Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : TIPE PEREMPUAN YANG BERUBAH

...BAB 26 ...

...TIPE PEREMPUAN YANG BERUBAH...

Sore itu, setelah anak-anak selesai bermain dan dibawa Wulan ke dalam untuk mandi, Clarissa dan Rian berjalan ke taman belakang.

Udara terasa sejuk...

Beberapa tanaman yang dirawat Wulan tampak tumbuh subur, tertata rapi, sementara cahaya matahari mulai meredup di balik pepohonan. Ada aroma tanah basah.

Clarissa duduk di bangku taman.

Rian berdiri sebentar untuk melihat tanaman di dekat pagar, kemudian duduk di sampingnya dengan jarak yang sopan.

"Rian," panggil Clarissa pelan.

"Hm?"

"Boleh aku bertanya sesuatu? Yang agak pribadi."

"Tentu."

Clarissa memainkan ujung jarinya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri. Ia menatap lurus ke depan.

"Kalau suatu hari nanti kamu menikah lagi, tipe istri seperti apa yang kamu inginkan?"

Rian terdiam sejenak.

Pertanyaan itu sebenarnya tidak mengejutkan. Ia sudah menduga Clarissa akan menyinggung soal pernikahan, mengingat ibunya terus berusaha mendekatkan mereka.

Namun, kali ini ia mencoba menjawab dengan jujur, bukan jawaban diplomatis.

"Aku nggak terlalu memikirkan penampilan atau hal-hal seperti itu lagi," jawabnya pelan.

Clarissa menoleh. "Lalu?"

Rian menyandarkan punggungnya ke bangku. "Kurasa, aku lebih suka perempuan yang sederhana. Lembut, sayang anak-anak, dan bisa membuat rumah terasa nyaman. Yang kalau pulang kerja, rasanya pengen cepat-cepat pulang."

Clarissa terdiam, mendengarkan dengan saksama.

Rian melanjutkan, tanpa menyadari bahwa jawabannya perlahan membuat perempuan di sampingnya kehilangan senyum.

"Aku juga suka perempuan yang pintar memasak. Bukan berarti harus selalu memasak setiap hari, tapi aku suka kalau seseorang bisa menikmati hal-hal sederhana seperti makan bersama keluarga. Nggak perlu restoran mahal."

Clarissa menunduk sebentar. Jemarinya meremas ujung roknya.

Ia terbiasa tampil modis, mengikuti acara sosial, dan menghabiskan banyak waktu untuk pekerjaannya sendiri di butik dan event organizer. Memasak bukanlah keahliannya.

Bahkan, ia jarang berada di dapur karena selalu ada orang yang menyiapkan makanan di rumahnya dan di apartemennya.

Kata sederhana terasa sangat jauh dari hidupnya. "Jadi, kamu suka perempuan yang sederhana dan keibuan?" tanyanya pelan, suaranya sedikit lebih kecil.

Rian mengangguk. "Kurang lebih begitu."

Clarissa tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Dulu, aku kira kamu menyukai perempuan yang berbeda."

Rian mengernyit. "Memangnya kenapa?"

"Entahlah. Kamu pernah menikah dengan Nita. Dia cantik, modis, dan punya karier yang cukup dikenal. Aku pikir perempuan seperti itu memang tipe kamu. Dan... aku pikir aku juga masuk tipe itu."

Rian terdiam. Ia tidak menyangka Clarissa akan jujur seperti itu.

Nama Nita membawa pikirannya kembali pada masa lalu.

Dulu, ia memang tertarik pada perempuan yang cantik, modis, percaya diri, dan memiliki karier cemerlang.

Ia menyukai penampilan yang menarik serta cara seseorang membawa diri di hadapan banyak orang. Ia bangga menggandeng Nita ke acara kantor.

Nita memiliki hampir semua hal yang dulu ia anggap penting. Dan Clarissa pun memiliki banyak kesamaan dengan tipe perempuan yang dahulu ia sukai.

Cantik, wangi, berpendidikan, mandiri.

Namun, pernikahannya dengan Nita telah mengubah cara pandangnya secara total.

Rian pernah mengira bahwa penampilan menarik dan kesuksesan karier cukup untuk membuat sebuah hubungan berjalan baik.

Ternyata, pernikahan membutuhkan lebih dari itu.

Membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan seseorang yang mau tetap tinggal saat semua hal tidak lagi indah.

