Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband Is (Not) My Idol

My Husband Is (Not) My Idol

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:34.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dyas Haneen

⚠️ DILARANG BOOM LIKE🙂

Alana Mentari terpaksa menerima perintah dari atasannya untuk menjadi asisten pribadi dari seorang idola terkenal, Damian Abiyasa Abraham. Idola yang ternyata memiliki kebiasaan buruk dan membuat siapapun enggan bekerja bersama. Hal itu tentu membuat kehidupan Alana yang semula damai dan tentram menjadi penuh tantangan.

Kehidupan Alana semakin rumit tatkala sang ibu menjodohkannya dengan seseorang yang ternyata adalah Damian juga. Karena tak berani melawan orang tua akhirnya Alana dan Damian setuju untuk menikah, hanya saja dengan sebuah syarat, Damian tak mau berita pernikahannya itu tersebar ke media dan membuat fans kecewa. Apalagi semua orang tahu jika Damian akan bertunangan dengan kekasihnya.

Akankah kehidupan pernikahan Alana membaik seiring berjalannya waktu? Atau hancur di tengah jalan?

Baca kisah selengkapnya hanya di "My Husband is (not) My Idol".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyas Haneen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Alana yang Lemot dan Bawel

"Jadi ..." Nara menggantungkan kalimatnya. Sebelah alisnya terangkat bersamaan dengan senyuman misterius yang terpancar.

Dahi Alana mengernyit, sama sekali tak paham akan ucapan sang sahabat. "Jadi apa?"

Bersahabat lama dengan perempuan itu, selalu saja membuat Alana seperti sekarang, kebingungan. Jika bicara, Nara ini selalu menyelipkan kode-kode di setiap kalimatnya. Masih baik jika itu kode morse, setidaknya Alana bisa mengartikan walaupun dengan bantuan internet. Sementara kode dari Nara, sangat sulit diterjemahkan. Tak ada rumusnya juga tak ada kejelasan.

Nara seperti tak tahu saja sahabatnya ini lemot-nya bisa sampai tujuh turunan. Ketika orang lain sudah fasih sampai bab sepuluh, maka Alana masih berada di bab satu. Tak bisakah Nara bicara langsung pada topik utama?

"Jadi, bener kan apa kata gue?" ucap Nara lagi, tersenyum diakhir kalimatnya.

Alana menarik napas panjang, sebelum akhirnya dibuang kasar. Bersamaan itu, ia menggaruk asal kepalanya. "Apa sih, Ra? Lo mau ngomong apa?"

"Yaelah, Na, Na. Masih belum paham juga? Padahal dari tadi yang kita bahas cuma suami lo." Melihat Alana di layar ponsel justru memiringkan kepala, rasanya membuat Nara ingin menangis---menangisi Alana yang sejak dulu sampai sekarang tak mengalami perkembangan dalam tingkat kepekaan. "Lo cinta dia, kan?"

Alana membasahi bibirnya. Beberapa detik kemudian mengangguk kecil. "Tapi gue tuh nggak mau jatuh cinta sama dia, Ra."

"Ya mau gimana lagi, Na, kita kan nggak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa. Namanya juga hati, pasti selalu bertindak nggak sesuai sama keinginan kita." Nara kemudian mengambil napas panjang sebagai ancang-ancang kalimat selanjutnya. "Saran gue, lo nggak perlu bingung perasaan itu harus dihapus apa enggak, ikutin aja apa kata hati. Kalo hati lo bilang nggak mau, ya berarti lo harus perjuangin cinta lo dong."

"Tapi kalo lo tetep nekat buat hapus, hasilnya pasti bikin kecewa. Perasaan lo ke dia pasti nggak bakalan ilang, yang ada malah tambah besar." Nara memberikan jeda beberapa saat. "Jadi dibawa santai aja, Na, lo sendiri juga kan yang bakal ngerasain bahagianya."

Alana tak langsung menjawab, perempuan itu justru memijat pelipis kanannya serta dengan bibir yang menghadap bawah. "Rumit banget deh hidup gue."

"Perasaan mau diungkapin nggak ke dia?" celetuk Nara begitu saja.

Alana membuka matanya lebar. Tak percaya jika kalimat tersebut muncul dari mulut sang sahabat. "Nggak, lah. Nggak mungkin. Yang ada nanti gue kena amuk. Kalo dia ngambek terus diemin gue ... kan gawat."

"Jadi lo milih buat mendem?"

"Iya," balas Alana seraya mengangguk lemah.

"Semangat ya!" Nara menunjukkan telapak tangan yang sudah mengepal ke layar. "Gue tahu mendem perasaan itu nggak enak. Kalo ada apa-apa pokonya langsung bilang ke gue ya, nanti gue bantu cari solusi."

Sementara itu, Alana menoleh sekitar. Ia baru menyadari jika sejak tadi Damian tak menampakkan batang hidungnya. Padahal hari ini Alana sengaja mengosongkan jadwal laki-laki itu. Alana merasa Damian perlu mengistirahatkan tubuh mengingat besok pagi akan melakukan perjalanan jauh.

"Iya, iya, big thanks buat support-nya," balas Alana lesu. Sikapnya terkesan seakan tak suka pada saran Nara, namun sebenarnya ia sangat menerimanya dengan baik. "Tapi sorry, gue matiin sekarang, ya."

"Loh, kenapa? Lo---" ucapan Nara terputus sebelum dirinya sempat menyelesaikan kalimat. Alana mengakhiri sambungan video call secara sepihak.

Sedangkan di sisi berlainan, suara musik terdengar sangat keras di ruangan seluas tujuh kali enam meter persegi. Hari ini kegiatan Damian masih sama seperti kemarin. Bedanya kali ini, laki-laki itu memilih untuk latihan personal di studio dance pribadi yang ada di rumahnya. Terkesan membosankan, namun memang seperti itu kegiatannya akhir-akhir ini.

