Nikolas adalah seorang kapten pasukan khusus tentara yang meninggal dalam sebuah misi rahasia. Karena kesalahan yang dibuat oleh malaikat maut, Nikolas diberi kesempatan untuk hidup di tubuh seorang pemuda berusia 21 tahun yang sudah meninggal bernama Nick. Nikolas berpikir dengan hidup sebagai Nick maka ia bisa melakukan segala hal yang tidak sempat ia lakukan di masa mudanya dulu. Tapi seiring berjalannya waktu Nikolas justru harus membantu ‘adiknya’ Niel yang ternyata menjadi korban bully di sekolahnya. Bukan hanya itu, lebih jauh lagi Nikolas harus menyelamatkan Jean, gadis yang ia sukai dari target korban pasar gelap kelompok mafia yang menamakan diri The Batavia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidenateden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2:6 A LIAR
“Ini bukan patung yang asli.”
Agatha berpaling menatap Yohan. Wajah lelaki itu terlihat sedikit pucat berkali-kali membandingkan hasil foto patung singa di kamera dengan proposal pameran.
“Lihat ini.” Yohan menunjukan berbagai sisi patung pada Agatha.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?” tanya Agatha tenang. “Kau sudah berjanji padaku untuk menyimpan semuanya sendirian.”
Yohan menarik nafas kelihatan agak menyesal karena telah berjanji pada Agatha. Ia menaruh kameranya di atas meja dan kedua tangannya menyentuh bahu Agatha lembut namun ekspresinya terlihat sangat serius.
“Bisakah kau mengundurkan diri sebagai perwakilan Saaghan?”
“Kenapa aku harus melakukannya?” Agatha menyingkirkan tangan Yohan dari bahunya tapi lelaki itu kembali menaruh tangannya di bahu Agatha dan menghela nafas.
“Kau harus berhenti terlibat dengan pameran seni ini. Bahkan kalau bisa kau keluar saja dari Saaghan”
“Tidak bisa” geleng Agatha. “Hidupku sudah terikat disana.”
Sekali lagi Agatha menyingkirkan tangan Yohan dari bahunya. “Jangan terlalu khawatir. Tidak ada apapun yang terjadi, ini hanya pameran seni” kata Agatha tenang.
“Kuharap juga begitu” balas Yohan memaksakan diri untuk tersenyum.
...*****...
Suara rintik hujan terdengar jelas dari kaca jendela rumah Saaghan. Jihoon melirik layar ponselnya, sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang ia janjikan untuk menemui Agatha. Kalau saja lelaki tua bernama Im ShinHwa segera sadar diri untuk angkat kaki dari tempat itu mungkin Jihoon sudah pergi sejak tadi.
“Aku kesini karena sudah tidak memiliki jalan lain. Namaku sudah blacklist bank karena kasus tiga bulan lalu.” Im Shi Hwan menghisap rokoknya dan berbicara dengan aksen Busan yang terkesan dipaksakan.
“Aku berteman baik dengan ayahmu. Bahkan saat kau masih bayi aku sering menggendongmu” lanjut Im Shi Hwan tertawa seakan ia benar-benar dekat dengan Jihoon.
Senyum Jihoon muncul, ia memberikan kode pada salah seorang anggota Saaghan untuk menaruh koper di atas meja. “Paman tahu aturannya kan?”
“Aku paham, aku paham. Sudah ku hitung bunga dan tanggal pembayarannya” balas Im Shi Hwan, matanya berbinar senang menatap banyak lembaran uang dari dalam koper. “Hei nak! Kau harus percaya pada pamanmu ini”
“Aku percaya” kata Jihoon masih tersenyum. “Maafkan aku paman, tapi aku pergi sekarang, masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan”
“Tak apa, tak apa. Pergilah. Jihoon terima kasih” angguk Im Shi Hwan terlihat sangat licik dari balik senyumnya.
Jihoon berdiri kemudian membungkuk sedikit dan melangkah keluar diikuti Felix, ia membiarkan Im Shi Hwan tetap berada di ruangan dan tenggelam dalam kesenangannya sendiri menghitung-hitung lembaran uang di koper.
“Apa tak apa langsung memberikan uang itu padanya?” tanya Felix agak heran karena Jihoon terlihat sangat santai. “Ia tidak akan membayar kembali”
“Memang, jangan menagih uang itu ataupun bunganya. Uang itu adalah pemutus hubungan” kata Jihoon tenang. “Beberapa bulan lagi ia akan datang dan meminjam uang. Ketika saat itu tiba, hitung saja kisaran harganya”
“Ah benar.” Jihoon menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu menuju ruang pribadi miliknya. “Saat nanti kalian membedah tubuhnya, potong jari tengah tangan kirinya dan berikan pada Paman Han”
“Huh?” Felix melemparkan tatapan terkejut sekaligus bingung. “Kau memintaku mengirimkan jari tengah tangannya pada Paman Han? Pamanmu?”
