhnya nampak kuyu, lemah.
Ia rapuh.
Tiara yang berdiri di samping putrinya berkali-kali menyeka air mata. Haris Suseno juga menyimpan perasaan yang sama. Tatapan matanya dipenuhi kesedihan melihat sang putri.
Baru beberapa waktu lalu mereka mulai membuka hati menerima Raka. Mulai melihat kesungguhan lelaki itu mencintai putri mereka. Namun sayang waktu tidak memberi kesempatan lebih lama.
Haris menatap makam yang mulai ditimbun tanah. Da-danya sesak.
Inilah yang selalu ia takutkan. Salah satu alasan menentang hubungan Ambar dan Raka.
Menjadi pembalap berarti hidup berdampingan dengan risiko. Sekuat apa pun, seterampil apa pun tapi maut bisa datang kapan saja di arena balap.
Ia takut putrinya bersedih, menangis kehilangan. Seperti hari ini. Ketakutan itu menjadi nyata.
Ambar berdiri tanpa suara. Tetapi seluruh dirinya berteriak. Jiwanya seakan tertinggal bersama peti di bawah tanah.
Prosesi pemakaman telah usai. Satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman.
Ambar masih berdiri di sana.
Memandang satu titik.
Diam.
Tak bergerak.
Hingga akhirnya Tiara memeluknya. "Sayang... Ayo pulang..."
Tidak ada jawaban.
"Ambar..."
Perempuan itu perlahan menoleh. Mata sembabnya menatap kosong.
"Mama..." Suara itu begitu lirih nyaris tak terdengar.
Hati Tiara langsung remuk. Putrinya bahkan tidak menangis meraung. Tidak berteriak histeris. Ia tahu putrinya hancur kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.
Arvan juga menghadiri prosesi pemakaman itu hingga selesai. Ia berpamitan pada keluarga Suseno sebelum pulang.
"Arvan, terima kasih sudah membantu sejauh ini."
"Sudah seharusnya, Om."
Haris mengangguk pelan. Wajahnya terlihat sangat lelah.
Tiara kemudian mendekat. "Cucuku tidak rewel kan?"
"Tidak, Tante. Jagad anak hebat."
Senyum tipis muncul di wajah Tiara.
"Istri saya juga sangat menyayanginya."
Mata Tiara berkaca-kaca. "Syukurlah..."
Setidaknya cucunya berada di tangan orang baik.
"Setelah semua urusan selesai... kami akan membawanya," ucap Haris.
"Tentu." Arvan tersenyum mengangguk.
Meski dalam hati ia tahu Elira akan sedih saat harus berpisah dengan bayi itu nanti.
***
Di tempat lain. Jauh dari suasana pemakaman yang penuh duka. Elira sedang menimang Jagad di teras taman depan.
Terdengar suara bayi tertawa kecil.
"Uuuu... aaah..."
Elira langsung tertawa gemas. "Aduh... lucu banget sih kamu."
Ia menggoyangkan boneka berbentuk gajah mungil di depan wajah Jagad.
"Ini hidungnya panjang..... Bisa nyium Jagad... Muach...."
"Aaaauuuu...aaaaauuuu...."
Mata bayi mungil itu mengikuti gerakan mainan dengan antusias. Tangannya bergerak-gerak mencoba meraih.
"Jagad sayang..."
"Aaauuu... Aaauuuuuu...."
"Ih gemes deh..."
Elira mencubit lembut pipi gembul itu.
"Onty culik aja kali ya...." Elira tertawa. "Lah ini sudah onty culik..."
Jagad kembali mengeluarkan suara lucu.
Membuat Elira semakin gemas. "Aaaauuuu... Aaaaaoooo...."
Sejak bayi itu berada di rumah suasana rumah terasa berbeda. Lebih hidup dengan suara ocehan, tangisan dan tertawa bayi.
Awalnya Elira memang sempat syok. Ia meluapkan semua emosinya pada Arvan ketika suaminya pulang membawa seorang bayi. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak.
