"Naomi, ayo kita menikah dan ayo hidup bersama"
"menikah? apa kau tahan hidup dengan wanita gila seperti ku?"
Naomi adalah wanita arogan yang berjiwa liar, dia memiliki dua sisi kehidupan yang sangat bertolak belakang, dia adalah wanita karir yang sangat dikagumi oleh para Eksekutif di kantornya, tapi Naomi adalah tipe manusia yang sangat anti dengan romantisme.
hingga saat Raihan tiba-tiba datang padanya, dan membuat kehidupan Naomi berubah seketika...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafilah Ellathifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(NC_6) Sayur asem dan ikan teri
Kebesokan harinya Naomi datang ke taman sendirian, dan dia mendapati ada anak laki-laki yang dia selamatkan kemarin.
"Hoi, sedang apa kamu disini?" Naomi sok akrab dan duduk di kursi piknik di depan anak laki-laki itu.
"Kamu sendirian?" Tanya anak laki-laki itu kembali, dia sedang sibuk sendiri dengan alat tulis dan buku sketsa besar.
"Ya, para warrior sedang libur, besok ada ujian di sekolah", Kata Naomi sambil menatap kantong plastik berisi roti yang masih hangat, tak terasa air liurnya menetes.
"Kamu sendiri, gak ikutan siap-siap untuk ujian?" Anak laki-laki itu menyodorkan satu bungkus roti pada Naomi.
"Bwahaha... Aku sudah terlalu pintar untuk belajar, jadi aku tidak perlu siap-siap hanya untuk sekedar ujian harian", Kata Naomi dengan mulut penuh, dia melambaikan tangannya dan bersikap angkuh.
"Oh iya, siapa nama mu, warga sipil? Aku lupa bertanya kemarin", Naomi mengintip ke arah buku sketsa yang membuat anak laki-laki itu sibuk dari tadi.
"Ehm... Namaku Rei, umurku 9 tahun", kata anak laki-laki itu ragu.
"Ah.. Namamu imut seperti orangnya", Naomi tersenyum nakal, dan Rei menjadi sangat malu mendengarnya.
"Umurku 11 tahun sekarang, tapi sepertinya kelas kita sama", kata Naomi tanpa di tanya.
"Kenapa sama, bukannya harusnya kamu sekarang di kelas 6 SD?" Rei mencondongkan tubuhnya pada meja di depannya, wajah imutnya penuh dengan rasa antusias.
"Iya, tapi aku bolos sekolah 2 tahun dulu, jadi aku masih di kelas 4 sekarang. Yah, sebenarnya aku tidak peduli dengan kelas berapa aku di sekolah, aku tetap tidak mau belajar, itu hanya membuat kepalaku pusing", kata Naomi sambil berjalan, lalu bersandar malas pada pohon besar yang kemarin menjadi tameng pelindung Rei.
"Kenapa~"
"Oh iya, Rei. Lukisanmu bagus, ternyata kamu bisa melukis juga ya", Naomi mengalihkan topik agar Rei tidak bertanya lebih lanjut lagi.
"A-Ha-ha... Benarkah?" Rei menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan bersemu merah mendengar Naomi memuji dirinya.
"Rei, bisakah kau melukis diriku? Kalau hasilnya bagus, aku akan memberimu hadiah, tapi kalau jelek, aku akan menjitak kepalamu sebanyak yang ku mau, setuju?" Naomi bertindak seenaknya pada anak laki-laki yang baru saja dia temui kemarin.
"Ehm.. Oke", tapi anak laki-laki itu ternyata memiliki hati seperti malaikat, dia bahkan tidak keberatan dengan cara Naomi memerintahnya seenak jidat.
"Oke, aku akan berpose di bawah pohon ini sambil membaca majalah yang kau bawa", Naomi mulai duduk manis dan menikmati katalog produk Mall yang Rei bawa untuk alas makan.
