Ketika cinta tumbuh kepada yang tidak seharusnya. Apakah ini sebuah kebenaran atau salah satu kata sesat? Mencintai siapa pun, itu mungkin hak semua manusia. Namun, bagaimana jadinya jika cinta itu tumbuh kepada musuh negaramu sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu Zeefanca
Qaseem dan timnya sampai di markas mereka. Mereka semua mendapatkan sambutan yang hangat dari beberapa penjaga markas itu. Tidak lupa berucap syukur atas keselamatan kepada teman mereka.
Qaseem melangkah mendahului yang lainnya. Mencoba mencari keberadaan Zeefanca. Perasaan yang sulit di artikan. Apakah ada rindu atau hanya sekedar penasaran dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu.
Qaseem melangkah mendekati ruangan pribadinya. Seketika itu seorang wanita keluar dari ruangannya. Qaseem memperhatikan wanita yang terlihat berbeda itu. Sehingga wanita itu berhadapan dengan Qaseem. Menatap Qaseem dengan wajah penuh kegembiraan.
"Qaseem." Teriaknya
"Zeefanca?" Ucap Qaseem lirih
Zeefanca berlari selayaknya anak kecil, senyum tulus terlukis di bibirnya. "Qaseem." Ucapnya seraya melompat ke pelukan Qaseem
Qaseem yang kaget hampir terjatuh menahan tubuh Zeefanca. "Ya Allah, Zee." Ucapnya dengan suara kaget
Zeefanca terkekeh dan memeluknya kembali. "Saya merindukan, Qaseem." Ucapnya lirih
Qaseem menerima pelukan hangat dari Zeefanca. "Dari mana pakaian ini?" Tanya Qaseem yang memerhatikan pakaian yang di gunakan oleh Zeefanca
"Mereka yang memberikan ini kepada saya. Emm, maksudnya saya yang menyuruh mencarinya." Ucap Zeefanca seraya tersenyum nyengir
Qaseem mengerutkan dahinya. "Sudah mengerti cara berpakaian yang baik ya." Ucap Qaseem yang merasa bangga dengan perubahan Zeefanca
"Saya belajar lewat buku di laci." Sahut Zeefanca seraya menggandeng Qaseem untuk kembali ke ruangan pribadinya
"Kamu, membongkar laci saya?" Tanya Qaseem dengan serius
Zeefanca mengangguk dan tersenyum, kemudian mengambil beberapa buku yang sering dia baca belakangan ini. Memberikan beberapa buku itu kepada Qaseem. Termasuk foto wanita yang dia lihat.
"Saya melihat wanita ini, jadi saya ikutin saja gayanya. Tapi saya tidak mengerti cara menutup wajahnya." Ucap Zeefanca yang terlihat kebingungan itu
"Nanti akan saya ajarkan caranya." Ucap Qaseem
Zeefanca tersenyum memandang wajah tampan yang selalu dia rindukan itu. "Apakah, Qaseem berpuasa hari ini?" Tanya Zeefanca
Qaseem mengangguk. "Puasa Kamis, Zee. Apa, kamu, tidak berpuasa hari ini?" Tanya Qaseem balik
"Saya sudah mencoba beberapa kali. Sesuai yang di ajarkan mereka. Tapi saya masih belum sanggup, apakah tidak apa-apa?" Tanya Zeefanca dengan wajah murung
"Tidak apa, nanti akan terbiasa dengan sendirinya. Hebat, kamu, sudah mau berusaha." Sahut Qaseem tersenyum
Zeefanca tersenyum nyengir memandang Qaseem. "Saya sudah menghafal yang, kamu, suruh. Ingat janji?" Ucap Zeefanca dengan senyum liciknya
"Janji apa, Zee?" Tanya Qaseem heran
"Janji akan menuruti kemauan saya." Ucapnya tersenyum nyengir
Qaseem menghela nafasnya dan tersenyum. "Baiklah, kamu, mau apa?" Tanya Qaseem yang ingin menuruti kemauan Zeefanca
"Selama dua Minggu pernikahan kita, Qaseem, belum pernah mencium saya." Ucap Zeefanca
Qaseem melotot dan akhirnya terkekeh mendengar ucapan Zeefanca. "Hanya itu?" Tanya Qaseem lagi yang mendapat anggukan oleh Zeefanca
Qaseem menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum lagi dan lagi. Entah mengapa Qaseem merasa ini adalah hal yang sangat lucu baginya. "Kamu, tahu saya sedang berpuasa saat ini?" Ucap Qaseem
"Emangnya kenapa?" Tanya Zeefanca
Qaseem mencoba menjelaskan sesuatu kepada Zeefanca. "Takutnya akan ada maksud lain. Apakah tidak apa-apa menunggu sampai malam tiba?" Tanya Qaseem balik
Zeefanca mengangguk dan kembali tersenyum. "Oke, maaf saya tidak memahami itu." Sahutnya dengan tersenyum nyengir
"Tidak apa-apa." Ucap Qaseem mengelus kepalanya Zeefanca
"Sudah waktu ashar. Apakah kita bisa sholat berjamaah lagi?" Ucap Zeefanca dengan sedikit memohon
"Baiklah, tapi nanti saya akan lebih sering bersama mereka. Itu pun jika, kamu, sudah lancar melakukan sendiri." Jelas Qaseem
"Oke." Sahutnya
Mereka berdua sholat berjamaah untuk yang kedua kalinya. Mungkin beberapa hari ini mereka akan menghabisi waktu bersama. Atau mungkin, ini adalah malam terakhir?