Itu adalah anak rahasia Arvan. Suaminya selingkuh. Tega sekali...
Padahal sebentar lagi bayi mereka akan lahir.
Namun semua prasangka itu langsung menghilang setelah mendengar penjelasan Arvan sebenarnya.
Sejak saat itu Elira justru menjadi orang yang paling sulit jauh dari Jagad. Naluri keibuannya muncul begitu alami. Walau awalnya sempat canggung menggendong Jagad. Ia rela tak tidur semalaman menemani Jagad yang matanya masih terbuka hingga subuh.
Kini ia sudah hafal berbagai ekspresi Jagad.
Tahu kapan bayi itu lapar. Tahu kapan mengantuk. Tahu kapan hanya ingin digendong. Dan bisa diajak bercanda.
"Sebentar lagi Jagad punya adek..." Elira mengelus perutnya. "Dua sayang..."
"Aaaaooooo.... Aaaaauuuuu...."
"Jagad seneng ya?"
"Aaaaaauuuuu....aaaaoooo..."
Elira melihat susu di botol sudah habis.
"Jagad haus ya... Sebentar ya..."
"Mbak Yanti..."
ART muda Elira itupun langsung datang.
"Iya Mbak Nyonya?"
"Tolong buatin susu nya Jagad. Botolnya kosong."
"Siap, Mbak Nyonya."
Elira menyerahkan dua botol susu. Lalu kembali menimang Jagad. "Sabar ya sayang... Susunya masih dibuatin..." Elira menggelitik perut Jagad dipangkuannya itu.
Mbak Yanti tersenyum melihat majikannya. Sudah siap jadi ibu.
Tak lama kemudian mobil Arvan datang.
Elira langsung menoleh. Arvan keluar dari mobil dengan wajah yang tampak lelah.
Wajar saja, dia yang menemani Ambar dan mengurus semuanya sebelum keluarganya datang. Ambar terlalu shock hingga ia tak tahu harus melakukan apa.
Elira langsung berdiri dengan menggendong Jagad. Tatapan mereka bertemu.
Elira tersenyum. "Sudah selesai Mas?"
"Sudah."
Arvan berjalan mendekat ingin mencium dan memeluk sang istri, juga Jagad.
"Eh... Tunggu!" Tangan Elira membuat tanda stop. "Tidak boleh mendekat."
"Kenapa sayang?"
"Astaga... Mas lupa. Cuci kaki cuci tangan, bersih dulu kalau perlu mandi."
Arvan terkekeh. Ia hampir lupa kebiasaannya yang baru sejak Elira hamil. Ia selalu membersihkan diri dulu setelah dari luar. "Maaf.... Mas nggak sabar pingin peluk kamu."
**
Mereka sudah ada di kamar sekarang. Arvan sudah mengganti pakaiannya dengan kaos yang lebih santai.
Ia menggendong Jagad yang tertidur di tangannya setelah puas minum susu.
Arvan menatapnya lembut. Dia masih kecil, namun sudah kehilangan sosok Ayah.
"Kamu hebat Nak. Kamu kuat," ucap Arvan berbisik. Ia mencium lembut pipi Jagad. Lalu memindahkan bayi itu ke box bayi agar tidur lebih nyaman. Box bayi yang sejatinya untuk bayi-bayi mereka nanti.
Arvan melihat Elira.
Menangis.
"Kenapa sayang?" Arvan membawa Elira ke dalam pelukannya.
"Aku takut Mas...." Ia memegang perut besarnya.
"Takut?"
"Bagaimana jika nanti aku bernasib sama dengan Kak Ambar?"
"Sayang... Kok ngomongnya gitu?"
Elira makin menangis namun sebisa mungkin ia menahan suaranya agar tidak mengganggu Jagad yang tertidur. Ibu hamil ini sedang sensitif, tiba-tiba merasa sedih padahal tadi ia senang sekali.
Arvan membawa wajah Elira mendekat melihat matanya. "Dengar sayang... Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, hm."
"Mas disini, tak kan meninggalkanmu." Arvan meyakinkan Elira.
