Karena takhayul yang dipercaya orang tuanya, Rain terpaksa menjalani pernikahan yang tak ada cinta di dalamnya bersama Lee Seulbi, wanita yang sangat dia benci sedari kecil. Tapi di balik itu, Seulbi punya tujuan lain dalam pernikahan itu.
Keduanya harus bertahan sampai selama satu tahun, sesuai isi perjanjian kontrak yang dibuat kedua orang tua Rain yang punya kepercayaan perdukunan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Teman-temannya Seulbi di divisinya bingung dan terus saling melempar pandang.
Kubikel Seulbi berulang kali ditatap mereka dengan perasaan tak tenang. Kursinya masih kosong, pemiliknya belum juga datang setelah waktu tepat masuk kerja terlewat satu jam lalu.
Sehubungan dengan kejadian semalam di kedai seafood, mereka jadi cemas dan mulai berasumsi yang tidak-tidak.
"Apa dia dibawa Pak CEO? Kudengar beliau juga belum datang sampai sekarang?" Si paling centil mengemukakan asumsinya.
"Bisa jadi." Satu menyetujui. "Nona Lee kan cantik. Wanita-wanita yang dibawa Pak Shin saja kalah jauh darinya."
"Entahlah."
"Aku jadi cemas. Semoga dia tidak jadi korban."
"Siapa yang kalian maksud jadi korban?!"
Suara Shi Won tiba-tiba membelah ruang, menginterupsi percakapan yang terjalin. Sontak membuat semua manusia di ruangan itu kelabakan.
"Ti-tidak ada, Manager Kang," Bu Park sebagai manager penganggung jawab divisi dua, menjawab gagap. Segera dia memberi kode pada anak-anaknya untuk kembali fokus pada gawai dan berkas-berkas yang berserak di atas meja.
Shi Won mendesah kasar menyikapi mulut-mulut gatal dan tingkah konyol para bawahannya. Tapi dia juga penasaran dengan yang sedari tadi dibicarakan teman-teman Seulbi tersebut.
Mengingat wanita cantik itu, beberapa menit yang lalu dia diberitahu Ketua Shin bahwa Seulbi dan Rain sedang berbulan madu.
Demi Tuhan Won terkejut setengah mati mendengar kabar itu, langsung kesetrum seperti disambar gledek.
"Jadi mereka sudah menikah? Pantas saja Rain selalu melempar tatapan horor padaku seperti akan menelan." Jadi merasa ngeri sendiri membayangkan itu.
Dengan pertemuan sesingkat itu pagi tadi sebelum rapat, Jeha menjelaskan padanya secara detail mengenai alasan pernikahan Rain dan Seulbi dirahasiakan dari publik. Sekarang setelah tahu semuanya, Won juga disumpah untuk bersikap pura-pura tak tahu apa pun.
Semua dilakukan demi nama baik Shin dan GS saat perceraian itu terjadi. Tapi tentu harapan Jeha sebagai ayah dan mertua, tidak ingin anak dan menantunya sampai berpisah, terlebih dia sangat menyayangi Seulbi.
"Jadi hanya satu tahun ... bagaimana bisa ada pernikahan semacam itu?" Won sungguh tidak habis pikir. Di saat semua orang mendamba pernikahan yang langgeng dan bahagia, mereka malah membuat kesakralan itu seperti lelucon.
"Orang-orang kaya macam mereka sungguh di luar nalar."
Kepalanya menggeleng-geleng.
"Tapi ... istilah bulan madu itu ... apa artinya?" Kali ini dia mengernyit kening. "Bercinta yang banyak lalu bercerai, begitukah?"
Ah, dia jadi pusing sendiri.
Sampai kemudian pria itu tersadar jika sikapnya mengundang tatapan aneh orang-orang di divisi dua. Pasang-pasang mata yang berpura-pura fokus pada pekerjaan, menanggapinya yang pletat-pletot [mungkin] seperti menemukan sisi lain dalam dirinya. Sisi yang memalukan.
Won lupa jika dirinya masih berada di tempat itu, padahal tadi dia sudah berniat akan langsung pergi. Nyata yang terjadi malah tertahan hanya karena melihat foto Seulbi di meja kerjanya.
"Argh, sial!" umpatnya dengan suara pelan, mengutuk diri sendiri dengan kebodohan.
Sebelum mereka semua menganggap dirinya gila, segera Won berbalik dan pergi dari tempat itu. Malu setengah mati. Ketahuan kan jika dirinya yang tanpa cela ternyata bisa berbuat konyol.
...*****...
