Mencintai seseorang dalam diam dan terus memupuk harapan, membuat Rubi Kanaya kalang kabut sendiri ketika mengetahui kenyataan jika Gus Fattah ternyata sudah dijodohkan dengan gadis lain.
"Maaf, jika Rubi telah lancang menaruh harapan pada putra Umi. Rubi sadar, siapa Rubi," kata Rubi sangat pelan yang terdengar seperti sebuah bisikan.
"InsyaAllah, Rubi sudah ikhlas karena memang ini takdir hidup yang harus Rubi jalani," lanjutnya seraya menunduk dalam.
"Ikhlas? Benarkah?" Suara seseorang yang bertanya seraya menatapnya, membuat Rubi semakin menundukkan kepala.
🌹🌹🌹
Aku hadir kembali, Best... 😍
Jangan lupa subscribe dan kasih rate bintang lima pada ceritaku ini, ya 🥰🙏
Vote dan hadiahnya yang banyak, aku tunggu 🤗😘
Mode malak, dimulai 😁🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamer Kemesraan
Kini, Rubi dapat bernapas dengan lega setelah menjalani serangkaian tes kesehatan dan pasangan suami istri itu, dinyatakan subur. Ya, tes itu dilakukan atas permintaan Gus Fattah semalam karena melihat sang istri sering khawatir dan ketakutan sendiri jika Rubi tidak dapat memberinya keturunan. Awalnya, Rubi menolak karena takut jika hasil tes menyatakan kalau wanita itu tidak subur. Namun Gus Fattah berhasil meyakinkan istrinya, setelah melalui perdebatan yang panjang.
"Tidak seburuk yang kamu sangka 'kan, Yang? Lagian, misal salah satu di antara kita ada yang bermasalah, maka dengan melakukan tes seperti ini akan lebih cepat diketahui, dan segera dicari solusinya." kata Gus Fattah, ketika mereka berdua keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan.
"Iya, Kak Fattah benar. Makasih, ya, Kak. Rubi lega sekarang."
Gus Fattah tersenyum lalu melabuhkan ciuman di puncak kepala sang istri yang tertutup hijab.
"Bagaimana hasilnya, Dik?" tanya Ning Kuni yang menunggu di luar. Ya, kakak kandung Gus Fattah itu ikut ke rumah sakit, atas permintaan sang adik. Sebab, sebelum berangkat tadi, Rubi sempat ragu, dan hendak membatalkan. Gus Fattah yang sudah kehabisan cara pun, meminta bantuan sang kakak.
"Alhamdulillah, Kak. Semua sehat."
"Alhamdulillah ...." Ning Kuni meraup wajah dengan kedua tangannya, sebagai bentuk rasa syukur. "Semoga setelah ini, kalian berdua segera diberikan amanah." Do'a Ning Kuni kemudian dengan tulus, yang diaminkan oleh Gus Fattah, dan sang istri.
Mereka bertiga lalu segera pulang untuk mengabarkan berita baik ini pada umi dan abah yang menunggu di rumah. Sepanjang perjalanan pulang tak henti Ning Kuni memberikan nasehat kepada mereka berdua agar tetap sabar, apa pun yang terjadi nanti. "Yang penting kalian berdua sudah berusaha dan berdo'a. Masalah hasil akhir, serahkan saja sama yang di atas."
"Serahkan sama pilot gitu, maksud Kakak?" Gus Fattah tertawa kecil, kemudian.
"Bukan pilot, tapi Gatotkaca," balas Ning Kuni, sengit. Pasalnya, sang adik dinasehati serius-serius malah ngajak bercanda.
"Kakak kalau marah-marah nanti cepet tua, loh." Gus Fattah mengolok, masih dengan tawa kecilnya.
"Ish, siapa bilang? Kakak rajin melakukan perawatan dengan lidah buaya. Lihat aja, nih. Wajah kakak belum ada kerutannya, kan?" Ning Kuni memamerkan wajahnya yang memang terlihat masih sangat kencang. Padahal usianya sudah di atas tiga puluh tahun, tapi masih seperti gadis belasan.
"Kamu juga harus rajin perawatan, Dik." Ning Kuni menoleh ke arah sang adik ipar yang duduk di sampingnya.
"Istriku juga udah perawatan, Kak. Madu yang seharusnya kami minum, malah dia gunakan untuk cuci muka," jawab Gus Fattah, membuat Rubi tertawa. Begitu pula dengan Ning Kuni.
Mana ada coba, orang cuci muka menggunakan madu? Palingan, cuma dipakai untuk maskeran saja. Itu pun tak butuh madu banyak. Hanya beberapa tetes saja, sudah cukup.
"Udah-udah. Malah ngomongin yang enggak penting!" Ning Kuni mengakhiri candaan tersebut.
Keheningan sejenak menyapa kabin mobil Gus Fattah. Tak ada yang bersuara. Termasuk audio mobil yang biasanya tak henti memperdengarkan sholawat nabi, kini senyap.
"Tapi ngomong-ngomong soal madu. Bagaimana kalau kalian berdua pergi berbulan madu, Dik? Liburan sebentar begitu, lah, dan sejenak melupakan tugas-tugas yang bikin jiwa dan raga penat." Suara Ning Kuni memecah keheningan. Wanita cantik itu memberikan saran pada sang adik dengan ide yang tiba-tiba melintas di kepalanya, agar mereka berdua pergi berlibur barang sebentar.
"Biar kalian berdua lebih rileks gitu, lho Dik. Siapa tahu 'kan, kalian belum juga dikarunia momongan karena kalian berdua sama-sama kelelahan. Aktifitas kalian berdua sama padatnya, kalau kakak amati," lanjut Ning Kuni.
