Indonesia
NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 25

Suara bel pulang pun berbunyi

KRINGGG!!!

Putra segera membereskan seluruh buku mata pelajaran dan alat tulisnya, lalu memasukkannya satu per satu ke dalam tas. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia segera berjalan menuju keluar kelas lalu ke gerbang sekolah untuk pulang.

Di tengah perjalanan, langkah Putra tiba-tiba terhenti.

Dari kejauhan, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya berdiri di depan sebuah toko sembako.

Ayahnya.

Putra seketika merasa begitu bahagia. Sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan ayah kandungnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menghampirinya. ada rasa rindu yang selama ini ia pendam, seolah akhirnya menemukan kesempatan untuk terlepas.

Namun...

Baru beberapa langkah berlari, Putra melihat ayahnya berjalan mundur selangkah. Dari dalam toko sembako, seorang wanita keluar sambil menggendong seorang bayi.

Putra langsung memperlambat langkahnya.

Wanita itu bukan mamanya Melainkan orang lain Putra akhirnya berhenti. Tatapannya terpaku pada ayahnya yang kini berdiri begitu dekat dengan wanita tersebut. Dari cara mereka berbicara dan bersikap, keduanya tampak begitu akrab.

Kemudian, ayah Putra menatap bayi yang berada dalam gendongan wanita itu.

Dengan lembut, ia mendekat lalu mencium kening bayi tersebut.

“Anak Ayah yang paling pintar...”

Senyumnya mengembang.

“Lucu banget kalau senyum.”

Putra hanya terdiam. Senyum bahagia yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

Dadanya terasa sesak. Entah mengapa, mendengar perkataan ayahnya membuat sesuatu di dalam dirinya runtuh begitu saja.

Air mata mulai menggenang di kedua matanya, lalu perlahan jatuh membasahi pipinya perlahan. Selama ini Putra selalu berusaha berpikir baik tentang ayahnya. Ia selalu meyakinkan dirinya bahwa apa pun yang dilakukan ayahnya pasti memiliki alasan.

Namun, untuk pertama kalinya, keyakinan itu mulai goyah.Tatapannya tetap tertuju pada ayahnya.

*Ku kira selama ini Ayah sering memukuli Mama sebagai bentuk teguran...Ternyata... Ayah memang sudah tidak menyayangi dan membutuhkan Mama lagi.*

Dan untuk pertama kalinya putra memiliki dendam yang membara pada dirinya kepada sang wanita yang menjadi orang ketiga.

*jadi ini alasan ayah tidak pernah pulang lagi kerumah?*

Setibanya di rumah, Putra langsung disambut aroma masakan yang begitu gurih dan menggugah selera. Aroma tersebut membuatnya penasaran.Ia segera meletakkan tasnya di sofa, lalu berjalan menuju dapur.

Di sana, ternyata Mama sedang memasak nasi goreng.

"Wah, nasi goreng!"

Mama masih sibuk mengaduk nasi goreng di dalam wajan. Namun, ia tetap menyadari kedatangan Putra.

"Putra, ternyata kamu sudah pulang."

"Iya, Ma."

"Bagaimana sekolahmu hari ini, Putra?"

"Seperti biasanya, Ma..."

Mama kembali mengaduk nasi gorengnya.

"Gitu... Tapi tidak ada yang mengganggu kamu lagi, kan, Nak?"

"Tidak, Ma."

"Baguslah. Mama senang kalau sudah tidak ada yang mengganggumu lagi. Soalnya, semester satu kemarin LKS Bahasa Inggris kamu dihilangkan Ardi, kan? Sampai kamu bertengkar di kamar mandi. Mama dan mamanya Ardi bahkan sampai dipanggil guru BK."

Mama kemudian memindahkan nasi goreng dari wajan ke sebuah piring.

"Itu kan kejadiannya sudah lama, Ma."

"Walaupun sudah lama, namanya juga orang tua. Pasti tetap khawatir, apalagi anaknya pernah mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan."

Nasi goreng itu akhirnya selesai dibuat. Mama kemudian memberikan sepiring nasi goreng kepada Putra. Namun, saat melihat wajah anaknya, ekspresi Mama perlahan berubah.

Hidung Putra tampak memerah. Kedua matanya juga terlihat sembap, seolah baru saja menahan tangis.

Mama langsung merasa khawatir.

"Nak... Kenapa kamu kelihatan seperti habis menangis? Apa ada yang membully kamu lagi?"

Putra segera mengusap wajahnya, berusaha menyembunyikan keadaan sebenarnya Melihat itu, Mama semakin khawatir. Ia mendekat dan memegang pipi Putra dengan lembut.