Saat Rei tengah sibuk dengan lukisannya, Naomi menyadari sesuatu saat membaca majalah itu.
Majalah itu, adalah majalah dari Mall yang dulu Angkasa kelola, dan Naomi ingat bahwa Angkasa bergurau tentang Mall itu bahwa Naomi akan mengambil alih properti itu saat dia dewasa nanti, dan Angkasa akan mewariskan Mall itu padanya untuk Naomi kelola.
Tapi sepertinya, Mall itu sudah berganti kepemilikan dan berada di bawah perusahaan bernama Aditama.Corporation.
"Mall ini... Apa masih ada?" Tanya Naomi pada dirinya sendiri, tapi sepertinya Rei mendengar gumaman itu.
"Ah.. Mall itu? Tentu saja masih ada, ayahku sendiri yang mengelola Mall itu setelah beliau membelinya, dengan harga murah dari pesaingnya yang sudah bangkrut", Kata Rei dengan antusias, untuk ukuran anak kecil yang masih sangat muda, Rei dan Naomi pasti sudah banyak memahami tentang seluk-beluk dunia bisnis walau hanya sebatas tentang properti dan bisnis yang orang tua mereka kelola.
Karena secara alami, nantinya mereka akan menjadi pewaris dan pemimpin baru untuk menggantikan posisi orang tua mereka saat pensiun nanti.
"Itu milik keluarga Pradipta dulu", Naomi berbisik sambil menatap majalah itu dengan murung, dia tahu persis apa yang terjadi pada properti itu, dan dia benci untuk mengakui bahwa Rei adalah anak dari pesaing berat bisnis ayahnya dulu.
Naomi merasa kesal karena dia tahu, bahwa Angkasa harus mengejar ketertinggalannya, dan memulai bisnis dari awal, saat dulu dia sudah sangat sukses hingga dia hanya santai di kursi direktur, dan mengatur banyak bisnis besar di balik meja kerjanya.
Naomi dulu banyak bisa santai membeli seisi Mall itu hanya dengan menyentuh barang-barang yang dia lihat, dan memilih mainan kesukaannya hanya dengan menunjuk ke arah etalase kaca berisi boneka berharga fantastis.
Tapi sekarang dia bahkan tidak bisa memiliki satupun boneka di kamarnya, dan hanya punya beberapa helai baju di lemari pakaiannya.
Barang-barang di kamarnya pun rusak semua karena Angkasa sering melempar barang-barang itu tanpa pikir panjang.
.
.
.
.
.
"Naomi?"
Setelah merenung sendiri dan membiarkan Rei melukisnya, tanpa terasa Naomi sudah tertidur pulas di bawah pohon itu dengan memeluk majalah itu.
Rei mendekati Naomi dan mulai salah tingkah, dia bingung harus berbuat apa dengan Naomi yang tertidur sekarang.
Tapi akhirnya Rei hanya bisa menunggu dan berjongkok di samping nya, sambil memandangi wajah Naomi dan mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu.
Wajah imut Naomi agak tertutup dengan rambut panjang yang terbawa angin dan menutupi sebagian wajahnya.
Bulu mata yang lentik dan lingkar mata yang bulat dan besar, membuat Rei sangat terpesona saat melihat warna hazel yang berkilau di bola mata Naomi saat mata itu menatapnya dengan angkuh. Bibirnya yang merah merona seperti buah stroberi ranum yang dipetik di pagi hari, membuat Rei terhipnotis oleh keindahan bentuk dan warnanya yang menggemaskan.
Dan hidungnya yang bulat dan tinggi, membuat kesan imutnya makin terlihat jelas, walau bertolak belakang dengan sifatnya yang sangat tengil dan urakan.
"Apa yang kau lihat, warga sipil?"
Rei terjungkal kaget karena tiba-tiba Naomi berbicara saat matanya masih terpejam.
"A-Ha-ha... Naomi, sejak kapan kau terbangun?" Rei salah tingkah dan berjalan bolak-balik dengan acak.
