“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Tiara baru saja selesai mandi.
Rambut panjangnya masih sedikit basah ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan gaun rumahan sederhana dengan warna lembut yang membuat wajahnya terlihat semakin segar. Setelah duduk di depan meja rias, Tiara mengeringkan ujung rambutnya sambil sesekali memandangi pantulan dirinya di cermin.
Hari ini ia merasa lebih tenang.
Bukan karena hidupnya sudah sepenuhnya bebas dari masalah, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa memiliki seseorang yang benar-benar berdiri di sisinya.
Permana.
Tiara mengambil pelembap, kemudian mengoleskannya tipis ke wajah. Setelah itu ia menggunakan sedikit bedak, lipstik berwarna lembut, dan merapikan alisnya.
Tidak berlebihan.
Hanya riasan tipis yang membuat wajahnya tampak lebih cerah.
Ia kemudian mengambil botol parfum dari meja.
Satu semprotan di leher.
Satu lagi di pergelangan tangan.
Tiara tersenyum kecil ketika mencium aroma lembut yang menempel di tubuhnya.
"Kau mau pergi?"
Suara Permana tiba-tiba terdengar dari belakang.
Tiara menoleh.
Pria itu berdiri di dekat pintu kamar sambil memperhatikannya.
"Tidak. Aku cuma ingin terlihat sedikit rapi dan cantik didepan mu."
Permana tersenyum.
"Kau sudah cantik dari lahir."
Tiara mengukir senyum.
"Pujianmu berlebihan."
"Karena kau memang cantik."
Pipi Tiara langsung memerah.
"Mas..."
Permana tertawa kecil melihat istrinya salah tingkah.
"Kenapa? Aku cuma mengatakan kenyataan."
Tiara buru-buru berdiri dan pura-pura merapikan rambut.
"Kau ini suka sekali menggoda."
"Aku tidak menggoda."
Permana mendekat, lalu berdiri di belakang Tiara yang masih menatap cermin.
"Setelah menikah denganku, kau semakin cantik."
Tiara semakin salah tingkah.
"Sudah. Jangan bicara macam-macam."
Permana tersenyum.
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.
Permana mengambilnya.
Matanya membaca sebuah pesan.
Seketika ekspresi wajahnya berubah.
Bukan menjadi cemas.
Justru ia tersenyum tipis.
Tiara yang melihat perubahan itu langsung penasaran.
"Ada apa?"
Permana masih menatap layar.
"Pesan dari seseorang."
"Siapa?"
Permana tidak langsung menjawab.
Ia memasukkan ponsel ke saku celana.
Tiara menatapnya curiga.
"Kok tersenyum begitu?"
Permana menghela napas.
"Haikal."
Nama itu membuat senyum Tiara langsung menghilang.
"Haikal?"
"Iya."
"Ada apa dengannya?"
Permana duduk di tepi ranjang.
"Sepertinya hidupnya sedang tidak baik-baik saja."
Tiara ikut duduk.
"Memangnya kenapa?"
"Dia kesulitan membayar hutang kepada bank."
Tiara terdiam.
Permana melanjutkan.
"Pabriknya juga sedang kacau. Permintaan produksi turun drastis. Arus keuangannya bermasalah. Bahkan beberapa waktu lalu dia sampai melakukan PHK terhadap seluruh pegawai kontrak."
Tiara menatap lantai.
Ada perasaan aneh di dalam dadanya.
Bukan bahagia.
Bukan pula sedih.
Hanya semacam rasa lega karena akhirnya orang yang pernah membuat hidupnya hancur harus menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.
"Dia sedang meraih karma atas perbuatannya kepadaku dulu."
Permana menatap istrinya.
Tiara tersenyum tipis.
"Dulu aku dianggap tidak berguna. Aku dibilang tidak bisa memberikan keturunan. Aku disuruh melayani mereka seperti pembantu di rumah sendiri."
Suara Tiara mulai bergetar.
