Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Beberapa hari kemudian, Kenzo dan Keira duduk bersama di bangku taman sekolah. Namun suasana itu tiba-tiba berubah ketika seorang gadis berambut pendek berjalan lewat di depan mereka. Kenzo menatap gadis itu dengan tatapan yang berbeda.
"Siapa itu?" tanya Keira pelan.
"Itu Alya," jawab Kenzo pelan. "Dia lucu ya? Aku suka dia."
Keira langsung mengerutkan kening. "Jangan dekat-dekat dia. Dia orang jahat."
Kenzo menoleh, terkejut mendengar ucapan itu. "Kenapa kau bilang begitu?"
"Dia pernah memfitnahku di kantin. Banyak anak yang percaya padanya dan menjauhiku," jawab Keira dengan nada rendah, tak ingin mengingat kembali rasa sakit itu.
Namun Kenzo justru menggeleng. "Kau tidak boleh menilai orang begitu. Kau belum mengenalnya dengan baik."
"Tapi dia benar-benar jahat tau," tegas Keira.
"Berhenti bicara seperti itu. Aku kecewa padamu," ucap Kenzo tiba-tiba berdiri, wajahnya terlihat kecewa. "Kau seharusnya mendukungku, bukan malah menjelekkan orang yang aku suka."
"Kenapa kau tidak percaya padaku?" Keira berdiri juga, matanya mulai berkaca-kaca.
"Karena kau tidak mengenalnya seperti aku," jawab Kenzo dingin, lalu berbalik pergi meninggalkan Keira sendirian di bangku itu.
'Keira menatap punggung sahabat barunya itu pergi. Hatinya terasa perih. Kenapa... kenapa semua orang selalu lebih percaya pada orang lain daripada padaku?' batinnya.
Kenzo sudah pergi dengan perasaan kecewa. Keira ingin mengejarnya, ingin menjelaskan bahwa ia tidak berbohong, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Mahendra dan yang lain hanya bisa menghela napas, lalu meninggalkannya sendirian di sana.
Sore itu, Keira pulang dengan langkah berat. Keyna yang melihatnya segera menghampiri, wajahnya tampak rindu.
"Keira, bagaimana harimu? Sudah lama kita tidak mengobrol seperti dulu," tanyanya antusias.
Keira hanya menjawab singkat, "Biasa saja." Ia berniat langsung naik ke kamar, namun Keyna terus mengikutinya.
"Ayo main dulu. Di rumah hanya Mama yang sedang memasak. Tidak seru kalau sendirian," ajaknya sambil menarik tangan Keira.
Keira berhenti dan melepaskan tangannya tanpa sadar. "Jangan terus-terusan menggangguku."
Keyna tertegun. "Keiraa... kau marah padaku?"
"Aku tidak mengganggumu, tapi aku sedang tidak ingin diganggu," jawab Keira pelan namun tegas. Ia sudah lelah .
"Kenapa kau selalu menghindar? Aku hanya ingin dekat denganmu, Vin. Aku ingin mengenal kamu lebih jauh," suara Keyna terdengar penuh kepedulian, namun bagi Keira itu terdengar seperti tuntutan yang tak bisa ia penuhi.
"Sudah cukup!" bentak Keira tanpa sadar.
Keyna mundur perlahan, matanya berkaca-kaca. "Kenapa kau selalu marah? Kalau kau tidak suka, bilang saja pada Mama dan Papa. Aku tidak peduli."
Kalimat itu menembus hati Keira. Ia bukan tidak suka, ia hanya tidak dihargai. Namun ia tak sanggup menjelaskan. Ia hanya berbalik dan berjalan menuju tangga, membiarkan Keyna berdiri sendirian di ruang tengah.
"Kapan kau akan berhenti menghindar? Aku hanya ingin kita seperti saudara pada umumnya!" teriak Keyna di belakangnya.
Suara itu didengar oleh Gina yang sedang memasak di dapur. Ia segera berjalan keluar, wajahnya penuh kekhawatiran sekaligus kemarahan. Keyna langsung berlari memeluk ibunya, isak tangisnya terdengar pelan namun jelas.
"Mama..."
Gina mengelus punggung putra kesayangannya itu, lalu menatap Keira dengan tatapan dingin dan tajam. "Kau membentaknya?"
"Aku hanya..." Keira mencoba menjelaskan, namun kata-katanya tertahan.
"Hanya apa? Hanya merasa lebih tinggi dari kami?" Gina melepaskan pelukan Keyna dan berjalan mendekati Keira. "Ulangi sekali lagi apa yang baru saja kau katakan padanya."
"Aku tidak bermaksud begitu..."
"Ulangi!" Gina membentak.
Keira menunduk. "Aku hanya bilang... aku tidak ingin diganggu."
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Keira. Suaranya bergema di ruangan itu.
"Berbicara dengan nada tinggi begitu pada saudaramu? Padahal kau tidak pernah berbuat apa-apa untuk keluarga ini!" Gina menatapnya dengan penuh kemarahan. "Kau tidak berguna. Kau hanya beban bagi kami."
Ia menamparnya lagi, kali ini di pipi sebelah kanan. Bibir Keira terbelah dan mulai berdarah. Namun ia tidak mengangkat tangan untuk melawan.
Ia hanya berdiri diam, menunduk dalam, membiarkan kemarahan ibunya meluap begitu saja. Suara tamparan itu terdengar berkali-kali, namun Keira tidak mengeluarkan satu pun suara protes.
"Kau tahu apa yang kurasakan selama ini? Melihatmu setiap hari, merasa seolah-olah kau adalah kesalahan terbesar dalam hidupku!" Gina berteriak, air mata kemarahannya jatuh di pipinya sendiri. "Kau tidak pernah menjadi anak yang aku harapkan."
Keira mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan. Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering sejak lama. Ia hanya berjalan perlahan menuju kamarnya, menutup pintu rapat-rapat, dan bersandar di baliknya.