Indonesia
NovelToon NovelToon
Library'S Notes

Library'S Notes

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Almaya Archerry

"Apa alasanku untuk tetap bertahan hidup?"

Seorang gadis kutu buku tak sengaja mengetahui sebuah rahasia. Lelaki dingin itu membencinya sejak awal bertemu. Ancaman mengekang gadis itu kalau berani membeberkan rahasianya.

Kinara dan Raffan selalu adu mulut setiap kali berjumpa. Kinara memegang rahasia Raffan, sedangkan Raffan malah membencinya. Apa jadinya kalau benang takdir melakukan sesuatu pada mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almaya Archerry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HAL YANG JOUE LEWATKAN

“Kenapa malah kamu yang minta maaf?” tanya Raffan melihat Kinara yang masih membungkuk.

“Karena aku merasa aku penyebabnya Makanya, sudahi saja seperti ini tidak perlu sampai ke dewan! Memang perundungan tidak bisa dibenarkan, tetapi kalau sampai ke dewan rasanya terlalu berlebihan,” sahut Kinara menatap Raffan.

Vivi mendesis melihat Kinara yang membelanya. Bukan Vivi namanya kalau tidak mencari celah, “nggak usah cari muka dengan membela gue!” pekiknya.

Kinara menatap nanar Vivi. Ia sudah susah-susah membujuk Raffan agar tidak melebihkan masalah ini hingga sampai ke dewan. Perempuan itu bukanya menyerah malah masih terus memanasi suasana.

“Astaga, aku nggak mau terlibat sampai dewan, tetapi anak ini keras kepala sekali! Dia pikir aku membela dirinya, kah? Enak saja, aku membela diriku sendiri!” batin Kinara kesal.

Raffan menghela napas melihat pertikaian yang tak kunjung reda ini. Terutama Vivi, ia tak habis pikir bagaimana perempuan itu tak menyerah. Ia merentangkan kedua tangannya memisahkan Vivi yang hendak maju menyerang Kinara.

“Berhenti! Lo nggak dengar, ha?! Sekali lagi gue dengar kabar lo merundung Kinara, dewan yang turun tangan,” ancamnya pada Vivi.

“Fan? Kamu kepelet dia apa bagaimana, sih? Kok kamu belain modelan dia?! Kemarin juga ngapain jalan sama dia, ha? Kan, aku ada, Fan!” desak Vivi.

Giliran Kinara yang menatap kedua orang itu dengan bingung. Ia sempat berpikir kalau Raffan pernah memiliki hubungan dengan Vivi karena gadis itu terlihat posesif padanya. Ia menutup mulutnya.

“Jangan-jangan sekarang mereka pacaran,” celetuknya tanpa sadar.

Raffan menoleh ke belakang karena ia mendengarnya. “Enggak! Enggak akan aku pacaran sama dia! Sama sekali, selamanya, sampai kapanpun, tidak mau!” tegasnya.

Kinara menatap polos, “ha? Loh, kok dia dengar apa yang aku pikirkan? Eh, jangan-jangan aku keceplosan?!” pikirnya.

Namun, reaksi Vivi membuat Kinara penasaran. Gadis itu mendengar pengakuan Raffan di depan matanya sendiri. Pasti tidak menyangka antara ingin syok atau malah semakin ingin menyergah Kinara.

Ia menatap nanar Raffano yang membuatnya tertolak sebelum menyatakan perasaan. Serta menatap tajam Kinara karena ia pikir gara-gara anak itu Raffan menolaknya. Ia mengibaskan rambutnya dan berjalan menghentak melewati Kinara.

“Jangan kira masalah ini selesai, Kinara,” bisiknya tepat di telinga Kinara.

Kinara tersenyum getir, “ah, benar juga. Masalahnya jadi tambah runyam gara-gara aku,” ucapnya lirih.

Raffan mengguncangkan tubuh Kinara, “beritahu aku apa yang dia bilang!”

Kinara menepis pelan dan menggeleng, “cuma mengancam kayak biasanya. Sudah, lupakan saja, aku mau ke kelas sebelum telat,” ujarnya lalu pergi dari sana.

Ia berhenti sebentar, “ah, makasih sudah membela temanmu yang payah ini, Fan. Ke depannya jangan lagi bertindak sembarangan kayak tadi,” ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.

Raffan tak lagi menahan Kinara yang ingin pergi ke kelasnya. Ia sendiri juga harus masuk sekarang. Namun, karena ia khawatir pada gadis itu ia mengikutinya sampai ia rasa sudah aman.

Ia benar-benar memastikan Kinara masuk kelasnya. Dirinya kemudian berbalik menuju kelasnya dengan sedikit lesu. Raffan sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Kinara sudah sering diancam oleh Vivi.

“Sudah biasa katanya,” gumamnya.

Tangannya menggenggam erat tali tasnya. Ia sedang berpikir kalau ternyata keberadaanya menyulitkan keadaan orang lain. Tentang hal itu ia tak ingin terjadi pada Kinara.

“Aku baru saja mendapatkan seorang teman haruskah hilang begitu saja?” pikirnya.

Ia tengah memutar otak untuk menghadapi Vivi kalau sewkatu-waktu muncul lagi. ia tahu dari kilat mata gadis itu bukan tipe yang suka damai. Pasti akan ada waktu di saat ia lengah dan Kinara terkena imbasnya.

Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimkannya ke Broide. Raffan tahu apa yang harus ia lakukan. Untuk saat ini, lelaki itu masuk ke kelas terlebih dahulu.

