Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suspicious

Beberapa hari berlalu sejak Pangeran Yoshi menanggalkan jubah diplomatiknya dan meninggalkan kemewahan istana. Sore itu, di pinggiran kota Hikari yang berbatasan langsung dengan aliran sungai jernih, Youra berdiri tegak dengan sebelah tangan memegang gagang pedang di sisinya. Pandangannya lurus menatap arus air yang mengalir tenang, mencerminkan keteguhan hati seorang pemimpin pemberontak.

​Tak lama berselang, derap langkah kaki mendekat dari arah jalan setapak. Yoshi tiba di tempat tersebut dengan balutan mantel birunya yang kini tampak kusam, menyisakan raut wajah yang dipenuhi oleh duka mendalam dan amarah yang tertahan.

​Mendengar suara langkah kaki di belakangnya, Youra perlahan melirik ke samping. Tanpa perlu menebak terlalu lama, sorot mata tajam namun penuh pengertian langsung terpancar dari pemimpin pemberontak berambut pendek merah itu. Ia bisa membaca dengan jelas badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam diri pria di sebelah kanannya.

​"Kau datang tepat waktu, Yoshi," ucap Youra dengan nada tenang, suaranya berpadu dengan deru angin sungai. Ia mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada sang mantan diplomat. "Dari cara caramu melangkah dan sorot matamu, aku tahu ada dendam membara yang sedang menuntut jalan keluar."

​Yoshi mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap permukaan air sungai yang berkilau diterpa cahaya matahari senja sebelum akhirnya menoleh menatap Youra dengan tatapan penuh keyakinan yang dingin.

​"Kau benar, Youra," jawab Yoshi dengan suara parau namun tegas. "Aku tidak lagi datang sebagai seorang diplomat yang membawa perdamaian. Aku datang sebagai seseorang yang telah kehilangan segalanya."

​Youra menyimak dengan seksama, membiarkan pria itu melanjutkan kalimatnya.

​"Setelah apa yang terjadi di taman istanaku... aku tidak bisa tinggal diam lagi," lanjut Yoshi dengan rahang mengeras. "Aku mencurigai Ratu Miyura. Ada sangkut pautnya yang sangat kuat di balik kematian Jesslyn. Penguasa tiran itu... dialah dalang di balik semua kekejaman ini."

​Youra mengangguk perlahan, senyuman tipis yang menyiratkan kesepakatan tersungging di bibirnya. "Dugaanmu tidak meleset jauh, Yoshi. Istana Hikari memang sudah busuk hingga ke akar-akarnya, dan Miyura adalah pusat dari kebusukan itu." Youra menarik pedangnya sedikit dari sarung, memperlihatkan kilatan baja yang tajam. "Jika kau ingin menuntut balas atas kematian orang yang kau kasihi, maka kau berada di tempat yang tepat. Kita akan meruntuhkan singgasana itu bersama-sama."

Youra melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap lurus ke arah Yoshi dengan ekspresi serius. "Jika kau ingin membongkar kebusukan Miyura, ada satu nama yang harus kau ketahui dan awasi dengan ketat," ujar Youra dengan nada suara yang tajam. "Siapa saja yang berada di dekat Miyura pasti tahu seberapa kejamnya dia, dan orang yang paling setia sekaligus yang paling sering berada di sisinya adalah pelayan pribadinya—Aragoto."

​Yoshi mengerutkan keningnya, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan oleh pemimpin pemberontak itu.

​Youra melanjutkan analisisnya dengan tatapan menerawang ke arah cakrawala. "Bahkan, aku menduga tidak lama lagi Sang Raja sendiri pasti akan dibunuh oleh Miyura demi merebut kekuasaan mutlak," ucap Youra penuh keyakinan.

​Mendengar pernyataan itu, Yoshi sontak menoleh cepat ke arah Youra dengan rasa terkejut. "Membunuh ayah kandungnya sendiri...? separah itu?"

