bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RELATIONSHIP
Yes! Akhirnya sempet juga thor up, walaupun buru-buru sih.
Oke selamat membaca!
Author pov
Devan menatap nyalang pada setiap orang yang berani melihatnya. kali ini mood pria itu tak bisa di bilang baik. dia kehilangan karinnya. gadis yang sangat berharga bagi hidupnya.
semua yang melihat Devan menampilkan wajah seram yang lebih mengerikan daripada biasanya membuat mereka semua menunduk takut. gumaman demi gumaman serta bisikkan riuh orang menjadi musik yang mengiringi langkah Devan. "siapkan semuanya, dan hubungi Arthur segera"
"tapi tuan, kita tidak tahu di mana nona Karin, dan juga belum tahu pasti yang menculiknya adalah Bramasta"
Devan menghentikan langkahnya. membuat semua mata karyawannya tertuju pada aksi sang tuan.
"kau ingin membantah ucapanku?" Devan yang mengatakan itu dengan suara dingin dan kerasnya. membuat pak fet menyeka keringat nya sendiri. semenjak dia melaporkan jika Karin tidak ada di rumah, tuan Devannya berubah menjadi monster besar yang tidak imut lagi.
Diri dan sifatnya sebelas dua belas sama dengan iblis, kondisi yang sama sebelum dia bertemu Karin. Dalam hati pak fet berdoa semoga saja Karin bisa menyelamatkan hidupnya kali ini....
“Aku tidak mau ada alasan lain, anggukkan kepalamu dan kerjakan apa yang ku suruh” ujar Devan dengan suara tenang yang menakutkannya. Matanya menatap lurus ke depan. Rahangnya mengetat menahan amarah. Urat leher dan tangannya sudah menyembul keluar seolah menolak penderitaan ini.
“kumpulkan semuanya, aku akan menunggu mereka di markas” Devan kembali mengawali langkahnya dengan cepat dan tegas. Tubuhnya tak bisa menunggu lebih lama lagi. Sesak dan sakit yang terasa di dada dan juga kepalanya kali ini tak bisa di sembuhkan dengan obat dari dokter Jhon.
“Sial, padahal dosisnya sudah lebih dari yang di katakan Jhon” gumam Devan sembari meremas kuat helaian rambutnya.
***
Devan pov
Aku mengetukkan jari-jariku, sembari mengatur nafasku agar tetap tenang. Bisa di bilang ini lebih menyakitkan dari biasanya.
“Tuan dari CCTV di sekitar kamar dan juga halaman belakang, nona Karin pergi sendiri tanpa adanya seseorang yang mencurigakan” aku memejamkan mata menahan rasa sesak di dadaku setelah mengetahui fakta ini.
Karin tidak di culik.... Tapi dia pergi sendiri. Kupijat pelipisku dan kucoba untuk mencerna kembali apa yang dilakukan Karin. Dan semuanya selalu menjurus. Jika Karin kabur dari hidupku.
Aku menjambak kuat rambutku. Sakit kepalaku menjadi. Sesak dan tak tertahankan di dadaku lebih mengerikan dari yang biasanya ku tanggung.
“tuan, apa-“
“aku sudah meminum obat yang di berikan Jhon” potongku dengan suara geram menahan rasa sakit.
“aku sudah menjelaskan semua inti dan juga seluk beluknya, shit....... –“ keluhku ketika kurasakan sebuah hantaman besar terasa sangat nyata pada bagian belakang kepalaku “bilang pada Arthur jika aku tidak bisa di temui sekarang, dan juga suruh dia laksanakan bagiannya, jika sudah waktunya maka aku akan langsung menyusul”
“siap tuan”
Aku mengangguk mengizinkannya pergi setelah pak fet memberikan instruksi untuk pamit.
“Ha....hah.... Sial, kenapa rasanya semakin menyakitkan?!!” aku merasakan jika mataku memanas- seperti akan mengeluarkan cairan yang sangat panas. Aku semakin menggila menjambak rambutku sendiri. Sakit di kepalaku semakin menjadi tiap detiknya.
