Indonesia
NovelToon NovelToon
Happy In Sin - Dosa

Happy In Sin - Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Patahhati
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vienbluu

“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”

“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”

•••

Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.

Namun…

Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 (18+)

•••

Disaat ketiga gadis itu tengah sibuk menghalau pening dan mencoba mengembalikan sedikit kesadaran, sebuah SUV hitam berhenti di depan mereka disusul beberapa mobil serupa, namun berbeda warna di belakangnya.

Segerombolan pria bersetelan hitam turun, tak lama dua orang pria dari mobil pertama turut keluar menghampiri Giselle.

Dua pria itu tak lain adalah Juna dan Kalvin yang membawa para anak buahnya.

Yesha dan Karina tercengang.

"Ehh... ada apa ini?" Tanya Yesha heran.

Karina berbisik pada Yesha, "Aku merasa seperti di scene film action saja."

"Kau bercanda?"

Karina menggelengkan kepala dengan polosnya.

"Nona, kami akan mengantar Nona pulang." Ucap Kalvin setengah menunduk pada Giselle yang masih setia berjongkok di lantai.

"Tidak mau. Pergi kalian!"

"Tapi kami tidak bisa membiarkan Nona pulang sendiri dalam keadaan seperti ini, apalagi teman Nona juga dalam kondisi yang tidak jauh berbeda." Ujar Juna.

"Aku bilang tidak ya tidak!"

"Kalian tidak dengar? Giselle sudah bilang tidak mau kan, jangan memaksa!" Sahut Yesha.

Juna menghela nafas kasar sembari melirik Kalvin.

Kalvin memberi instruksi tersirat pada pengawal di belakangnya, membuat dua dari mereka mendekati Giselle dan meraih lengan gadis itu secara paksa.

"Sialan... Lepaskan aku, berani-beraninya kalian menyentuhku!" Sergah Giselle.

"Aku sudah mengatakannya berulangkali, aku tak butuh anjing penjaga seperti kalian! Sampaikan itu pada Tuanmu!"

"Maaf Nona, kami hanya menjalankan tugas."

"Lepaskan aku!" Teriak Giselle.

"Sialan..." 

Yesha maju seraya menendang kaki pengawal yang menahan lengan Giselle itu.

Karina ikut serta memukul-mukulnya dengan tas setelah melempar sepatu hak tingginya pada Kalvin dan Juna, yang mana salah satu sepatu itu mengenai kening Juna membuat benjolan di sana.

Giselle memberontak.

Mencoba melepaskan cekalan dikedua tangannya, tapi gagal karena saat ini ia dipaksa masuk ke dalam mobil yang dikendarai Kalvin juga Juna.

Karina dan Yesha yang mencoba menolong pun ditahan oleh pengawal lain di belakang.

"Lepas... Kalau begini kalian hanya akan menyakiti Giselle!" Teriak Karina. Kepalanya semakin pening karena pengaruh alkohol dan emosinya.

Tepat ketika pintu mobil terbuka dan tubuh Giselle didorong masuk, sebuah mobil hitam melaju dan berhenti tepat di depan mobil Kalvin dan Juna.

Ban yang berdecit keras membuat perhatian mereka teralihkan dan tak sempat menyadari jika seseorang sudah melayangkan pukulan pada pengawal itu, menjatuhkan mereka yang tadi mendorong Giselle.

"Jio..." Gumam Giselle.

Yoshi sang pengemudi mobil hitam itu kemudian turun, menghampiri Jio yang sudah turun lebih dulu sebelum sampai tepat di hadapan mereka karena melihat keributan tadi, dan untungnya bisa memberi pengawal itu sedikit pelajaran.

Jio meraih tubuh Giselle, membantunya berdiri setelah tadi sempat jatuh terduduk di lantai. satu tangannya melingkar di pinggang Giselle, menahan gadis itu tetap berdiri.

"Begini cara kalian menjaganya?”

“Aku tak peduli siapa yang menugaskan kalian, tapi sampaikan kepada orang itu. Mulai sekarang aku, Jio Pratama, yang akan menjaganya." Ucap Jio mantap kemudian berlalu dengan Giselle dalam dekapannya.

Jio menuntun Giselle ke arah mobil gadis itu terparkir lalu mengemudikannya.

"Dasar brengsek kalian!" Teriak Karina.

Setelah kedatangan Jio dan Yoshi dirinya turut dilepaskan, Karina berbalik memukul pengawal yang tadi menahannya dengan tas.

