Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
BAB 29
Kesepakatan
"Kita singgah makan siang dulu ya. Gue kembung,, minum kopi kebanyakan."
Bibir Dinda mengerucut. Ia teringat foto yang tersebar di sekolah tadi.
"Siapa suruh nungguin gue sampai pulang sekolah di kafe." gumamnya pelan, tanpa terdengar oleh Daffa.
Kali ini mereka singgah di sebuah warung bakso. Kemudian Daffa memesan makanan dan minuman untuk mereka. Sembari menunggu pesanan datang Daffa mulai obrolan mereka.
"Soal kemarin, gue benar-benar minta maaf. Jangan marah lagi, ya?"
Dinda menoleh ke arah lain. Sebenarnya, ia sudah tidak terlalu mempermasalahkan kejadian kemarin. Rasa kesalnya pun perlahan menghilang setelah melihat Daffa yang terus berusaha meminta maaf.
Dinda sengaja tidak langsung menjawab. Ia ingin melihat seberapa sungguh-sungguh Daffa dengan permintaan maafnya. Bukan hanya sekadar mengucapkan kata maaf karena merasa bersalah, lalu menganggap semuanya selesai.
Dinda tetap diam, membuat Daffa meliriknya beberapa kali.
"Cil?"
Dinda masih tidak menjawab. Daffa menghela napas pelan. Kemudian, tanpa banyak bicara, ia kembali berkata dengan suara lebih rendah.
"Gue tahu gue salah. Jadi kalau lu masih kesel, gue terima. Tapi jangan lama-lama, ya."
Daffa Berusaha untuk tenang, menghadapi gadis yang masih labil di usianya itu, memang dibutuhkan kesabaran ekstra, pikirnya.
"Okey, gue udah pikirin semuanya. Gue tahu ini pasti berat buat lo. Jadi, kita pacaran aja sampai udah menikah nanti. Lu nggak akan gue sentuh. Kalau lu nantinya udah merasa nggak cocok, kita cerai. Jadi lu nggak rugi apa-apa kan?" Ujar Daffa dengan tatapan serius.
"Serius?"
"Lu nggak percaya?"
"Jangan ditarik ya, Bang."
"Gue bukan orang yang ingkar janji."
Namun wajah Dinda masih terlihat muram.
"Tu wajah kenapa kecut kek cuka lagi?"
"Katanya nggak pakai lu-gue lagi, Bang?"
Seketika Daffa terdiam.
Ada rasa senang yang diam-diam muncul di dalam hatinya. Ternyata Dinda benar-benar menuruti ucapannya tempo hari.
Namun, Daffa tidak mau menunjukkannya. Ia segera memasang wajah datar, seolah ucapan Dinda tadi bukan sesuatu yang berarti baginya.
"Kenapa?" tanyanya singkat.
Dinda mengerucutkan bibir.
"Ya... nggak kenapa-kenapa."
Daffa meliriknya sekilas. Sudut bibirnya nyaris terangkat, tetapi segera ia tahan.
"Bagus kalau nggak kenapa-kenapa."
Dalam hati, Daffa justru tersenyum puas. Setidaknya, permintaannya sudah mulai dituruti oleh Dinda.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Keduanya segera menikmati makanan masing-masing tanpa banyak bicara. Sesekali Dinda melirik Daffa, tetapi lelaki itu tetap makan dengan tenang seolah tidak ada apa-apa.
Setelah makanan mereka habis, Daffa mengeluarkan dompet dan membayar seluruh pesanan.
"Udah?" tanya Daffa begitu kembali ke meja dimana Dinda berada.
Dinda mengangguk. Mereka pun meninggalkan warung bakso tersebut dan berjalan menuju motor. Tidak ada percakapan di antara keduanya, tetapi suasana yang sempat canggung perlahan terasa lebih santai.
Daffa kemudian mengenakan helmnya, sementara Dinda naik ke atas motor.
"Pegangan Cil," ucap Daffa singkat.
Dinda terdiam sejenak sebelum akhirnya menurut dan memegang bagian belakang jaket Daffa.
