....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Di malam yang sunyi itu Jayden masih berdiri di depan pintu kos
Lama. Sepi tidak ada siapapun.
Tiba-tiba dari kamar sebelah, pintu terbuka. Seorang ibu paruh baya keluar sambil bawa ember.
Ibu Kos melirik Jayden. "Mau cari Cheyrin ya, Nak?"
Jayden langsung menoleh. "Ibu kenal Cheyrin?"
"Iya. Anaknya Pak Mahendra kan? Udah dua hari dia pulang. Katanya mau urus sesuatu di rumah." Ibu Kos menghela napas. "Kasihan. Mukanya sembab pas berangkat."
Bahu Jayden turun. Dia menghela nafas pelan masih menatap ibu itu. "Makasih ya buk"
Dalam hati dia masih sangat merasa bersalah.
----
Sudah empat hari Cheyrin tidak masuk kampus. Namun ia sudah mengajukan izin karena ada urusan.
Sementara itu, Steven tetap masuk seperti biasa. Setiap pagi, Jayden dan Steven tetap menjalankan hukuman push up di depan satpam.
Hingga pada suatu pagi, Jayden tidak sengaja melihat Steven dan Cheyrin berangkat bersama di persimpangan lampu merah.
Jayden yang tengah berhenti sejenak, melirik ke arah motor Ninja biru yang baru saja melaju di hadapannya. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Jayden mengenali motor itu. Itu motor Steven. Dan memang benar, itu Steven.
Tetapi di belakangnya, duduk seorang gadis yang tidak asing. Jayden mengenali betul tas yang dikenakannya. Itu Cheyrin.
Jayden mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di depan kampus, Steven menurunkan Cheyrin sedikit lebih jauh dari gerbang, lalu mengembalikan helmnya.
Entah apa tujuannya. Namun Jayden hanya mengamati mereka dari belakang. Ia duduk di atas motornya, berjarak beberapa meter dari posisi mereka.
Jayden tidak turun. Ia hanya diam.
Mata mereka bertiga bahkan tidak sempat bertemu.
Steven menyalakan motornya lagi dan pergi. Cheyrin masuk ke dalam kampus.
Dan Jayden tetap di tempatnya, dengan dada yang terasa sesak tanpa alasan.
Saat Cheyrin memasuki kelas, beberapa mahasiswi yang berada di sudut ruangan langsung melirik ke arahnya. Di sana ada Lisa dan Dara.
Cheyrin juga melirik sekilas. Seolah-olah masing-masing dari mereka belum melupakan kejadian di lapangan basket beberapa waktu lalu.
Namun hari ini tatapan Lisa kepada Cheyrin terasa berbeda. Ia tidak menatap Cheyrin lebih dari dua detik. Sebagian besar waktunya justru digunakan untuk berbicara dengan Dara, bahkan tertawa seolah mereka telah sangat akrab.
Cheyrin membuka ponselnya. Ia melihat deretan pesan dari beberapa hari terakhir yang belum sempat ia balas. Semua pesan itu berasal dari Jayden.
"sorry gue kelepasan"
"Chey"
"Lo oke?"
"Lo gak masuk lagi hari ini?"
"Lo kenapa?"
Hanya itu. Tidak ada satu pun balasan dari Cheyrin.
Saat jam istirahat tiba, Cheyrin tidak mendekati siapa-siapa. Ia hanya duduk sendiri. Kadang di kantin, kadang di sudut ruangan yang sepi.
Hingga akhirnya, saat Cheyrin berada di dekat tangga, Jayden juga ada di sana. Namun Jayden tengah berbicara dengan seorang dosen.
Cheyrin menatap layar ponselnya, lalu batuk kecil.
Jayden melirik ke arahnya. Meskipun ia masih berbicara dengan orang di hadapannya, pandangannya tetap tertuju pada Cheyrin.
Beberapa saat kemudian, Steven datang menghampiri Cheyrin. Ia tampak sedang berbicara sesuatu dan meminta Cheyrin untuk mengikutinya.
Cheyrin dan Steven pun pergi dari tempat itu. Namun Jayden tetap memperhatikan mereka dengan sorot mata yang tajam.
Beberapa menit kemudian, di belakang kampus, pembicaraan antara Cheyrin dan Steven berlangsung sangat tertutup. Seolah mereka tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya.
Setelah Cheyrin meninggalkan Steven di sana, Jayden datang. Langkahnya santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
Jayden berhenti di hadapan Steven. Suaranya datar, namun menusuk.
"Sebenarnya yang lo pacarin itu siapa? Cheyrin atau Lisa?"
Steven menoleh. Keningnya mengerut.
"Apa urusan lo?" jawabnya singkat.
Jayden melangkah mendekat.
"Lo berangkat bareng cewek lain. Bukan sama cewek lo?"
Steven menatapnya lurus.
"Bukan cewek lain. Tapi Cheyrin."
Jayden terdiam sejenak. Napasnya ditahan.
"Iya. Jadi lo mau membuktikan bahwa apa yang gue bilang di lapangan itu benar."
Ia menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.
"Lo... suka... sama Cheyrin."
Steven menghela napas panjang. Ia tidak menjawab.
"Serah lo."
Setelah itu Steven langsung pergi, meninggalkan Jayden yang berdiri sendirian di belakang kampus.
