I love U Paman ( Area bacaan 25 tahun ke atas)
Ingat! Sebuah seni tidak punya ruang batas, imajinasi dalam sebuah karya sangat luas. Andalah sebagai pembaca yang harus membatasi bacaan anda, mana yang baik dan tidak, untuk kalian baca.
******
Ayah Mira meninggal ketika ia berumur 5 tahun. Tujuh tahun kemudian ibunya bertemu dengan seorang pria lajang, dan mereka salin mencintai.
akan tetapi, sebuah musibah muncul ketika mereka hendak menikah. Di acara akad, sang calon Ayah mengalami kecelakaan ketika menuju resepsi, dan meninggal dunia menuju rumah sakit.
Atas wasiat Almarhum, sang Kakak almarhum mengambil tanggung jawab untuk merawat Mira.
Seiring berjalannya waktu, Mira tumbuh besar menjadi gadis yang ceria. Namun, semakin bertambah usianya, Barno yang selama ini dipanggilnya Paman, bukan lagi sosok figur ayah dimatanya, melainkan sosok pria yang sangat dikaguminya sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uncle Jo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Dua hari telah berlalu semenjak insiden drama penamparan. Mira benar-benar menjaga jarak dengan Barno, tapi bukan berarti gadis itu tidak datang berkunjung ke rumahnya. Mira tetap datang dan bahkan menginap di rumah Barno.
Sama halnya pagi ini. Mira, Anggi dan juga Barno sedang sarapan. Namun, tidak ada percakapan yang terjadi antara Mira dan Barno. Suasana di antara mereka berdua, benar-benar seperti aura perang dingin. Sesekali lirikan tajam menyeramkan terpancar dari sudut mata Mira. Begitu juga dengan Barno yang masih saja memasang wajah dingin dengan guratan sangat dalam di keningnya.
"Huff. Lebih enak ternyata sarapan di kuburan daripada di rumah sendiri." Anggi memutar bola matanya sambil menyuap nasi ke dalam mulut.
"Namanya juga makan sama mayat hidup," celoteh Mira santai.
Menghela napas pelan, Barno meneguk minumannya setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. "Orggh … ahhh! Kenyang juga. Mayat hidup ini mau tidur lagi. Kalian beresin meja nanti!"
Menggeleng kepala, hanya itu yang bisa dilakukan Anggi melihat tingkah Mira dan Ayahnya. Ia pun beranjak masuk kedalam kamar meninggalkan Mira sendirian.
"Sial. Kenapa jadi begini, sih? Apa harus aku lagi yang lebih duluan mengalah. Ahh, Paman. Apa sih susahnya minta maaf kepadaku."
Mira menunduk dan memegangi kepalanya sendiri. Pusing dan bingung harus berbuat apa menghadapi sikap Barno. Menunggu, tapi entah sampai kapan. Ingin lebih dulu mengalah, malu sama sabun colek yang lebih dahulu membersihkan noda membandel.
Dalam keadaan bimbang dengan kepala tertunduk, ketika Mira terus menimbang, meresapi dan ingin memutuskan sesuatu. Dibalik sebuah pintu kamar, sepasang mata memperhatikan Mira dengan sebuah senyum kecil.
Setelah merapikan meja makan dari piring kotor, Mira kemudian menuju kamar Anggi, lalu bediri di depan pintu.
"Gi. Tungguin aku ya, kita sama-sama berangkat." Tidak menunggu sahutan dari Anggi, Mira langsung pergi pulang untuk mengganti pakaian.
Mira membuka pintu rumah, dan melihat Tiara sedang santai duduk menonton sebuah acara televisi di ruang tengah.
"Pagi anak gadis ibu," sapa Tiara dengan ekspresi bahagia.
"Pagi juga. Ibu nggak kerja?" tanya Mira.
"Mir, Nanti malam ibu berangkat keluar kota. Minggu malam Ibu baru pulang. Kamu jaga rumah, ya. Jangan ribut sama Ayahnya Anggi, jangan buat dia kewalahan menjaga kamu, lebih penurut lah sedikit. Bagaimanapun, dia itu sangat menyayangi kamu sebagai putrinya."
"Iya," jawabnya malas, lalu masuk kedalam kamar.
**
**
**
**
**
Pukul 10:13 WIB
Sepanjang koridor kampus menuju lokal, Anggi berjalan sambil mengobrol dengan ayahnya melalui sambungan telepon.
Barno:
"Apa dia masih marah juga?"