Motor pun melaju meninggalkan tempat itu, membawa mereka pulang dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding saat mereka datang.
"Besok jangan bawa motor. Abang antar pakai motor Abang aja." Ucap Daffa begitu mereka tiba di halaman rumah Dinda.
"Nih, kuncinya."
Dinda mengambil kunci motor miliknya yang di ulurkan Daffa.
"Masuk gih." Ujar Daffa kemudian.
Lalu tanpa bicara, Dinda melangkah menuju pintu rumahnya. Kemudian masuk ke dalam.
Daffa hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri.
Setelah memastikan Dinda sudah masuk, barulah ia berbalik dan berjalan menuju rumahnya yang berada tepat di sebelah.
Langkahnya santai, tetapi entah kenapa ada senyum tipis yang masih tersisa di wajahnya.
***
Dinda duduk termenung di dalam kamarnya. Pikirannya masih dipenuhi ucapan Daffa tadi. Ia tahu, Daffa mencoba untuk mengerti dirinya.
Pandangannya kemudian beralih ke jendela kamarnya. Jendela yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempat mereka berkomunikasi. Tempat mereka saling berbicara, bercanda, bertengkar, bahkan saling memperhatikan dari balik rumah masing-masing.
Tanpa sadar, Dinda terus menatap ke arah jendela di seberang sana. Beberapa saat kemudian, bayangan seseorang terlihat muncul dari balik tirai.
Dinda terdiam. Entah sejak kapan pandangannya terpaku pada sosok yang ia ketahui itu adalah Daffa. Ia kemudian mengingat dan menyimpulkan apa yang terjadi selama Daffa berada di dalam tubuhnya. Banyak hal yang dilakukan lelaki itu yang awalnya membuat Dinda kesal, malu, bahkan tidak mengerti. Namun perlahan Dinda menyadari, kalau apa yang yang dilakukan Daffa di sekolah tanpa pernah ia ketahui, ternyata memberikan dampak positif untuk dirinya. Siska dan gengnya sudah tidak lagi mengganggunya.
Sejak Daffa mulai turun tangan, hari-hari Dinda di sekolah terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi ejekan, gangguan, ataupun perlakuan yang membuatnya ingin menghindari teman-temannya sendiri.
"Apa gue yang terlalu parno ya?"
Dinda menunduk, dan menghela napas panjang. Mungkin selama ini Daffa memang tidak selalu pandai mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Tetapi lelaki itu selalu punya caranya sendiri untuk menunjukkan kepedulian.
Dinda kembali menatap bayangan Daffa di balik jendela. Jika pertukaran tubuhnya bukan terjadi kepada Daffa, Dinda tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya setelahnya.
Karena sampai saat ini, Daffa benar-benar menepati janjinya. Merahasiakan hal pribadi yang begitu sensitif baginya. Bahkan Daffa terlihat bertanggung jawab serta menjaga dan melindungi dirinya.
"Baiklah. Seenggaknya, Abang orang yang menepati janji. Gue akan coba untuk jalani."
Dinda memutuskan untuk mencoba membuka hati menerima hubungan mereka. Ia akan mencoba berpacaran dengan Daffa. Menjalani hubungan yang lebih dekat dari sekadar teman, sebelum akhirnya mereka benar-benar berumah tangga.
Setidaknya, Dinda ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya menjalani hubungan itu bersama Daffa.
Dan seperti yang Daffa katakan, bila merasa tidak cocok, ia akan meminta untuk berpisah.
"Cil...."
Seketika lamunan Dinda buyar.
"Ngapain ngeliatin Abang sampai segitunya? Udah mulai naksir ya?"
Kali ini senyum Daffa terbit tanpa harus di sembunyikan. Manis, dan semakin tampan membuat Dinda refleks menutup gorden jendelanya.
Jantungbya berdebar tak biasa, bahkan wajahnya merona tanpa ia sadari.
"Ish! Bikin kaget aja."
Gerutunya pada udara di kamarnya.
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
eh tapi daffa kan belum kerja dan berpenghasilan yakan