Berawal dari seorang penulis Novel yang bernama Emily yang mendapatkan tantangan menulis cerita horor.
Dia mendapatkan ide dari temannya Vanessa yaitu, menulis kisah seorang pengusaha muda yang mati dalam kecelakaan tragis.
Ternyata arwah pengusaha muda yang bernama Harva gentayangan, Emily bisa melihat arwah itu dan berkomunikasi.
Apakah Emily berhasil menulis cerita horor?
Bagaimana Kisah Emily? Mari kita simak ceritanya🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTCM 28
Marcel tidak mau menerima penjelasan dari Lily, dia justru mengatakan ingin bertemu dengan Harva. Padahal Harva berada disebelah Lily, sedang menahan tawanya.
"Ok! gue gak permasalahkan lu mau berteman dengan Harva atau siapa, tapi kita jangan putus," ujar Marcel.
"Gak bisa gitu dong! gue gak terima, lu udah nyakitin perasaan Bagas," kata Lily.
"Apa pentingnya dia buat lu! cuma saudara kan? lha gue yang bakal jadi suami lu nanti," ucap Marcel.
Lily semakin marah dengan ucapan Marcel, karena Marcel dulu juga berteman sangat baik dengan Bagas tetapi masih tega mengkhianati temannya.
"Jangan diladeni laki kaya gitu! mending kita cabut yuk," ajak Harva sembari menggandeng tangan Lily menuju dimana mobilnya berada.
"Sial!" umpat Marcel.
***
"Van, gue duluan ya! lu pulang sendiri gak papa kan," ucap Joy.
"Iya, lu duluan aja," kata Vanessa masih fokus dengan laptopnya.
"Senyum dong," ucap Joy sembari mencolek dagu Vanessa.
Selang berapa menit setelah Joy meninggalkan Vanessa, Marcel datang menanyakan soal Harva kepada Vanessa. Dia tidak terima Lily menyebut-nyebut nama Harva.
"Van, lu kenal yang namanya Harva gak? kok lu gak bilang selama ini kalau Lily sering jalan sama Harva," kata Marcel.
"Haduh! gue gak tau, Lily jalan sama siapa aja. Lagian lu juga sering jalan sama Raya, jadi gak usah protes," ujar Vanessa.
Marcel bertanya siapa Harva, rumahnya dimana karena ingin mengunjungi dan bertemu dengan Harva. "Beraninya dia rebut Lily dari gue," ujarnya.
Vanessa menjelaskan kalau Marcel mengetahui soal Harva pasti akan menyesal, dan tidak akan percaya. Jadi Vanessa berpura-pura tidak tau soal Harva, agar masalah tidak runyam. Apalagi dia melihat kejadian tadi pagi, pastinya ikut geram dengan sikap Marcel sudah tega mengkhianati Lily.
Vanessa mendrama seakan-akan Harva adalah orang, bukan hantu dengan begitu Marcel akan marah dan bertambah kesal. Tujuannya agar hubungan Lily dan Marcel rusak, dia tidak rela jika Lily terus disakiti.
"Gue pulang dulu! bilang sama Lily besok gue datang lagi," ucap Marcel.
Vanessa memesan taxi online ia hendak pergi ke rumah Harva lagi. Kebetulan saat ini masih kesal dengan Joy, yang tengah sibuk dengan Alena.
"Van, lu kesini? sama siapa?" tanya Lily saat membuka pintu rumah.
"Sendiri," jawabnya lesu.
Lily mengajak Vanessa masuk ke dalam rumah, lalu menyuruhnya untuk membersihkan diri karena ia hendak mengajak Vanessa untuk makan malam. Kebetulan Harva tidak ada, menghilang entah kemana. Jadi mereka berdua sedikit bebas, tidak ada yang mengawasi.
"Gue ke kamar dulu," pamit Lily.
Vanessa mengiyakan ucapan Lily, karena makanannya masih banyak dan harus dia habiskan. Tetapi saat hendak menyuapkan makanan ia teringat ucapan Lily yang seperti orang sedang sedih. Dengan cepat Vanessa membereskan meja makan dan menuju ke kamar Harva.
Saat Vanessa masuk ke dalam kamar Harva, Lily segera menghapus air matanya. Dia tidak mau terlihat sedih, tetapi raut wajahnya tidak bisa membohongi orang yang melihatnya.
"Ly, gue tadi bertemu sama Marcel. Dia bilang mau bertemu sama Harva," ucap Vanessa.
