Menikah dengan pria bertangan satu?! Its big NO! Kana tidak akan mau melakukannya. Sebagai putri satu-satunya Aris Daniswara yang merupakan salah satu orang terkaya di Kota J, Kana merasa dirinya pantas mendapatkan yang lebih baik. Minimal harus kaya, tampan, dan tidak cacat fisik.
Meskipun sepuluh tahun lalu Kana pernah bersumpah hanya akan menikah dengan Ray, tapi waktu itu Ray masih punya dua tangan dan sangat tampan. Sekarang keadaannya berbeda, Ray bukanlah pria impian Kana lagi.
Tidak mau menikah dengan Ray yang dianggapnya tidak layak, Kana memutuskan kabur dengan Denish, salah satu pengagumnya.
Namun, usahanya sia-sia, sebab pada akhirnya ia tetap berakhir di pelaminan bersama Ray.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28
“Apa yang sedang kalian lakukan?”
Kepala Kana dan Nala tertoleh ke arah suara. Di depan ruang santai Abimanyu berdiri dengan angkuh. Kana dan Nala segera berdiri, sementara Abimanyu melangkah masuk ke dalam ruangan diikuti oleh seorang pria yang Kana duga adalah asisten Abimanyu.
Biasanya, Kana tidak terintimidasi oleh mertuanya itu, tapi aura yang ditampakkan Abimanyu serta tatapan tajam ke arahnya itu, membuat nyali Kana menciut. Ia benar-benar merasa berada di tempat dan waktu yang salah.
Kana jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa Abimanyu yang angkuh dan terlihat kejam itu memiliki anak-anak seperti Ray yang perhatian dan Nala yang ceria. Namun, sebenarnya Ray juga bisa bersikap dingin, dan Nala juga pernah tidak benar-benar pria yang mudah diajak berteman. Jadi, sepertinya keduanya memang mewarisi sifat Abimanyu, hanya saja tidak ditampakkan.
“Nala, bukankah seharusnya kau membantu Ray?”
“Pa-maksud saya Pak Abimanyu, persiapan penandatanganan kontrak sudah selesai. Kami sedang menunggu-”
“Lakukan cek ulang, ini kerjasama yang penting bagi OtoClick, jangan sampai terjadi kesalahan,” sela Abimanyu sebelum Nala selesai bicara. Kemudian Abimanyu beralih pada Kana. “Dan apa yang kau lakukan di sini?”
“Sa-saya sedang-”
“Ini kantor, tempat orang bekerja, bukan mall atau tempat tongkrongan. Jangan anggap tempat ini seperti tempat bermain.” Lagi-lagi Abimanyu memotong perkataan orang lain sebelum selesai. Kana cukup kesal, tapi ia menahan diri. Ribut dengan Abimanyu hanya akan mendatangkan lebih banyak masalah.
“Iya, Pa, saya tahu,” jawab Kana.
“Saya bilang ini kantor,” Abimanyu menegaskan dan Kana langsung menyadari telah salah memanggil.
“Maaf, Pak Abimanyu,” koreksi Kana, “Saya di sini untuk menemani Pak Ray, dia-”
“Menemani? Kau pikir Ray anak sekolah yang harus ditemani?” Nada suara Abimanyu benar-benar membuat Kana tidak nyaman.
“Bukan begitu, saya hanya-”
“Sebaiknya kau pulang, atau pergi ke tempat yang biasa kau datangi untuk nongkrong dengan teman-temanmu. Jangan mengganggu pekerjaan Ray di sini.”
Kedua tangan Kana terkepal di sisi tubuhnya, ingin membalas ucapan Abimanyu, tapi Nala mendahuluinya.
“Sebenarnya, Pak Ray yang meminta Kana datang, karena semalam-”
“Tidak perlu berbicara untuknya,” Abimanyu tidak membiarkan Nala selesai berbicara, “Sebaiknya, kau bantu Ray, sebentar lagi Agnes dan Pak Oklan datang.”
“Pak Oklan juga datang?” Nala terlihat bingung, dan Kana jauh lebih bingung karena tidak mengerti apa pun. Lagi-lagi nama Agnes dan Pak Oklan disebut dan sepertinya akan mendatangkan permasalahan.
“Sudah jangan banyak bertanya,” ujar Abimanyu, lalu mengarahkan perhatian pada Kana, “Dan kau sebaiknya pulang.”
Kana menggeleng. “Saya akan pulang bersama Ray,” jawab Kana. “Dia sedang sakit dan memaksakan diri untuk mengikuti penandatanganan kontrak, jadi saya akan menemaninya. Lalu pulang bersamanya setelah acara selesai.” Setelah menjawab dengan tegas, Kana mengatakan salam perpisahan sesopan mungkin dan meninggalkan tempat itu.
Kana kembali ke kantor Ray, di sana ada Jani sedang berbicara dengan Ray. Kana langsung menghampiri kulkas dan mengambil sebotol air mineral, lalu menandaskan isi botol itu hingga setengahnya. Saat ia selesai, Ray sudah berdiri di sebelahnya sedangkan Jani sudah meninggalkan ruangan.