"Janji. Mas nggak akan ninggalin aku?"
Arvan mengangguk menenangkan sang istri. "Iya sayang... Mas janji. Doakan selalu yang terbaik untuk kita."
***
Selain Ambar, ada seseorang lagi yang larut dalam kesedihan terlalu dalam.
Vera.
Perempuan itu berdiri di depan jendela salah satu kamar rawat inap di rumah sakit. Matanya bengkak, merah. Bahkan rasanya air mata sudah habis.
Tetapi setiap kali mengingat Raka...
Tangis dalam diam itu kembali muncul.
Televisi di tengah ruangan masih menyiarkan liputan khusus pemakaman Raka. Cuplikan video Raka saat melaju di sirkuit, wawancara dan foto-foto Raka di tampilkan seiring dengan suara announcer yang sedang menyiarkan berita.
Setiap melihatnya da-da Vera terasa seperti diremas. Lelaki yang ia cinta itu telah pergi.
Selamanya.
Vera tak bisa hadir di pemakaman. Ia harus menjaga rekan satu timnya.
Alasan lain...
Vera tak kuat.
Ia pasti menangis histeris. Menjadi pusat perhatian.
Roni salah satu pembalap yang menjadi korban berada di ranjang pasien. Ia rekan seperjuangan Raka dulu di tim lama. Tangannya di balut perban tebal akibat patah tulang. Wajah lelaki itu juga dipenuhi luka. Tetapi kondisinya jauh lebih baik dibanding kemarin.
Ia menatap Vera lama.
Lalu menatap langit-langit kamar.
"Aku tak tahu akan sefatal ini, Ver." Ia sudah bisa bicara.
Vera menoleh menatap rekannya dengan pandangan kosong. Tak ada kemarahan di wajah Vera. Tidak pula tuduhan.
"Itu murni kecelakaan. Aku bukan sengaja melakukannya."
Suara Roni bergetar. "Meskipun kita bersaing tapi Raka tetap temanku."
Roni juga terpukul atas kepergian Raka.
Kata-kata itu membuat mata Vera kembali berkaca-kaca.
"Istirahatlah...." Ucap Vera lirih lalu keluar dari ruang rawat Roni. Ia melangkah gontai.
Koridor rumah sakit terasa sangat panjang.
Langkah Vera terdengar pelan.
Pandangannya kosong berjalan seolah tanpa tujuan.
Orang-orang yang berpapasan dengannya melihat prihatin. Pasti perempuan ini baru saja kehilangan orang yang sangat berarti.
Vera kini berada di rooftop rumah sakit.
Langit biru membentang luas.
Tak berujung.
Vera melangkah sampai ke pagar pembatas.
Ia menatap langit, mengingat banyak hal.
Tentang Raka.
Suara, tawa, tatapan pria itu dan semua kenangan berputar di kepalanya.
Begitu jelas seolah dia masih ada.
Seolah besok mereka akan kembali bertemu di sirkuit. Berjuang lalu merayakan kemenangan bersama.
Namun kenyataannya tidak akan pernah lagi.
Air mata kembali mengalir.
"Raka..." Suaranya bergetar.
Vera masih berharap suatu saat ia punya kesempatan bersanding bersama Raka tanpa peduli dia sudah beristri.
Tapi kini harapan itu ikut terkubur bersama Raka.
"Raka... apa kau melihatku?" Angin membawa bisikan itu entah ke mana.
Tak ada jawaban.
Tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Isakannya pilu. Bahu perempuan itu bergetar hebat.
Tubuhnya luruh ke lantai. Seluruh kesedihan yang selama ini tertahan keluar sekaligus.
"Aku mencintaimu..." Kalimat itu akhirnya keluar. "Aku mencintaimu Raka!!!"
Vera mengangkat wajah ke langit. Matannya merah penuh luka. Ia sangat kehilangan.
Ia berteriak sekuat tenaga.
"RAKAAAAAAAAAAAAA!!!"
Namun suara itu terbawa angin. Menghilang di langit yang luas.