“Hmm. Bagian mana dari perintahku yang sulit untuk kau mengerti?”
“Mengirimkan pada Paman Han. Jari tengah. Mengirimkan jari tengah pada Paman Han” jawab Felix mengulang-ulang perkataannya, ia menggelengkan kepala dan melemparkan tatapan seolah Jihoon adalah spesies paling sinting yang hidup dimuka bumi ini.
“Aku ingatkan lagi kalau-kalau kau lupa” ujar Jihoon setengah berbisik. “Paman Han yang sedang kita bicarakan ini adalah Lee Han, Lee Han adalah pamanmu, dan Lee Han adalah ketua Saaghan. Apakah ketiga informasi itu kurang jelas? Aku bisa menceritakan riwayat hidup Lee Han kalau kau mau”
“Aku tidak peduli” balas Jihoon santai. “Mengirimkan jari tengah Paman Im pada Paman Han, bukannya itu akan sangat menyenangkan?”
“Kau sinting!” ujar Felix.
Jihoon hanya nyengir lebar langsung masuk ke ruangan pribadinya, tidak mengacuhkan Felix berteriak memanggil-manggil namanya dengan umpatan kesal.
...******...
Suara tawa Agatha ketika menonton sebuah acara Tv membuat Jihoon berpaling, lelaki itu mengatur semua barang belanjaan ke dalam lemari kemudian melangkah menghampiri Agatha yang sedang duduk di sofa.
“Apa yang lucu?”
“Anak ini imut sekali” jawab Agatha menunjuk ke arah anak kecil yang tampil di Tv dan sedang makan. Tawa anak itu membuat Agatha tersenyum lebar dengan ekspresi gemas.
“Sesuka itu?” tanya Jihoon ikut tersenyum melihat Agatha.
Gadis itu memang suka sekali dengan anak kecil karena menurutnya mereka selalu bersikap jujur dan polos. Jauh berbeda dengan Jihoon yang cenderung untuk menghindari anak kecil, baginya anak kecil itu sangat merepotkan karena cepat menangis, lemah, dan mudah untuk dibohongi.
“Hmm” angguk Agatha masih tersenyum. “Aku selalu berpikir apakah aku akan diberikan kesempatan untuk memiliki anak selucu ini.”
Jihoon memalingkan wajah sedikit tertegun. “Kau ingin memiliki anak yang lucu?”
“Aku ingin menjadi ibu. Meskipun aku bukan ibu yang sempurna tapi aku ingin menjadi ibu yang baik bagi anakku” jawab Agatha. “Kau tahu ketika nanti aku diberi kesempatan untuk memiliki anak. Entah perempuan atau laki-laki, aku menamani anakku Hansung”
“Kenapa?”
“Hansung berarti hidup baik. Ibu yang menamai anak mereka dengan Hansung percaya bahwa anak mereka akan hidup dengan baik, Hansung akan memiliki hidup yang indah, dan tumbuh dalam mimpi.”
Jihoon terkesiap menatap Agatha. Gadis itu terlihat bahagia meskipun hanya mengatakan mimpinya yang terdengar sangat sepele bagi Jihoon.
Ini adalah salah satu alasan mengapa Jihoon menyukai Agatha. Gadis itu tidak menginginkan banyak hal. Uang, rumah besar, kartu keanggotan mall, cincin berlian, atau tas bermerk. Agatha tidak menginginkan semua itu, ia hanya menginginkan sebuah kebebasan dan mimpi yang sederhana.
Hidup normal.
Menjadi ibu.
Memiliki anak yang lucu.
Kebebasan.
“Kenapa melamun?” Agatha menjentikan jari tepat di depan wajah Jihoon membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.
“Aku ingin bertanya sesuatu, boleh?”
“Hmm”
“Patung singa itu….kenapa tiba-tiba mengambilnya?”
“Karena suka” jawab Jihoon santai. “Kenapa?”
“Tidak. Aku hanya sedikit heran karena kau tiba-tiba menyukai seni”
“Kupikir mungkin karena aku terlalu sering bersamamu” balas Jihoon terdengar serius. “Ketika kau menyukai ini, aku akan menyukainya. Ketika kau menyukai hal lain lagi, aku juga akan ikut suka. Kupikir ini yang dinamakan penyakit menular.”
Agatha memaksakan diri untuk tersenyum, ia tidak menjawab tapi dapat dengan jelas mengetahui Jihoon sedang berbohong padanya. Agatha mengenal Jihoon dengan baik. Ia mengenal lelaki itu secara detail, membuatnya bisa melihat sekecil apa siratan dari tingkah laku lelaki itu.
Tapi Agatha malah ingin menolak fakta bahwa Jihoon sedang berbohong mengenai patung singa dan juga menepis jauh-jauh perasaan gelisah karena tahu Jihoon sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Entah mengapa Agatha ingin tetap mempercayai Jihoon.
Seakan peringatan Yohan tidak ada artinya sama sekali untuknya.
ini yg gw suka
mnh bs dia nolak