Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Dejavu?
"Airyn, kau bertemu Teira di kelas tadi?" tanya William membuka percakapan kembali setelah pemuda yang ia tanyakan itu pergi.
Airyn mengangguk pelan sambil menyesap jus jeruknya melalui sedotan.
"Dia tinggal di mana sekarang?" lanjut William penasaran.
Airyn menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak tahu di mana pemuda bersurai ungu plum itu tinggal kini; Teira enggan membagikan informasi itu padanya.
"Biarkan saja dia. Jauh lebih tenang dan bagus kalau dia tidak ada di sekitar kita," cetus Snow dingin seperti biasanya.
Atmosfer meja makan mendadak hening untuk seperkian detik. Kendati perangai Teira amat menyebalkan dan bermulut pedas, bagaimanapun juga mereka adalah sesama Aetherist yang dituntut untuk saling menopang satu sama lain, intinya mereka adalah satu tim.
"Oh ya, apa agenda kalian setelah makan siang ini?" sela Fin mencairkan kecanggungan.
"Aku juga kurang paham. Di gulungan itu hanya tertulis 'setelah jam makan siang, berkumpullah di area ruang guru untuk instruksi selanjutnya'," terang Airyn mengingat detail isi gulungan itu. Tampaknya Aetherist lain juga mendapati instruksi yang identik.
"Kalau untuk murid biasa, apa yang biasanya kalian lakukan setelah ini Fin?" tanya Flora penasaran.
"Hmm... kalau untuk murid Angkatan Tahun Pertama belum ada yang berubah, tetap melanjutkan kelas teori umum di ruang kelas masing-masing. Tapi mulai Angkatan Tahun Kedua, kami diwajibkan memilih sub-bidang fokus spesialisasi, misalnya jurusan tata negara, pengobatan medis, riset sihir, atau ekonomi benua. Jadi dari tahun kedua hingga keempat, jam siang sampai malam dihabiskan untuk mendalami bidang spesialisasi masing-masing, bahkan bisa sampai larut malam jika ada jadwal praktikum berat," jelas Fin mendetail agar mereka memahami struktur pendidikan di Asteria.
Airyn, Flora, dan William mengangguk-angguk mengerti. Rupanya rutinitas para murid biasa di akademi ini pun sangat padat dan menguras energi.
"Kau sendiri memilih fokus bidang apa, Fin?" Tanya Airyn.
"Aku mengambil spesialisasi Hukum, Pemerintahan, dan Tata Benua," jawab Fin menyunggingkan senyum hangat.
"Wah, terdengar sangat keren dan menakjubkan!" puji Airyn tulus.
Fin terkekeh pelan menerima pujian itu. "Ah iya, mulai tahun ini ada penambahan kurikulum khusus di jurusanku—sub-bidang Taktik, Strategi Perang, dan Manajemen Pertempuran."
Ketiganya yang mendengar uraian itu, seketika paham alasan di balik penambahan materi tersebut. Ancaman keretakan Aetherwall yang dipaparkan Profesor Alistair beberapa hari lalu secara implisit memaksa pihak akademi untuk membekali para murid biasa menghadapi skenario terburuk jika pertempuran nyata benar-benar meletus.
TRIIIINGGG!
Suara lonceng nyaring bergema ke seluruh sudut kantin, menandai berakhirnya jam istirahat makan siang.
"Baiklah, aku permisi ke kelas dulu ya. Sampai jumpa nanti!" pamit Fin seraya melambaikan tangan lembut sebelum melangkah meninggalkan kantin.
"Kita juga harus segera bergegas. Lewat jalan mana kita ke ruang guru?" tanya William saat mereka bangkit dari bangku masing-masing.
"Lewat koridor lantai dasar saja. Bakal memakan waktu lama kalau kita harus naik ke lantai dua untuk memutar melintasi lorong kaca transparan itu," usul Airyn memberi jalan pintas.
William dan Flora mengangguk setuju. Mereka akhirnya menelusuri lorong bawah Gedung Keempat, melintasi pintu Kelas 1-A, lalu menaiki tangga melingkar di sudut paling ujung lorong. Para Aetherist lainnya—minus Teira—melangkah mengekor di belakang mereka.
Begitu menginjakkan kaki di lantai dua, mereka disambut oleh koridor megah. Lampu gantung kristal berukuran raksasa menggantung anggun di langit-langit berukir. Kombinasi warna dinding putih bersih berbis krem memberikan impresi kemewahan yang kental.
Di sepanjang koridor, beberapa profesor dan staf pengajar tampak berlalu-lalang menuruni tangga untuk mengajar. Airyn menyunggingkan senyum seraya menundukkan kepala hormat setiap kali berpapasan dengan mereka.
Kini mereka berdiri di tengah ruangan, tepat di tengah pintu ganda ruangan guru itu.
"Ah, kalian sudah berkumpul semua rupanya," sapa sebuah suara anggun dari arah dalam ruang guru itu.
Profesor Seraphina berdiri menanti mereka di depan pintu. Wanita itu tersenyum lembut mendapati kedatangan para penguasa elemen muda.
"Baiklah, karena semuanya sudah hadir lengkap, mari ikuti saya," tutur Seraphina berbalik memimpin jalan menuju arah berlawanan dari tangga kedatangan mereka.
