Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.
Keesokan paginya, suasana di kantor cabang terlihat seperti biasa. Para karyawan mulai berdatangan, sebagian sibuk menyiapkan pekerjaan, sedangkan yang lain masih berbincang ringan sebelum memulai aktivitas mereka.
Kahiyang tiba beberapa menit sebelum jam kerja dimulai. Ia berjalan memasuki gedung dengan langkah tenang. Meski pikirannya masih dipenuhi kejadian kemarin, tetapi wanita itu berusaha bersikap biasa.
Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Sultan terhadap Pak Anton. Namun, dirinya berharap Sultan tidak melakukan sesuatu yang terlalu jauh.
Begitu sampai di ruangannya, ia langsung duduk di kursinya seraya meletakkan tas dan menyalakan komputer bersiap untuk memulai pekerjaannya.
Sementara itu di depan kantor beberapa mobil memasuki halaman dan berhenti berjejer. Sejumlah pria dan wanita berpakaian formal turun dari kendaraan. Mereka membawa map dan beberapa koper kecil berisi perlengkapan kerja.
Para karyawan yang masih berada di lobi melihatnya dan mulai saling pandang, merasa tidak mengenali rombongan tersebut.
"Siapa mereka?" bisik salah seorang karyawan.
"Nggak tahu. Kayaknya bukan orang dari cabang kita."
Tidak ada yang tahu kedatangan mereka. Bahkan petugas keamanan pun terlihat kebingungan ketika rombongan itu berjalan memasuki lobi. Lalu salah seorang dari mereka menunjukkan surat tugas kepada mereka.
"Kami dari kantor pusat. Utusan khusus untuk pemeriksaan internal di divisi audit keuangan kantor cabang ini."
Mendengar hal tersebut, petugas keamanan langsung mempersilakan mereka masuk.
Salah seorang staf divisi audit keuangan yang kebetulan masih berada di lobi dan mengetahui hal itu langsung buru-buru berlari menuju ruangannya. Tujuannya hanya satu memberitahu kabar tersebut pada atasannya. Tanpa mengetuk pintu pria itu langsung masuk begitu saja.
"Pak Anton, ada tim audit dari kantor pusat datang. Katanya mereka mau melakukan pemeriksaan internal di divisi kita," kata staf itu dengan raut panik.
Pak Anton yang sedang memeriksa berkas di atas meja seketika menoleh. "Pemeriksaan apa?" tanyanya, wajahnya terlihat serius.
"Saya kurang tahu, Pak. Mereka hanya bilang begitu pada petugas keamanan," jawab staf tersebut.
Pria itu terdiam, entah mengapa dadanya seketika terasa sesak. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Namun, belum sempat dia mempersiapkan sesuatu, beberapa orang dari kantor pusat berjalan memasuki ruangannya. Salah seorang yang berada paling depan menunjukkan kartu identitas dan surat tugas.
"Saudara Anton?" tanyanya tegas.
"Iya. Saya sendiri," jawab Pak Anton berusaha tetap tenang.
"Kami datang untuk melakukan audit dan pemeriksaan internal terhadap beberapa kegiatan di divisi yang Anda pimpin."
Wajah Pak Anton langsung menegang. "Audit? "Kenapa mendadak sekali? Biasanya selalu ada pemberitahuan sebelumnya."
Pria tersebut menatapnya datar. "Kali ini berbeda, karena bersifat internal maka kami diperintahkan langsung menjalankannya pagi ini."
Jawaban itu membuat Pak Anton semakin gelisah. Dia menelan ludah berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ba-baik. Kalau begitu, silakan."
Rombongan tersebut kemudian masuk ke ruang kerja Pak Anton. Pemeriksaan pun mulai dilakukan. Satu per satu dokumen diminta. Laporan keuangan, catatan transaksi, persetujuan anggaran, hingga beberapa berkas lama diperiksa oleh tim tak terkecuali.
Pak Anton berdiri di sudut ruangan dengan wajah semakin tegang. "Kenapa dokumen bulan ini juga diperiksa?" tanyanya ketika salah seorang auditor meminta berkas tambahan.
"Karena kami sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh."
"Tapi tidak ada masalah dengan laporan saya."
"Kami belum mengatakan ada masalah."
Jawaban itu membuat Pak Anton terdiam.
Pemeriksaan terus berjalan. Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang diarahkan kepadanya. Beberapa transaksi yang selama ini dia anggap aman mulai dipertanyakan. Ada sejumlah pengeluaran yang tidak memiliki penjelasan lengkap. Ada pula persetujuan yang ternyata tidak sesuai prosedur.
Pak Anton mulai berkeringat dingin. "Semua ini masih bisa saya jelaskan," katanya cepat.