Yoshi menghampirinya, "Kau tak apa-apa? Ada yang terluka?"

Karina menggeleng, "Aku tidak apa-apa."

Yoshi mengangguk kemudian melirik Yesha memastikan kondisi teman Karina dan Giselle tersebut.

"Yesha, kau tak apa?"

"Iya, aku juga baik-baik saja."

"Kalau begitu aku akan mengantar kalian pulang."

•••

Mobil yang dikendarai Jio melaju cepat membelah jalanan kota Metrosentra menuju apartemen Giselle berada.

Tiba di depan unit apartemen tersebut, Jio merasakan beban pada leher dan sebelah pundaknya yang memberat akibat Giselle yang hampir sepenuhnya kehilangan kesadaran, membuatnya sempat terdiam di tempat dengan rangkulan Giselle yang sedikit melonggar.

Jio melirik wajah Giselle yang tertutup rambut panjangnya, seraya menghela nafas Jio mencoba mengingat password apartemen Giselle yang sempat gadis itu katakan.

'Dua empat tujuh tiga enam lima.'

'Itu password apartemenku. Kau harus mengingatnya.'

Kala itu Jio tak habis pikir, Giselle dengan mudahnya memberi tahu password apartemen yang tak seharusnya dibagikan ke sembarang orang.

Apalagi pada Jio yang notabenenya seorang pria.

"Hah... aku tak menyangka akan masuk dengan cara seperti ini." Gumam Jio, kemudian melepas rangkulannya pada Giselle dan menunduk lalu menyelipkan tangannya di antara lutut gadis itu.

Menggendongnya dengan mudah menuju kamar Giselle, membaringkan gadis setengah sadar itu di ranjang.

Jio perlahan melepas sepatu dan aksesoris yang dikenakan Giselle. Ia berjongkok di samping ranjang, menepuk pipi gadis itu dengan pelan.

“Giselle... bangun, hapus riasanmu, ganti baju lalu tidur."

"Emhh...? Kau bisa, lakukan. Itu untukku..."

"Bangun dan lakukan sendiri."

Giselle berusaha duduk dengan bantuan Jio.

"Lakukan..." meraih tangan Jio mengarahkan pada pipinya.

"Hapus riasanku..."

Jio menarik kembali tangannya dan beranjak ke meja rias Giselle mencari produk makeup untuk menghapus riasan, untungnya Jio tahu yang mana produk itu karena Yasmeen juga punya barang serupa.

Mendekat pada Giselle, aroma kuat alkohol kembali tercium indera penciuman Jio.

Sembari memandang gadis tersebut, Jio mulai menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Giselle, menghapus riasan pada wajah cantik itu dengan lembut.

"Kenapa kau minum sampai seperti ini?"

Giselle mencoba mendapatkan kesadarannya, "Kau masih tanya kenapa? Itu gara-gara kau jahat padaku. Kenapa kau membuatku begini?" Tanyanya lemah.

Jio terkekeh, "Memangnya apa yang telah aku lakukan sampai kau berkata begitu, hmm?"

Giselle cemberut. Memajukan wajahnya seraya menatap Jio lekat.

"Aku kesal... Pria lain di luar sana bersaing untuk mendapat perhatianku, mereka bahkan rela berlutut di hadapanku.”

“Kenapa kau tidak? Itu mengganggu–"

Jio mengusap cotton pads berisi cairan pembersih makeup pada bibir Giselle perlahan, membuat gadis itu menghentikan ucapannya.

"Kau tak lihat aku sedang berlutut di hadapanmu, untuk membersihkan wajahmu?" Gurau Jio.

"Itu berbeda, jangan bercanda."

Giselle memalingkan wajah, lalu kembali menatap Jio.

"Apa aku kurang cantik atau kurang sexy? Katakan apa kekuranganku...”

“Kau tahu? Yesha mengajakku taruhan, jika aku bisa kencan denganmu aku akan dapat jam tangan edisi terbatas..." 

Jio tertohok namun ia sudah menduganya. Sejak awal Giselle hanya bermain bukan, tapi agaknya Jio sedikit tak terima.

"Jadi... kau menang taruhannya? Selamat."

"Tidak, aku membatalkannya. Tahu kenapa?"

"Kenapa?"

"Selama proses mendekatimu... Untuk pertama kalinya aku tak sabar menantikan hari esok tiba agar bisa bertemu denganmu lagi, hari-hari yang aku lalui selalu mendebarkan sejak saat itu.”

