Indonesia
NovelToon NovelToon
Heyra Diary

Heyra Diary

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Murid Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Green Jacket

Ada yang bilang kalau masa SMA adalah masa yang paling indah di mana kau akhirnya bisa merasakan apa arti sebenarnya dari cinta. Bukan lagi cinta monyet yang biasa kejadian saat SD atau SMP.

Vindra baru menyadari hal itu ketika Heyra sudah sangat jauh darinya. Ia tak bisa tidur dengan tenang, tak bisa fokus belajar, tak bisa melepaskan pikirannya dari Heyra kala ia tak bisa mengetahui keadaannya, tak bisa berada di dekatnya, tak bisa menjadi penghibur kala Heyra sedih.

"Heyra, dia orangnya pendiam. Pemalu juga. Dia orangnya baik, ramah, gak banyak tingkah, dan... manis plus imut."

"Kadang suka kebayang kalau misalnya dia dinakalin sama anak nakal atau di-bully istilahnya. aku... aku gak tega bro. anak sebaik itu, semanis itu di-bully sampe nangis. Gak bisa bayangin aku."

"Kalau emang sampe kejadian gimana bro?"

"Yaa... mungkin hatiku akan pecah menjadi kepingan-kepingan kecil kayak gelas yang jatuh. Rasanya apa? sakit. berdenyut-denyut di sini. Pengen ikut nangis juga rasanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Green Jacket, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klimaks

Keesokan harinya, suasana sekolah semakin tegang. Berita hilangnya Umar sudah menyebar, membuat para siswa ketakutan. Banyak orang tua yang memilih untuk tidak mengirim anak mereka ke sekolah.

Vindra, Heyra, dan Rafi bertemu di kantin yang sepi. Mereka berbicara dengan suara pelan, takut ada yang menguping.

"Aku udah kirim foto itu ke polisi lewat email anonim," kata Rafi. "Tapi belum ada respon."

Heyra menggigit bibirnya cemas. "Guys, aku kepikiran sesuatu. Inget nggak, dulu Pak Danu pernah bilang dia punya kenalan di kepolisian? Apa mungkin..."

"...ada polisi yang terlibat juga?" Vindra melanjutkan, matanya membelalak.

Rafi mengumpat pelan. "Sial, kalo gitu kita nggak bisa percaya siapa-siapa dong."

Tiba-tiba, ponsel mereka bergetar bersamaan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

"Kalian pikir bisa main-main dengan kami? Lihat apa yang terjadi pada teman kalian yang sok tau."

Disertakan sebuah foto Umar yang terikat dan ketakutan.

"Ya Tuhan," Heyra menutup mulutnya, shock.

"Kita harus bertindak," kata Vindra dengan suara bergetar. "Tapi gimana caranya?"

Rafi terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. "Aku punya ide. Tapi ini bakal sangat berbahaya."

"Apa?" tanya Vindra dan Heyra bersamaan.

"Kita pancing mereka," Rafi menjelaskan. "Kita pura-pura punya bukti lebih banyak, terus minta ketemuan. Pas mereka muncul, kita rekam semua dan langsung kirim ke polisi."

Vindra dan Heyra saling pandang, ragu. Itu ide yang sangat berisiko.

"Aku tau ini bahaya," Rafi melanjutkan, "tapi cuma ini satu-satunya cara buat nyelametin Umar dan ngungkap semua ini."

Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka setuju untuk menjalankan rencana Rafi. Dengan tangan gemetar, Vindra mengetik balasan:

"Kami punya bukti lebih banyak. Kalau kalian berani, ayo ketemu. Barter bukti dengan Umar."

Tak lama kemudian, balasan datang: "Baik. Besok malam, gudang tua di pelabuhan. Datang sendiri."

Malam itu, mereka bertiga berkumpul di rumah Rafi untuk menyusun rencana. Orang tua Rafi sedang dinas ke luar kota, membuat rumahnya jadi tempat yang aman untuk berdiskusi.

"Oke, jadi gini rencananya," Rafi menjelaskan sambil menggambar sketsa kasar di selembar kertas. "Vindra yang bakal masuk ke gudang. Aku dan Heyra bakal bersembunyi di luar, siap dengan kamera dan walkie-talkie."

Heyra mengangguk. "Aku udah minta tolong sepupuku yang jago IT buat nyiapin perangkat perekam yang bisa langsung ngirim data ke cloud. Jadi kalo terjadi apa-apa, buktinya tetep aman."

Vindra menelan ludah, berusaha menenangkan diri. "Oke. Aku bakal pake mic tersembunyi. Begitu aku dapet pengakuan dari mereka, aku bakal kasih kode, terus kalian langsung hubungin polisi."

Mereka berlatih skenario berkali-kali, memastikan semuanya sempurna. Tapi tetap saja, rasa takut dan cemas menyelimuti mereka.