“Ada apa?” tanya Ray.
Kana tidak menjawab, malah melangkah ke sofa dan duduk diikuti Ray di belakangnya. Ray ikut duduk di sebelah Kana, terlihat ingin bertanya tapi memilih untuk diam. Kana juga belum ingin bercerita, sebab kalau tahu bagaimana sikap Abimanyu pada Kana bisa-bisa Ray emosi dan colaps lagi.
Alih-alih bercerita tentang kejadian sebelumnya, Kana malah meraba kening Ray. “Sudah tidak demam, tapi kau yakin bisa bertahan sampai acara selesai?” tanya Kana.
“Aku bisa, lagi pula acaranya tidak lama. Setelah tanda tangan kontrak kita bisa pulang,” jawab Ray.
“Kapan mulai?” tanya Kana, ia sudah tidak sabar ingin segera pulang. Kalau bisa pulang sebelum bertemu ayah mertuanya.
“Jam sebelas, langsung mulai kalau perwakilan dari Joanna datang,” jawab Ray.
“Agnes?”
Ray mengangguk. “Tidak masalah, kan?”
“Memangnya kalau aku bilang aku nggak suka, kerjasamanya bakal dibatalin?”
“Kau ingin aku membatalkannya?” Ray balik bertanya.
Kana menggeleng. “Tidak, jangan membatalkannya demi aku,” jawab Kana. “Meskipun tidak paham tentang bisnis, aku tahu kalau perjanjian ini penting untuk OtoClick. Aku tidak bisa banyak membantu, tapi setidaknya tidak akan jadi orang yang mengacaukannya.”
“Istriku memang pengertian,” ujar Ray sambil memeluk Kana dan mendaratkan ciuman di puncak kepala Kana.
Kana melepas pelukan Ray, kemudian berkata, “tapi soal Agnes, kau harus menjelaskannya padaku.” Sambil menatap Ray ia menambahkan, “aku tidak akan percaya kalau kau berkata dia bukan siapa-siapa. Kalau dia bukan siapa-siapa tidak mungkin membuat Papa Abymanyu semarah itu sampai bertengkar denganmu.”
Awalnya, Ray hanya diam. Namun, setelah beberapa saat menjawab Kana. “Akan kuceritakan tentang Agnes, tapi tidak sekarang.”
“Aku juga tidak minta sekarang,” sahut Kana. “Kau harus bersiap untuk tanda tangan kontrak.”
Tidak ada obrolan lagi di antara keduanya karena Nala datang mengabarkan kalau Agnes sudah datang bersama Pak Oklan. Saat Nala menambahkan Abimanyu juga hadir membuat wajah Ray tampak mengeras sesaat. Namun, saat berpamitan dengan Kana, Ray tersenyum dan meminta Kana untuk menunggu.
Seperti yang Ray katakan, penandatanganan perjanjian kerjasama antara OtoClick dengan Joanna memang tidak memakan banyak waktu. Sebelum jam dua belas perjanjian sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Seharusnya Kana sudah bisa mengajak Ray pulang untuk istirahat, tapi Abimanyu membuat rencana Kana gagal.
Setelah acara penandatanganan kerjasama selesai, Abimanyu mengundang Oklan dan Agnes untuk makan siang bersama. Ray dan Nala diwajibkan ikut. Karena tidak nyaman menolak dan tidak mau bertengkar dengan sang ayah, Ray terpaksa ikut. Kana pun ikut serta karena Ray memintanya.
Sebenarnya, jika bisa Kana lebih memilih untuk membawa pulang Ray. Selain suaminya itu butuh istirahat, Kana hanya tampil seadanya sehingga tidak terlalu percaya diri untuk ikut acara makan siang bisnis. Apalagi harus bertemu Agnes. Meskipun belum tahu apa hubungan Agnes dengan Ray, tapi Kana merasa Agnes pastilah sosok penting sehingga ia tidak ingin kalah dengan wanita itu, setidaknya dari segi penampilan.
Namun, karena Ray terpaksa ikut Kana pun mengikuti suaminya. Biar saja tampil apa adanya asalkan bisa memastikan Ray tetap aman. Jadi, kalau nanti kondisi Ray menurun atau bertengkar lagi dengan Abimanyu, Kana bisa langsung membawanya pulang. Meskipun ada Nala, Kana tidak bisa sepenuhnya melepaskan Ray.
Kana ingin menjaga Ray.
Abimanyu memilih sebuah restoran mewah sebagai tempat makan siang mereka. Kana pernah datang beberapa kali ke restoran itu, tapi tidak terlalu menyukai hidangannya. Namun, bagi para pebisnis restoran bernama Golden Age itu memang disukai. Selain memiliki kesan mewah dan elegan, juga menyediakan ruangan-ruangan pribadi untuk pertemua bisnis. Seperti ruangan yang dipilih mertua Kana.