“Aku merasa aman dan nyaman selama bersamamu meski… aku seringkali menyangkalnya. “

“Terkadang aku mulai berpikir 'Oh... Harus dia orangnya.' orang yang bisa mematahkan teoriku tentang pria yang hanya inginkan paras dan tubuhku saja..." Giselle terkekeh mengingatnya.

"Aku benci mengakui itu, tapi aku bisa apa? Aku terjebak dalam permainan yang aku ciptakan sendiri." Lanjutnya, pipi Giselle bersemu.

Menyingkirkan tangan Jio dari wajahnya, lalu menempelkan keningnya pada kening Jio yang mana membuat hidung mereka ikut bersentuhan.

"Aku rasa aku menyukaimu…”

“Aku, menyukaimu..." Bisik Giselle pelan.

Nafas Jio memberat, rahangnya mengeras, tangannya beralih menyentuh leher Giselle.

"Kau mabuk. Jangan lakukan ini Giselle... atau, kau akan menyesal nantinya."

Giselle tak peduli, ia mencoba menyentuh bibir Jio dengan miliknya namun Jio mendorongnya pelan kemudian bangkit seraya mengacak rambutnya frustasi.

"Apa, kau menolakku–"

Jio berbalik cepat ke arah Giselle, mencuri kecupan singkat pada bibir gadis itu. Membuatnya tersentak.

"–lagi?"

"Jangan menarik kembali ucapanmu. Biar aku tanyakan satu hal."

Giselle berkedip beberapa kali netra itu menyiratkan keterkejutannya, namun tetap menantikan kelanjutan ucapan Jio.

"Kau tak akan menyesali apa yang akan terjadi setelah ini?"

Giselle mengangguk mantap.

"Dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang aku akan mengizinkanmu masuk dalam hidupku, saat itu terjadi aku tak akan membiarkanmu pergi.”

“Sekali bersamaku, selamanya begitu."

Giselle menahan nafas dan menelan ludahnya berulangkali karena tiba-tiba tenggorokannya terasa sakit, kadar oksigen dalam ruang kamarnya pun seakan berkurang membuatnya merasa panas. Perut Giselle seperti tergelitik, hal itu berimbas pada degup jantungnya yang semakin menggebu.

"Yakin, kau tak akan menyesalinya?"

"Aku tidak akan pernah menyesal..."

Jio menunduk.

Mengusap pipi Giselle yang bersemu, meraih tengkuk gadis itu kemudian menyelipkan kedua belah bibirnya pada bibir Giselle dan melumatnya lembut seakan menyampaikan apa yang tengah dirasa.

Giselle membalas lumatan itu seraya memejamkan mata, sementara jemarinya perlahan bergerak menyentuh leher Jio.

Mengalungkan tangannya di sana.

Keduanya saling memangut, berbagi nafas satu sama lain dan menyalurkan perasaan lewat jalinan saliva. Tak ada yang berniat melepaskan.

Jio menyentuh pinggang Giselle, mengusapnya. Ciuman itu semakin dalam dan intens. Jio mendorong tubuh Giselle perlahan untuk berbaring, membuat dirinya berada di atas tubuh Giselle.

Jihoon melepaskan ciumannya sebentar dan berbisik.

"Tidurlah..."

"Emhh, kenapa...?"

Giselle kembali melahap bibir tersebut. Seolah menunjukkan pada Jio bahwa ia menginginkan lebih. Jio membalasnya sebentar namun menghentikannya kembali, ia tak ingin melewati batasnya kali ini.

"Ayo lakukan lain kali? Kau butuh istirahat sekarang."

Ia mengerti Jio tak ingin melakukannya dalam kondisi Giselle seperti ini, yang mana bisa menyakitinya.

Giselle tersenyum, "Temani aku..."

Jio mengangguk lalu berbaring di sampingnya, memeluk gadis itu.

Jio akui dirinya juga selalu menampik perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan itu, kehadiran Giselle yang begitu tiba-tiba ucapan dan tindakan Giselle yang selalu merepotkannya.

Entah bagaimana menjelaskannya dengan kata, itu terjadi begitu saja. Ini tak seperti Jio yang biasanya rasional dan mengambil keputusan secara logika.

Kali ini,

Hanya kali ini saja, ia mencoba mengikuti kata hatinya.

•••Vienbluu (annavienbluu)

1
lkzxxvy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!