Dalam lipatan waktu yang tak terduga, Hana, seorang gadis berprestasi yang kerap kali terluka karena ejekan tentang kacamata besar yang ia kenakan, menemukan keberanian untuk mengubah nasibnya. Dengan identitas baru, ia berlayar di lautan kehidupan untuk membalas setiap cemoohan yang pernah terucap. Namun, ketika Mr. Pleaser muncul, membawa lebih dari sekadar bantuan, Hana menemukan dirinya terperangkap dalam pusaran emosi yang tak terelakkan, sebuah perasaan yang mendalam dan tak terbendung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camey smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Not A Good Match
Mentari pagi baru saja menyapa ketika Hazel terbangun dari tidurnya. Sinar matahari yang lembut menerobos masuk melalui celah jendela, menciptakan pola-pola indah di dinding kamar yang hangat. Hazel masih bisa merasakan gema dari malam sebelumnya, bayangan Simon yang kecewa masih terpatri di benaknya. Namun, dia tahu dia harus melanjutkan hari ini dengan semangat baru.
Hazel berusaha keras untuk mengalihkan pikirannya dari kenangan yang menyakitkan itu. Dia memulai hari dengan rutinitas paginya, melakukan yoga ringan untuk menenangkan pikiran dan jiwa. Setelah itu, dia menyiapkan secangkir teh hijau dan duduk di balkon, menikmati kedamaian pagi sambil mendengarkan kicauan burung.
Tepat saat dia mulai merasa lebih baik, ponselnya berdering. Itu Jen, asisten sekaligus manajernya. "Hari ini jadwal pemotretan," kata Jen dengan suara ceria yang selalu berhasil membuat Hazel tersenyum.
Hazel menghela napas, "Ya, aku ingat. Aku akan bersiap sekarang."
"Pastikan kamu makan sesuatu, ya. Kita tidak ingin kamu pingsan di tengah sesi foto," Jen bercanda, mencoba meringankan suasana.
Hazel tertawa ringan, "Tentu, aku tidak akan lupa."
Setelah menutup telepon, Hazel berdiri dan mempersiapkan diri untuk hari yang sibuk. Dia memilih pakaian yang akan dia kenakan, mengatur rambutnya, dan memastikan bahwa dia siap untuk menghadapi kamera. Di tengah-tengah kesibukan itu, dia menemukan kekuatan untuk melupakan, meskipun hanya untuk sementara, perasaan sakit hati yang masih menggelayut di hatinya.
Studio pemotretan itu dipenuhi dengan hiruk-pikuk yang menyenangkan. Cahaya lembut dari lampu studio menambahkan kilau pada produk make up Rochelle yang berwarna-warni, sementara rancangan baju-baju Hazelnut yang diciptakan Hazel terpajang dengan bangga di manekin-manekin yang telah disiapkan.
Hazel berdiri di tengah-tengah semuanya, mengenakan salah satu ciptaannya sendiri—sebuah gaun malam berwarna pastel dengan aksen renda yang halus dan elegan. Make up yang dikenakannya menonjolkan fitur wajahnya yang anggun, dengan sentuhan akhir dari lipstik Rochelle yang memberikan kesan berani namun tetap alami.
Fotografer, seorang wanita berbakat dengan mata yang tajam untuk detail, memberikan instruksi dengan tenang dan penuh percaya diri. "Sedikit ke kanan, Hazel... Bagus! Sekarang, tatap kamera dengan pandangan yang tegas," katanya, sambil mengklik kamera dengan ritmis.
Setiap klik kamera menangkap lebih dari sekedar gambar—mereka menangkap esensi dari kolaborasi yang sempurna antara keindahan dan kreativitas. Produk make up Rochelle memberikan warna, sementara rancangan Hazel memberikan bentuk dan struktur. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah simfoni visual yang akan memukau siapa saja yang melihatnya.
Di antara jeda-jeda pemotretan, Hazel dan timnya berdiskusi tentang berbagai pose dan ekspresi yang akan menampilkan produk dengan cara terbaik. Mereka tertawa dan berbagi ide, menciptakan suasana kerja yang produktif dan menyenangkan.
