NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 KEPRIBADIAN YANG BERUBAH PERLAHAN
Suara derau mesin pendingin ruangan di kamar rawat inap VIP itu terdengar mendengung konstan, mengisi celah keheningan yang terasa sangat mencekam.
Jarum jam dinding yang menempel di atas pintu terus bergerak tanpa kenal kompromi, menunjuk pada pukul delapan malam.
Di luar jendela kaca, rintik hujan kembali turun membasahi aspal pelataran rumah sakit, menciptakan embun tipis yang menghalangi pandangan ke arah lampu-lampu kota Yogyakarta.
Di dalam ruangan tersebut, Zaki berdiri bersandar pada dinding di dekat jendela. Lengan kemejanya digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat kelelahan yang tercetak jelas. Matanya yang memerah tak henti-hentinya menatap ranjang pesakitan tempat putri sulungnya, Haruma, terbaring pulas.
Obat penenang dari Dokter Surya telah membawa Haruma ke alam mimpi, namun bagi Zaki, tidur putrinya itu lebih terlihat seperti pelarian sementara dari maut.
Di sekeliling ranjang itu, meski tak kasatmata, Zaki tahu ada sebuah kubah energi—pagar gaib yang dibangun dengan susah payah oleh mertuanya—yang sedang menahan radar iblis Prambanan.
Nisa duduk di kursi yang diletakkan menempel persis di sisi ranjang. Tangannya tak henti mengusap punggung tangan Haruma yang masih terasa lebih dingin dari suhu normal manusia hidup.
Wajah Nisa sembap, kantung matanya menghitam pekat akibat kurang tidur dan menangis tanpa henti sejak tragedi itu dimulai.
Sementara itu, Pak Rusdi duduk bersila di atas sofa panjang di sudut ruangan. Kakek tua itu memejamkan mata, memutar butiran tasbih kayu gaharunya dengan irama yang lambat namun penuh tekanan. Bibirnya tak pernah berhenti berkomat-kamit merapalkan ayat-ayat suci. Ia bertindak sebagai generator bagi pagar gaib tersebut; jika konsentrasinya pecah, maka dinding perlindungan spiritual itu akan melemah.
"Pak..." panggil Zaki dengan suara parau, memecah kesunyian ruangan. Ia melangkah mendekati sofa mertuanya.
Pak Rusdi menghentikan putaran tasbihnya perlahan, membuka matanya yang tampak sangat sayu dan lelah. "Ada apa, Zak?"
"Bapak yakin pagar gaib ini benar-benar bisa bertahan sampai tiga hari?" Zaki bertanya, nada suaranya dipenuhi oleh keraguan dan ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Tadi pagi sampai siang iblis itu datang dengan wujud yang begitu mengerikan, Pak. Jin Pengikutnya nyaris membunuh Haruma di depan mata para dokter. Bagaimana kalau malam ini makhluk itu menyerang lagi dengan kekuatan yang lebih besar?" tanya Zaki lagi.
Pak Rusdi menghela napas panjang, memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya yang keriput memancarkan kebijaksanaan sekaligus keprihatinan.
"Energi perlindungan ini bersumber dari doa dan kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa, Zak," jawab Pak Rusdi dengan suara serak yang bergetar.
"Bapak sudah mengunci aura tulang wangi Haruma agar 'wanginya' tidak tercium oleh entitas gelap itu. Selama iblis itu tidak bisa melacak lokasinya secara presisi, jin-jin pengikutnya hanya akan berputar-putar di luar jangkauan radar. Tapi kamu benar... ini bukan solusi permanen. Iblis yang mendiami arca itu menyerap energi dari karma masa lalu. Semakin lama kita menunggu, sihirnya akan semakin kuat merobek perisai ini."
Nisa menoleh dari ranjang, air matanya kembali menggenang. "Lalu bagaimana dengan Harumi di rumah, Mas? Anak itu sendirian! Kita meninggalkannya di sana dengan kondisi rumah yang semalam baru saja disatroni iblis itu. Firasatku sangat tidak enak, Mas."