FLASHBACK - MALAM SETELAH KEJADIAN DI LAPANGAN
Malam itu Cheyrin memutuskan untuk tidak masuk kerja.
Kalimat Jayden di toilet itu terus berputar di kepalanya.
"Murahan."
Dua kata itu. Dari orang yang bahkan belum pernah benar-benar mengenalnya.
Selain itu, ia baru tahu satu fakta.
Evan adalah abang Jayden.
Dan di saat itu juga Cheyrin sadar.
Ia tidak perlu lagi bekerja di sana.
Cheyrin mengurung diri di kamar.
Ia menangis sampai matanya bengkak. Bahkan belum makan sejak siang.
Beberapa kali notifikasi masuk ke ponselnya. Dari grup kerja. Dari nomor tak dikenal.
Ia tidak membukanya. Hanya membiarkan ponsel itu terus bergetar di atas meja.
Sampai akhirnya, sekitar jam 10 malam, Cheyrin mengambil napas panjang.
Ia meraih ponselnya dan menekan satu nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.
"Pak... tolong jemput saya. Saya kirim alamatnya ya."
Sopir keluarganya.
Dengan koper kecil dan beberapa barang seperlunya, Cheyrin keluar dari kos.
Malam itu sangat sunyi. Hanya suara tangisnya yang sesekali pecah, dan usapan tangannya di pipi yang basah.
Di depan gerbang, ibu Kos sudah menunggu. Ibu paruh baya itu menatap Cheyrin dengan khawatir.
"Nak... kamu mau kemana? Mata kamu bengkak gitu"
Cheyrin menyerahkan kunci kos dengan tangan gemetar.
"Saya... saya pulang dulu Bu. Nanti saya balik lagi. Tapi belum tahu kapan."
Sopir membawakan kopernya ke bagasi.
Cheyrin masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi.
Ia sengaja kembali ke rumah Papa nya.
Karena di sana, Papa pasti sibuk bekerja. Tidak akan banyak bertanya.
Berbeda kalau ke rumah Mama nya. Pasti akan ada seribu pertanyaan yang tidak sanggup ia jawab malam ini.
Mobil melaju meninggalkan kos.
Dan berhenti di depan gerbang besi yang tinggi.
Rumah Mahendra.
Lampu teras masih menyala, meski sudah lewat tengah malam.
Seperti selalu menunggu.
Pintu rumah itu terbuka sebelum Cheyrin sempat menekan bel.
Papa berdiri di sana. Dengan kemeja kerja yang masih rapi, dasi sudah dilepas.
Wajahnya lelah. Tapi begitu melihat Cheyrin turun dari mobil dengan mata bengkak, raut itu luluh.
"Chey..."
Pelukan itu datang tanpa tanya. Hangat. Kuat. Seperti waktu Cheyrin masih kecil.
"Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu. Kapan pun."
Suara Papa pelan, di sela rambut Cheyrin.
Cheyrin hanya bisa mengangguk di dada Papa. Ia tidak sanggup bicara.
Takut kalau bicara, tangisnya pecah lagi.
Kopernya dibawa masuk oleh sopir.
Di ruang tamu yang luas dan sepi, hanya ada mereka berdua.
Tidak ada Mama. Tidak ada suara lain.
.
.
.
Seperti dugaannya.
Pagi-pagi sekali Papa sudah berangkat ke kantor.
Rumah Mahendra kembali sepi seperti biasanya.
Cheyrin menghabiskan hari dengan mengurung diri di kamar. Tidur. Nangis. Tidur lagi.
HP-nya ia matikan.
Sampai jam 6 sore, ada ketukan di pintu kamarnya.
"Chey, mandi ya. Malam ini kita dinner."
Suara Papa dari luar.
Cheyrin mengerut.
Tidak biasanya.
Selama ini Papa selalu dinner di luar. Dengan rekan bisnis. Dengan teman golf. Dengan siapa saja.
Cheyrin tidak pernah diajak.
"Dinner special?" gumam nya.
___
Cheyrin berdiri di depan lemari besarnya.
Jarinya ragu-ragu menyentuh gantungan satu per satu.
Sudah lama dia tidak membuka sisi lemari ini. Sisi yang isinya dress-dress formal.
Tangannya berhenti di ujung bahan yang licin dan berkilau.
Ia mengeluarkan dress itu.
Dress satin champagne dengan tali tipis yang jatuh di bahu.
Lehernya model cowl neck, jatuh lembut mengikuti lekuk tulang selangka.
Bahan satinnya mahal, berkilau redup setiap kali kena cahaya lampu kamar. Potongannya mermaid, ketat di badan sampai pinggul lalu menjuntai lurus ke bawah.
Dan di paha kiri, ada belahan tinggi yang biasanya Cheyrin hindari.
Dress ini dulu sering dipakai waktu masih ada acara keluarga besar Mahendra.
Sebelum semuanya berantakan.
Cheyrin memakainya pelan. Resleting di punggung agak seret.
Rambut hitam panjangnya digerai, tanpa poni menutupi mata.
Kalung berlian tipis satu-satunya yang masih ia pakai.
Ia berdiri di depan cermin besar.
Cheyrin bergumam pelan, sambil menarik sedikit bahan di pinggangnya.
"Kayaknya dress ini udah kekecilan deh..."
Dress Cheyrin.