Di bangku pengemudi, Gus Fattah yang serius mendengarkan perkataan sang kakak, mengangguk setuju. Tentu saja pria kharismatik itu setuju. Siapa, sih, yang tidak ingin bisa berdua dengan sang istri tercinta tanpa adanya gangguan? Baik gangguan pekerjaan atau pun gangguan dari orang lain.
"Gimana, Yang? Kamu mau kita liburan ke mana?" tanya Gus Fattah seraya menoleh ke belakang, sebentar lalu kembali fokus dengan kemudinya.
"Ke mana aja, deh, Kak. Asal sama Kak Fattah, Rubi pasti senang."
"Cie ... udah pinter nggombal, ya, kamu sekarang, Dik? Pasti gara-gara sering digombalin sama suami kamu, kan?"
Rubi tersipu karena digodain sang kakak ipar. Tadi, dia keceplosan dan lupa kalau ada Ning Kuni, di antara mereka berdua. Sungguh, Rubi rasanya ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi, saking merasa malu pada Ning Kuni.
"Bukan hanya pinter nggombal, Kak. Istriku juga makin pinter godain aku di ranjang." Gus Fattah menimpali perkataan sang kakak dengan vulgar, hingga membuat Rubi semakin malu saja.
"Ish, Kak Fattah keterlaluan! Awas aja, ya!" Rubi protes dan mengancam, tetapi hanya gerakan bibirnya saja.
Di depan sana, Gus Fattah yang memperhatikan wajah sang istri melalui pantulan kaca spion tengah, tertawa senang. Wajah sang istri yang memerah seperti kepiting rebus, sungguh sangat menggemaskan. Gus Fattah rasanya sudah tidak sabar, ingin membawa sang istri ke kamar.
Gara-gara tahu kartu As Rubi, Ning Kuni semakin gencar menggoda adik iparnya. Rubi hanya bisa senyum-senyum, menahan malu karena ulah suami mesumnya. Candaan mereka terhenti, ketika mobil Gus Fattah memasuki area pesantren, dan berhenti tepat di halaman kediaman sang abah.
Naura yang baru pulang sekolah TK, segera menghambur ke dalam pelukan sang bibi. Ya, gadis kecil putri kedua Ning Kuni itu, begitu dekat dengan bibinya. Bahkan, Naura seringkali tidur di pangkuan Rubi ketika istri Gus Fattah itu sedang nderes hafalan Al-Qur'an.
"Yaya. Bulek capek, Ya. Sini, sama eyang saja." Nyai Aisyah melambaikan tangan, tapi gadis kecil itu menggeleng.
"Ndak apa-apa, Mi. Biar saja." Rubi pun tak keberatan, keponakan suaminya itu bermanja-manja dengan dirinya.
Gus Fattah tersenyum. Tanpa aba-aba, pria tampan itu lalu mengambil sang keponakan dari gendongan Rubi.
"Paman juga kangen loh, sama Yaya," kata Gus Fattah sambil menciumi pipi Naura dengan gemas. Gadis kecil itu pun tertawa geli karena pipi mulusnya terkena bulu-bulu kasar yang tumbuh di sekitar rahang sang paman.
Mereka semua lalu duduk di ruang keluarga.
"Bagaimana hasilnya, Nok?" tanya sang umi dengan sangat hati-hati. Wanita anggun itu tentu tak mau membuat sang menantu tersinggung.
"Alhamdulillah, Mi, Abah. Hasilnya, semua bagus. Kami berdua saja sehat."
'Alhamdulillah," ucap syukur Kyai Hambali dan sang istri bersamaan.
"Sekarang, kalian tinggal ikhtiar, dan berdo'a. Semoga Allah segera berkenan memberikan amanah anak kepada kalian berdua." Do'a tulus Kyai Hambali, seraya menatap sang menantu, dan putranya bergantian.
"InsyaAllah, Bah. Do'a dan ikhtiar akan Fattah kencengin. Gas pol 'kan, Bah, pokoknya," jawab Gus Fattah, membuat sang abah tertawa. Sementara di sampingnya, pipi sang istri merona.
"Kalau kalian berdua ndak keluar-keluar dari kamar, nanti santrine sampean gimana, Gus?" tanya sang umi.
"Santri untuk sementara biar di pegang abinya Fathir, Mi. Tadi, Kuni menyarankan pada mereka berdua agar pergi liburan. Bulan madu, begitulah istilahnya orang-orang zaman sekarang." Ning Kuni menyahut dan menceritakan obrolan mereka tadi.
"Wah, bagus itu. Abah setuju." Kyai Hambali mengangguk-angguk.
"Mi. Setelah mereka pulang nanti, gantian kita yang pergi bulan madu, ya. Sudah lama 'kan, kita ndak pergi berdua."
Kyai kharismatik itu melirik mesra sang istri lalu menggenggam erat tangan istrinya. Kyai Hambali sepertinya tak mau kalah dengan sang putra, yang sedari tadi duduk menempel pada sang istri, dan memeluk pinggang Rubi posesif.
"Abi! Cepet pulang! Hu ... mereka pada pamer kemesraan, Bi!" seru Ning Kuni lalu segera meninggalkan kediaman sang abah. Bahkan, Naura dia tinggalkan begitu saja di sana. Kelakuan putri sulungnya itu, membuat Kyai Hambali tergelak.
Ya, beliau sangat bersyukur memiliki putra-putri yang rukun dan saling sayang dengan pasangan.
bersambung ... 🌹🌹🌹