Serly terpaksa memilih menjadi peramu nikmat, lantaran ia tak sanggup lagi menahan sesaknya kemiskinan yang mencekik dirinya dan keluarga. Ia tak sanggup melihat sang Ibu harus membanting tulang demi menghidupkan dirinya dan satu orang adik.
Hinaan, caci maki, umpatan, dan telinga yang sering kali mendengar suara perut menjadi sahabat dalam hidupnya.
Meninggalnya sang ayah hanya meninggalkan hutang yang menggunung. Serly harus melunak dengan kerasnya hidup. Yang ia miliki hanya paras yang cantik, kondisi tubuh yang begitu berisi dan proporsional dengan tinggi badanya, hingga lekukan dalam dirinya begitu terlihat aggun.
Tak ada pilihan lain, terpaksa demi berlangsungnya hidup ia memilih untuk berprofesi yang bertentangan dengan apa yang ibu ajarkan.
"Dan mereka memanggil aku perempuan pengoda,"
Babak baru dalam hidup kini dimulai.
Terimakasih dukungan semua dengan meninggalkan vote, like dan komen. Sehingga kami terus bisa berkarya.
__________Sepenggal Kisah________
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emha albana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maen Sikat Aja!
Asli gw nggak tahu harus memulai pembicaraan darimana, baru kali ini gw battle sama cowok keren, Arab punya bestie...
Moga si Nita agak lama ngambil tas-nya, biar gw bisa nikmati wajah nya yang rupawan. Nggak kebayang kalo sampe gw di tikam dia, Body tinggi, suspect, mirip Larry Bird pembasket dunia, gw mulai salah tingkah, duduk gw udah nggak tenang dan dada berdebar kencang, entah siapa yang akan memulai pembicaraan, semoga aja loh duluan yang mulai obrolah, gw itung sampai tiga, 1....2....3....
Nah, bener aja kan, dia mulai speak-speak babi, pasti yang dia akan tanya.
"Temen sekelas Nita yah? "
"Tinggal di mana?!"
"Udah lama kenal Nita?! "
"Udah punya cowok?!"
Kita liat yah, kata pertama apa yang akan keluar, makin deg... deg-an aja gw.
"Kamu cantik." Wah, dugaan gw salah, justru kata yang keluar pertama itu rayuan buaya darat, hahaha... Gw suka ini, mainkan Sher...
"Bisa aja, orang cantikan Nita kemana-mana kallliiiii.... " Jawab gw ketus.
"Asli kamu juga cantik."
"Udah berapa banyak cewek yang kamu gombalin?" Owwweeek, muak gw dengernya.
"Hey aku nggak biasa gombal kaliii.... "
"Iyaaaa ajaaaa, biar cepet. "
"Hey, am seriously... "
Duh, pake bahasa Arab lagi ngomongnya, eh bahasa Inggris yah?!
"Bisa nggak kalo ngomong, nggak usah campur-campur western gitu?! "
"Oh, ok... sorry... "
"Maaf, bukan sorry. "
"Oke, kamu udah punya cowok?! "
"Apa cowo? Makhluk apa sih cowok?! "
Bagi gw nggak ada istilah cowok atau pacar, yang pasti gw tahu arah omongannya, pasti ngejurus ke urusan hati, maaf deh, udah cukup gw liat temen-temen gw yang cuma diiming-imingin cinta, terus bisa dipake seenaknya.
Di otak gw, bagaimana gw bisa ngeduitin nih cowok yang sok-sok an kebarat-baratan.
"Ngomong-ngomong kamu kuliah apa kerja?"
"Kerja, dan ada beberapa usaha keluarga yang aku pegang."
"Usaha apa?" Gw mulai kepo.
"Spare part mobil sama showroom."
"Wih keren yah, masih mudah udah ada usaha."
"Ah banyak kok sekarang anak muda yang punya usaha, kalo aku sih cuma nerusin usaha keluarga aja."
"Yah, seenggaknya lebih mandiri aja."
"Iya juga sih, tapi masih banyak belajar."
"Baguslah, aku suka cowo yang mandiri dan bertanggung jawab."
"Berarti kamu suka aku dong?! "
Duh keceplosan pula, terlalu cepet ngeloby gw. To the point banget sih gw....
"Yaaah, siapa juga yang nggak suka punya cowo keren dan mandiri." Terlanjur nge-gombal, gw gombalin balik aja.
Lagi enak-enaknya ngobrol, Nita kenapa siih loh harus buru-buru ngambil tas-nya, kepotong juga deh obrolan gw sama si Ocid.
"Eh, loh gombalin sepupu gw yah?"
"Apaaan sih elo?! Justru sepupu loh noh yang gombalin gw, tanya aja dia. "
"Susah sama-sama pemaen mah." Ketus Nita.
"Nit, kamar mandi dimana?" Gw coba mengalihkan pembicaraan dan pandangan gw ngelirik ke arah Rasyid, untuk paham maksud gw.