"Bawa saja kesini, biar semua jelas," kata Lily.
Lily lalu menangis dengan keras, membuat Vanessa kebingungan. Tidak biasanya Lily sesedih ini, biasanya dia tidak perduli dengan Marcel tapi kali ini entah apa yang dia rasakan.
"Sakit, Van! hati gue sakit, rasanya gue hancur banget," ucap Lily sembari menghapus air matanya.
"Bikin orang bingung aja lu, biasanya lu lihat Marcel jalan sama Raya juga gak sedih," kata Vanessa.
"Gue gak tau kenapa! tiba-tiba aja gue ngerasa sedih banget, padahal dulu juga gak begini amat," ujar Lily.
Harva tiba-tiba muncul ditengah-tengah Vanessa dan Lily duduk. Dia menatap tajam Lily, dengan tatapan seakan membunuh.
Lily yang merasa ditatap oleh Harva, menundukkan kepalanya. Ia malu dengan Harva karena sedih.
"Lebai lu! pakai nangis segala, ganggu orang tidur aja," Harva.
"Diam lu!" bentak Lily.
"Perasaan dari tadi gue juga diam," sahut Vanessa.
Lily baru mengatakan kalau ada Harva, membuat Vanessa pindah tempat duduk. Vanessa memeluk Lily, untuk memenangkan agar tidak sedih dan menangis lagi.
Pagi hari Lily sudah berpakaian rapi, dia berencana untuk menemui dokter Azka. Lily ingin mencari tau keberadaan tubuh Harva, dari pada dia larut dalam kesedihan.
"Van, bilang sama Joy kalau gue gak ke kantor hari ini," ucap Lily.
"Gue juga males ketemu Joy, apa sebaiknya gue ikut lu aja," ujar Vanessa.
"Boleh! asal jangan merepotkan saja," ucap Lily.
Harva setuju kalau Lily tidak pergi sendiri, dia bisa bernafas lega dan sedikit tenang. Mereka bertiga kemudian berangkat dengan mengendarai mobil milik Lily.
Setelah sampai mereka memasuki ruangan dokter Azka, kebetulan dokter itu berada di rumah sakit karena memang jadwalnya hari ini.
Lily sengaja mengambil nomer antrian seperti pasien lain, karena kalau tidak menggunakan cara itu pasti dokter Azka akan menghindar. Apalagi masalah soal Harva bukan masalah kecil, bisa berdampak pada reputasi dokter Azka.
Tiba giliran Lily masuk ke ruang periksa dokter itu, Lily masuk ditemani Vanessa dan Harva.
"Silahkan duduk, nona Lily! apa keluhan anda?" tanya Dokter Azka.
"Saya gak sakit dokter! tapi ada perlu," ucap Lily tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Boleh! silahkan katakan, untuk mempersingkat waktu karena pasien saya banyak," ucap Dokter Azka.
Lily meminjam laptop dokter Azka, dan mengirimkan video yang menunjukkan Dokter Azka sedang memeriksa Harva.
"Da... ri mana Nona, mendapatkan video itu," ucap Dokter Azka terkejut melihat video yang ditunjukkan oleh Lily.
"Dokter tidak perlu tau! sekarang yang Dokter harus lakukan adalah berkata jujur," kata Lily.
"Maksud Nona, apa? saya tidak tau menahu soal video itu," kata Dokter Azka.
Lily lalu menjelaskan apa saja yang harus dokter Azka lakukan, agar terbebas dari masalah ini. Kalau Dokter Azka tidak mau berkata jujur Lily akan mengusut kasus ini sampai mendapatkan titik terang.
"Saya hanya memeriksa orang yang ada di video itu, ada apa memangnya," ucap Dokter Azka berpura-pura.
Dokter Azka tidak mau berkata jujur, tetapi Lily tidak menyerah begitu saja. Bahkan Dokter Azka sampai memanggil seorang suster untuk mengusir Lily, tetapi Lily berpura-pura sakit.
"Cepat katakan dengan jujur, Dokter," ucap Lily.
"Kasihan pasien saya yang lain, lebih baik Nona keluar dari ruangan ini," ujar Dokter Azka.
"Oke! demi pasien lain saya keluar! tapi ingat Dokter harus bertanggung jawab, karir anda diujung tanduk," kata Lily.
Dokter Azka terdiam, kalau dirinya tidak jujur banyak sekali masalah yang nantinya akan menimpanya. "Tunggu, Nona!" teriaknya.
lanjutin donk ..,....
kangen Ama karya author yang 1 ini