Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Yang Diterima Keluarga Wei
Mike, Zoanna, June, Tom, dan Vivi sedang menikmati sup ginseng yang diantarkan oleh Asisten Jo. Mereka menyantapnya dengan lahap tanpa menyadari bahan utama yang terkandung di dalam hidangan tersebut.
Melihat keluarga Wei begitu menikmati sup itu, Asisten Jo dan Vivian yang berada di sana harus berusaha keras menahan rasa mual.
"Vivian, apa kau sudah melihatnya? Kami mendapatkan hadiah langka dari Tuan Muda Mark. Lalu, apa yang kau dapatkan?" sindir Tom dengan wajah bangga.
Vivian meliriknya sekilas, lalu menjawab dengan santai, "Adik kesayanganmu dicampakkan olehnya, jadi dia menebusnya dengan sup ginseng. Apa yang perlu dibanggakan?"
"Kau..." Tom langsung terdiam karena tidak bisa membalas perkataan Vivian.
"Adikmu sudah dibuang, tetapi sebagai kakaknya, kau justru bangga. Benar-benar menggelikan!" tambah Vivian sambil tersenyum sinis.
"Vivian, sampai kapan pun kau tidak akan bisa disamakan dengan Vivi!" sela Zoanna dengan nada merendahkan. "Vivi adalah cucu kesayanganku yang sangat berharga, sedangkan kau hanya tahu melawan dan tidak pernah patuh!"
Vivian menatap neneknya, lalu tersenyum tipis.
"Nenek, kalau begitu, semoga kau panjang umur setelah meminum sup ginseng itu."
Zoanna mengernyitkan kening, tetapi tidak terlalu memedulikan ucapan Vivian.
Dia justru menoleh kepada June dengan wajah kesal.
"June, bagaimana caramu mendidik putrimu? Dia sama sekali tidak memiliki sopan santun!"
Vivian terkekeh pelan sebelum June sempat menjawab.
"Nenek, sejak kecil memang tidak ada yang mendidikku. Bahkan, biaya sekolahku saja kubayar sendiri. Sejak kapan kalian pernah peduli kepadaku?"
Tatapan Vivian menyapu wajah kedua orang tuanya sebelum kembali tertuju kepada Zoanna.
"Jadi, kalau sekarang aku menjadi kurang ajar, itu karena kedua orang tuaku sendiri tidak pernah mengajariku dengan baik. Bukankah begitu, Nenek?"
Vivi mengaduk sup di mangkuknya, lalu mengambil sepotong daging dan memakannya dengan lahap. Tom juga melakukan hal yang sama tanpa sedikit pun merasa curiga.
"Dagingnya enak sekali!" puji Vivi sambil tersenyum puas.
"Iya, setelah minum sup dan makan dagingnya, tubuhku terasa jauh lebih bersemangat," sahut Tom.
"Makanlah yang banyak. Daging seperti itu pasti mahal," ujar Vivian sengaja menyindir mereka.
"Setelah memakan hidangan ini, kita pasti bisa awet muda!" kata Mike dengan wajah gembira.
"Jangan lupa tanyakan kepada kokinya bahan-bahan dan cara memasaknya," ujar Zoanna.
"Aku tahu bahan-bahannya," jawab Vivian santai.
Tom langsung menoleh kepadanya.
"Vivian, kau bahkan tidak ikut makan. Bagaimana bisa tahu bahan-bahannya? Kalau tidak tahu, tidak perlu berpura-pura!"
Vivian tidak menjawab. Dia justru menatap Vivi sambil tersenyum penuh arti.
"Vivi, dagingnya lembut, bukan?"
"Iya, enak sekali! Vivian, kau sungguh kasihan karena tidak bisa menikmatinya," jawab Vivi sambil mengejek.
Vivian terkekeh pelan.
"Tapi, sebelum diolah, aku sudah memegang dagingnya. Memang kurus dan panjang. Walaupun wajahnya jelek, dagingnya masih cocok dijadikan obat untuk kalian."
Seketika, semua orang menoleh ke arah Vivian.
"Apa maksudmu?" tanya Zoanna dengan kening berkerut. "Sejak kapan kau melihat dagingnya? Jangan bicara sembarangan!"
Vivian mengangkat bahu dengan santai.
"Tanyakan saja kepada Vivi. Itu adalah daging hewan yang dia letakkan di dalam laci mejaku."
Vivi yang semula tersenyum langsung terdiam. Wajahnya perlahan berubah pucat.
"A-apa maksudmu?" tanyanya terbata-bata.
Ketika Tom mengambil daging dengan sendok, dia menemukan kepala ular yang masih utuh di dalam panci. Begitu melihat bentuk kepala dan matanya, dia langsung terbelalak kaget.
"Apa ini?!" teriak Tom sambil mengangkat sendoknya dengan tangan gemetar.
June, Zoanna, dan Vivi langsung menoleh ke arah sendok Tom. Begitu melihat kepala ular tersebut, wajah mereka seketika berubah.