"Ada apa, Nak?"

Putra terdiam sejenak.

"Aku mau tanya sesuatu, Ma... Tapi takut Mama marah."

"Katakan saja. Tidak apa-apa, Nak."

Putra menarik napas pelan sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Ma... apakah Ayah berselingkuh?"

Mama langsung terdiam. Ia menoleh ke samping, lalu berjalan menuju ruang makan dengan wajah yang berubah muram. Jelas terlihat bahwa ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.

Mama membawa sepiring nasi goreng tersebut ke ruang makan dan meletakkannya di atas meja, Putra yang masih penasaran segera menyusulnya.

"Tadi aku melihat Ayah bersama wanita lain di toko sembako..."

Mama tetap diam, seolah tidak mendengar perkataan Putra.

"Kalau Ayah sibuk bekerja lembur di luar sana, kenapa sekarang Ayah malah berduaan dengan wanita lain di sana?"

Mama meletakkan piring nasi goreng di atas meja.

Pertanyaan Putra membuat perasaan yang selama ini ia pendam kembali terusik. Ia merasa muak dan tidak sanggup mendengarnya lebih jauh.

"PUTRA! BERHENTI MENANYAKAN HAL YANG TIDAK PENTING!"

Bentakan itu membuat Putra terdiam Namun, ketika Mama menatap kedua mata Putra, ia tiba-tiba teringat pada putra ketika masih kecil.

Entah mengapa, rasa bersalah justru muncul dalam dirinya. Mama yang sebelumnya membentak Putra akhirnya melembut. Ia segera memeluk anaknya dengan erat.

"Maafkan Mama, Nak... Mama tidak seharusnya membentakmu."

Mama mengusap punggung Putra perlahan.

"Tidak, Nak. Ayahmu tidak berselingkuh. Mungkin wanita itu hanya teman kerjanya."

Putra terdiam. Sebenarnya, ia sudah mengetahui bahwa Ayahnya berselingkuh. Namun, melihat Mama yang berusaha menutupi semuanya, Putra memilih untuk mempercayai kebohongan itu.

Malam harinya, Putra bersiap untuk pergi bekerja.

Ia menghampiri Mamanya.

"Ma! Putra mau pergi kerja dulu."

Mama segera menghampirinya sambil membawa sebuah jaket.

"Putra, pakailah jaket ini. Di luar dingin."

"Terima kasih, Ma..."

Putra menerima jaket tersebut dan langsung mengenakannya. Setelah itu, ia berpamitan dan berjalan keluar rumah menuju tempat kerjanya.

(Kembali ke masa sekarang)

"Jadi, Rey... mengapa kamu bekerja padahal ayahmu sendiri sudah bekerja keras?" tanya Arya.

Rey terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Mamaku sering mengatakan itu sejak aku kecil. Katanya, kalau aku menginginkan sesuatu, aku harus berusaha mendapatkannya sendiri."

Rey menundukkan pandangannya.

"Aku juga sering melihat Mama waktu itu. Dia hampir setiap hari berjualan keliling dari pagi sampai matahari terbenam."

Rey menghela napas pelan.

huuu....

"Jadi, aku tidak tega kalau harus meminta sesuatu kepada Mama."

Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri meja mereka sambil membawa sebuah nampan. Di atasnya terdapat segelas espresso mocha white.

"Permisi. Ini pesanannya, espresso mocha white. Kalau ada yang ingin dipesan lagi, tinggal bilang saja."

Pelayan itu meletakkan minuman tersebut di atas meja.

"Terima kasih, Kak. Tidak ada."

"Baik. Kalau begitu, saya pergi dulu."

Pelayan tersebut kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

Arya kembali menatap Rey.

"Tunggu... tunggu."

rey kembali menoleh ke arah Arya.

"Berarti selama ini benar? Mama kandungmu bukan Dwi?"

Rey hanya menatap Arya tanpa langsung menjawab.

Arya kemudian kembali bertanya.

"Lalu, Rey... kenapa ayahmu bisa sampai terpincut dengan wanita lain? Maaf kalau pertanyaan ini cukup mengganggumu."

Rey menggeleng pelan.

"Tidak masalah, Arya. Kamu tidak perlu minta maaf. Ayahku memang seperti itu. Awalnya dia orang yang romantis... tapi ternyata semua itu hanya tipu dayanya."

Tatapan Rey berubah dingin.

"Pada akhirnya, semua yang dia tunjukkan hanyalah kebohongan."

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!