Zaki segera menghampiri istrinya, meletakkan tangannya di pundak Nisa untuk memberikan ketenangan.
"Kamu jangan terlalu panik. Sebelum kita berangkat tadi, aku sudah memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Aku juga sudah memberikan uang lembur ekstra kepada Pak Darman, satpam kompleks kita, untuk berjaga tepat di depan pagar rumah. Pak Darman berjanji tidak akan beranjak sedikit pun dari sana." ucap Zaki.
"Tapi Pak Darman itu manusia biasa, Mas! Dia tidak akan bisa melawan makhluk tak kasatmata!" bantah Nisa dengan suara sedikit meninggi, kepanikannya mulai menguasai akal sehatnya.
"Bagaimana kalau tangan iblis itu kembali mengendalikan Harumi? Bagaimana kalau Harumi mencoba melukai dirinya sendiri lagi seperti semalam?!" racau Nisa.
"Tenanglah, Nisa," sela Pak Rusdi dengan nada menenangkan.
"Iblis itu memang licik, tapi dia memiliki aturan mainnya sendiri. Target utamanya saat ini adalah menghancurkan perisai pelindung, yaitu Haruma. Selama Haruma masih hidup, iblis itu tidak akan membunuh wadahnya secara langsung. Dia membutuhkan tubuh Harumi utuh untuk menampung seluruh esensi kekuatannya saat ritual tumbalnya selesai." jelas Pak Rusdi.
"Berarti Harumi tidak akan dibunuh malam ini?" isak Nisa, mencari secercah kepastian.
"Tidak, dia tidak akan mati malam ini," jawab Pak Rusdi tegas, meskipun matanya menyiratkan kekhawatiran lain.
"Tapi iblis itu akan terus berusaha menguasai kesadarannya. Menggerus kewarasannya perlahan-lahan hingga jiwa Harumi benar-benar tenggelam, digantikan oleh kepribadian entitas kuno tersebut." kata Pak Rusdi menambahkan.
Zaki mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. "Aku akan mencoba menelepon Harumi lagi. Sejak sore tadi dia tidak mengangkat telepon dariku sama sekali."
Zaki mencari kontak putri bungsunya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. Suara nada sambung terdengar.
Tuuuut... Tuuuut...
Namun, sama seperti puluhan percobaan sebelumnya, panggilan itu berujung pada kotak suara. Tidak ada jawaban dari rumah.
"Tidak diangkat, Nis," ucap Zaki dengan rahang mengeras. Ia segera beralih mencari nomor telepon Pak Darman, sang satpam kompleks.
Kali ini, panggilan itu dijawab pada dering ketiga.
"Halo, Pak Zaki? Ada apa, Pak? Bapak dan Ibu belum pulang dari rumah sakit?" suara berat Pak Darman terdengar dari seberang sana, diiringi suara rintik hujan yang menimpa pos jaga.
"Halo, Pak Darman. Maaf mengganggu malam-malam," Zaki berusaha menjaga intonasi suaranya agar terdengar normal.
"Kondisi di rumah aman, Pak? Apa Bapak melihat ada yang aneh, atau lampu kamar anak saya menyala?"
"Aman terkendali, Pak Zaki. Saya dari siang tadi standby duduk di teras pos satpam menghadap langsung ke rumah Bapak. Nggak ada orang asing yang lewat, apalagi masuk," lapor Pak Darman yakin.
"Lampu ruang tengah dan kamar Mbak Harumi menyala terang, Pak. Tadi sekitar magrib, saya sempat lihat bayangan Mbak Harumi berjalan ke dapur dari kaca jendela depan. Sepertinya mengambil minum. Aman, Pak."
Mendengar laporan itu, Zaki menghembuskan napas lega yang luar biasa.
"Syukurlah. Tolong terus dijaga ya, Pak. Kalau ada suara aneh atau teriakan dari dalam, Bapak jangan ragu untuk mendobrak pintunya dan langsung hubungi saya."