"U-ular?!" pekik June.
Vivi langsung menjatuhkan sendoknya. Dia menatap kepala ular itu dengan wajah pucat, seolah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
Vivian menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu tersenyum puas melihat reaksi mereka.
"Itu kepala ular yang ditemukan di dalam laci mejaku. Vivi, apa kau tidak mengenali ular itu? Bukankah kau yang menyuruh orang memasukkannya ke dalam laciku?"
Vivian berhenti sejenak, menikmati perubahan ekspresi di wajah Vivi.
"Daripada dibuang begitu saja, bukankah sayang sekali? Jadi, aku memutuskan untuk menjadikannya sup ular ginseng khusus untuk kalian. Anggap saja ini sebagai hadiah dariku untuk mencuci otak kalian."
"AAAAHHH!"
Teriakan Vivi langsung menggema di ruang makan.
Tom buru-buru melemparkan sendoknya, sementara June menutup mulut dengan kedua tangan. Mike yang tadi memuji khasiat sup itu kini menatap panci keramik dengan wajah pucat.
Zoanna berdiri dengan tubuh gemetar, tidak percaya bahwa mereka baru saja menyantap sup yang terbuat dari ular.
"Vivian Wei! Kau benar-benar keterlaluan!" bentak Zoanna dengan wajah pucat.
Namun, sebelum Vivian sempat menjawab, Tom tiba-tiba menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi.
"Uwekk! Uwekk!"
Tom muntah berkali-kali hingga tubuhnya membungkuk. Wajahnya memerah, sementara tangannya berpegangan pada wastafel.
"Aku benar-benar memakan daging ular!" teriaknya panik setelah selesai muntah.
Vivi yang melihat Tom langsung kehilangan kendali.
"Ular! Itu ular!"
Dia buru-buru bangkit dari kursinya, tetapi karena terlalu panik, kakinya tersandung hingga kursinya terbalik.
Brak!
Mangkuk sup di atas meja ikut terjatuh dan pecah di lantai.
Vivi berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya. Namun, baru beberapa langkah, dia tidak sanggup menahan rasa mualnya.
"Uwekk!"
Vivi akhirnya muntah di lantai ruang makan.
June yang melihat kekacauan itu langsung menutup mulutnya. Dia teringat bahwa dirinya juga telah memakan beberapa potong daging ular.
"Uwekk!"
June bergegas menuju kamar mandi, tetapi belum sempat mencapai pintu, dia sudah muntah di lorong.
Sementara itu, Mike berdiri kaku di depan meja makan. Dia menatap sup di dalam mangkuknya dengan wajah pucat, teringat bagaimana dirinya tadi memuji khasiat hidangan tersebut.
Mike langsung menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi.
Namun, karena terlalu panik, dia menabrak kursi hingga terjatuh.
Brak!
"Aaahh!"
Mike berusaha bangkit, tetapi rasa mualnya semakin kuat.
"Uwekk!"
Dia akhirnya muntah di tempat sebelum buru-buru melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
"Kau... kau sengaja melakukan ini kepada kami?!" bentak Zoanna dengan wajah pucat.
Wajah Zoanna semakin pucat. Dia terhuyung beberapa langkah, sementara satu tangannya mencengkeram ujung meja untuk menopang tubuhnya.
Namun, rasa mual itu tidak bisa ditahan lagi.
"Uwekk!"
Zoanna langsung membungkuk dan muntah di lantai.
Zoanna berusaha berdiri tegak, tetapi perutnya kembali bergejolak.
"Uwekk! Uwekk!"
Dia muntah berkali-kali hingga tubuhnya kehilangan tenaga.
Pegangannya pada meja terlepas, membuat tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya jatuh terkapar di lantai.
Vivian tersenyum tipis, lalu menghampiri meja makan. Tatapannya tertuju pada kepala ular yang tergeletak di meja.
Dia mengambil kepala ular itu dengan santai, kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Vivi.
"Vivi, kau belum memakan kepala ularnya. Kalau hanya makan dagingnya, mana cukup?" ujar Vivian sambil menyodorkan kepala ular tersebut ke hadapan Vivi.
Mata Vivi langsung membelalak. Dia mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya.
"J-jangan mendekat!" jerit Vivi ketakutan.
Vivian tidak menghiraukannya. Dia mencengkeram dagu Vivi dengan satu tangan, lalu memaksanya membuka mulut.
"Karena kau begitu suka memasukkan ular ke dalam laci mejaku, sekarang kau harus merasakan sendiri bagaimana rasanya!"
"Vivian! Lepaskan aku!" Vivi meronta dan berusaha menepis tangan Vivian.
Namun, Vivian tetap memegang dagunya dan memasukan kepala ular ke dalam mulut Vivi.
"Ini pelajaran untuk mulutmu yang suka menghasut dan berbohong," ucap Vivian
semangat trus kak 💪💪
sudah di tunggu nih
ayo lanjut lagi.
lucu dan menegangkan