Indonesia
NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kata yang terucap

Lapangan mendadak menjadi pusat perhatian.

Semua latihan berhenti. Bola-bola menggelinding liar, sementara anak-anak lain terdiam di tempatnya, menatap ke tengah keributan.

Cheyrin menatap mereka berdua, dadanya masih naik turun.

"Apa-apaan sih kalian?" suaranya tajam, tapi bergetar.

Steven menjawab lebih dulu, napasnya masih kasar.

"Dia duluan tuh, yang nyerang gue."

Jayden menyeringai sinis. Darah di sudut bibirnya masih basah.

"Sejak kapan lo suka sama Cheyrin?"

Seluruh lapangan hening.

Termasuk Lisa dan Dara yang baru saja sampai di pinggir lapangan.

Termasuk Cheyrin sendiri, darahnya menjadi dingin. Cheyrin menoleh ke Jayden. Matanya melebar.

"Jay, lo ngomong apa sih?"

Jayden menatapnya lurus. Suaranya tegas.

"Emang lo nggak bisa liat dari cara dia perhatian sama lo? Gue tau, karena gue itu cowok."

Steven menggeleng. Bibirnya retak karena pukulan tadi.

"Gue perhatian karena gue manusia. Itu hal wajar."

"Bacot lo, anjeng!," Jayden melangkah maju setengah langkah, tapi langsung ditahan oleh Cheyrin.

"Gue tau lo selalu ngelirik Cheyrin tiap saat. Bahkan tadi lo ngelirik dia pas latihan. Gue udah merhatiin itu dari tadi."

Steven langsung menimpali.

"Siapa bilang gue merhatiin Cheyrin? Gue dari tadi merhatiin cewe gue. Lisa."

Satu lapangan kembali di buat terdiam terdiam.

Mereka saling pandang. Termasuk Cheyrin dan Jayden yang spontan menoleh ke arah Lisa.

Sejak kapan mereka pacaran? batin keduanya.

Sementara itu Lisa hanya bisa menatap mereka dengan gelisah.

Steven tersenyum sinis.

"Sejak kapan Cheyrin jadi milik lo?"

Rahang Jayden mengeras. Tangannya mengepal. Tapi Cheyrin masih memegang erat lengannya. Takut jika Jayden nekat maju lagi.

"Stop!" bentak Cheyrin.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Cheyrin menarik tangan Jayden dengan kasar.

"Ayo."

Ia menyeret Jayden pergi dari lapangan, melewati tatapan-tatapan terkejut semua orang, langsung menuju arah toilet.

Sampai di depan pintu toilet, Cheyrin melepaskan tangan Jayden dengan kasar dan menatapnya tidak percaya.

Pintu besi di belakang mereka bergema pelan.

"Lo apa-apaan sih Jay, ngapain lo ngomong gitu?"

Suara Cheyrin tegas. Gema terdengar di toilet itu.

Jayden bersdekap. Rahangnya masih tegang.

"Kenapa Chey? Lo marah, atau jangan-jangan lo juga suka sama Steven?"

Cheyrin tertawa sinis. Tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.

"Lo masih aja bahas itu. Kenapa Jay? Apa sebenarnya yang mau lo liat. Lo mau pengakuan kalau Steven suka sama gue.? Lo udah denger kan tadi penjelasan Steven, dia ngeliat Lisa, bukan gue, udahlah jangan kayak anak kecil gitu"

Jayden mendekat selangkah.

"Gue tau itu bohong. Lo juga tau kan Steven gak pernah suka sama Lisa."

Cheyrin menghela napas panjang.

"Udah cukup Jay. Jangan mentang-mentang kita seket, lo seenaknya mengklaim kalau gue itu punya lo. Jangan larang gue buat dekat sama siapapun. Kita gak punya hubungan apapun. Jangan anggap gue itu milik lo."

Kalimat itu menusuk langsung ke dada Jayden. Kalimat yang sama sekali tidak ingin ia dengar dari mulut Cheyrin.

Jayden berpaling sekilas, tertawa kecil, lalu menatap Cheyrin lagi. Matanya merah.

"Tch... Jadi itu alasannya lo gak nerima gue? Supaya lo bebas bergaul dengan siapa aja iya?"

Cheyrin mengerutkan keningnya.

Jayden melanjutkan dengan volume yang sedikit naik.

"Sama Steven lo mau. Sama gue lo mau. Sama bang Evan lo mau. Itu yang lo mau?. Murahan tau gak."

SATU DETIK.

PLAKKK!!

Tamparan keras mendarat di pipi Jayden sebelum ia sempat berkedip. Kulit nya langsung memerah.

Wajahnya berpaling karena hantaman itu.

Cheyrin menatapnya beberapa detik. Matanya berkaca-kaca.

"Brengsek," gumamnya yang hampir tenggelam oleh getaran di bibir nya.

Lalu Cheyrin berbalik dan keluar dari toilet itu. Pintu dibanting kuat. Bergema.

LAPANGAN

Setelah Cheyrin nyeret Jayden pergi, lapangan masih riuh. Bisik-bisik masih terdengar.

Steven masih berdiri di tengah, napasnya kasar. Bibirnya retak. Juno langsung mendekat dan narik bahu Steven ke belakang.