"Tentu. Karena itu kami memberikan kesempatan kepada Anda untuk memberikan penjelasan."
Pak Anton mengusap wajahnya. Pikirannya mulai kacau. Ia tidak mengerti bagaimana pemeriksaan ini bisa terjadi begitu cepat. Tidak ada pemberitahuan, sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk menyiapkan apa pun.
Dan yang paling membuatnya takut adalah kenyataan bahwa pemeriksaan tersebut tidak hanya menyentuh pekerjaannya, tetapi juga beberapa keputusan yang selama ini dia sembunyikan.
...
Di ruangan bagian staf bisik-bisik mulai terdengar meski dengan suara pelan. Kahiyang sendiri tetap berkonsetrasi pada pekerjaannya. Di sebelahnya Selbi menggeser kursinya lebih dekat lalu berbisik, "Sepertinya kali ini Pak Anton mendapat masalah besar."
Kahiyang terdiam, menghentikan gerakan tangannya pada papan tuch. Jantungnya mendadak berdetak sedikit lebih cepat. Ia langsung teringat percakapannya dengan Sultan.
'Apakah ini yang dimaksud Rafa, akan mengurus semuanya?'
Ia menarik napas perlahan, lalu memilih untuk tidak tahu apa-apa. Sesuai pesan suaminya, Kahiyang tetap melanjutkan pekerjaan dengan tenang.
...
Menjelang siang, pemeriksaan semakin dalam. Salah seorang auditor membuka sebuah berkas tambahan.
"Saudara Anton, kami juga perlu memeriksa beberapa komunikasi dan laporan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan di divisi ini."
Pak Anton langsung menegang. "Komunikasi?"
Ponselnya yang tersimpan di dalam saku jas terasa seperti benda panas. Tanpa sadar, tangannya menyentuh saku tersebut. Di sanalah rekaman percakapannya dengan Kahiyang masih tersimpan. Dia kembali teringat rencananya untuk menggunakan rekaman itu sebagai senjata. Namun sekarang senjata tersebut justru bisa menghancurkan dirinya sendiri.
"Saudara Anton?" panggil salah seorang tim audit.
Suara auditor membuatnya tersentak. "Iya?"
"Kami minta Anda menyerahkan perangkat kerja yang berkaitan dengan aktivitas kantor untuk diperiksa sesuai prosedur."
Pak Anton terdiam cukup lama. Namun, tak ada pilihan lain dia pun akhirnya menyerahkan ponsel kantor yang biasa digunakannya. Untung saja rekaman itu tersimpan di ponsel pribadinya. Pria itu mengembuskan napas lega. Akan tetapi, rasa lega itu tidak berlangsung lama. Sebab, tepat ketika pemeriksaan hampir memasuki tahap berikutnya, pintu ruang rapat terbuka.
Seorang pria dari bagian managemen masuk membawa sebuah map. "Ini tambahan dokumen dari kantor pusat," ucapnya lalu meletakkannya di hadapan ketua tim audit.
Ketika ketua tim membukanya. Pak Anton memperhatikan dari kejauhan. Wajahnya seketika pucat. Dia mengenali beberapa dokumen di dalam map tersebut. Dokumen yang selama ini dia kira tidak akan pernah diperiksa kembali.
Pria itu mengangkat pandangan menatap Pak Anton dengan pandangan serius. "Saudara Anton, sepertinya pemeriksaan kita akan berlangsung lebih lama dari perkiraan."
Pak Anton tidak menjawab. Dia mulai merasa kursi jabatan yang selama ini membuatnya merasa berkuasa, justru sedang berubah menjadi tempat paling berbahaya baginya.
...
Di sisi lain, di dalam ruang kerjanya yang mewah dan nyaman, Sultan duduk di kursi kebesarannya dengan tenang. Di hadapannya, Ardan menyerahkan sebuah laporan.
"Semua sudah berjalan sesuai rencana, Tuan."
Sultan menerima map tersebut, lalu membukanya sekilas. "Bagus."
Tatapannya berhenti pada satu nama. Meski wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya mengeras. "Pastikan istriku tidak ikut terseret. Aku tak ingin dia tahu terlalu banyak agar bisa bekerja seperti biasa."
Ardan mengangguk. "Baik, Tuan," sahutnya tegas.
Sultan kemudian menutup map tersebut lantas bersandar di kursinya. Dia tidak membutuhkan keributan untuk menghancurkan seseorang. Cukup buka semua kesalahannya, lalu biarkan hukum dan aturan perusahaan yang bekerja.
Dan dari situ, tanpa disadari Pak Anton, pintu menuju kehancuran kariernya sudah terbuka lebar.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