Rama dan Riana adalah teman satu kampus, mereka pernah ta' aruf.
namun Riana menghilang tanpa jejak, Rama hampir putus asa mencarinya.
tujuh tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali, namun dengan kondisi yang berbeda, Riana ternyata telah menjadi istri mending pamannya.
Rama masih tetap mencintai Riana meskipun sudah tahu bahwa Riana adalah mantan istri pamannya
mereka tetap menjalin cinta meskipun nenek atau ibu mertua Riana menentang
bagaimana sikap Rama dan Riana untuk mendapat restu nenek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musyar Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Lantas, obat energi yang bikin nggak marah itu emang betul ada?" Imbron penasaran
" Yap...Lo mau? tapi dengan syarat ini, nanti gue kasih tahu rahasianya..." kata Rama
" Yang bener bro..." Imbron kegirangan
" Iya tenang aja..." jawab Rama dengan santainya " sudahkah lo ngatur jadwal gue dengan tuan Beta?" tanya Rama
" Beres bro..." mengacungkan jempolnya
Rama hari ini begitu bahagia dan semoga terus bahagia
...****...
Vera sudah menunggu imbron di tempat parkir
Rama dan imbron berjalan bersama-sama menuju tempat parkir
" Bro..Lo anterin gue dulu ya!" pinta Imbron
" Hari ini Lo mau minta anter kemanapun, gue siap..." seraya memainkan matanya
" Gue takut deh dengan sikap lo ini, menurut orang tua dulu...kalau terlalu bahagia pasti akan mendapatkan kesusahan..." memperingatkan
" Hahaha..." Rama tertawa " gue akan terus bersikap seperti ini, kalau dapat energi itu lagi" seraya tersenyum, karena berhasil menggoda Imbron
" Alaah Lo ini..." mencibir
Ternyata mereka sudah sampai di tempat parkir
Namun ketika mereka hendak masuk mobil
Tiba-tiba...
" Pak Rama..." pangggil Vera seraya berlari ke arahnya
Rama dan imbron menoleh
" Bro ayo masuk..." ajak Imbron dan langsung masuk mobil " mati gue..." gumamnya menunduk dimobil dan menutup wajahnya dengan majalah
" Ada apa? " tanya Rama
" Bapak tidak lupa kan dengan kesepakatan kita tadi pagi?" Vera mengingatkan
" Ah iya tentu..." kata Rama " bro antar dan temani Vera " seraya melongo kedalam mobilnya
" Memangnya hari ini ya?" keluar dari mobil seraya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal
Vera menunjukkan mobilnya
" Silahkan mas Imbron ba...." Vera tidak meneruskan kalimatnya karena Imbron menyelanya
" Tu..tunggu...apa kamu bilang tadi? mas?" tanya Imbron
" Iya..." kata Vera tersenyum
" Ka...kamu penggil bapak aja seperti biasanya ok!"
" Nggak mau... masa' sama pacar sendiri panggil bapak" kata vera
" Saya tuh geli dengar kamu panggil saya apa itu...?"
" Mas Imbron.." Jawab vera
" Iya itu" kata imbron
,
" Disini sekarang yang jadi bosnya saya, bukan mas lagi" kata Vera " ayo cepat masi mobil" ajak Vera seraya masuk ke dalam mobilnya
Dengan terpaksa imbron masuk ke mobil vera
" Kita makan dulu, sebelum pulang "
Imbron hari ini harus diam dengan perlakuan Vera
Vera merangkul tangan Imbron dan bersandar di pundaknya
" Jangan seperti ini dong...gue kan lagi nyetir ok"
" Nggak mau...pokoknya hari ini Lo nggak boleh protes atau saya akan melaporkan Anda pada pak rama" ancam Vera pada Imbron
" Ok...ok..."
Mereka tiba di sebuah restoran, imbron memarkirkan mobilnya
Imbron turun dari mobil sementara Vera masih duduk manis di mobil
" Mas tolong bukain pintunya..." panggil Vera
" Aduh..." gerutu imbron, namun meskipun begitu dia tetap membukakan pintu mobil
" Terima kasih sayang..." jawab Vera
" Hah..." melongo " sayang...?" menirukan dengan wajah lugunya
Vera keluar dari mobil dan langsung menggandeng lengan Imbron
" Bisa nggak...nggak usah gandeng- gandeng tangan segala..."
" Kalau nggak gandeng tangan, kan ketahuan kalau nggak pacaran" bisik Vera ketelinga imbron
" Hiiii..." Imbron bergidik geli
" Udah diam...nanti saya lapor pak Rama "
Vera hanya tersenyum melihat tingkah laku Imbron yang gemesin
Imbron hanya pasrah dengan perlakuan vera, ketika ada ancaman lapor sama Rama
" Selamat sore Bu vera..." sapa pelayan restoran, Vera memang sudah berlangganan di restoran itu dalam rangka acara apapun
Vera langsung duduk dimeja yang biasanya
" Hus..." bisik imbron
" Hem..." jawab Vera lagi serius membuka-buka lembaran kertas buku pesanan menu
Dengan melipat kedua tangan didadanya Imbron kali ini melihat hal lain dari Vera, dia melihat Vera ternyata sangat cantik ketika sedang serius
" Mas..." Vera mendongak, dia mendapati iimbron ternyata memandanginya dari tadi " hei...." memainkan jarinya ke depan muka Imbron
" Ah...ih...apa..." Imbron gelagapan kaget
" Kenapa kamu liatin aku terus?" tanya Vera
" Idih jangan GR ya " elak Imbron
Vera hanya tertawa melihat tingkah laku Imbron yang salah tingkah
Vera memanggil pelayan dan memesan makanan, tiba-tiba
" Vera ...." seseorang memanggil Vera dan menghampiri
" Kamu diam aja, ini urusan saya" pesan Vera sama Imbron
Laki-laki tinggi besar, tampan tapi berwajah sangar itu sudah dihadapan Vera
Dia sepertinya sudah siap menerkam Vera
...****...