"Siap laksanakan, Pak Zaki!"
Zaki menutup teleponnya, lalu menatap istrinya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Kamu dengar sendiri kan, Nis? Harumi aman. Dia bangun dan beraktivitas ke dapur. Mungkin dia hanya tidak ingin diganggu atau malas memegang ponsel. Kita harus fokus menjaga Haruma di sini. Anak-anak kita butuh kita kuat."
Nisa mengangguk pelan, meskipun sisa-sisa kegelisahan masih bersarang di dadanya. Ia kembali menatap wajah pucat Haruma.
"Bertahanlah, Nak. Ayah dan Ibumu akan melakukan apa saja untuk kalian," batinnya berdoa.
.....
.....
Sementara itu, belasan kilometer di sebelah timur Yogyakarta, di sebuah desa terpencil di pedalaman Kabupaten Klaten, aroma mistis terasa jauh lebih pekat.
Rumah kayu limasan tua milik Mbah Kliwon itu hanya diterangi oleh dua buah lampu senthir (lampu minyak tanah kecil) yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Kepulan asap putih dari dupa dan kemenyan Jawa membubung tinggi, menari-nari membelah udara yang pengap.
Yuda dan Dion duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah mulai rapuh, berhadapan langsung dengan Mbah Kliwon.
Pria tua renta dengan pakaian serba hitam itu menatap mereka berdua dengan mata cekung yang memancarkan aura magis yang sangat kuat. Ia baru saja menyuguhkan dua gelas teh poci yang mengepulkan uap hangat, namun baik Yuda maupun Dion tidak berani menyentuhnya.
"Kalian datang membawa beban yang bisa meremukkan tulang punggung seratus pemuda, Nak," suara Mbah Kliwon serak, bergema di dinding kayu jati ruang tamu tersebut. Ia tersenyum tipis, memamerkan giginya yang hitam karena noda sirih.
Yuda mencondongkan tubuhnya ke depan. Rasa hormatnya pada sesepuh itu bersanding dengan urgensi yang bergemuruh di dadanya.
"Mbah Kliwon," buka Yuda dengan suara yang dijaga agar tetap sopan namun tegas.
"Bapak kos Dion bilang, Mbah adalah salah satu tetua yang paling paham tentang sejarah kelam di sekitar Prambanan. Kami ke sini bukan untuk mencari tahu apa yang terjadi... Kami sudah tahu bahwa kutukan Roro Jonggrang itu bangkit kembali. Teman kami, Harumi, menjadi wadahnya, dan kakaknya, Haruma, nyaris mati pagi tadi."
Mbah Kliwon mengangguk perlahan. Tangannya yang keriput mengambil sebuah wadah kuningan berisi daun sirih, memilahnya dengan gerakan lambat.
"Darah tulang wangi kembar," gumam Mbah Kliwon, matanya menerawang.
"Sungguh sebuah ironi yang mematikan. Anak manusia yang dikaruniai energi cahaya sebesar itu, justru menjadi magnet bagi kegelapan yang paling pekat. Iblis yang mendiami batu itu adalah Panglima Jin dari Kerajaan Baka, entitas yang dendamnya tidak pernah pudar meskipun raganya telah dihancurkan oleh Bandung Bondowoso ribuan tahun yang lalu." tambah Mbah Kliwon.
"Itu sebabnya kami datang kemari, Mbah," potong Dion, suaranya sedikit bergetar karena hawa dingin di ruangan itu meresap hingga ke tulangnya.
"Kakek dari si kembar memberi tahu kami, satu-satunya cara untuk menyegel kembali kutukan itu dan membebaskan Harumi adalah dengan mencari orang yang memiliki 'Darah Pembuat Candi'. Pewaris darah Bandung Bondowoso."
Mbah Kliwon menghentikan gerakannya. Ia meletakkan daun sirih itu kembali ke wadahnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam mata Dion, lalu beralih ke Yuda.
