Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Pesta Perayaan
Malam itu, salah satu ballroom paling mewah di kota tersebut berubah menjadi pusat perhatian. Ribuan lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Rangkaian bunga putih dan hijau menghiasi setiap sudut, sementara meja-meja bundar tertata sempurna dengan dekorasi elegan yang mencerminkan kemewahan Santoso Group.
Malam itu bukan sekadar pesta, tetapi perayaan perjalanan panjang salah satu kelompok usaha terbesar yang telah bertahan dan berkembang selama bertahun-tahun.
Para pengusaha ternama, pemilik perusahaan besar, investor, pebisnis dari berbagai bidang, hingga sejumlah anggota dewan tampak memenuhi ballroom. Mereka datang bukan hanya untuk menghadiri perayaan, tetapi juga untuk menjaga hubungan bisnis, memperluas jaringan, dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam dunia usaha.
Di antara para tamu tersebut, Rashid juga hadir. Ia datang mengenakan setelan jas hitam yang dibuat khusus untuk acara malam itu. Di sampingnya, Marissa tampil elegan dengan gaun panjang yang menyesuaikan kondisi kehamilannya.
Rashid sempat berdiri di dekat pintu masuk sambil mengamati keadaan dan begitu melihat banyaknya pengusaha dan investor yang hadir, sorot matanya berubah lebih serius. Inilah alasan utama ia datang.
Setelah salah satu investor penting itu menghentikan komitmen investasinya, ia membutuhkan jaringan baru. Rashid membutuhkan orang-orang yang bersedia melihat peluang di perusahaannya dan memberikan dukungan untuk rencana ekspansi yang sudah disiapkan. Dan malam ini, hampir semua orang yang ia butuhkan berada di dalam satu ruangan.
“Jangan terlalu tegang,” ujar Marissa setengah berbisik sambil menyelipkan sapu tangan ke dalam kepalan tangan pria itu.
Rashid meliriknya sekilas lalu mengusap pelipisnya. ”Aku sangat gugup sekarang, kau tidak lihat mereka itu? Jika dibandingkan dengan mereka, aku bukanlah apa-apa,” katanya sadar diri.
“Kau memang harus tahu diri,” gumam Marissa pelan, ia kemudian tersenyum ke arah Rashid, menyemangatinya. “Ayolah, jangan merasa rendah diri seperti itu, kau juga hebat dan keren.”
Mendengar itu Rashid mengangguk, untuk sesaat ia merasa beruntung Marissa mau menemaninya dan menyemangatinya. Tetapi, meski begitu, pikirannya tetap penuh perhitungan.
Ia tidak datang untuk bersenang-senan, tetapi untuk mencari peluang dan kesempatan emas yang mungkin saja bisa ia dapatkan di sini.
Tidak lama setelah itu, suara percakapan di dalam ballroom perlahan berubah ketika pintu utama kembali terbuka. Beberapa kepala langsung menoleh ke arah pintu utama.
Para fotografer yang telah berjajar di sisi karpet merah mulai mengangkat kamera mereka. Harland Santoso muncul lebih dahulu. Di sampingnya berjalan Karin Santoso dengan gaun elegan berwarna lembut. Di belakang mereka, Galendra Santoso mengikuti dengan sikap tenang.
Keberadaan mereka di sana seolah-olah telah menjadi tanda bahwa acara utama benar-benar dimulai, suasana ballroom mendadak jauh lebih ramai.
“Pak Harland!”
“Selamat atas perayaan Santoso Group!”
“Sudah lama sekali kita tidak bertemu!”
Beberapa pengusaha segera menghampiri, mencari muka di hadapan pria yang namanya sering disebut-sebut sebagai pengusaha paling sukses.
Harland tersenyum ramah dan menjabat tangan satu per satu. “Terima kasih sudah datang.”
Karin juga menerima berbagai ucapan selamat dengan senyum hangat. Sementara para fotografer tak berhenti mengambil gambar.
Galendra yang berdiri tidak jauh dari kedua orang tuanya hanya mengamati keadaan dengan tenang. Sesekali ia berbicara kepada beberapa mitra bisnis yang datang menyapa.
Namun, di tengah keramaian tersebut, terdengar percakapan kecil dari sekelompok tamu yang berdiri tidak jauh dari sana.
“Bukankah keluarga Santoso memiliki tiga putra dan satu orang putri? Di mana mereka? Mengapa hanya ada putra tertuanya saja?”
“Apa kau tidak tahu? Putra keduanya adalah seorang dokter bedah, ia jarang sekali terlihat di acara-acara seperti ini.”
“Ah, benarkah? Kudengar putra ketiganya adalah seorang aktor? Ketiga putra keluarga Santoso itu benar-benar pantas dibanggakan.”
“Lalu bagaimana dengan putri bungsu mereka? Aku dengar putrinya jarang terlihat di media, bahkan ada yang mengatakan putri bungsu keluarga Santoso itu meninggalkan status konglomeratnya demi bisa menikah dengan seorang pria biasa.”
“Astaga, apakah itu benar? Rasanya sangat tidak mungkin. Bisa saja putrinya sedang menjalani study di luar negeri dan media sengaja membuat rumor seperti itu.”
“Ah, entahlah. Tetapi aku jadi begitu penasaran, andai saja putrinya hadir di sini, aku benar-benar akan mengajaknya berkenalan dan bahkan menjodohkan putraku dengannya.”
“Ya ampun kau ini, berharap terlalu tinggi. Kinara Santoso belum tentu berminat terhadap putramu.”
Percakapan kecil itu perlahan berkembang menjadi bisikan di beberapa sudut ballroom. Keluarga Santoso memang dikenal luas oleh dunia bisnis. Namun kehidupan pribadi mereka nyaris selalu tertutup.
Galendra, Sagara, dan Kalandra cukup dikenal di kalangan tertentu karena masing-masing memiliki aktivitas profesional. Akan tetapi, nama putri bungsu keluarga Santoso hampir tidak pernah muncul di hadapan publik.
Rumor mengenai Kinara semakin melebar dan membuat beberapa orang semakin berbisik-bisik membicarakannya. Bahkan Rashid yang sedang berbicara dengan seorang pengusaha tiba-tiba mendengar nama tersebut.
Tangannya yang memegang gelas berhenti sesaat.
“Siapa yang sebenarnya mereka bicarakan? Mengapa aku tidak sengaja mendengar nama KInara? Apakah maksudnya … ah, mana mungkin? Pasti Kinara yang lain, kan? Tidak mungkin wanita itu,” monolognya, sambil memikirkan nama yang beberapa hari terakhir terlalu sering muncul dalam pikirannya.
Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pengusaha di hadapannya kembali berbicara mengenai kondisi bisnis. Rashid memaksa dirinya kembali fokus ke dunia nyata, dalam hatinya ambisi itu semakin membara. Apapun caranya akan ia lakukan demi bisa mendapatkan kepercayaan investor.
Sementara itu, di sisi lain ballroom, Karin tampak berbicara dengan seorang perempuan yang baru datang. Galendra berdiri tak jauh dari sana. Ia sesekali melirik ke arah pintu masuk, seolah menunggu seseorang.
tp kl bikin Salah dng istri sah gk pernh minta maaf.
gedek banget semoga karma nya makin menyakit kan buat Rasyid Dan Marisa
cm gitu tok gk seru banget.