Indonesia
NovelToon NovelToon
PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:704.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Bunda Abizzan

Qonita Yasmin Siregar, janda dengan 2 anak laki-laki, bercerai karna diselingkuhi suaminya.

Sulaiman, duda keren dan mapan dipaksa berkenalan dengan Qonita, lantaran anak semata wayangnya yg bernama Ichy serta mamanya menyukai Qonita.

Pertemuan pertama yang sangat tidak menggoda bahkan penuh perdebatan malah menjadi alasan kedekatan mereka hingga akhirnya mereka menikah, dan membina rumah tangga yang sangat bahagia.

Namun siapa sangka secara tidak sengaja, Qonita mendapati suaminya bersama perempuan lain.

Apa yang akan dilakukan Qonita setelah mengetahui bahwa ternyata dialah yang menjadi madu karena ternyata sulaiman sudah lebih dulu menikah dengan perempuan itu?

Bagaimana akhir kelanjutan rumah tangga Qonita dan Sulaiman?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Abizzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Berdua Lagi

Selesai berkunjung ke rumah Udak Zardi, Iman dan Qonita kini berada di dalam mobil.

"Langsung pulang ini, Sayang?" tanya Iman pada Qonita.

"Iya, Bang. Abang pulang atau ke kantor lagi?"

"Pulang, Sayang. Gak mau jalan dulu? Nonton mungkin?" Iman mengerling.

"Em, gak usah aja ya, Bang. Gapapa, kan?"

"Hahaha... Kamu masih takut sama Aku?"

"Bukan gitu, Bang. Kasian Vivi dan anak-anak."

"Bukan karna Aku ajak nonton, kan?"

Qonita menggeleng sambil mengernyit.

"Gak bakal Aku apa-apain kali, Sayang. Ditempat umum, gak mungkin lah Aku lakuin itu?" Iman tersenyum nakal.

"Ngelakuin apa, Bang?"

"Hahaha..." Iman malah tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Yang Kamu takutin, mungkin."

Qonita menatap Iman yang menatap kedepan, namun sesekali calon suaminya itu melirik kearahnya dengan senyum menggodanya.

"Jadi kalo gak ditempat umum, bisa jadi Abang melakukannya?"

"Melakukan apa, Sayang?" Iman malah pura-pura bertanya.

Qonita menelan ludahnya. "Jadi selama ini, Abang sebebas itu?" tanya Qonita dengan suara suara lirih.

"Eiiitsss... Sebebas apa ini maksudnya, Sayang?" Iman melirik pada Qonita yang wajahnya sudah berubah, antara wajah marah, kesal dan sedih.

Iman yang menyadari suasana sudah tak menyenangkan akhirnya meminggirkan mobilnya lalu memberhentikannya.

"Qonita, Sayang. Aku gak munafik gak pernah sentuh perempuan sebelum menikah. Tapi Aku gak pernah maksa, ya karna mau sama mau. Tapi Aku juga gak seburuk yang Kamu fikir, Sayang."

Qonita kembali menelan ludahnya mendengar penuturan Iman. Sesungguhnya ia tak mengharapkan pernyataan yang seperti itu.

"Sejauh apa, Bang?"

"Iyum-iyum, eluk-eluk," jawab Iman jujur.

Qonita menghela nafas. "Bibir?" tanyanya memastikan.

"He em."

Qonita memalingkan wajahnya mendengar pengakuan Iman. Ia menejamkan matanya sesaat. Tak siap menerima jawaban Iman.

Bukankah menjelang pernikahan, ada saja masalah yang muncul. Mungkin, ini lah masalah yang dihadapi Qonita, menjelang pernikahannya.

"Sering?" tanya Qonita menatap tajam pada Iman.

"Sesekali, Sayang. Pas momennya aja," jawab Iman setenang mungkin.

"Ngeraba, juga?"

"Nggak. Bisa bablas kalo pake acara ngeraba, Sayang. Paling jauh aku ya CB aja, Sayang."

"Sama berapa banyak perempuan?"

"Cuma satu, Sayang. Pacar Aku, dulu."