Ray dan Kana datang bersama Nala sedangkan Abimanyu, Oklan, dan Agnes sudah pergi lebih dulu. Menurut Nala, Abimanyu sempat menyuruh Nala dan Ray pergi bersama Agnes, tapi dengan beberapa alasan akhirnya Abimanyu mengizinkan Nala dan Ray berangkat lebih lambat sedangkan Agnes pergi lebih dulu.
“Papa Abi tidak tahu kalau aku ikut?” tanya Kana.
“Aku tidak bilang,” jawab Ray.
“Papa Abi mungkin akan marah,” ujar Kana.
“Kalau dia marah, kita pulang,” sahut Ray dengan enteng sambil menggenggam tangan Kana. “Papa harus menerima kalau kau adalah istriku.”
“Memangnya seharusnya bukan aku?” selidik Kana.
Untuk sesaat Ray tidak menjawab. “Hanya kau yang akan jadi istriku, yang pertama dan terakhir,” jawab Ray kemudian.
Jawaban dengan jeda sebelumnya itu membuat keraguan menyusup di hati Kana. Mungkinkan sebelumnya Ray pernah memiliki orang lain yang ingin dijadikan istri? Apakah perempuan itu adalah Agnes?
Meskipun punya banyak pertanyaan dalam kepalanya, Kana tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menggenggam erat jemari Ray.
“Yang terpenting sekarang adalah menjaga kesehatan Ray.” Kana mencoba fokus pada tujuan mengulangi kalimat itu berkali-kali dalam hati.
Mereka sampai lima menit kemudian. Nala turun lebih dulu, kemudian membantu Ray turun dari mobil. Kana menyempatkan diri melirik tampilannya di spion mobil. Meski terlihat rapi dan secantik biasanya, tapi ia merasa penampilannya terlalu sederhana untuk datang ke makan siang bisnis. Apalagi harus dibandingkan dengan Agnes.
Tadi Kana sempat mencari tahu mengenai Agnes, dan informasi yang Kana dapatkan cukup membuatnya minder jika harus dibandingkan dengan Agnes Wendy Rehana. Sebelum memimpin sebuah agensi model dan artis, Agnes merupakan seorang model internasional. Parasnya cantik, kaya raya (putri pertama dari Oklan Antara, pengusaha tambang emas dan batu permata), dan memiliki latar pendidikan yang bagus. Agnes merupakan lulusan S3 Manajemen Komunikasi.
Semua prestasi itu tidak akan seimbang dengan prestasi Kana. Ibaratnya, Agnes punya nilai 10, Kana hanya punya nilai 5. Kana tidak mau menilai dirinya terlalu rendah, karena walaupun tidak punya prestasi bisnis atau akademik, Kana masih masuk kategori cantik dan kaya raya.
“Ayo.”
Ajakan Ray membuat Kana bergegas. Ia berdiri di sisi Ray, kemudian merangkul lengan suaminya.
“Kuharap penampilanku tidak mempermalukanmu,” bisik Kana.
“Tidak akan,” sahut Ray. “Jangan terlalu memedulikan hal itu.”
Nala melangkah di depan, sementara Ray dan Kana mengikuti masuk ke restoran. Kemudian mereka diarahkan menuju ke sebuah ruang pribadi.
Nala masuk lebih dulu, menyapa semua orang dalam ruangan yang menyambut Nala dengan senang. Namun, saat Ray dan Kana masuk suasana berubah. Kana melihat raut tidak senang di wajah mertuanya itu. Pria yang duduk di sebelah Abimanyu, yang menurut tebakan Kana adalah Oklan, juga tidak terlihat senang dengan kehadirannya. Apalagi Agnes, wanita itu terkejut saat melihat Kana menggandeng lengan Ray. Namun, raut terkejut itu segera diubah dengan senyum ramah.
“Kau pasti Kana,” ujar Agnes pada Kana, lalu beralih pada Ray. “Memang cantik seperti yang kau ceritakan.”
Kana melirik Ray dan melihat suaminya itu tersenyum pada Agnes. Lalu menoleh pada Kana dan memperkenalkan Agnes. “Hanni, perkenalkan ini Agnes, CEO Joanna.”
Agnes langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Hai, Kana. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, selama ini aku hanya mengenalmu dari cerita Ray saja.”
Kana menyambut uluran tangan Agnes dan menyebut namanya sebagai perkenalan. “Ray bercerita tentangku padamu?” tanyanya kemudian.
“Dia bercerita banyak, rasanya aku seperti mengenalmu padahal kita belum pernah bertemu,” jawab Agnes dengan santai.
“Sepertinya kalian akrab,” ujar Kana.
“Apa Ray tidak cerita tentangku?”
Kana menggeleng sebagai jawaban.
“Jahat sekali kau, Ray. Kau cerita semua tentang Kana padaku, tapi tidak bercerita tentangku pada Kana,” kata Agnes sambil meninju pelan bahu Ray. “Tapi wajar saja kalau Ray enggan bercerita tentangku. Sebab pasti canggung menceritakan tentang mantan pacar pada istri, ya kan?”