Ketika hari beranjak siang, mereka telah mengumpulkan serangkaian foto yang menakjubkan. Hazel merasa bangga melihat hasil kerja kerasnya—bukan hanya sebagai model, tapi juga sebagai desainer—dihargai dan diwujudkan dalam bentuk yang begitu mempesona.
Pemotretan hari itu bukan hanya tentang pekerjaan atau kolaborasi bisnis; itu adalah perayaan dari dua merek yang berbeda yang datang bersama untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar unik dan indah. Dan bagi Hazel, itu adalah pengingat bahwa, meskipun hatinya mungkin terasa berat, dia masih memiliki banyak hal yang bisa dirayakan dan disyukuri.
Setelah pemotretan yang memukau, Hazel melepas gaunnya dan menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman. Dia baru saja duduk untuk mengambil napas sejenak ketika Jen mendekatinya dengan ekspresi yang tercampur antara kebingungan dan antisipasi.
"Hazel, ada yang ingin bertemu denganmu," kata Jen, sambil memeriksa ponselnya. "Claire, asisten model terkenal dari Paris."
Hazel mengernyitkan dahi, terkejut dengan permintaan yang tidak terduga itu. "Claire? Apa yang dia inginkan dariku?" tanyanya, rasa penasaran mulai menggantikan kelelahannya.
Jen mengangkat bahu, "Aku tidak yakin, tapi dia sangat ingin bertemu denganmu. Dia bilang itu penting. Alexa Walter ingin bertemu denganmu secara langsung"
Hazel menatap Jen dengan tatapan yang sulit diartikan. Nama "Alexa Walter" bukan hanya sekedar nama dalam industri fashion; itu adalah nama yang membawa kembali kenangan pahit dari masa lalu Hazel. Ada cerita yang belum terselesaikan, ada luka yang belum sembuh, dan sekarang, nama itu muncul lagi, mengguncang fondasi yang telah dia bangun dengan susah payah.
Jen memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Hazel. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan kekhawatiran.
Hazel mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Ya, aku baik-baik saja," jawabnya, meskipun suaranya bergetar sedikit. "Ini hanya... Alexa Walter adalah bagian dari masa lalu yang kutinggalkan."
Jen mendekat, menaruh tangan di bahu Hazel. "Kamu tidak harus melakukan ini jika kamu tidak siap," katanya dengan lembut.
Hazel menggelengkan kepala. "Tidak, ini adalah kesempatan yang tidak bisa kulewatkan. Aku harus melakukannya, tidak hanya untuk karierku, tapi juga untuk memulai. Jadwalkan pertemuan itu pagi-pagi."
Hazel tahu bahwa Alexa bukanlah morning person dan dia menggunakan kesempatan itu untuk memberikan sedikit gangguan kepada Alexa. Tidak mungkin dia akan menolak karna pertemuan ini diminta olehnya.
Jen mengangguk dan segera mengatur pertemuan tersebut. Pertemuan itu diatur di sebuah kafe kecil yang nyaman, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota.
Pagi hari..
Hazel tiba lebih awal di kafe yang berjejer di jantung kota Paris, tempat yang telah dipilih untuk pertemuan penting dengan Alexa. Udara pagi masih segar, dan jalanan kota Paris mulai ramai dengan aktivitas harian. Kafe itu sendiri adalah sebuah permata yang tersembunyi, dengan dekorasi yang elegan dan suasana yang nyaman, sempurna untuk percakapan yang tenang dan pribadi.
Duduk di meja sudut yang terpencil, Hazel menyesap kopi panasnya, menikmati aroma khas yang hanya bisa ditemukan di kafe-kafe Paris. Dia memandang keluar melalui jendela besar yang menghadap ke jalan, mengamati orang-orang yang lalu lalang dengan terburu-buru, masing-masing tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
Hazel merenung, pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang apa yang akan dibicarakan Alexa. Apa yang membuat pertemuan ini begitu penting?