"Kakek mereka benar," ucap Mbah Kliwon dengan nada berat.
"Kutukan itu lahir dari sebuah janji yang dilanggar dan sihir hitam yang dipaksakan. Roro Jonggrang dikutuk menjadi batu, dan iblis itu tersegel bersamanya. Untuk membuka atau menyegel kembali ikatan gaib itu, alam semesta menuntut sebuah penawar yang setara. Penawar itu adalah darah dari garis keturunan sang penakluk itu sendiri."
"Kalau begitu, beri tahu kami di mana kami bisa menemukan keturunan itu, Mbah!" Yuda mendesak, kepalan tangannya menekan paha.
"Kami hanya punya waktu tiga hari sebelum pagar gaib di rumah sakit hancur. Kami akan pergi ke ujung pulau Jawa sekalipun kalau memang keturunan itu ada di sana!"
Mbah Kliwon tertawa. Tawa yang terdengar sangat kering dan menyayat, seperti suara dedaunan kering yang diinjak.
"Anak muda, kau pikir darah sejarah yang terkutuk itu menyebar seperti pohon beringin yang mudah dicari akar dan cabangnya?" kekeh Mbah Kliwon, menggelengkan kepalanya pelan.
"Bandung Bondowoso bukanlah nama yang diagungkan dalam silsilah keraton. Dia adalah ksatria yang menggunakan sihir kelam. Setelah tragedi Prambanan, keturunannya hidup dalam pelarian. Mereka mengubah nama, menyembunyikan identitas, dan melebur dengan masyarakat biasa demi menghindari murka sisa-sisa pengikut Kerajaan Baka yang dendam pada mereka."
Yuda tertegun. Keputusasaan mulai merayapi tengkuknya. "Berarti... silsilah itu benar-benar terputus? Tidak ada catatan sejarah sama sekali?"
"Secara tertulis, ya. Silsilah itu telah musnah ratusan tahun yang lalu," jawab Mbah Kliwon.
Dion merosot, pundaknya melemas. "Lalu buat apa kita ke sini, Yud? Kita sudah kalah. Kalau catatannya musnah, bagaimana kita bisa menemukannya dalam tiga hari?"
"Tunggu dulu," sela Mbah Kliwon, mengangkat tangannya yang kurus.
"Aku berkata silsilahnya musnah. Bukan berarti keturunannya lenyap dari muka bumi. Darah tidak bisa berbohong. Energi magis dari sihir purba itu terlalu kuat untuk benar-benar hilang ditelan zaman. Ia akan terus menetes dari generasi ke generasi, tersembunyi di balik wujud manusia biasa yang mungkin tidak menyadari siapa leluhur mereka."
Yuda kembali menegakkan punggungnya, secercah harapan menyala kembali di matanya. "Bagaimana cara kita mengenalinya, Mbah? Apa ada tanda khusus? Sebuah tanda lahir, pusaka yang diwariskan, atau sebuah penyakit keturunan?"
Mbah Kliwon menatap Yuda dalam-dalam. Ruangan itu tiba-tiba terasa semakin pekat, asap kemenyan seolah bergerak melingkari tubuh sang sesepuh.
"Tanda lahir bisa dipalsukan. Pusaka bisa hilang atau dicuri," ucap Mbah Kliwon dengan suara yang diturunkan, memaksakan Yuda dan Dion untuk mencondongkan telinga. "Pewaris murni dari darah Bandung Bondowoso tidak ditandai oleh wujud fisik. Mereka ditandai oleh Karma Ksatria."
"Karma Ksatria? Apa maksudnya, Mbah?" tanya Yuda tak sabar.
"Sifat dasar Bandung Bondowoso adalah obsesi, tekad yang menembus batas kewarasan, dan kekuatan batin yang mampu mengendalikan bangsa lelembut," jelas Mbah Kliwon.