​Youra mengangguk pelan. "Ya. Dan yang pasti, melalui pelayannya yang bernama Aragoto itulah Miyura bergerak. Ratu tiran itu tidak ingin menodai tangan mulusnya sendiri dengan darah kotor, jadi ia menggunakan pelayannya sebagai bayangan untuk melakukan segala pekerjaan kotornya."

​Yoshi terdiam membisu, kembali mengalihkan pandangannya dari Youra menuju ke aliran sungai yang tenang, lalu mendongak menatap langit sore yang mulai memerah. Di dalam benaknya, keraguan kecil tiba-tiba muncul.

​"Apa mungkin... pelayan itu berada di bawah tekanan yang berat?" gumam Yoshi pelan, menyuarakan pikirannya sembari berpikir bahwa Aragoto mungkin hanyalah korban pemerasan atau ancaman sang ratu.

​Youra menggelengkan kepalanya perlahan, membantah asumsi tersebut. "Tidak, Yoshi. Aku berpikir sebaliknya. Seseorang yang bertahan sebegitu lamanya di sisi Miyura dan melakukan perintah sekeji itu pasti memiliki alasan atau motif tertentu yang mendasarinya—entah itu karena kesetiaan buta, ambisi, atau sesuatu yang jauh lebih gelap yang belum kita ketahui."

​Suasana di tepi sungai mendadak senyap sejenak, diselingi oleh desir angin yang menerpa dedaunan. Youra menoleh sekilas, meletakkan sebelah tangannya secara simbolis di bahu Yoshi, lalu menutup pembicaraan mereka dengan suara yang jauh lebih lembut.

​"Omong-omong... aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Jesslyn, Yoshi," ucap Youra tulus. "Sekarang, luka itu telah menyatukan kita. Mari kita gunakan rasa sakit ini untuk meruntuhkan singgasana mereka."

.

.

.

Cahaya temaram dari lilin-lilin kristal menggantung megah di ruang makan pribadi istana, menerangi jamuan malam yang tampak begitu kaku dan formal. Di meja panjang berukir kayu mahoni, Putri Miyura duduk bersanding dengan ayah kandungnya, Sang Raja. Suasana terasa dingin dan sarat akan formalitas, sementara Aragoto berdiri tegak di sudut ruangan, siap siaga menjalankan tugasnya sebagai pelayan pribadi tanpa bersuara.

​Di tengah keheningan yang menyelimuti jalannya makan malam tersebut, Sang Raja memecah keheningan dengan mengangkat cangkir anggurnya, lalu melirik sekilas ke arah pelayan yang berdiri di dekat dinding.

​"Pelayan Aragoto," puji Sang Raja dengan suara berat dan berwibawa. "Kinerja kerjamu belakangan ini semakin memuaskan. Kau melayani istana dan putriku dengan ketelitian yang patut diacungi jempol."

​Mendengar pujian itu, Aragoto seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam, menjaga ekspresi wajahnya tetap datar. "Terima kasih atas pujian Anda, Baginda Raja. Merupakan tugas saya untuk memberikan pengabdian terbaik."

​Sang Raja kemudian mengalihkan pandangannya kepada putrinya, menyunggingkan senyuman tipis penuh ambisi yang selama ini selalu ia tunjukkan. "Dan kau, Miyura... kau semakin dewasa dan siap mengemban takdirmu sepenuhnya. Tidak lama lagi, kau akan duduk di singgasana tertinggi dan resmi menjadi Ratu yang memimpin seluruh negeri ini dengan tangan besi."

​Miyura yang mendengar sanjungan tersebut langsung menghentikan kegiatannya. Alih-alih menunjukkan ekspresi muak seperti yang biasa ia tunjukkan di belakang sang ayah, ia kini memasang senyuman manis dan patuh, menjunjung tinggi setiap kata pujian yang meluncur dari bibir pria tua itu demi menjaga topeng kepatuhannya.