Belum sempat Airyn membuka suara untuk melapor bahwa Teira belum bergabung, matanya mendadak melotot heran. Tanpa disadari oleh siapa pun, sosok pemuda bersurai ungu plum itu tahu-tahu sudah melangkah santai persis di belakang punggung Seraphina! Airyn, Flora, dan William bertukar pandang dengan raut syok berat—dari mana bocah itu mendadak muncul tanpa membuat suara sedikit pun?
Seraphina membimbing mereka menyeberangi lorong dinding kaca menuju lantai dua Gedung Ketiga—area yang menurut penjelasan Fin sebelumnya digunakan sebagai aula serbaguna.
Seraphina mendorong pintu kayu raksasa aula tersebut. Ruangan di balik pintu itu terhampar amat luas dengan karpet beludru merah tebal yang melapisi seluruh lantai. Tidak ada ornamen mau pun deretan kursi; hanya terdapat sebuah panggung kayu besar di ujung ruangan.
"Apakah kita akan melakukan pembelajaran di sini, Profesor?" tanya William keheranan.
Seraphina menyunggingkan senyum misterius. "Tentu saja tidak, Anak-Anak. Tempat tujuan kita yang sebenarnya ada di balik ini."
Seraphina membawa mereka melintasi karpet merah menuju sisi samping panggung utama. Wanita itu menghentikan langkahnya tepat di depan dinding bercat putih yang tampak biasa saja. Jemarinya meraba permukaan tembok, mencari dan menekan batu bertekstur lunak di sana.
Sensasi dejavu seketika menyergap ingatan Airyn dan teman-temannya saat menyaksikan aksi tersebut untuk kedua kalinya.
Kreeek...
Permukaan dinding terbelah halus, memunculkan sebuah lorong tersembunyi yang membentang ke dalam.
"Tempat ini benar-benar dipenuhi kejutan tersembunyi," cetus Stella agak sarkastik.
"Mari masuk," ajak Seraphina melangkah lebih dulu.
Berbeda dengan lorong rahasia menuju Kota Asteria yang langsung bermuara ke tangga batu, lorong kali ini berujung pada sebuah pintu besi tempa tebal yang dilengkapi panel pengunci canggih. Emery yang penasaran mencoba mengarahkan gejolak Aether nya ke arah kunci, namun pintu itu bergeming kaku.
"Pintu ini dilapisi segel penolak Aether, Emery. Tidak akan ada sihir elemen yang mampu meretasnya secara paksa, termasuk Aetherist logam sepertimu," terang Seraphina terkekeh pelan.
Seraphina menekan deretan tombol sandi pada panel.
Tit! Tit! Tit! Tit!
KLAK!
Pintu besi raksasa itu terbuka secara otomatis. Pendar lampu panel listrik di dalam ruangan menyala satu per satu secara berurutan begitu mereka melangkah masuk, menerangi setiap sudut tempat rahasia tersebut.
"Di tempat inilah kalian akan menjalani sesi pembelajaran usai kelas teori pagi," terang Seraphina membimbing mereka masuk lebih dalam.
Ruangan itu sangat luas dengan arsitektur serba putih—dinding putih, lantai batu licin mengkilap warna putih, hingga langit-langit yang memancarkan pendar putih netral. Tepat di bagian tengah depan, berdiri sebuah tiang balok berukuran sedang setinggi pinggang orang dewasa.
Seraphina menyentuh permukaan atas balok tersebut.
KLIK!
Sebuah proyeksi layar hologram membumbung naik melayang di udara. Seraphina menggeser beberapa ikon di atas layar sentuh hologram tersebut. Seketika, lantai batu di hadapan mereka bergetar pelan. Dari balik mekanisme celah lantai, deretan meja dan kursi kayu terangkat naik secara otomatis, tersusun rapi membentuk formasi ruang kelas yang canggih.
Airyn sukses dibuat terpana menyaksikan teknologi sihir yang begitu memukau. Meja dan mimbar utama untuk pengajar pun terangkat naik persis di sebelah Seraphina.
"Baiklah, Anak-Anak. Silakan pilih tempat duduk kalian dan tunggu profesor pengajar kalian tiba," pangkas Seraphina sebelum berbalik melangkah keluar dan menutup rapat pintu besi raksasa tersebut.
Kedelapan Aetherist muda mulai memilih posisi duduk masing-masing. Stella dan Emery langsung mengambil tempat di barisan kanan pada baris kedua dan ketiga. Snow dan Andrew menempati barisan tengah pada baris kedua dan ketiga. Airyn berniat mengambil bangku paling depan di sisi kiri agar Flora bisa duduk tepat di belakangnya, sementara William menempati barisan pertama di tengah.
Namun, baru saja Airyn mendaratkan tubuhnya di kursi, Teira dengan gerakan secepat kilat langsung menyerobot dan menduduki bangku persis di belakang Airyn—menyerobot posisi yang diniatkan untuk Flora.
"Teira... tolong berikan kursi itu untuk Flora, ya?" bujuk Airyn halus, mencoba bersabar.
"Aku sudah terlanjur duduk di sini. Cari bangku lain saja," sahut Teira galak dengan raut datar tanpa rasa bersalah.
Airyn yang jengkel berniat melayangkan protes keras, namun Flora dengan cepat mengelus bahunya. Gadis pemalu itu memilih mengalah dan menduduki bangku baris pertama di sisi kanan persis di depan Stella. William mengambil tempat di bangku tengah baris terdepan.
Kedelapan penguasa elemen muda itu kini duduk bergeming dalam keheningan, menantikan sosok profesor yang akan mengajar mereka pertama kali siang ini.