Anindya Basundari terbiasa menjadi tumbal keluarga semenjak perceraian orang tuanya. Kali ini, dia harus menikahi pria lumpuh menahun agar keluarga baru sang ayah tetap bisa makan. Padahal dia telah memiliki tambatan hati, seseorang yang istimewa di masa lalu.
Ketika dipertemukan pertama kali dengan Adyapi Bumandhala, Anin merasa minder karena lelaki itu terlihat tampan dari segala sisi meskipun cacat, sedangkan dia memiliki gangguan mental. Namun, sisi dirinya yang lembut, bergejolak iba. Ingin membantu pria tersebut untuk pulih.
Mereka menerima perjodohan setelah nadzor walaupun tak saling bicara. Disatukan oleh persamaan nasib, mungkinkah keduanya memiliki kisah masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. PENGAKUAN
Anindya tertegun beberapa saat. Dia lalu mencium mushaf sebelum meletakkan kembali ke rak dan melepas mukena.
Hatinya mengatakan harus kembali ke rumah segera, sekedar melihat kondisi Adyapi yang dia tinggalkan. Anin bergegas memakai kaus kakinya lagi sebelum keluar dari Masjid.
Ketika menuju rak sepatu, dia melihat Didi duduk menyandar di dekat pintu. Matanya terpejam dan tampak pulas, Anin ingin membangunkannya tapi tidak tega.
"Pasti kerjaan pak Arno, nyuruh Mbak Didi," gumam nyonya Ad, sambil meraih sneaker lalu membawa ke tepian teras dan duduk di sana guna memakainya.
Tepat ketika Anin menyalakan motor matic miliknya, Didi terbangun dan langsung mencari sumber suara.
"Nona!" serunya tergopoh hampir jatuh terjungkal karena belum sepenuhnya sadar.
Anin urung menarik gas, dia menunggu Didi sejenak. "Ya, Mbak?" ucapnya dari area parkir. "Jangan halangi aku pergi, aku cuma mau ngilang sebentar," imbuh Anindya, memohon dengan nada lesu.
Didi yang kini berada di depan Anin, menggeleng. "Bukan itu ... tuan muda," ujarnya ikut cemas, dia mengerutkan alis seraya menggigiti ujung bibir.
Anindya melihat Didi seakan menyembunyikan sesuatu. "Kenapa dengan Abang?" tanyanya mulai cemas.
"Tuan muda masuk rumah sakit, kejang dan pingsan di kamar," terang Didi ragu-ragu tak melepas pandangan pada wanita muda di hadapannya.
Nyonya Ad, mematikan mesin motor sejenak. Dia penasaran dan tak ingin lagi gegabah. "Tolong ceritakan," pinta Anin sontak memegang lengan Didi.
Anak buah Arno itu lantas menceritakan garis besar kondisi Adyapi sesuai informasi dari sang asisten kepercayaan.
Didi berhati-hati memilah kata agar Anindya tidak panik dan bertindak buru-buru sehingga mengakibatkan dirinya celaka.
Anindya didera rasa bersalah, pikiran buruk berkelebat di otaknya. Tapi, dia ingat ucapannya sendiri beberapa waktu silam untuk Adyapi agar terus belajar mengontrol gejolak emosi dengan istighfar. Kini, dia dihadapkan pada situasi serupa, dan belum mempraktekkan dengan benar.
Putri Agung menarik napas beberapa kali sambil memejam dan memegangi dadanya. Dia mulai berucap lirih berulang-ulang. "Astaghfirullahh hal 'adziiim."
Didi membiarkan Anin melakukan hal itu hingga beberapa menit. "Mari, ke rumah sakit dan jalan pelan-pelan," kata Didi, setelah melihat upaya Anin barusan untuk tetap tenang.
Anindya membuka mata, lalu mengangguk. Kali ini dia berhasil menenangkan diri tanpa bantuan orang lain, senyum pun terulas di bibir manisnya.
'Abang, aku bisa, aku bisa.'
Didi menyalakan motor lalu memandu Anindya menuju rumah sakit. Sepanjang jalan, dia melihat ke spion, memastikan bahwa Anin masih bersamanya dan baik-baik saja.
30 menit kemudian, kedua wanita tiba di pelataran rumah sakit. Didi melangkah cepat seraya menggenggam jemari nyonya Ad.
Dia melihat Arno di lorong sepi lantai tiga bersama Argan yang tengah duduk menunggu di luar ruangan pintu bercat putih itu.
