"Dek, uang bulanan udah Abang transfer. Minggu ini abang pulang, jangan lupa dandan yang cantik."
"Iya, Bang. Makasih. Hati-hati." Ayu mengirimkan balasan untuk sang suami, dengan di bubuhi emoticon love yang berderet-deret di akhir kalimat. Setelah itu Ayu langsung mengecek transferan dari sang suami. Senyum merekah di bibir bergincu merah itu, melihat nominal yang di kirimkan oleh Arifin.
Memang secara finansial kehidupan mereka sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada satu hal yang berbeda dari sikap Ayu, selain penampilannya yang berubah, Ayu juga kerap kali melupakan tanggung jawabnya sebagai ibu.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Simak kisah selengkapnya hanya di,
PUBER KEDUA ISTRIKU
Jangan lupa follow fb author MaLana biar bisa saling sapa🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Lana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan
"Monic lapar, Yah. Mama belum pulang." Gadis kecil itu meraba perutnya yang sejak tadi meronta minta di isi. Sedang Arifin mengusap wajah kasar, karena terlalu sibuk mengurus Bu Yati yang sempat drop, Arifin jadi mengabaikan putrinya sendiri.
"Maafin Ayah ya. Ayo, ikut Ayah ke rumah nenek." Arifin menggandeng Monic ke rumah Bu Yati, sebab di sana masih ada makanan untuk sekedar mengisi perut. Rencananya sore nanti Arifin akan memesan lewat online saja karena keadaan sang ibu yang sedang tidak sehat.
"Mama sebenarnya ke mana sih, Yah? Kenapa sering sekali pergi?"
Bahkan Monic sampai hapal kelakuan sang mama.
"Mungkin Mama lagi ada kerjaan. Monic jangan sedih ya, kan ada Ayah di sini."
Sampai di rumah sang ibu, Arifin langsung mengambilkan makanan untuk Monic. Gadis kecil itu makan dengan begitu lahap. Tak lama Marita datang bersama Akmal dengan langkah terburu-buru.
"Bang, katanya Ibu sakit, gimana keadaannya?" tanya Marita dengan raut wajah cemas.
"Udah lebih baik, Ta. Tapi Ibu masih belum boleh pulang, katanya suruh di rawat sampai kepadanya stabil."
"Maaf ya, Bang, aku baru tau kalau Ibu sakit. Tadi ponselku mati, soalnya buat mainan Akmal di warung," ucap Marita lagi dengan penuh penyesalan. Seharusnya ia membawa pengisi baterai, tapi pagi tadi Marita terlalu buru-buru hingga melupakan benda itu.
"Nggak apa-apa, Ibu udah lebih baik kok." Arifin tersenyum sekilas, lalu melirik Monic yang ternyata sudah menghabiskan makanannya.
"Lho, Monic sama Abang? Emangnya Mbak Ayu ke mana?"
"Mama pergi, Tan, nggak tau ke mana. Dari pagi."
Kini justru Monic yang menjawab pertanyaan Marita.
.
.
.
"Pergi kamu, dasar wanita gi–la!" hardik Bu Wiwit dengan suara kencang, hingga mengundang para tetangganya untuk mendekat. Mereka berkumpul di depan rumah Bu Wiwit untuk melihat kejadian apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Tolong, Bu, saya hanya ingin bertemu Mas Sigit. Saya mohon ... "
Awalnya Ayu menjelaskan secara baik-baik tujuannya datang ke rumah itu. Tapi setelah mendengar pengakuan Ayu, Bu Wiwit malah murka dan langsung mengusirnya.
"Sigit nggak mungkin ngelakuin hal bodoh kayak gitu. Dan perlu kamu tau, Sigit sudah menikah. Jangan coba-coba menghasutku!"
"Tapi saya nggak bohong, Bu. Dan anak ini ..." Ayu meraba perutnya yang terlihat sedikit berisi. "Ini anak Mas Sigit, Bu."
"Apa ... !"
Bu Wiwit langsung shock mendengarnya. Bagaimana mungkin Sigit sampai melakukan hal sebo doh itu, sedangkan yang ia tahu jika selama ini Sigit adalah sosok laki-laki yang baik.
"Saya mohon, Bu, ijinkan saya bertemu Mas Sigit."
"Nggak! Nggak mungkin! Kamu pasti sengaja mau hancurin rumah tangga anakku. Iya, kan?"
Ayu menggeleng lemas. Rasanya ia tak punya tenaga lagi untuk berdebat. Sedangkan di sana sudah banyak orang yang berkerumun dan menggunjingnya sejak tadi.
"Dasar wanita murahan!"
"Nggak tau malu banget ya?"
"Cantik-cantik tapi kok pelakor!"
Banyak lagi kata-kata kasar yang mereka lontarkan untuk Ayu. Bahkan beberapa dari ibu-ibu kompleks merasa geram dengan kedatangan Ayu yang membuat keributan di sekitar rumah mereka.
"Gimana kalau kita usir aja perempuan sun dal ini?" ucap salah satu ibu memakai daster motif bunga-bunga.
"Atau kita bawa aja ke pos, kita arak ramai-ramai," usul yang lainnya lagi.
"Tunggu dulu, sebaiknya kita tunggu Pak Sigit pulang. Biar kita tau kebenarannya seperti apa." RT setempat menengahi kekacauan itu. Sontak para ibu-ibu itu menatap sang ketua RT dengan pandangan tak suka.
"Lho, Pak RT gimana sih? Jelas dia udah buat keributan di sini, ngapain mau nunggu Pak Sigit pulang segala," protes salah satu dari mereka.
"Nggak ada salahnya kita cari tau dulu kebenarannya seperti apa, Ibu-ibu. Ya sudah, semuanya bubar!"
Mereka terpaksa membubarkan diri. Ayu di giring oleh RT setempat menuju rumahnya. Sebab tidak mungkin menunggu di kediaman Bu Wiwit. Apalagi perempuan itu pasti tidak akan menginjinkan Ayu untuk beristirahat di sana.
Satu jam kemudian mobil berwarna hitam terlihat memasuki gerbang kompleks. Satpam yang sudah hapal dengan mobil milik Sigit langsung mendekat kearah jendela bagian kemudi.
"Maaf Pak Sigit, ada tamu yang menunggu Anda di rumah Pak RT."
"Tamu, siapa?" Sigit mengernyit heran. Biasanya teman-temannya akan memberitahu lebih dulu jika ingin berkunjung.
"Perempuan, Mas. Tadi dia juga sempat ... "
"Lebih baik kita pulang dulu, Mas. Setelah itu kita temui saja." Naina memotong cepat ucapan Pak Satpam. Ia tidak ingin berburuk sangka, sebab itu Naina ingin secepatnya memastikan siapa perempuan yang mencari Sigit saat ini.
"Maaf ya, Pak, kami permisi dulu." Satpam mengangguk, sedangkan mobil Sigit kembali melaju menuju bangunan rumah yang berdiri paling ujung. Dalam hati, Sigit terus bertanya, siapakah perempuan yang saat ini sedang menunggunya? Atau jangan-jangan ...
.
.
.