Saat menunggu, Hazel memperhatikan detail-detail kecil di sekitarnya—cara cahaya pagi menyinari permukaan meja, bunyi cangkir yang diletakkan pelan oleh pelayan, dan melodi lembut dari musik Prancis yang mengalun di udara. Semua ini memberikan kenyamanan, meskipun di dalam hatinya ada sedikit kegugupan.
Waktu berlalu, dan Hazel hampir menyelesaikan kopi keduanya ketika dia melihat sosok Alexa yang mendekat. Dengan langkah yang pasti dan penuh gaya, Alexa memasuki kafe, menarik perhatian beberapa pengunjung dengan kehadirannya yang memancarkan aura bintang.
Alexa melihat Hazel dan tersenyum, sebuah senyum yang tampaknya menyembunyikan banyak cerita. "Maaf membuatmu menunggu," katanya saat duduk di hadapan Hazel.
Hazel menggelengkan kepala, "Tidak masalah, aku senang bisa datang lebih awal dan menikmati pagi di Paris."
Alexa mengangguk, matanya menatap Hazel dengan intensitas yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. "Hazel, aku ingin kita berbicara tentang sesuatu yang sangat penting."
Hazel menatap Alexa, hatinya berkecamuk dengan emosi yang bertentangan. Di depannya berdiri sumber dari luka-luka masa lalunya, namun Alexa sendiri tampaknya tidak menyadari bahwa Hazel adalah Hana, teman lamanya dari Elite Academy. Sikap arogan Alexa tidak berubah, seolah waktu tidak pernah mengikis keangkuhannya.
"Kau tahu, Hazel," Alexa mulai dengan nada yang mengandung tantangan, "Aku selalu bertanya-tanya tentangmu. Kepopuleranmu yang tiba-tiba, gayamu yang unik, semuanya begitu... misterius. Apakah itu semua hanya untuk menarik perhatian, atau ada sesuatu yang lebih?"
Hazel menelan ludah, berusaha keras untuk menjaga ketenangannya. "Kepopuleran tidak pernah menjadi tujuanku, Alexa. Aku hanya menciptakan sesuatu yang berarti, sesuatu yang bisa berbicara tentang siapa aku sebenarnya," jawabnya dengan suara yang tenang namun tegas.
Alexa tertawa ringan, "Oh, tentu saja.” Alexa menatap Hazel dengan tatapan yang penuh keangkuhan, seolah-olah dia adalah ratu yang memandang rendah seorang pesaing yang tidak sepadan.
"Hazel," katanya dengan suara yang dingin dan tajam, "kau mungkin berpikir bahwa kau telah mencapai sesuatu dengan semua desainmu yang baru-baru ini mendapat perhatian. Tapi jangan salah paham, kau masih jauh di bawahku."
Hazel merasakan pukulan kata-kata itu, tapi dia tidak membiarkan dirinya terintimidasi. "Alexa, ini bukan tentang siapa yang di atas atau di bawah," jawab Hazel dengan tenang. "Ini tentang seni, tentang menciptakan sesuatu yang indah dan berarti."
Alexa tertawa, suara tawanya menggema di ruangan itu. "Seni? Kau pikir ini hanya tentang seni? Ini adalah bisnis, Hazel. Dan dalam bisnis, hanya ada satu yang bisa berada di puncak. Dan itu akan selalu aku."
Hazel menarik napas dalam, memilih untuk menahan diri dan tidak terlibat dalam permainan kekuasaan Alexa. "Aku tidak tertarik untuk bersaing denganmu, Alexa. Jika itu berarti berada 'di bawahmu', maka biarlah. Aku puas dengan apa yang aku lakukan dan dengan siapa aku."
Alexa memandang Hazel dengan rasa tidak percaya, seolah-olah tidak mengerti bagaimana seseorang bisa begitu tenang menghadapi tantangannya.
kgn phpin aku dong
tpi jgn senang dulu hazel krna ada penguntit...alexa...yg udh mo susun rencana buat ancurin kmu...hzel....
kn udah smpe hazel plng ke paris ma lagi audisi pra prncang baru kn mak..nah lok..ngopo blik lagie ke cini
cumn beda y rebe di grebek ma pcr y lok yg dulu cumn krna narkoba tpi gk ma pcr nya..mak...