"Pak Arno!" seru Anin, menghampiri sang asisten.
"Nyonya," sebut Arno, sumringah. "Alhamdulillah," lirihnya sambil mengusap dada.
Argan menoleh ke arah datangnya suara, dia lantas berdiri berkacak pinggang, menatap tajam Anindya. "Heh! kemana saja kamu!" ketus pemilik Bumiland Jaya itu.
Anin menoleh, membungkuk hendak salim tapi ditepis Argan. "Nggak usah sok-sokan hormat, aku bilang pergi, bukan bikin celaka putraku!" sentaknya lagi.
"Ta-pi, Pa!"
Arno mendekat, dia mencoba membela Anindya. "Tuan besar, mohon jangan salahkan nyonya. Beliau tidak tahu apapun. Saya punya buktinya," ucap Arno melihat ke arah Argan seraya mengacungkan gawai.
Argan mendecih, ingin mengumpat tapi tertahan sebab pintu putih itu terbuka. Seorang suster keluar dan memanggil keluarga Adyapi.
"Kerabat atau wali tuan Ad, ada?" tanya petugas medis menatap satu per satu wajah beberapa orang di sana.
Anin maju, begitupun Argan. "Saya ayahnya," ucap sang pria.
"Saya istrinya, Sus. Abang bagaimana?" tanya Anin, dia mere-mat jemari di depan dada.
Suster melihat ke arah Anin. "Anda boleh menemani pasien. Mohon dibantu doa agar bisa keluar dari masa kritis," kata suster, membuka lebar pintu ruangan itu agar Anin dapat masuk.
"Saya aja, Sus," pinta Argan, langsung menghalangi langkah Anin.
"Lebih baik istrinya dulu, Pak. Nanti bisa gantian jaga," sambung suster, menyilakan Anin ganti baju.
Air mata nyonya Ad mendadak muncul, kritis adalah kondisi antara hidup dan mati. Anin teringat ibunya yang pernah mengalami hal serupa dan ditutupi oleh Agung kala itu, sehingga dia hanya mendapat kabar duka tanpa memiliki kesempatan bersua.
Suster mengajak Anin menuju satu bilik yang dikelilingi oleh tirai. Tidak ada satupun keluarga di sana yang menemani para pasien sebab kondisi mereka stabil.
Anin duduk di sisi brangkar Ad, melihat banyak alat menempel di tubuh suaminya termasuk masker oksigen.
Kaki Ad sedikit terangkat ke atas untuk mengurangi sesak. Tubuhnya dipenuhi ruam merah sampai bibir pun terlihat sedikit bengkak. Sorot mata Anin mulai berkaca-kaca lagi.
"Abang kenapa?" isakan lirih itu muncul, kala Anin menyentuh tangan kanan suaminya.
Dia menunduk, menciumi punggung tangan Ad, seolah meminta maaf atas sikapnya beberapa waktu belakangan. "Maafin Anin, Abang. Maaf." Bahu ringkih itu berguncang hebat.
Suster mendekat, tapi hanya berdiri di sana membiarkan Anin menumpahkan duka. Sejurus itu, dia menyodorkan selembar kertas berisi rekam medis Adyapi. Anin gegas menyeka wajah yang dibanjiri air mata, dia lalu menerima dokumen tersebut.
"Alergi kacang tanah?" ejanya. Dia melihat ke arah suster yang mengangguk.
"Pasien shock. Kejang, ruam, bengkak dan hampir terjadi anafilaksis. Kami sudah menyuntikkan EpiPen saat perjalanan ke rumah sakit sebagai pencegahan awal."
"EpiPen? apa itu?" tanya Anindya.
"Obat injeksi epinefrin untuk gejala alergen parah yang mengancam nyawa. Tubuh beliau sepertinya lambat mendeteksi alergi dan kebetulan salah satu keluarga sudah sangat bagus melakukan tindakan pencegahan awal sebelum kami datang sehingga dampak ke organ vital pasien tidak terlalu memburuk," terang suster.
Tenaga medis itu lalu mengatakan bila Ad muntah maka harus dimiringkan atau bila sesak, kedua kaki diangkat 45°. Bila pasien dalam kondisi sadar maka harus dibimbing untuk duduk tegak.
Anindya mengangguk, dia akan mengingat itu semua. Setelah suster pergi, dia kembali duduk di kursi sisi ranjang.
Nyonya Ad menggenggam tangan suaminya sembari membaca doa a'uudzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir, sebanyak 7 kali dan mengusap lembut ke seluruh tubuh Adyapi.