​"Terima kasih, Ayah," jawab Miyura dengan nada lembut yang terdengar begitu manis di permukaan. "Aku tidak akan mengecewakan harapan Anda untuk tahta Kerajaan Hikari."

Suasana di ruang makan pribadi itu seketika terasa semakin senyap ketika dentingan alat makan beradu dengan piring porselen. Miyura tiba-tiba menghentikan gerakannya, meletakkan pisau dan garpunya secara perlahan di atas piring, lalu menatap lurus ke arah sang ayah dengan tatapan yang mendadak berubah tajam.

​Di saat yang bersamaan, Aragoto melangkah tenang dari sudut ruangan, mendekati sisi kursi Sang Raja dengan membawa botol wine mahal untuk menuangkan isinya ke dalam gelas kristal milik pria paruh baya itu.

​Nada suara Miyura yang tadinya manis dan lembut kini perlahan berubah drastis menjadi dingin, berat, dan penuh ambisi. "Ayah... aku ingin secepatnya menduduki takhta itu dan menjadi Ratu sesungguhnya yang memimpin kerajaan ini secara mutlak," ucap Miyura tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sang ayah.

​Namun, sebelum ketegangan sempat merayap di antara mereka, ekspresi wajah Miyura tiba-tiba melunak kembali. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tertawa kecil sambil melambaikan tangan dengan gaya riang. "Ah, tapi aku hanya bercanda, Ayah! Bagaimana? Aktingku tadi cukup meyakinkan, bukan? Rasanya aku sudah pantas menjadi pemain teater hebat di ibu kota."

​Aragoto yang sedang menuangkan wine ke dalam gelas Sang Raja hanya bisa terdiam kaku, menjaga jarak sambil terus menunduk, sementara cairan merah tua itu mengalir pelan memenuhi wadah kaca di hadapannya.

​Sang Raja terdiam sejenak, menatap putrinya dengan sorot mata menilai. Namun, detik berikutnya, ia mendengus pelan lalu terkekeh renyah, membiarkan ketegangan itu mencair.

​"Kau ini ada-ada saja, Miyura," puji Sang Raja sambil tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Gaya bicara dan ambisimu barusan benar-benar mirip dengan mendiang ibumu saat seusiamu. Kau memang terlahir untuk memegang tampuk kekuasaan ini."

Miyura mengernyitkan dahi, memperlihatkan ekspresi terheran-heran atas pernyataan sang ayah. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap pria paruh baya di hadapannya dengan tatapan penuh selidik.

​"Mirip Ibu?" gumam Miyura dengan nada tidak percaya. "Bukankah gaya bicaraku tadi jauh lebih mirip dengan Ayah? Kurasa Ibu jauh lebih lembut dan lunak semasa hidupnya, tidak pernah sekalipun beliau berbicara dengan nada setegas atau sekasar itu."

​Sang Raja mendengus pelan, lalu tertawa kecil meremehkan. Sambil menyesap wine di dalam gelasnya, ia menggelengkan kepala.

​"Mana mungkin watakmu mirip ibumu yang lemah itu, Miyura," ujar Sang Raja dengan nada santai namun terdengar merendahkan mendiang istrinya sendiri. "Wanita itu terlalu cengeng, penakut, dan mudah diatur. Kau mewarisi darahku yang kuat dan ambisius, bukan kelemahannya."

​Mendengar penghinaan terang-terangan yang dilontarkan sang raja kepada mendiang ratu—ibu kandungnya—atmosfer di sekitar meja makan mendadak terasa mencekam.

​Di sudut ruangan, Aragoto hanya terdiam kaku membisu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan raut wajahnya yang mendadak memerah karena amarah yang meluap-luap. Di balik punggungnya, tangan Aragoto mengepal sangat erat hingga kuku-kukunya menancap andal ke telapak tangannya sendiri, menahan diri setengah mati agar tidak menerjang pria tua di hadapannya saat itu juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!