Kurasakan jika jantungku berdetak semakin lama semakin cepat. Bahkan sekarang fokus penglihatanku sudah tak menentu lagi. Keringatku mengalir semakin deras begitu juga cairan yang keluar dari mataku. Ketika aku hendak berdiri, tubuhku kehilangan keseimbangan yang mengakibatkan aku terjatuh menghantam lantai.
Kursi kerjaku terdorong ke belakang dan tungkai kakiku lemas tak berdaya. Sial, aku benar-benar membutuhkan Karin saat ini. Gadisku yang akan selalu tanpa sadar mengobati batin dan juga jiwaku.
Aku kembali mengingat rekaman CCTV yang di tunjukkan pak fet tadi. Menunjukkan jika Karin berjalan keluar dari kamar kami, membawa sebuah tas sandang kecil berwarna merah, yang kuberikan padanya 1 minggu yang lalu. Kemudian dia berjalan keluar mengendap-endap melewati pintu belakang rumah. Dan sialnya lagi, dia bisa melewati anak buahku yang bodoh yang sedang berjaga di luar dengan mudah.
“haha.... Ha....., Apa kamu benar-benar meninggalkanku?” aku sedikit tertawa seperti orang gila memikirkan kepergian Karin. Kurebahkan badanku di atas lantai tanpa peduli apa itu kotor atau tidak.
Aku berusaha memeriksa isi sakuku dengan tangan yang gemetar. Dan ketika aku sudah menemukan benda yang di maksud, aku tersenyum lirih.
Kulihat lamat-lamat, sebuah lingkaran yang terbuat dari emas murni. Dengan hiasan permata berwarna coklat kehitaman yang sama dengan warna mataku-tertempel indah di depannya. “si bajingan Arthur itu mengatakan jika ini akan berhasil” lirihku. Aku menyimpan kembali benda ini, benda yang sudah kusiapkan untuk Karin. Agar aku bisa mengikatnya di sisiku selamanya.
“Aku pikir kau bahagia berada di sisiku” aku merasakan jika mataku mulai berat. Dan tanpa kusadari semuanya sudah gelap dan tak bisa dilihat lagi.
***
Author pov
“aku pikir kau tidak akan setuju” Karin mengalihkan pandangannya dari beberapa anak-anak SD yang sedang menyeberangi jalan bersama seorang wanita berkerudung merah.
“aku yakin jika Devan akan tersakiti jika aku pergi seperti ini, tapi seperti katamu, aku hanya harus menjauh dari Devan agar dia bisa selamat dari Bramasta”
“Yah... Memang begitulah, kalau kau terus berada di samping Devan, maka perang dunia ke tiga akan muncul” Karin sedikit tertawa hambar dengan godaan dari pria yang duduk di sebelahnya kali ini. Ketika mobil yang mereka tumpangi kembali berjalan. Karin kembali menatap jalanan dengan tatapan kosong.
Tubuhnya sekarang memang ada di sini, namun pikiran dan hatinya mencemaskan Devan. Apa pria itu akan baik-baik saja? Apa itu akan sangat menyakitkan jika dia akhirnya berinisiatif pergi?
Bahkan Karin sendiri juga tidak memberitahu Lea mengenai rencananya yang dadakan ini. Karena dia yakin jika Lea ikut, maka adik kecilnya juga akan terluka nanti. Sebisa mungkin Karin berpikir jika ini adalah keputusan dan solusi yang tepat yang di berikan temannya.
“Terima kasih Jerry”
“Oh ayolah, kau mengucapkan terima kasih seolah-olah aku ini orang asing” pria yang dipanggil Jerry itu menampilkan senyumnya yang menggoda pada Karin.
Karin yang melihat senyum Jerry pun ikut tersenyum karenanya. Namun tetap saja ada kekosongan dibalik senyum itu. Jerry yang menyadari hal ini pun mengepalkan tangan menahan amarah.
‘aku pikir dia akan senang jauh dari laki-laki itu-‘ batin Jerry kesal. Dan akhirnya selama perjalanan tidak ada lagi yang membuka suara diantara mereka. Karin sibuk memikirkan Devan sedangkan Jerry gelisah memikirkan Karin.
‘aku harap dia tidak akan memberontak’ ucap Jerry di dalam hati sembari melirik ke arah gadis yang sedang duduk dengan pandangan kosong di sebelahnya.
‘kau akan membayar ini devan’
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..