"Abang, jangan tinggalin aku," bisik Anin di telinga Ad. "Aku pulang, Abang pun harus pulang," lirihnya dengan bibir bergetar.
Anindya kini sadar, dirinya tak dapat lepas dari Adyapi. Tidak ada yang dia miliki sebaik ini selama menjalani hidup, ada keluarga tapi bagai sebatang kara. Ad yang berusaha sabar dan rela berubah demi agar dapat terus saling menguatkan.
Adyapi yang juga sakit dan kesulitan melepas emosi, tetap gigih belajar berdiri bahkan selalu peduli tanpa jengah ditengah kesibukannya.
Anindya tersedu-sedu. Dia memohon ampun pada Allah telah menyia-nyiakan rezeki dan anugerah yang Dia berikan. Hatinya sakit dipenuhi penyesalan.
Bagaimana bila Ad pergi dan dia belum tahu tentang perasaan yang sesungguhnya. Anin menumpahkan bendungan air mata hingga membasahi bahu dan lengan Ad.
"Aku bodoh. Aku bodoh kalau melepaskan Abang," lirih Anin masih terisak. "Aku cinta sama Abang!"
Tak ada reaksi dari Adyapi, di ruangan itu diisi dengan bunyi alat medis yang saling bersahutan.
Tanpa sadar, Anin perlahan memejam, menempelkan wajah di sisi bahu suaminya. Dia tiba-tiba rindu dekapan Adyapi.
"Kangen suamiku," racau Anin sangat lirih.
Anindya berpesan pada suster agar hanya dia yang menemani Adyapi tanpa gangguan siapapun dan permintaan tersebut diloloskan oleh staf di ruangan ICU.
Sementara di luar ruangan, Argan menerima uluran ponsel milik Arno. Dia disuguhi oleh beberapa fakta dari asisten putranya itu.
"Apa?!" serunya menatap tajam Arno. "Jangan ngadi-ngadi!" ancam Argan, menunjuk wajah anak asisten pribadinya itu.
"Jika ini fitnah, saya dan bapak bersedia meninggalkan kediaman Anda, Tuan besar," jawab Arno sambil menunduk.
"Pergi saja lah!" sahut suara seseorang yang baru saja tiba. "Tunggu apalagi? apa kudu diusir?!" sinisnya memandang sang asisten.
.
.
...____________________________...
(Di clue bab berapa itu ya, Ad mules mual, berkeringat dingin sebelum makan makanan hantaran dari Asnawi. Nah, itu gejala awal ya tapi diabaikan)
(Reaksi alergi kadang kek pilek, sakit kepala, gatel, nggak mesti ruam atau bengkak dan sesak napas. Jangan di beri minum ya, nanti tambah sesak. Tapi, tindakan pencegahan Arno dan narasi di atas bisa temen-temen pakai sebelum panggil Ambulance.)
...Kalau ngadepin orang bipolar tuh, jangan dipaksa ya. Didengerin, didiemin dulu jangan suruh ini itu. Kalau sesama wanita, boleh dipeluk lalu setelah dia tenang, ajak jalan dan jajan aja, di hibur dulu. Nanti kalau sudah betul-betul release pengendalian dirinya biasanya bakal cerita sendiri atau justru menenangkan diri sendiri dengan caranya. (Allah jabarkan dalam surah Maryam)...
^^^Kalau dipaksa suruh nyebut, istighfar, dzikir dsb biasanya dia nolak. Maaf maaf, kadang ketawa-ketawa sambil nangis atau bahkan histeris. Guys, gangguan mental itu kadang nggak kita sadari loh. Ngeluh capek seharian juga bisa disebut gangguan mental ringan dan kalian butuh treatment. Kalau didiamkan impact-nya luas, salah satunya, insecure. ^^^
...Untuk sharing lebih lanjut masalah mental health bisa DM mommy di igeh @mommy_qiev. ...
Selamat Anin bakal jadi ibu, sehat sehat bumil sayang
Ayo para Duda semangaaatttt lupakan masa lalu..Move On 🤣🤣🤣🤣
alhamdulillah bangg ad udah bisa berdiri wlaupun pake tongkat mak lampir😅😅
kebahagiaan menghampiri kalian yang sabar akan semua cobaan...
selamat berbahagia untuk kalian bangg ad dan anin😍😍😘😘😘
ehh mom itu kisah mma manda gimana 🤔🤔
ada mas Arno 🤦