Jalanan lengang terjaga. Hanya ada dedaunan kering berserak tertiup angin, terbang ke sana-sini seolah mencari tempat yang tepat untuk mendarat.
"Seharusnya mereka sadar diri kalau mereka hanyalah sampah."
Micha berjalan sendiri di kehampaan itu. Terus mengutuk apa pun yang tepat ditangkap pandangannya, seperti dedaunan tadi.
Kerikil lumayan besar tak sengaja terinjak, mengganjal tak nyaman di alas kaki, membuatnya hampir terjatuh. Benda itu pun mendapat bagian, "Beraninya kau mengolokku! Aku bisa menghancurkanmu dengan sangat mudah." Lalu diinjaknya kerikil itu, digilas berputar-putar sekuat tenaga, namun yang terjadi batu itu tak juga hancur. "Kau!" Pada akhir ditendangnya batu kecil tak berdosa itu ke udara. "Dasar bodoh!"
Kemudian kembali meneruskan langkah.
Sebuah sepeda motor melintas ditatapnya dengan kesal. "Kenapa lewat sini?! Jalanan ini milikku!"
Kelakuannya terus saja seperti itu.
Tas gendong berisi beberapa buku, juga seragam sekolah masih lengkap membalut tubuhnya yang tinggi untuk anak berusia tujuh belas tahun. Rambutnya yang hanya sebatas pundak diikat asal di belakang sejajar telinga, sementara poni jatuh lurus hampir menyentuh mata.
Wajahnya yang tanpa polesan make up tampak tak sedap untuk dipandang. Antara kesal dan bingung berbaur jadi satu ekspresi. Langkah selanjutnya terayun gontai seolah tak punya kekuatan untuk berjalan.
"Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang?" tanyanya pada udara. "Aku harus menggantikan Ibu bekerja, tapi aku tak bisa membuat roti dan kue seperti Ibu."
Kebingungan menyergap sesaat setelah ibunya pingsan karena kelelahan pagi tadi. Walaupun Areum cepat sadar dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, Micha tetap merasa cemas.
"Ibu kelelahan sampai pingsan karena membuat kue dari semalam. Tapi aku hanya seperti tuan putri yang tak tahu diri."
Mendongak pada langit lalu menatapnya. "Mendung." Sinkron dengan hatinya yang juga berada di mode sama dengan langitnya.
Untuk memberitahu Seulbi tentang keadaan ini, ibunya sangat melarang keras. Bagi Areum, peran dan pengorbanan Seulbi sudah lebih dari cukup. Semenjak kepala rumah tangga mereka meninggal dua tahun lalu, Seulbi lah yang berdiri tegak menghidupi keluarga kecil mereka.
Cukup rumah ini sebagai hadiah terakhir dari anak perempuan yang bagi Areum tetap saja seperti bayi. Sisanya Areum melarang Seulbi melakukan apa pun lagi untuk dirinya dan juga Micha.
Seulbi harus bisa menjalani hidup sesuai keinginan dan harapannya. Dan jika Rain adalah yang tepat, maka sebagai seorang ibu, Areum hanya perlu mendukung dan mendo'akan.
Begitu yang Micha dengar dari paparan ibunya pagi tadi sesaat setelah sadar.
Uang terakhir kali kemari dari Seulbi, Areum meminta Micha untuk menabungnya agar bisa membiayai kuliah yang akan dijalaninya tahun depan.
Memikirkan berbagai hal terkait hidup, tanpa terasa, langkah kakinya membawa Micha berjalan lumayan jauh. Bus yang biasa dia tumpangi bahkan sudah berlalu, otomatis dia harus menanti bus berikutnya sekitar dua jam lagi untuk bisa pulang. Tapi Micha seperti 'tak berniat akan pulang cepat.
Dalam kebingungan itu, selembar pamflet yang menempel di badan pohon, membuatnya seperti menemukan nyawa baru.
Micha menariknya sampai di tangan, membaca sesaat kedua kali, lalu melanting pergi dengan senyuman merekah lebar penuh harapan.
Seraya terus melangkah dengan semangat, dia mengamati bangunan-bangunan yang berjejer di pinggir jalan, sesekali menyamakan dengan gambar yang ada di kertas.
Sampai kemudian ....
"Itu dia!"
Tanpa berpikir panjang, tanpa memedulikan seragam sekolah yang dia pakai, anak itu masuk saja ke dalam bangunan berupa kafe yang ternyata membuka lowongan pekerjaan.
Tidak ada peminat baca, tidak menghasilkan apa pun. Kuat alasan untuk tidak meneruskan.
Terima kasih.