...>>><<<...

Kinara baru saja merapikan bukunya, jam berikutnya jam kosong dan ia tahu akan pergi ke mana. Sementara itu Joue yang ada di sampingnya terus memandanginya. Dari pancaran matanya, ia terlihat ingin menagih sesuatu.

“Hutang gue berapa, Jo? Biar gue lunasin dan lo nggak perlu menatap gue kayak begini. Geli tahu!” ucap Kinara.

Joue mendekati Kinara, “betul, lo ada hutang ke gue tetapi bukan hutang uang.”

Sinar matanya semakin menggebu, “lo ada hutang cerita ke gue. Siapa itu Raffano yang kasih lo minum di lapangan waktu itu?”

Kinara tercekat mendengarnya. Ia kira Joue tidak akan mengungkit hal itu karena biasanya tidak tertarik. Kini ia merasakan gelombang penasaran yang tidak biasa dari Joue.

“Teman. Anak kelas lain,” sahutnya singkat.

“Oho, lo kira gue percaya begitu aja? Teman tetapi perhatian banget sampai belikan makanan pas kamu di UKS,” ujar Joue membuat Kinara membelalak.

“Lo tahu dari mana? Seingat gue lo nggak ada di sana dan gue nggak cerita ke lo.”

Joue mengedipkan satu matanya, “kebetulan gue ketemu orangnya pas mau keluar dari sana. Gue tanya dia katanya ada urusan penting, mau bicara berdua, rahasia. Begitu, deh!” ujarnya sembari menirukan nada bicara Raffano kala itu.

Kinara mengernyitkan hidungnya dan menghindari tatapan aneh Joue. “Nggak ada apa-apa,” katanya.

Joue menghela kecewa, “kalau itu memang rahasia ya sudah, sih. Aku tidak boleh keterlaluan, tetapi rasanya seperti ...” batinnya.

Ia melihat Kinara yang sudah membawa tasnya. “Ke perpustakaan lagi?” tanya Joue.

Kinara mengangguk, “kayak biasa. Lo nggak bisa ikut lagi, ya?”

Joue cemberut, “gue ada kepanitiaan di klub bela diri,” ujarnya lalu ikut beranjak juga.

“Okay, sampai nanti sore.” Kinara melambaikan tangannya lalu pergi dari kelas.

Rio, ketua kelas yang baru saja hendak menghampiri keduanya hanya bisa menyapa Joue. “Lo nggak ikut Kinara ke perpustakaan?” tanyanya.

Joue menggeleng, “nggak. Gue ada kepanitiaan, lagipun dia pasti sama anak itu,” ujarnya lalu lanjut berkemas-kemas.

Rio menaikkan alisnya sebelah, “anak itu? Oh, Arika yang ada di perpustakaan itu? Anak kelas sebelah yang ceplas-ceplos itu?”

Joue tidak menyangkalnya karena bisa saja itu benar. Ia hanya menghela tanpa memberi jawaban pasti. Rio malah semakin penasaran melihat respon gadis tomboy di depannya itu.

“Tumben lo rela dia pergi sendiri. Biasanya lo bakal protektif kayak bodyguard,” ucap Rio.

“Dia bilang mau berusaha sendiri dan ini termasuk latihan. Katanya jaga-jaga kalau nggak ada gue, sama dia bilang gue harus berhenti ngebela dia. Ada benarnya juga, sih, dia mungkin trauma hari itu kita keseret guru konseling,” jelasnya. Rio ber-oh ria dan mengangguk-angguk.

“Terus, yang tadi pagi? Lo nggak ngebela dia meski dia ditampar Vivi?”

Pertanyaan Rio membuat Joue berhenti melangkah secara tiba-tiba. Gadis itu menoleh menatap terkejut si ketua kelas. Rio bisa menebak kalau Joue ketinggalan berita heboh pagi ini karena dia datang terlambat ke sekolah.

“Lo dapat kabar dari mana? Jelaskan ke gue semuanya apa yang terjadi tadi pagi sewaktu gue belum sampai di sekolah!” desaknya pada Rio.

“Katanya lo mau kepanitiaan, nanti telat—“

Joue semakin mendesaknya, “jelasin ke gue, Rio!”

1
Almaya Archerry
Halo, buat teman² yang sudah selesai baca Love Baby Wolf bisa langsung cuss baca Library's Notes, ya✌🏼
Bisa dicek di profil author 👀
Jangan lupa mampir, siapa tahu menarik dan tertarik🤭
Terima kasih atas dukungannya, semoga hari kalian menyenangkan♡
Almaya Archerry
Helmi Sintya Junaedi
ayo semangat untuk karyamu,,, semua butuh proses untuk jadi lebih baik lagi💪💪💪
Almaya Archerry: Halo, terima kasih sudah setia mengunjungi novel ini♡
Semangat dan dukunganmu sangat berarti untuk author dan karyanya, terima kasih banyak, ya✌🏼
Nantikan dan dukung terus Library's Notes sampai tamat🙌🏼
total 1 replies
Helmi Sintya Junaedi
lanjut thorrr,,, aku suka karyamu....
Almaya Archerry: Halo, maaf baru bisa menyapa teman karena author sempat hiatus dari Sep-Des😓
Terima kasih atas komentar dan dukungannya✌🏼
Nantikan terus update-an episode selanjutnya☝🏻
Semoga harimu menyenangkan, teman❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!