"Mayang?"

Iman tersentak. "Kamu, tau?" tanya Iman terkejut karena Qonita mengetahui nama Mayang.

"Bu Herni pernah cerita. Tapi Abang gak boleh gitu ke Qonita." Qonita memasang raut wajah serius, memicingkan matanya tajam pada Iman.

"Iya, Sayang. Iya... Aku tau. Makanya Aku ajak cepat nikah."

"Selama Abang menduda, apa pernah..." Kalimat Qonita terhenti karena Iman langsung menyanggahnya.

"Nggak pernah, Sayang. Selain sama istriku, Aku gak pernah melakukannya sama perempuan lain." Iman menjawab dengan menatap lekat mata Qonita.

"Iyum-iyum dan eluk-eluk yang Aku lakukan pun, cuma pernah sama Mayang. Itu pun karna Aku pacaran sama dia," ucap Iman tegas dan pasti.

"Maaf, kalau masa lalu Aku buat Kamu sedih. Tapi itu cuma masa lalu Aku, Sayang." Iman menatap sendu pada Qonita.

“Apa Abang cium pipi kanan dan kiri kalo sama temen atau rekan kerja Abang?"

Iman mengernyit. "Maksudnya, Sayang?"

"Ya mana tau karna rekan kerja Abang dari luar, terbiasa dengan budaya barat, kalo jumpa pake cipika cipiki?"

"Nggak Sayang, nggak. Seperti yang pernah Aku bilang Sayang, setelah menikah Aku malah menghindar dari yang namanya perempuan. Dan gak pernah lah Aku gitu, ketemu ya jabatan tangan aja kali, Sayang," jawab Iman lugas.

"Mulai sekarang, Abang harus bisa batasi diri. Gak menyentuh perempuan lain, paling cuma karna salaman aja. Selain itu gak boleh!" ujar Qonita tegas.

"Dan hindari curhat-curhatan sama lawan jenis. Apalagi sama mantan!" Qonita berucap penuh penekanan.

"Iya, Sayang. Aku ngerti. Kamu beneran cemburuan ternyata, ya." Iman menaikkan bibir kanannya.

Qonita mengangguk. "Bukan karna cemburuannya, Bang. Tapi karna memang gak boleh. Mungkin curhat-curhatan terkesan gak masalah. Ah kan cuma cerita ke temen aja. Gak masalah donk," Qonita mempraktekkan kalimat yang mungkin ada dalam fikiran orang.

"Tapi kebersamaan itu bisa buat sayang, Bang. Yang semula temen jadi demen. Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Apalagi iblis paling senang merusak hubungan suami dan istri. Makanya kita harus sama-sama menjaga," tuntut Qonita.

"Iya, Sayang. Aku janji, akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Kamu. Em, kalo kayak gini momennya pas lho Sayang, ngomongnya sambil genggam tangan Kamu, trus cium jemari Kamu, lalu... Hahahaa..." Iman tertawa melihat Qonita yang sudah melotot marah.

Qonita heran, calon suaminya ini cenderung sering terlihat jahil padanya, berbanding terbalik dengan sikapnya di awal perjumpaan mereka. Qonita fikir, jabatan bagus yang Iman pegang, membuatnya akan terlihat serius dan kaku, tapi ternyata tidak.

"Em, apalagi Sayang? Ngomong donk. Aku seneng bisa cerita-cerita gini ke Kamu. Setidaknya, Aku lebih banyak tau dari sudut pandang Kamu."

"Bang..."

"Hem..."

"Nanti kalau kita udah nikah, Qonita mau kita membiasakan beberapa hal."

"Apa, Sayang?"

"Kalau salah satu dari kita ada yang mau pergi, Qonita cium tangan Abang, dan abang harus cium kening Qonita. Soalnya cium kening itu menambah rasa sayang, Bang," imbuh Qonita.

"Wah, kalau itu Aku setuju, Sayang. Bahkan Aku kasih lebih dari itu." Iman memajukan bibirnya, mengusili Qonita, menandakan bahwa bukan hanya cium di kening saja yang akan diberikannya tetapi juga di bibir.