"Udah udah! Selesai!" teriak Juno, nadanya setengah panik setengah ngelawak.

Ia berdiri di tengah lapangan, tangannya ngebentuk corong di mulut.

"Perhatian perhatian! Buat penonton yang budiman, pertandingan tinju antar gengs udah selesai. Pemenangnya... gak ada. Yang ada cuma nilai kalian yang bakal anjlok karena bolos latihan!"

Beberapa anak yang tadinya melongo akhirnya tertawa kecil, canggung. Bola-bola yang tadinya menggelinding liar mulai diambilin kembali.

"Yaudah bubar! Balik latihan! Yang mau nonton drama silakan nonton drakor di Loklok. Gratis!"

Juno melirik ke arah Steven. "Lo, ke UKS. Bersihin tuh bibir. Nanti dikira abis berantem sama cewe."

Steven mendengus, tapi ikut melangkah ke pinggir lapangan bersama Juno.

Dari kejauhan, Dara masih berdiri di tepi lapangan.

Bibinya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Matanya ngikutin ke arah toilet tempat Cheyrin menyeret Jayden tadi.

Akhirnya rame juga, batinnya.

Belum semenit, dari arah gedung toilet, Juno melihat seseorang berlari.

Rambutnya tergerai. Bahunya naik turun.

Cheyrin.

Dan dia menangis.

Jantung Juno langsung berdegup.

"Waduh..."

Tanpa nunggu Steven, Juno langsung melepaskan pegangan di bahu Steven.

"Lo ke UKS sendiri. Gue ada urusan," ucapnya cepat.

Juno lari. menyebrangi lapangan. Langsung menuju toilet.

POV JAYDEN - DI DALAM TOILET

Beberapa detik setelah Cheyrin pergi, Jayden terdiam.

Suara pintu yang dibanting masih menggema di kepalanya.

Murahan.

Kata itu berputar-putar. Kata yang keluar dari mulutnya sendiri.

Jayden baru sadar.

Dia baru saja menghancurkan satu-satunya orang yang paling dia takut kehilangan. Dengan tindakan nya sendiri. Dengan mulutnya sendiri.

Napasnya berat. Dada rasanya sesak.

Jayden melirik ke cermin yang menempel di dinding.

Di sana dia melihat dirinya. Kaos basket basah karena keringat, rambut berantakan, sudut bibir masih berdarah. Dan mata... mata merah seperti orang gila.

Tangannya mengepal sampai kuku menancap ke telapak.

"Gue brengsek," bisiknya.

"BRAKK!"

Sekali tinjuan. Kaca itu pecah.

Berserakan.

Darah langsung mengalir dari punggung tangannya. Panas. Perih. Tapi Jayden sama sekali tidak peduli.

"Sial," gumamnya pelan.

Ia menyandarkan dahi ke dinding yang dingin. Tangannya masih menetes. Tapi sakit di tangan tidak ada apa-apanya dibanding sakit di dada.

Pintu toilet terbuka pelan.

Juno masuk. Wajahnya khawatir tidak ada lawakan sama sekali.

"Woi, sadar Jay. Lo gila ya, sampai tangan lo berdarah gini,"

ucap Juno pelan.

Jayden masih duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dinding. Darah dari tangannya netes ke ubin. Ia tidak perduli.

Juno menarik lengan Jayden, memaksa ia berdiri.

"Ayo keluar. Sekarang."

Di luar toilet, Juno masih megang lengan Jayden erat.

"Cheyrin mana?" tanya Jayden, suaranya serak.

Juno menghela napas.

"Gue tadi liat dia lari sambil nangis. Ke arah kelas."

Jayden memejamkan mata. Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang masih bersih.

"Ini semua salah gue..."

Hening beberapa detik.

Juno tiba-tiba berdehem.

"Jay, ada yang harus gue luruskan di sini."

Jayden tidak menoleh. Matanya hanya terfokus ke darah di tangannya yang terus menetes.

Juno melanjutkan.

"Kalau lo ngira yang nganter jemput Cheyrin itu Steven, lo salah. Karena yang nganter jemput Cheyrin itu gue. Gue liat dia sendirian pas lo sakit waktu itu, jadi gue tawarin."

Jayden langsung menoleh. Ia tertawa remeh.

"Lo gak perlu segitunya buat bela Steven, Jun. Oke kalau lo mau nyelametin pertemanan kita, tapi gak usah pake cara gini."

"Gue serius," potong Juno cepat. "Lo boleh tanya langsung sama Cheyrin."

Jayden menghela napas.

"Sejak kapan motor lo warna biru?"

Juno ketawa kecil. Kecut.

"Jadi lo liat gue naik ninja biru waktu jemput Cheyrin?"

Jayden menatap Juno datar.

"Nggak. Tapi ada orang yang bilang ke gue, orang yang jemput Cheyrin itu pake ninja biru."

"Ya itu gue," Juno nyengir miris. "Motor gue mogok waktu itu. Gue pinjem motor Steven."

Juno menepuk bahu Jayden. Kali ini pelan.

"Udah lah Jay. Kita udah lama temenan bertiga. Masa lo mau mutusin pertemanan cuma gara-gara salah paham kayak gini."

Jayden diam. Rahangnya mengeras.

Di kepalanya: Kalau bukan Steven... terus gue berantem sama dia buat apa?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!