Rama sampai dirumahnya, dia langsung menerobos masuk dengan membawa se buket bunga dengan wajah berseri-seri
Dengan sedikit berlari, seketika Rama menghentikan langkahnya karena yang didepannya bukan Riana melainkan Nia
Diruang tamu Rama melihat ada nenek beserta nia beserta orang tuanya
" Sore om Tante..." sapa Rama
" Terimakasih sayang..." kata Nia seraya merampas buket bunga dari tangan Rama
" I...itu un...." Rama tidak melanjutkan kata-katanya
"Rama duduk..." perintah neneknya
Rama duduk disofa paling ujung, Nia menghampiri Rama dan bergelayut di lengannya
Rama merasa risih, sehingga dia agak bringsatan duduknya
Mata Rama mengitari ruangan seolah-olah mencari sesuatu
" Rama...kenapa kamu tidak bilang kalau perusahaan sedang down?" tanya neneknya
" Rama hanya tidak ingin nenek banyak pikiran dan selama saya bisa mengatasinya" jawab Rama santai
" Rama...kamu sudah tidak mengnggap nenek..." marah
" Nek...Rama hanya ingin nenek tidak khawatir..." jawab Rama " dan maaf sekali..saya mau istirahat.. karena capek sekali..." seraya akan berdiri
" Duduk..." perintah nenek
Rama kembali duduk, meskipun dirinya ingin pergi, namun karena nenek yang meminta, dia harus taat selama itu, bukan urusan hatinya
" Ayah Nia jauh- jauh kesini, hanya untuk menolong perusahaan kita " terang neneknya
" Menolong...? tidak terimakasih " kata Rama
" Maafkan dia tuan, nyonya , saya selaku walinya mohon maaf atas ketidak sopanannya" kata neneknya
" Tidak apa-apa nyonya " jawab orang tua Nia
" Dasar munafik... menolong apanya, pdahal dia sendiri yang menghancurkan " katanya dalam hati
" Saya bisa menyelamatkan perusahaan anda, asalkan pertunangan Nia dan Rama diatur ulang dan saya tidak mempermasalahkan yang dulu, mungkin nak rama tidak setuju kalau mantan istri pamannya menikah dengan orang lain, saya bisa memaklumi " kata ayah rama sok bijaksana
" Anda sungguh sungguh sangat bijaksana tuan, Rama sangat beruntung mendapat calon mertua sebaik anda " kata nenek
" Kami juga sangat senang akan mendapatkan menantu yang sangat tampan dan berbakat seperti nak Rama"
Rama sudah sangat sangat bosan mendengar pembicaraan mereka, ingin rasanya dia lari
Entah apa yang mereka bicarakan, Rama sudah tidak mendengarkannya, didalam pikirannya hanya tertuju ke satu orang yang sangat dia rindukan yaitu riana
Dia ingin bertemu dan bermanja-manja dengannya
Dia ingin menceritakan tentang Imbron, yang meminta tahu, tentang obat energi yang memang dia karang. sendiri
Tanpa dia sadari, dia tersenyum sendiri, mengingat kejadian semalam
" Rama..." panggil neneknya, yang membuyarkan lamunannya
" Ehem..." Rama berdehem seraya membenahi posisi duduknya
Akhirnya, keluarga Nia berpamitan
" Pa...Nia mau disini dulu ya?" rengek Nia
" Kamu sebaiknya pulang, karena saya mau istirahat... permisi Om Tante.." pamit seraya bersalaman, kemudian masuk kedalam
" Kamu pulang ya sayang...kasihan ramanya...capek..." bujuk ibunya
Nia memanyunkan bibirnya, seraya keluar tanpa berpamitan dengan nenek
" Permisi..." pamit orangtua Nia
Nenek mengantarkan sampai di pintu depan
" Sebenarnya saya tidak suka sama Nia, dasar tidak punya sopan santun..." gerutu nenek sendiri " seandainya Riana bukan istri Rahman, tentu saya sangat setuju padanya, dia cantik, baik dan santun"
...***...
Didalam rumah
" Nek kemana Riana?" tanya Rama pada neneknya
" Mana nenek tahu, saya bukan satpamnya" jawabnya
" Emangnya nenek nggak khawatir..." tanya Rama lagi
" Nenek pusing..." nyelodor masuk ke kamarnya
Rama menghubungi Riana, namun HP-nya tidak aktif
" Kemana kamu ri....?" gusar..
Bersambung
Kira-kira kemana Riana pergi ya pemirsa
Rama galau tuh... nanti nggak dapat obat energi kalau Riana pergi dong...
Doain ya, mudah-mudahan Riana cuma pergi ke minimarket ya, buat belanja kebutuhannya
Dukung terus ya
thor knp riana kog blm hamil2,sedangkn vera istri imbron uda thor.kog rama gk tokcer sih
cinta Rama is the best 🙏
jangan khawatir...🤭
ceritanya terlalu memaksakn alur jdi nya gk nyambung
hambar...
awas aja