Ia tidak menyesali seluruh masa lalunya, tetapi ia menyesali keputusan-keputusan yang dulu diambil tanpa benar-benar memahami apa yang ia butuhkan dalam sebuah keluarga.

Kini, yang ia cari bukan lagi sekadar perempuan yang terlihat sempurna di mata orang lain.

Ia menginginkan seseorang yang tulus, lembut, dan mampu menghadirkan ketenangan.

Seseorang yang menyayangi anak-anak bukan karena ingin mengambil hati dirinya, melainkan karena memang memiliki kasih sayang yang besar dari dalam dirinya sendiri.

Tanpa sadar, wajah Wulan terlintas di benaknya.

Senyum sederhana perempuan itu pagi tadi saat menyuapi Rana. Caranya menenangkan Rana ketika menangis di malam hari. Kesabarannya menghadapi Delon dan Astrid yang terkadang rewel.

Bahkan, cara Wulan mengurus hal-hal kecil di rumah tanpa banyak mengeluh, seperti menyirami tanaman di taman ini.

Rian terdiam cukup lama hingga Clarissa harus memanggilnya.

"Rian?"

Rian tersadar. "Ya?"

"Kamu sedang memikirkan sesuatu? Kamu diam lama sekali."

"Tidak. Cuma teringat masa lalu," jawabnya cepat.

Clarissa mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh, tapi dari jawaban Rian tadi, ia sudah mendapat kesimpulan yang membuatnya tidak nyaman.

Selama ini, ia mengira dirinya memiliki banyak hal yang bisa membuat Rian tertarik.

Ia cantik, mandiri, berpendidikan, dan memiliki pekerjaan sendiri.

Ia juga berusaha mendekati Rana dengan sabar, membawakan hadiah, dan meluangkan waktu untuk bermain bersama gadis kecil itu.

Namun, jawaban Rian membuatnya menyadari bahwa mungkin ada hal-hal yang belum ia miliki.

Padahal hal-hal sederhana itulah yang selama ini tidak pernah ia anggap penting.

Rian kembali menatap taman yang rapi di hadapannya, taman yang dirawat oleh Wulan. Pandangannya memang masih tertuju pada tanaman-tanaman itu, tetapi pikirannya justru kembali kepada perempuan yang sejak tadi memenuhi benaknya.

Wulan... Entah sejak kapan, kehadiran perempuan itu mulai memiliki arti yang berbeda baginya.

Awalnya, ia hanya menganggap Wulan sebagai seseorang yang banyak membantu mengurus rumah dan anak-anaknya.

Perempuan sederhana yang selalu menjalankan tugasnya dengan baik, tanpa banyak mengeluh.

Namun, belakangan ini, ia mulai menyadari hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ia perhatikan.

Senyum Wulan ketika menyambutnya pulang kerja. Suaranya yang lembut saat menenangkan Rana. Bahkan, kebiasaan perempuan itu mengingatkan dirinya untuk tidak melewatkan makan siang ketika terlalu sibuk bekerja.

Hal-hal sederhana itu ternyata mampu membuat harinya terasa berbeda.

Ada kalanya ia sengaja memperlambat langkah ketika melewati dapur, hanya untuk mendengar suara Wulan yang sedang berbicara dengan anak-anak.

Terkadang, ia juga merasa kehilangan sesuatu ketika pulang dan tidak menemukan perempuan itu di ruang keluarga.

Aneh. Bukankah rumah ini memang selalu ramai?

Lalu, mengapa keberadaan Wulan justru menjadi sesuatu yang diam-diam ia cari?

Rian mengembuskan napas pelan. Ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apa pun. Wulan adalah pengasuh anaknya, dan ia tidak mau sembarangan mengartikan perhatian yang selama ini tumbuh dalam dirinya.

Namun, satu hal mulai sulit ia sangkal.

Belakangan ini, bukan hanya Rana yang membuatnya ingin segera pulang. Tapi, ada Wulan juga.

Ia belum berani menyebutkan apa yang sebenarnya sedang berputar di pikirannya.

Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang kini menarik perhatiannya justru sangat berbeda dari tipe yang dahulu ia kejar.

Dan kesadaran itu membuatnya semakin sulit memahami perasaannya sendiri.

Ia bingung, apakah ini hanya rasa nyaman karena terbiasa, atau sesuatu yang lebih dari itu.

Sebab, semakin ia berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula sosok Wulan muncul dalam pikirannya.

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!