"Lu lurus aja, deket dapur sebelah kanan."
Gw langsung ke kamar mandi, dan syukurnya Rasyid menerima sinyal yang gw maksud dan nggak lama dia juga nongol di depan pintu kamar mandi.
"Eh, aku minta no kamu dong, boleh? "
Duilaaah, ngebet banget nih cowok, sengaja gw buka dua kancing baju gw, biar dia tambah halu.
"Nomor bra aku apa nomor rekening...?!hahaha... " speak-speak tipis.
"No handphone maksud aku."
"Oooh kirain no bra aku."
"Bisa aja kamu. "
Gw kasih nomor handphone gw, biar bisa lanjut maen di luar.
"Kapan kamu ada waktu?"
"Kapan kamu mau, aku ada waktu aja, asal jangan bentrok sama jam sekolah, maklum pela*ur, eh pelajar maksudnya. "
Gw mulai goyang-goyang erotis manja dikit, sambil maenin kancing baju, biar dia tambah melehoy, alias meleleh.
"Kalo besok bagaimana?"
"Liat nanti yah, emangnya mau kemana?"
"Makan atau nonton?! "
"Ah, terlalu biasa kalo cuma makan sama nonton mah.... "
"Terus kemana? "
"Ke tempat dimana cuma ada kamu sama aku aja bagaimana? "
"Maksud kamu?"
"Hoteeel.... " Bisik gw sambil meninggalkan tuh cowok, belom sempet dia jawab gw langsung cabut, biar dia agak penasaran, lagi juga dia udah punya nomor handphone gw. Tinggal nunggu seberapa beraninya dia, kalo memang rezeki nggak akan kemana dan gw punya pelanggan baru.
Selagi mau mulai ngerjain tugas, Nita tiba-tiba menghilang, dan muncul ngenalin gw sama cowo baru-nya.
"Sher, kenalin Bimo, cowo gw. "
Gw ngulurin tangan dan memperkenalkan diri, "Sherly."
Gila, cepet banget si Nita dapet cowok, lepas dari Yoga sekarang punya cowo baru, apa nggak nyeles sudah lepas keperawanan terus giliran sekarang icip-icip cowo baru.
Alamat bukan ngerjain tugas ini mah, malah jadi ajang unjuk kebolehan. Malah nyokap-bokap si Nita dua-dua nya kerja, rumah sebegini gedenya, sepi lagi.
Asli gw dibuat mupeng sama kelakuan mereka yang lagi bucin-bucinya, Nita cuek banget di depan gw pake acara cium-ciumin tuh cowok, ampun dibuat cenat-cenut gw.
"Sher, loh lanjut kerjain tugas dulu yah, gw biasa.... " Dengan lirikan nakalnya, gw ditinggal sendirisendiri, Nita dan Bimo masuk ke kamar, apa lagi kalo bukan hoe... hoe.
Gabut banget gw, ditinggal sendirian, keliatannya keluarga Nita emang bar-bar, bahaya kalo sampe si Rasyid dateng, bisa-bisa gw di siangin juga, ikan kali ah... disiangin.
Bener aja dugaan gw, si Rasyid pake acara balik lagi.
"Nita kemana Sher?! "
"Biasa masuk kamar sama cowo baru-nya. "
"Waaah, enak banget! "
Hellooooo, liat sepupu loh em-el loh anggap biasa, pake ngomong enak?! Waaaah, bener-bener keluarga yang aneh.
"Emang kamu nggak pengen kaya Nita??! "
Haaah! Maksud loh?! Gw harus maen sama elo gtu?! Rasa curiga gw muncul, pasti dua-duanya sama-sama 'stres' juga.
Sumpah alamat nggak beres, kalo cowok dah ngomong kaya begini, sampe kejadian, sumpah paling susah gw nolak...Hahaha...Asal ada duitnya...
Rasyid mulai deketin gw, dan semakin rapet, aduh pake mepet-mepet gw segala nih cowok, malah badannya wangi banget.
Dia mulai nyentuh punggung, gw sedikit nolak, jangan keliatan murahan juga.
"Eits, tunggu dulu maen nyosor aja kamu." Keliatan banget kalo dede-nya si Rasyid udah naik-turun.
"Aku mesti bayar berapa biar bisa maen sama kamu?!"
"Yakin sanggup bayar? Mahal loh! " Gw langsung pasang tarif.
"Berapa?"
"5 Juta, mau? Hahaha... "
Dia mulai ngegerayangjn leher, dan pura-pura belai rambut gw, kontan gw ikut larut ketika nafasnya nyentuh telinga.
"Bener 5 juta?"
"Yah, 5 juta, ada? Tapi bisa jaga rahasia?! Jangan sampe Nita tau, mau?! "
Rasyid agak mikir untuk angka yang gw sebutin, kalo pun deal, gw pasti buat dia seperti si Bandot Tua.