Berkali-kali Damian berdecih tatkala merasakan bagian tubuhnya sedikit berat saat menggerakkan potongan tarian. Terlihat pula dari pantulan di dinding cermin jika gerakan dance yang diperagakannya masih sangat kaku. Kendati sudah empat jam lebih Damian latihan khusus untuk gerakan tersebut, namun sepertinya tak ada sedikitpun kemajuan.

Maka dari itu sejak dulu Damian tak menyukai dance, tubuhnya selalu menolak untuk melakukannya.

Akhirnya Damian sadar, rasa lelah perlahan menggerogoti tubuhnya. Sontak dirinya tak bisa mengatur napas yang kini berhembus kasar dan cepat. Permukaan kulitnya pun merasakan ada banyak cairan halus yang mengalir dengan angkuh tanpa perintah.

Damian memilih untuk merebahkan tubuhnya di lantai dengan kedua tangan yang direntangkan. Sang netra seketika menyipit tatkala sorotan cahaya lampu tepat di atas kepala mengenai dirinya.

Tak lama pintu terbuka, menampilkan Alana yang langsung menatap Damian dengan tajam. Namun di sana juga menyiratkan setitik rasa tak tega. Apalagi setelah melihat banyaknya perban elastis yang menempel di beberapa bagian tubuh Damian---tangan dan kakinya.

Kehadiran Alana sama sekali tak disadari oleh Damian. Laki-laki itu kini tengah fokus mengatur napas dengan netranya yang terpejam. Sementara pikirannya berputar, mengapa perusahaan harus menuntutnya untuk bisa dance? Apa menyanyi saja tak cukup?

"Mas Ian," panggil Alana.

Suara Alana datang bersamaan dengan suara musik yang telah usai, Damian sontak menoleh. Perlahan ia bangun dan duduk. Matanya mengikuti pergerakan Alana.

"Alana, apa kamu datang untuk mengantar pisang?" tanya Damian penuh harap serta mata yang berbinar.

Damian menanyakan bukan karena pisang adalah buah favoritnya, melainkan karena belakangan ini ia memang lebih sering mengonsumsi buah tersebut. Pisang sendiri sangat berguna dalam pemulihan otot sehingga dirinya bisa mendapat energi yang baru dengan cepat. Damian pun bisa latihan hingga seharian.

Selain itu, pisang juga dijadikannya sebagai menu wajib dalam menerapkan program diet yang tetap berjalan. Buah ini memiliki tinggi serat dan potasium. Kedua kandungan tersebut mampu menimbulkan efek kenyang yang lebih lama ketika dikonsumsi, sehingga Damian tak perlu repot-repot mengisi tenaga dengan makan nasi.

"Sayangnya bukan," balas Alana seraya tersenyum manis. Namun, seketika ekspresinya langsung berubah datar. "Lo bandel banget ya, udah gue bilang hari ini lo istirahat total. Badan lo nggak boleh kecapean, tau sendiri besok---"

"Iya, iya. Nggak usah bawel, saya juga udah selesai latihannya."

Alana lantas mencengkeram rahang Damian. Menolehkan paksa ke kanan dan ke kiri sembari matanya menelisik tiap inci wajah tampan itu. "Kantong mata lo gede banget sumpah. Ini emang hal sepele, tapi bikin muka lo jadi nggak ganteng lagi."

"Serius?" Damian membelalakkan matanya.

Alana mengangguk sekali. "Iya, serius."

Damian melepaskan tangan Alana dari rahangnya Kemudian, beranjak. Namun belum genap ia berdiri, napasnya seketika kembali memburu serta pandangannya berkunang-kunang. Keadaan semakin bertambah parah tatkala kakinya mendadak lemas, seakan tak mampu menahan beban tubuhnya. Hingga akhirnya Damian pun terhuyung. Beruntung di sana ada Alana yang menahannya agar tak terjatuh.

Perempuan itu melingkarkan tangan Damian di pundaknya. "Nah, kan! Ngeyel sih dibilangin!" Alana melirik Damian dari ujung matanya. "Lo masih kuat nggak buat naik tangga?"

"Sepertinya nggak kuat."

"Halah, nggak usah lebay!"

Alana dan Damian lantas berjalan beriringan untuk keluar studio dance. Namun baru dua langkah, seketika Alana berhenti. Damian yang bergantung pada sang istri, tentu mengikuti.

Atensi Alana tak bisa beralih pada saku celananya yang bergetar. Buru-buru ia mengeluarkan ponselnya. Dengan jelas terlihat, layar menampilkan ada panggilan masuk dari nama seseorang yang dikenalnya.

"Telepon dari siapa, Alana?" tanya Damian penasaran.

"Dari ...."

...Bersambung!...

1
Yumie Ayumia Atashi
ngakak sm karakter damian/Facepalm/
Yumie Ayumia Atashi
ceritanya cukup menarik. semangat ya kak/Smile/
dah suka² si dam dam aja dah🤣
uhuk²🤣🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀
🤣🤣🤣🤣🤣
seperti nya akan pecah itu record🤣
eitsss maen kampungan aja🙄
uluh uluh🤧🤧🤧
serba sensi yak si dam dam🤭
yalloh parah🤣
gampang drop si dam
🤣🤦‍♀
si tukang nyusahin🤣
laper begete pasti🤧
si dam dam ternyata somplak🤣
alana gak butuh pedang kan buat ngadepin si dam dam?😂
yalloh🤣🤣🤣🤣
dudududuhhh💃💃💃🤭
alana yg di tabrak😱
kendaraan dulu yg di pikirin🤣🤦‍♀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!