Keesokan malamnya, mereka berangkat ke pelabuhan dengan jantung berdebar kencang. Vindra mengenakan jaket tebal untuk menyembunyikan mic, sementara Heyra dan Rafi membawa peralatan perekam dalam tas ransel.

"Hati-hati ya, Vin," bisik Heyra, memeluk sahabatnya erat.

Rafi menepuk pundak Vindra. "Inget, kalo ada tanda-tanda bahaya, langsung kabur. Jangan sok pahlawan."

Vindra mengangguk, berusaha tersenyum meski ketakutan. "Doain aja semua lancar."

Dengan langkah berat, Vindra berjalan menuju gudang tua yang dimaksud. Bau amis ikan dan karat besi memenuhi udara, membuat perutnya mual. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum membuka pintu gudang yang berkarat.

Ruangan di dalam gelap dan pengap. Vindra menyipitkan mata, berusaha membiasakan diri dengan kegelapan. Tiba-tiba, sebuah suara berat memecah keheningan.

"Selamat datang, anak pintar."

Lampu menyala, membutakan Vindra untuk sesaat. Saat matanya mulai fokus, ia melihat tiga orang pria bertubuh besar berdiri di hadapannya. Di belakang mereka, Umar terikat di sebuah kursi, mulutnya dilakban.

"U-Umar!" Vindra berteriak spontan, tapi salah satu pria menghalangi jalannya.

"Tidak secepat itu, nak," kata pria yang sepertinya pemimpin mereka. "Mana bukti yang kau janjikan?"

Vindra menelan ludah, berusaha terdengar berani. "Lepaskan dulu Umar. Baru aku kasih buktinya."

Pria itu tertawa keras. "Kau pikir kau bisa main-main dengan kami? Berikan buktinya sekarang, atau temanmu akan merasakan akibatnya."

Salah satu pria mengeluarkan pisau, mendekatkannya ke leher Umar yang mulai ketakutan.

"Tu-tunggu!" Vindra berteriak panik. Ia harus mengulur waktu. "Oke, aku akan kasih buktinya. Tapi aku mau tau dulu, apa hubungan kalian dengan Pak Danu? Dan kenapa kalian ngelakuin semua ini?"

Pemimpin mereka tersenyum sinis. "Kau memang pintar, tapi juga bodoh. Baiklah, karena kau akan segera 'menghilang', tak ada salahnya memberi tahu."

Ia mulai bercerita bagaimana Pak Danu sebenarnya adalah bagian dari sindikat penyelundupan narkoba.

Sekolah mereka hanyalah kedok untuk operasi mereka. Saat Vindra dan teman-temannya mulai mencium jejak mereka, mereka panik dan memutuskan untuk 'membereskan' para pengganggu.

"Dan sekarang," pria itu menodongkan pistol ke arah Vindra, "waktunya mengakhiri permainan ini."

Jantung Vindra berdegup kencang. Ia berharap Heyra dan Rafi sudah merekam pengakuan ini dan memanggil polisi. Tapi ia juga tahu, bantuan mungkin tidak akan datang tepat waktu.

Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari luar gudang. Semua orang menoleh ke arah pintu. Memanfaatkan momen itu, Vindra berlari ke arah Umar, berusaha melepaskan ikatannya.

"Tangkap mereka!" teriak si pemimpin.

Kekacauan pecah. Vindra berhasil melepaskan Umar, tapi mereka dikepung. Saat situasi tampak tak ada harapan, pintu gudang didobrak. Polisi berbondong-bondong masuk, disusul Heyra dan Rafi yang tampak lega melihat teman-teman mereka selamat.

"Jatuhkan senjata kalian!" teriak salah satu polisi.

Para penjahat itu, menyadari mereka kalah jumlah, akhirnya menyerah. Mereka diborgol dan digiring keluar gudang.

Vindra, Heyra, Rafi, dan Umar saling berpelukan, air mata lega mengalir di pipi mereka.

"Kalian berhasil," kata Inspektur Bayu yang tiba-tiba muncul. "Pengakuan mereka sudah kami rekam. Ini akan jadi bukti kuat untuk menjerat seluruh sindikat, termasuk Pak Danu."

1
31_PUTU WIDIARTA
Jangan ditinggal nggak jelas thor, kami semua sudah mulai ketagihan nih
cocondazo
Semoga thor selalu diberikan inspirasi untuk membuat cerita-cerita yang luar biasa 👌
The Green Jacket: aamiin makasih ya
total 1 replies
Gato Piola
Ngerti banget, bro!
Syaoran
Aduh, abis baca ini pengen kencan sama tokoh di cerita deh. 😂😂
The Green Jacket: waduh 😅
total 1 replies
Cata_UchihaUzumaki
Semangat nulis thor, kamu bisa membawa reader ke dunia yang kamu ciptakan!
The Green Jacket: siap makasih ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!