"Pewaris darah aslinya akan menunjukkan tanda-tanda itu secara tak sadar. Pertama, mereka memiliki daya tarik spiritual yang mampu membuat makhluk gaib tunduk atau justru sangat membenci mereka. Kedua... dan ini yang paling penting..."
Mbah Kliwon menunjuk ke arah Yuda.
"Mereka akan selalu tertarik pada tragedi Prambanan. Nasib akan selalu menarik mereka kembali ke pusaran kutukan Roro Jonggrang. Entah sebagai peneliti, entah sebagai penjaga, atau..." Mbah Kliwon menyeringai tipis, "...entah sebagai pelindung dari wadah yang diincar oleh kutukan tersebut."
Jantung Yuda seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat di kerongkongan. Ia saling berpandangan dengan Dion, keduanya merasakan sebuah kengerian yang menyusup bersamaan dengan sebuah realitas yang tak masuk akal.
"M-maksud Mbah... keturunan itu ada di dekat kami?" tanya Dion dengan suara bergetar.
"Alam semesta selalu menjaga keseimbangannya, Anak Muda," jawab Mbah Kliwon diplomatis, matanya tak lepas dari wajah Yuda.
"Ketika wadah itu tercipta, penawarnya pasti berada tak jauh darinya. Perhatikan orang-orang di sekeliling gadis itu. Siapa yang paling gigih melindunginya? Siapa yang berani menantang entitas itu tanpa memiliki bekal ilmu gaib? Siapa yang... energinya mampu meredam murka jin pengikut?"
Yuda menelan ludah. Kepalanya berputar cepat. Ia mengingat bagaimana tangannya terasa membeku saat menyentuh energi jin pengikut di rumah sakit. Ia mengingat bagaimana entitas bergaun merah itu mengancamnya secara personal di ruang sekretariat, namun gagal membunuhnya seketika.
Apakah... apakah dirinya sendiri?
Atau Zaki?
Atau seseorang yang belum mereka sadari?
"Lalu, apa yang harus dilakukan oleh keturunan itu jika sudah ditemukan, Mbah?" Yuda bertanya, mengesampingkan spekulasi di kepalanya demi mendapatkan langkah taktis.
"Darah harus dibayar darah," desis Mbah Kliwon.
"Pewaris itu harus membawa senjata yang telah ternoda, pisau pusaka berkarat yang menembus perut saudari si kembar itu, kembali ke titik pusat kutukan di pelataran Prambanan pada malam bulan mati. Di sana, ia harus meneteskan darahnya sendiri ke atas bilah pisau tersebut, sambil mengucapkan mantra pemutus segel."
"Mantra pemutus segel?" tanya Dion.
Mbah Kliwon mengangguk. Ia kemudian meraih selembar kertas lusuh berwarna kecokelatan dari balik bajunya, lalu menyerahkannya kepada Yuda.
"Di sinilah letak ujian terakhir kalian. Mantra itu ditulis dalam bahasa rahasia Kerajaan Baka. Aku menyimpannya selama puluhan tahun, menanti hari di mana siklus ini kembali berputar. Bawalah. Tapi ingat..."
Mbah Kliwon menatap mereka dengan sorot mata yang mengunci jiwa.
"...jika yang meneteskan darah di atas pisau itu bukanlah pewaris darah asli, maka kutukan itu akan menelan nyawanya saat itu juga, dan wadah sang iblis akan terbuka untuk selamanya."
Yuda menerima kertas lusuh itu dengan tangan bergetar. Beban di pundaknya kini terasa ribuan kali lebih berat.
Tiga hari.
Ia harus menemukan sang pewaris, mendapatkan kembali pisau pusaka yang disita polisi sebagai barang bukti, dan melakukan ritual bunuh diri berisiko tinggi di lokasi di mana semuanya bermula.
"Kami mengerti, Mbah," ucap Yuda, melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku jaketnya dengan hati-hati. "Terima kasih atas semuanya."