Sesuai janji Zeefanca, setelah mereka sholat Zeefanca sendiri yang akan memasak untuk mereka semua. Sedangkan Qaseem hanya melihat dan mengobrol kepada temannya yang lain.
Beberapa dari mereka membantu Zeefanca untuk membuat makan malam mereka. Zeefanca sendiri terlihat begitu semangat. Pertama kalinya Zeefanca akan memasak makanan untuk suaminya itu.
Suami yang selalu membuatnya jatuh cinta. Suami yang dulunya mampu membuat Zeefanca mengorbankan dirinya sendiri.
Hari semakin sore, mereka menyusun makanan itu dan bersiap untuk sholat Maghrib berjamaah. Sedangkan yang beragama lain hanya menunggu mereka selesai ibadah.
Zeefanca sendiri sholat sendiri di ruang pribadi Qaseem. "Alhamdulillah." Ucapnya
"Sudah selesai?" Tanya Qaseem yang baru selesai sholat berjamaah dengan temannya
"Saya ambilkan makan malam." Ucap Zeefanca yang kembali keluar dari ruangan itu
Qaseem mengangguk dan menunggu Zeefanca kembali dengan makanan yang dia masak untuk Qaseem.
Tidak lama menunggu, Zeefanca akhirnya datang membawa makanan di nampan. Mencoba membuka pintu ruangan itu dengan bersusah payah. Begitu pun dengan menutup pintu itu pula.
Setelah merasa pintu tertutup rapat, Zeefanca kembali melangkah untuk meletakkan makanan itu di atas meja. Namun, Zeefanca terdiam dan melotot memerhatikan Qaseem.
Memerhatikan tubuh yang tanpa baju itu. Zeefanca menelan ludah melihat tubuh suaminya sendiri. Apakah itu terlihat lezat menurutnya?
Qaseem berbalik arah dan ikut terbengong menatap Zeefanca yang berdiam diri memerhatikan dirinya. Qaseem melangkah mendekati Zeefanca, mengambil alih nampannya dan meletakkannya di atas meja.
Zeefanca tersadar dengan ulah Qaseem, kemudian mengikuti langkah Qaseem. "Kenapa tidak pakai baju?"ucap Zeefanca bertanya dengan heran
"Mengganti pakaian. Emang ada yang salah? Kenapa, kamu, terbengong?" Tanya Qaseem balik
"Oh, itu ... Tidak ada." Ucap Zeefanca yang menyusun makanannya untuk Qaseem
"Saya ingin memakannya. Apakah enak?" Tanya Qaseem seraya memerhatikan makanan itu
"Belum ada yang mengatakan masakan saya tidak enak." Sahut Zeefanca
Qaseem mengangguk, kemudian membaca doa dan menyicipi masakan Zeefanca. "Apakah ini masakan negara kalian?" Tanya Qaseem
"Masakan keluarga sih lebih tepatnya." Sahut Zeefanca
"Ini enak." Ucap Qaseem seraya mengunyah makanan itu
Zeefanca memperhatikan Qaseem yang makan dengan lahapnya. Kali ini Zeefanca sudah bisa menguasai lambungnya. Dan tinggal beberapa lagi yang belum bisa di lakukan oleh Zeefanca.
Di sela-sela kunyahan itu, mata Zeefanca masih tidak fokus dengan apa yang dia makan. Melainkan fokus dengan tubuh yang berada di hadapannya itu.
"Qaseem." Ucapnya
"Hemm?" Qaseem menaikkan sebelah alisnya seraya mengunyah kembali
"Apa, kamu, terbiasa bertelanjang dada begitu?" Ucap Zeefanca yang menatap Qaseem. "Maksudnya, saya ...."
"Kenapa?" Tanya Qaseem yang memerhatikan kegugupan Zeefanca
Qaseem menenggak air mineral di hadapannya. "Cepat habiskan, Zee. Sebantar lagi waktu Isya." Ucap Qaseem
"Hem." Zeefanca kembali melanjutkan makan malamnya sampai selesai
"Banyak hal yang ingin saya kataka dengan, kamu." Ucap Qaseem
"Baiklah, selesai isya?" Sahut Zeefanca yang bertanya dan di balas anggukan oleh Qaseem
Selesai makan malam, Zeefanca membereskan alat makan mereka. Kemudian bersiap untuk sholat isya sendirian. Karena Qaseem akan menjadi imam untuk temannya yang lain.
next semngt sukses selalu