Krugh...
Tiba-tiba perut Naomi berbunyi, dan membuat gadis itu terkekeh, " sepertinya sudah waktunya jam makan siang".
"Ah, apa kau mau makan di rumahku? Bunda sangat ingin bertemu denganmu saat aku menceritakan tentang dirimu kemarin. Dan bunda bilang bahwa aku boleh mengundang mu untuk makan kapanpun itu", Rei menawarkan makan siang pada Naomi untuk menutupi kesalahannya.
"Kau ternyata lebih manja dari yang kupikirkan", Naomi tertawa sarkas pada Rei yang polos itu....
****
"Ya ampun, Jia... Kamu beneran dua tahun lebih tua dari Rei? Bunda pikir kamu lebih muda, soalnya Jia lebih pendek dari Rei, mukanya imut lagi.."
Bunda Rei memeluk Naomi dan mencubit pipinya gemas saat Rei membawa Naomi ke rumahnya untuk makan siang.
"Ahahaha iya, Bunda. Banyak orang yang bilang hal yang sama ke aku, adikku yang lebih muda 4 tahun aja lebih tinggi", Naomi menjawab asal perkataan Bunda, yang entah mengapa terdengar seperti ejekan daripada pujian di telinganya.
"Makan yang banyak ya, Jia. Biar cepat tinggi, hahahaha", Bunda menaruh lauk lagi di piring Naomi yang masih sangat penuh.
Naomi sebenarnya suka-suka saja di rajakan seperti ini, karena mungkin momen ini hanya bisa dia rasakan sekali seumur hidupnya, karena dia tidak pernah di perlakukan seperti ini saat di rumahnya sendiri.
Apalagi dengan adanya lauk pauk sederhana seperti sayur asem dan ikan teri, Naomi sangat menikmati makan siangnya kali ini, karena dia tahu bahwa walaupun sederhana, tapi semua makanan ini di buat dengan bahan baku yang premium.
Jauh berbeda dengan makanan yang biasanya dia makan, karena jika itu sayur asem, maka isinya adalah kuah yang banyak dan hanya ada potongan pepaya dan daun melinjo di dalamnya, atau ikan teri, mungkin hanya akan ada remah-remah potongan kepala ikan kecil dan sedikit yang benar-benar utuh satu ikan teri.
Naomi kehilangan kenyamanan hidup yang dulu pernah dia rasakan dulu, sejak keluarga Pradipta mendapat identitas baru.
"Oh iya, Jia. Bagaimana keluargamu, apa mereka baik dan ramah seperti dirimu. Dimana kamu dan keluargamu tinggal ?" Tanya Bunda di tengah-tengah Naomi makan.
"Ehm... Rumahku tidak jauh, hanya dua blok dari sini. Dan tentu saja mereka baik dan ramah, tuan Pradipta adalah sosok ayah yang baik dan hebat, beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan barunya sekarang, dan ibu Icha juga sangat baik padaku", kata Naomi santai sambil mengunyah.
Seisi ruang makan menjadi sangat bingung, karena Naomi menyebut nama orang tuanya dengan cara yang aneh, bahkan tuan Aditama yang dari tadi hanya menyimak saja, jadi ikut bertanya.
"Jia, Apa nama ibumu adalah ibu Icha, atau dia adalah seorang wanita yang ayahmu nikahi?"
"Iya, dia adalah wanita cerdas yang ayahku nikahi", jawab Naomi jujur.
"Dulu ayahku menikah dengan Mama, dan sekarang karena dia menghamili adiknya, dia jadi menikahinya dan bibi Icha jadi ibuku sekarang".
Jawaban polos yang Naomi katakan membuat para orang dewasa menjadi sangat terkejut dan menyesal telah bertanya.
"A--h.. A-Ha-ha... Ternyata begitu ceritanya..." Bunda merasa
bersalah dan menjadi canggung menghadapi gadis mungil itu.