"Padahal aku sudah memberikan semuanya untuk keluarga itu."
Permana menggenggam tangan istrinya.
"Aku tahu."
Tiara menatapnya.
"Aku tidak pernah berharap Haikal menderita seperti ini."
Permana diam.
"Tapi aku juga tidak bisa pura-pura kasihan. Setelah semua yang mereka lakukan kepadaku, aku hanya ingin hidupku tenang."
Permana mengangguk.
"Itu hakmu."
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, ponsel Permana kembali berbunyi.
Kali ini suara notifikasinya terdengar lebih panjang.
Permana mengambilnya.
Ia membaca pesan tersebut.
Wajahnya seketika menjadi serius.
Tiara langsung menyadarinya.
"Pesan dari Haikal lagi?"
Permana mengangguk.
"Apa katanya?"
Permana tidak langsung menjawab.
Ia membaca pesan itu sekali lagi sebelum akhirnya menatap Tiara.
"Dia meminta aku menyampaikan sesuatu kepadamu."
"Apa?"
Permana menarik napas.
"Dia meminta kamu datang ke rumah sakit."
Tiara mengerutkan kening.
"Untuk apa?"
"Menemui ibunya."
Tubuh Tiara seketika menegang.
Rumi.
Nama itu bahkan tidak perlu disebutkan.
Tiara sudah tahu siapa yang dimaksud.
Permana kemudian berkata pelan.
"Haikal bilang ibunya sedang sekarat."
Ruangan mendadak sunyi.
Tiara tidak bergerak.
Pandangannya kosong ke depan.
Ingatan lama bermunculan satu demi satu.
Rumi yang memandangnya dengan jijik.
Rumi yang mengatakan dirinya perempuan tidak berguna.
Rumi yang menyalahkan dirinya karena tidak kunjung memiliki anak.
Rumi yang terus membandingkannya dengan Intan.
Rumi yang pernah membuatnya merasa tidak lebih dari seorang pembantu di rumah sendiri.
Dan yang paling menyakitkan...
Rumi adalah salah satu orang yang mendorong Haikal untuk meninggalkannya.
Tiara mengepalkan jemarinya.
Hatinya masih terluka.
Meski luka itu sudah lama ia tutupi dengan kehidupan barunya bersama Permana, ternyata bekasnya masih ada.
Permana memperhatikan wajah istrinya.
"Bagaimana?"
Tiara tidak menjawab.
"Apa kamu mau menjenguk mantan ibu mertuamu?"
Tiara masih diam.
Permana segera menambahkan,
"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa."
Tiara menoleh.
"Benarkah?"
"Tentu."
Permana menggenggam tangannya.
"Kau tidak perlu memaksakan diri hanya karena Haikal meminta."
Tiara menundukkan kepala.
"Kalau kau masih sakit hati, kita tidak perlu pergi."
Beberapa saat Tiara terdiam.
Ia memejamkan mata.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin mengatakan tidak.
Ia ingin melupakan semuanya.
Ia ingin membiarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu.
Namun ada bagian lain yang mengingat bahwa hidup manusia tidak pernah tahu kapan sebuah pertemuan menjadi yang terakhir.
Tiara membuka matanya.
"Aku mau."
Permana menatapnya.
"Kamu yakin?"
Tiara mengangguk.
"Aku mau menemuinya."
"Kau tidak perlu kalau belum siap."
"Aku tahu."
Tiara menarik napas panjang.
"Mungkin ini pertemuan terakhir kami."
Permana terdiam.
Tiara memandang ke arah jendela.
"Entah nanti dia masih hidup atau tidak setelah aku datang ke sana."
Ia tersenyum getir.
"Aku tidak ingin membawa kebencian ini selamanya."
Permana meremas lembut tangannya.
"Aku akan menemanimu."
Tiara menatap suaminya.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena tidak pernah memaksaku melakukan sesuatu."
Permana tersenyum.
"Aku hanya ingin kau bahagia."
Bersambung....