Anggi:
"aku nggak tau. Lebih baik. Ayah saja yang menyelidikinya, jangan bertanya samaku. Aku sudah sangat pusing dengan ujian, jangan tambah lagi dengan urusan kalian berdua. Kalian itu sudah bukan anak kecil, yang satu sudah punya uban, yang satu sudah bisa punya anak. Selesaikan sendiri masalah kalian."
Anggi yang terus berjalan menyusuri koridor kampus sambil menelepon. Tanpa disadarinya melewati Jo yang berdiri menunggu dan memperhatikan dirinya. Anggi terus berjalan dengan langkah panjang, sampai akhirnya ia berbelok ke arah kanan dan menghilang.
Sudah lama Jo menunggu Anggi, karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Namun, melihat sikap Anggi yang tidak seperti biasanya, Jo pun mengurungkan niatnya, dan hanya bisa menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangannya.
"Aku ingin ngobrol, tapi malah bingung mau ngapain. Huff, beginilah menatapku jika berhadapan dengan perempuan. Lebih aku pergi ke perpustakaan saja.!"
Baru beberapa langkah, Jo langsung tersentak ketika menyadari Mira berdiri tidak jauh dari tempatnya, dan menatap ke arahnya dengan tatapan mengerikan.
"Beruntung aku menemukanmu di sini senior," ucap Mira sopan, tapi raut wajahnya tidak ada sopan-sopannya.
Melihat gelagat Mira, Jo hanya bisa menggaruk belakang kepalanya. "Ada apa?"
Mira meraih tangan Jo, lalu meletakkan sebuah buku dengan kasar di atas telapak tangan pemuda itu. "Aku tau kau nulis novel di Platform, dan aku juga tau kalau novelmu itu mangkrak beberapa bulan ini. Semoga buku ini bisa memberikan inspirasi buat melanjutkan novelmu itu."
Walau sedikit kaget, dan tidak menyangka jika Mira mengetahui pekerjaan sampingannya itu. Jo membuka buku tersebut, dan melihat beberapa plot yang sudah ditulis tangan oleh Mira.
"Tolong habiskan waktumu dengan Anggi. Aku tidak ingin ada kata tidak dari mulutmu." Mira mendekati Jo, sehingga mereka begitu sangat dekat. Dengan raut wajah sangar, Mira kemudian berkata, "Apa kau dengar?"
"Tidak sia-sia aku menatapnya selama ini, sampai aku bisa menemukan kelemahannya yang begitu somplak. Dasar Jo. Badan aja yang besar, tapi kalau sudah berurusan dengan cewek langsung lemah." batin Mira tertawa senang.
"Ngomong-ngomong. Anggi pergi ke arah mana tadi?" tanya Mira lag, dan dijawab oleh Jo menunjuk ke arah perginya Anggi.
"Terima kasih!" bentak Mira dan pergi meninggalkan Jo begitu saja.
..
..
..
..
hahahhahaja..gw bukannya kecewa dan kesel eh sedikit doang tapi gw lega gak baca teratur bahkan lebih sering lompat" karena ceritanya yang terlalu monoton
ok gw skip ,masihada chapter selanjutnya. cuman gak mau menjadi.lebih bodoh dengan melanjutkan ceritanya.
sorry n bye🙏😪
gw menyimpulkannya waktu Barno mengatakan kalau diya mencintai Mira pd Tiara dan disitu dikatakan ...BARNO MENGINJAK DIMALAM PENGANYIN MEREKA. MAKSUDNYA PENGAKUAN BARNO KAN?
gak masuk akal dan aneh banget. kalau Tiara jadi ibunya Anggi trus Tiara mati, Mira jadi ibu selanjutnya Anggi. jadi judulnya.
SAUDARA TIRIKU ADALAH IBUKU?🤦
mending gak usah nikahin Tiara kalau Tiara bakal mati...bodoh banget si lu Thor dari kemarin lu masalhnya dibuat rumit sekali pdhl inti ceritanya gak perlu yg rumit.. hadeuwwww.
segitu rumit hanya untuk membuat Mira menikah dengan Baron .sampai" hubungan keluarga berubah seperti yang gw katakan. saudara TIRIKU calon ibuku atau ibu sambungku.
bumi Daha kotak ya?😪
gak nyambung bangettttt 🤭😄🤦😪
genre selingkuhan saja kok ribet minta mpun ceritanya dibuat gini😪
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
ni nivel tersomplakkk😀😀😀
nyimak ...