Qonita berdecak. "Terus, sebelum kita tidur, Qonita bakal minta maaf ke Abang, semoga Abang ridho 100% pada Qonita untuk hari yang kita lewati bersama. Karna Ridho seorang istri ada pada suaminya."

Iman terdiam sejenak. "Apa Kamu selama menikah, selalu melakukannya?"

Qonita menggangguk. "Dari awal menikah Bang, sampai..." Qonita terdiam sejenak dan memasang wajah sendu, teringat akan masa lalu pahitnya pernikahannya.

Iman langsung bersuara. "Ok, kita lakukan itu setiap malam, Sayang. Ada lagi?"

"Kita harus saling terbuka Bang. Komunikasi itu sangat perlu. Jangan membiarkan masalah kecil tanpa diselesaikan, ujung-ujungnya nanti akan menumpuk dan menjadi masalah besar."

Iman mengangguk. Tapi ekspresinya datar, dan seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Kalau Abang pengennya gimana?" tanya Qonita.

"Em, kalo tiap malam sebelum tidur, Aku minta kamu pake lingerie, Kamu mau, gak? tanya Iman asal.

Qonita menunduk. Malu mendengar permintaan Iman.

"Kalau Kamu gak mau, jangan dipaksain, Aku cuma..." Kalimat Iman terhenti seiring Qonita mengeluarkan suaranya.

"Qonita gak punya Bang, tapi nanti akan Qonita beli beberapa," tutur Qonita.

Iman menelan ludahnya. "S!al. Bisa gak kuat Aku," umpat Iman dalam hati.

"Ada lagi, Bang?"

Iman menoleh pada Qonita. "Untuk sementara ini gada, Sayang. Lebih aman kalo kita pulang deh kayaknya, Sayang?" ungkap Iman dengan suara serak.

Qonita mengangguk.

1
Asih Ngadisih
pintarnya bunda Qonita 🥰
Rohaini Ani
lanjut masa depan
Susilawaty Pdg
aduh Mayang aku kasihan sama kamu,tapi kamu g sayang dirimu
Susilawaty Pdg
kasihan Mayang kamu berhak bahagia punya suami sah yg mencinta,bukan dari sisa cinta
Yunia Spm
othor mau macem² ini 😀
Bunda Abizzan: 🤣 nggak kak 😂
total 1 replies
Yunia Spm
manusiawi .....

tapi .. kalo Qonita masih bisa menyikapinya lebih dewasa...
dan kalo semuanya atas ijin ALLAH
Bunda Abizzan: Benar Kak 😊
Qonita lbh ke ikhlas aja menjalaninya, namun bukan berarti dia nggak tegas...
total 1 replies
leni
karya nya sangat bagus
leni: sama2..😊
total 2 replies
Merianna Nainggolan
Biasa
Merianna Nainggolan
Kecewa
miss. MH: ikut promo ya kakak2
mampir ya ke novelku "BUCIN DARI KECIL" dan "AKU (BUKAN) WANITA MANDUL) jangan lupa follow dan like ya ka
mohon dukungannya
total 1 replies
Merianna Nainggolan
Lumayan
Merianna Nainggolan
Biasa
Andara
cerita nya berbeda dari yg lain, suka dialog yg gokil 😘
Bunda Abizzan
🥰
Merianna Nainggolan
Kecewa
Bunda Abizzan: Trima Kasih Kak sudah singgah di novel saya, maaf jika tidak sesuai dgn keinginan Kakak..

Tp dgn kakak memberikan bintang rendah apalagi 1, itu mempengaruhi banget lho kak ke popularitas...

Smg kedepannya bs membantu penulis dengan masukan/saran yg membangun ya Kak 🙏

Trima kasih 😘
total 1 replies
Ha Ra
luar biasa
Ha Ra
tetap semangat kak
Rooo
Semangat, ceritanya cukup menarik
Rooo
Semangat kak 😘
Genta Babaw
Ceritanya unik dan simple..
Genta Babaw
Saya mampir kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!