"Pergilah. Malam semakin larut, dan kabut kutukan itu semakin pekat membungkus Yogyakarta," usir Mbah Kliwon pelan, kembali memutar wadah sirihnya, menandakan bahwa percakapan mereka telah usai.
Sementara Yuda dan Dion bertarung melawan waktu di Klaten...
Dan Zaki bersiaga menjaga napas putrinya di rumah sakit...
Sebuah pergeseran yang mengerikan sedang terjadi secara diam-diam di dalam rumah keluarga Zaki.
.....
.....
Hujan telah benar-benar berhenti.
Suasana di kompleks perumahan itu sangat sunyi, hanya terdengar suara tetesan air dari talang atap dan nyanyian jangkrik malam.
Di pos penjagaan depan, Pak Darman duduk sambil menyeruput kopi hitamnya, sesekali matanya melirik ke arah rumah berpagar hitam milik Zaki. Semuanya tampak normal. Lampu ruang tengah menyala temaram.
Namun, di dalam rumah itu, realitas sedang dirobek secara perlahan.
Di dalam kamarnya yang berantakan, Harumi sedang duduk bersimpuh di atas lantai kayu, tepat di depan pecahan cermin yang masih berserakan.
Sejak Pak Rusdi mengusir kendali makhluk itu beberapa jam yang lalu, Harumi hanya menangis hingga air matanya mengering.
Ketakutan yang amat sangat sempat merajai dadanya.
Ia takut menyakiti dirinya sendiri.
Ia takut tubuhnya akan bergerak sendiri untuk membunuh orang tuanya.
Ia meringkuk di sudut kamar, merapal doa apa saja yang ia ingat, memohon perlindungan.
Namun, seiring berjalannya malam, sesuatu yang aneh terjadi.
Rasa takut yang mencekik dadanya itu perlahan-lahan... memudar.
Kepanikan yang membuat jantungnya berpacu liar mulai mereda.
Tarikan napasnya yang semula tersengal-sengal, kini berubah menjadi lambat, dalam, dan teratur.
Namun ini bukanlah ketenangan yang berasal dari kedamaian batin. Ini adalah ketenangan yang berasal dari kehampaan. Sebuah mati rasa yang absolut.
Batas antara kesadaran Harumi dan entitas purba yang bersarang di dalam kepalanya mulai menipis.
Jika sebelumnya iblis itu mengambil alih tubuhnya secara paksa layaknya pencuri yang mendobrak masuk, malam ini, iblis itu merembes perlahan seperti air yang menyerap ke dalam serat kain. Menyatu. Mengaburkan identitas asli dari sang gadis.
Tangan Harumi yang memar bergerak pelan, tidak kaku atau meronta, melainkan bergerak dengan sangat luwes.
Jemarinya merapikan rambutnya yang kusut, menyelipkannya di belakang telinga dengan sebuah gestur yang elegan, anggun, namun memancarkan keangkuhan yang luar biasa.
Ia mendongak, menatap bayangan wajahnya pada serpihan cermin besar yang tersandar di dinding.
Sepasang mata Harumi tidak lagi dipenuhi oleh air mata.
Matanya terbuka lebar, namun sorotnya kosong melompong.
Tidak ada jejak Harumi yang ceria, lugu, dan rapuh di sana.
Yang terpantul dari cermin itu adalah tatapan seorang wanita bangsawan yang telah terkurung selama ribuan tahun, kini menikmati kembali rasanya memiliki raga berdarah dan berdaging.
Perlahan, bibir pucat Harumi tertarik ke atas.
Menciptakan sebuah senyuman asimetris yang sangat tipis dan dingin.
Harumi bangkit berdiri. Gerakannya tidak lagi seperti gadis modern.
Ia berdiri dengan punggung tegak lurus, bahu ditarik ke belakang, dan dagu sedikit terangkat.
Postur tubuh khas keluarga keraton di masa lampau.
Tanpa memakai alas kaki, ia melangkah keluar dari kamarnya. Cara berjalannya berubah total.
Ia tidak melangkah biasa; ia berjalan dengan gaya mancak atau mlebet halus layaknya penari keraton yang sedang meniti lantai istana.
Kakinya menyapu lantai dengan gerakan mengayun yang pelan, nyaris tanpa suara.
Langkahnya anggun, mematikan, dan penuh kuasa.
Di ruang tengah yang remang-remang, televisi yang dimatikan memantulkan bayangan siluet Harumi yang sedang berjalan mondar-mandir dengan langkah ritmis tersebut.
Hawa di dalam rumah itu anjlok.
Keheningan malam diserap habis oleh sebuah aura penaklukan.
Di tengah langkahnya yang gemulai dan misterius itu, mulut Harumi perlahan terbuka.
Sebuah suara mulai keluar dari pita suaranya.
Bukan suara parau makhluk gaib, melainkan suara asli Harumi yang merdu, namun dengan intonasi dan dialek yang sangat asing.
Ia mulai melantunkan sebuah lagu.
SEBUAH LAGU GENDING JAWA KUNO BERUMUR RIBUAN TAHUN.
Nada-nada yang keluar dari bibirnya terdengar sangat menyayat hati, sarat akan kesedihan, kemarahan, dan nuansa mistis yang sangat kental.
Lagu itu mengalun lambat, memenuhi setiap sudut ruang tengah keluarga Zaki yang kosong.
.....
"Sun anom~ anom~ pinasti ing wengi~~~" (Aku yang muda... yang muda... ditakdirkan di malam hari...)
"Siro ingkang cidro~ siro ingkang sirno~" (Engkau yang berkhianat... engkau yang akan musnah...)
"Getih mili ing suti~ ngruwat sukmo kang mati~" (Darah mengalir di tanah... meruwat jiwa yang mati...)
.....
Nyanyian itu bukan lagu macapat biasa yang sering diajarkan di sekolah.
Itu adalah lantunan duka dari seorang putri yang dikhianati cintanya.
Sebuah dendam yang dinyanyikan dengan nada melankolis namun mematikan.
Suara nyanyian itu bergema mantul dari dinding ke dinding, seolah rumah itu telah berubah menjadi pendopo batu di Kerajaan Baka.
Harumi terus berjalan menyusuri ruang tamu, menyentuh perabotan kayu milik ayahnya dengan ujung jarinya yang lentik, seolah sedang memeriksa barang-barang di istananya yang baru.
Matanya yang kosong tidak berkedip.
Ia terus bernyanyi, memutar tubuhnya perlahan seperti seorang penari yang tak terlihat.
Kepribadian Harumi telah pudar.
Metamorfosis itu berjalan tanpa teriakan, tanpa perlawanan berdarah, dan karenanya terasa jauh lebih mengerikan.
Di pos penjagaan di luar rumah, Pak Darman yang sedang menyesap kopinya tiba-tiba menghentikan gerakannya. Telinganya yang tajam menangkap sayup-sayup suara tembang Jawa yang sangat halus dari arah rumah Zaki.
Bulu kuduk pria paruh baya itu serempak berdiri. Ia menatap ke arah kaca jendela rumah yang tertutup gorden tipis, di mana ia bisa melihat bayangan hitam seorang gadis yang sedang menari perlahan.
Pak Darman menelan ludah, mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa seperti ditempel es batu.
"Tengah malam begini... Mbak Harumi latihan nari?" gumamnya, merasionalkan kengerian di depan matanya.
Ia sama sekali tidak menyadari, bahwa yang sedang menari dan bernyanyi di dalam rumah itu, bukanlah anak majikannya lagi.
Sang iblis dari Prambanan kini telah sepenuhnya menyesuaikan diri dengan wadah barunya, menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri segalanya, tepat di saat pagar gaib di rumah sakit itu runtuh tiga hari dari sekarang.
Kutukan itu kini tak lagi bersembunyi.
Ia bernyanyi merdu, menyambut kematian yang akan segera ia tumpahkan.
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai