Zazila adalah seorang anak yang menjadi korban perceraian orang tuanya, hidup sedari kecil dengan neneknya otaknya yang cerdas juga wajahnya yang cantik tidak membawanya sampai pada cita citanya yakni menjadi seorang pengacara,
karna ketidak mampuanya itulah dia harus banting setir rela menjadi seorang TKW.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariz Kopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Waktu sepertinya tidak mau berhenti barang sejenak saja, membiarkan aku merasakan kebahagiaan berkumpul dengan orang yang yang aku cintai, meski hanya cinta sendiri.
Dia terus saja berjalan sesuai putaranya, sesuai detaknya tanpa mau berdetak mundur untuk mengembalikan ke beberapa waktu lalu saat aku pertama datang kemari, sehingga tidak perlu ada kata berpisah, meninggalkan ataupun di tinggalkan.
Tinggal tiga hari lagi aku berada disini dan dari semalam setelah belajar dengan Nadira kepalaku terasa begitu berat, pusing nyut nyutan seperti tidak berkesudahan bahkan saat aku bangun untuk shalat malam juga di sertai menggigil kedinginan padahal tubuh ku panas sekali, Bik Mimin yang sehabis subuh tadi menyadari keadaan ku yang tengah pucat langsung memberikan ku obat penurun panas dan menyuruhku agar tetap istirahat.
Setelah agak siang aku baru bangun dan ikut membantu di dapur namun di larang oleh Bik Mimin, ahirnya aku kembali ke kamar dan kembali Istirahat.
"Die, Die, Diea.." guncang Bik Mimin, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan ku tapi yang jelas di dalam tidurku aku bermimpi aku tengah bermanja dengan Emak dan Ibuku datang memisahkan kami kembali, hingga membuatku menagis tersedu sedu. Di rengkuhnya aku dalam dekapan hangat Bik Mimin seraya mengelus elus kepalaku mencoba untuk memberi tempat ternyaman untuk ku dalam dekapan hangatnya.
"Kamu mimpi buruk lagi..?" tanyanya lembut, aku hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Bik Mimin, dan kembali Bik Mimin memberiku belaian lembut di punggung ku.
"Makanlah.." kata Bik Mimin saat aku sudah kembali tenang, sembari mencoba untuk menyuapkan bubur kepadaku.
Ku buka mulutku pelan dan rasa hangat langsung memenuhi seluruh dalam dari mulutku dan menjalar ke tenggorakan ku saat aku mulai menelanya.
"Tadi Ibu kesini melihatmu masih terlelap, jadi dia berpesan setelah kamu bangun mau di ajak ke dokter.." ucap Bik Mimin dan itu sontak membuatku tersedak oleh makanan yang tengah ku kunyah.
"Ibuk benar bilang gitu Bik.." tanyaku dengan muka berbinar.
"Iya, makanya cepat habiskan makanya dan ganti pakainmu sebelum berangkat.." kata Bik Mimin lagi.
"Baiklah Bik." jawab ku bergegas mengambil sendok dari tangan Bik Mimin dan memakan makanan ku dengan lahap, Bik Mimin memandangku dengan heran.
"Die, tak tinggal dulu yah sepertinya gerimis.." kata Bik Mimin dan aku segera memalingkan wajahku ke arah jendela yang tengah terbuka itu dan nampak olehku gerimis ringan di sertai angin yang sedikit ribut, dan juga di luar nampak sedikit gelap di karnakan mendung hitam yang bergelayut manja di udara seperti memberi kabar bahwa hujan lebat akan segera datang.
"Iya Bik, nanti Diea bawa sendiri ke dapur piring sama gelas kotornya.." ucapku pelan, setelah mendengar jawaban ku Bik Mimin langsung meninggalkan ku seorang diri di kamar.
Setalah menghabiskan makanan ku aku bergegas berganti pakain seperti yang di katakan Bik Mimin tadi, aku akan di ajak ke Dokter oleh Ibu ku, dan itu membuatku bisa tersenyum sendiri di tengah kepala yang sedang keliyengan karna pusing.
Dulu aku pernah dengar bahwa cinta itu bisa menjadi obat atas orang yang tengah sakit, dan saat ini aku merasakanya sendiri, perhatian kecil yang di berikan oleh Ibuku nyatanya mampu membuatku menopang kakiku untuk tetap beridiri, meski sejujurnya perhatian kecil itu bukan sebagai rasa cintanya untuk anak, melainkan untuk rasa tanggung jawabnya sebagai majikan.
Hujan di luar benar benar datang dengan derasnya saat langkahku aku ajak ke dapur mengembalikan piring serta gelas kotor bekas makan ku.
"Prang..." piring serta gelas dalam pegangan ku terjatuh dan pecah berserakan, saat mataku menangkap sosok yang tengah memeluk hangat Bik Mimin, tepat saat itu pula kedua orang itu memandang ke arahku, dan dengan secepat kilat aku membalikan badan ku, hatiku masih terlalu sakit atas perbuatanya padaku.
"Ada apa Bik Mi..." suara Maslikah membahana di dapur namun tercekat dengan cepat karna bebarengan dengan suara suara yang juga tengah kaget.
"Die, kamu enggak apa apa.."
"Zilla.." kata Anoman dan langsung berlari ke arahku, tak di pedulikanya pecahan piring yang bertebaran di sana sini.
"Zilla, siapa Zilla..??" tanya Nadira yang entah kapan dia ikut bergabung disana.
Aku masih diam di tempat ku, semakin menundukan kepalaku yang tengah berputar putar kian cepat, dan aku tidak sanggub membayangkan apa yang akan terjadi setelah Maslikah tau bahwa aku adalah Zilla, bahwa aku adalah Anak yang tidak di inginkanya, perhatian kecil yang membuatku membumbung tinggi itu langsung terbang melayang bersama gelap yang tiba tiba datang menyergab saat tangan Anoman berhasil meraih tangan ku, dan semuanya ringan seolah melayang.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku mendapatkan jedaku kembali, dan sayup sayup aku dengar suara lembut Bik Mimin yang tengah mencoba memanggil manggil nama ku agar segera membuka mata, dan ketika aku membuka mataku ku edarkan ke semua arah terlihat Anoman yang tengah berdiri di belakang Bik Mimin dengan raut kwatir terpancar jelas disana dan dengan segera aku memalingkan wajahku agar tidak perlu bersitatap denganya.
"Ayo, mari masuk.." suara Pak Adit yang juga tiba tiba masuk dengan menyilahkan seseorang utuk masuk juga.
"Bisa tolong sedikit menjauh, agar yang bersangkutan bisa bernafas dengan leluasa ." kata suara lembut seorang perempuan..
"Dok, apa perlu yang lain keluar.." tanya Pak Adit lagi.
"Itu lebih bagus.." jawab Dokter wanita tersebut.
"Bik, panggil Ibuk suruh kemari.." perintah Pak Adit dengan suara tegas dan baru kali ini aku mendengar suara Pak Adit yang biasanya lembut bicara setegas itu, mungkin ada sesuatu yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri tadi.
"Pa, biarkan aku disini.." kata Anoman.
"Keluarlah.." kata Pak Adit.
"Tapi Pa.." bantah Anoman..
"Kita bicara nanti, keluarlah dulu.." kata Pak Adit lagi, dan tak lama masuklah Maslikah juga Nadira, tapi kali ini tidak ada tatapan lembut lagi dari matanya, hanya tersisa tatapan penuh benci darinya untuk ku.
"Bagaimana Dok..?" tanya Pak Adit setelah Dokter memeriksaku.
"Tidak perlu ada yang di kwatirkan Pak, tekanan darahnya hanya turun di tambah di picu tingkat stress yang berlebihan.." kata Dokter sambil membereskan peralatanya lalu memberikan obat pada Maslikah, lalu Dokter itu pamit.
"Nay, antar Dokter sampai depan.." printah Pak Adit ke Nadira dan dengan muka merengut Nadira keluar mengantar Dokter, tapi setelah dengan persetujuan dari Maslikah tentunya.
"Bicaralah.." ucap Pak Adit kepada Maslikah..
"Aku jelas jelas tidak tau dia Pih.." katanya tanpa aku tau jelas maksud dari perkataan mereka.
"Zilla atau Diea, bagaiamana aku harus memanggilmu..?" tanya Pak Adit lembut, aku menelan salivaku dengan susah payah mendengar ucapan Pak Adit, terlebih saat Maslikah menatapku dengan tajam seperti hujaman batu yang langsung menegenai dadaku dan menyebabakan sesak di ulu hatiku.
"Apa benar dia Ibumu..?" tanya Pak Adit lagi.
"Pih, aku benar benar tidak kenal dia, kan sudah aku bilang anak dari pernikahan ku terdahulu sudah meninggal, aku kan sudah pernah mengatakan itu sama Papih.." sangkal Maslikah.
"Aku tanya sama Diea bukan sama kamu.." suara Pak Adit meninggi dan lantang..
"Katakan Die, apa dia Ibumu.." tanya Pak Adit lagi, dan mataku tetuju pada Maslikah yang tengah menatapaku dengan tatapan mematikan sambil menggelang pelan.
"Bu..bukan Pak.." jawab ku lirih, sembari sedikit memalingkan kepalaku.
"Tuh kan, apa aku bilang, itu akal akalan Huda saja Pih.." potong Maslikah.
"Die, Istirahatlah..." kata Pak Adit dan langsung meninggalkan kami berdua, sepeninggal Pak Adit, Maslikah langsung duduk di samping tempatku berbaring dan dengan kasar dia menyibak jilbabku, lalu di palingkan aku ke kiri hingga dengan leluasa dia bisa melihat pipi kanan ku yang terdapat tanda lahir.
"Jadi ini benar kamu,.." desisnya pelan.
"Bu.. , sa..."
"Jangan pernah panggil aku Ibu, aku bukan Ibumu.." bentaknya dengan suara di pelankan seraya tanganya mencengkram rahangku dengan kuat bahkan kukunya yang panjang sampai terasa menancap di kulitku.
"Jangan berani berani bilang aku Ibumu, karna aku tidak punya anak sepertimu, camkan.." lanjutnya dan membuang muka sembari mengelap tanganya seolah aku ini adalah barang yang sangat kotor baginya.
Aku sudah tau konsekwensinya jika ini terjadi, hanya saja aku tidak pernah menyangka bahwa akan sesakit ini, mendengarnya secara langsung mengucapkan ketidak inginanya memiliki ku.
"Tinggalkan rumah ini besok, kalau tidak ingin aku berhenti membiayayai pengobatan Emak mu.." katanya dan langsung meninggalkan aku sendiri.
Deras hujan di luar sana sama derasnya dengan airmata yang sedang tumpah menganak sungai di pipiku.
Belum usai airmata yang mengenang ini, kembali kejutan yang di beri oleh Allah untuk hari ini seolah tidak mau berhenti sampai hari ini dan menyambungnya besok lagi. Bik Mimin masuk kamar dengan tergesa sembari menutup telinganya seolah dia tidak mau mendengar sesuatu yang akan merusak pendengaranya.
"Die, kami cepat minum obatnya.." katanya lembut kepadaku.
"Ada apa Bik..?" tanya ku ke Bik Mimin karna dapat ku baca dari rautnya bahwa dia sedang ketakutan sekali.
"Tidak apa apa Die.." jawabnya tapi dengan memandang pintu kamar kami..
"Bik.. apa terjadi sesuatu di luar sana..??" tanyaku lagi.
"Die, sudah lama sekali saya tidak melihat Pak Adit marah, terahir kali saya lihat dia marah saat Den Huda di ambil oleh Buk Ambar beberapa tahun silam, dan saat Den Huda kembali kesini malah ada masalah baru yang menyebabkan Pak Adit marah besar.." Deg.. hatiku langsung mencoes mendengar ucapan Bik Mimin, dan dengan memaksakan diri aku berusaha untuk bangun.
"Die, kamu mau kemana..??" tanya Bik Mimin
"Saya mau menjelaskan semuanya Bik.." ucapku dan mulaia menapakan kakiku di lantai yang terasa sangat dingin ini.
"Die, jangan ikut campur urusan mereka.." cegah Bik Mimin sambil menghalangi langkah ku.
"Ini juga ada sangkut pautnya dengan Diea Bik.." ucapku, dan dengan tertatih tatih aku mulai berjalan menuju pintu untuk mencari suara menggema yang saling bersahutan mengemukakan alasan mereka.
Dengan di bantu oleh Bik Mimin juga sedikit merambat di tembok aku ahirnya sampai di ruang keluarga dimana tepat saat Pak Adit memukul Maslikah, dengan segera aku bersimpuh di kaki Pak Adit.
"Jangan Pak, Diea mohon jangan lakukan itu.." kataku dengan memegang kaki Pak Adit.
"Zill.." kata Anoman yang kaget akan reaksiku dan langsung menarik tanganku agar berdiri namun aku masih bersikukuh memegang kedua kaki Pak Adit.
"Bangunlah, aku mohon bangunlah Zill, itu tidak patut kamu lakukan untuk wanita seperti dia..." lanjut Anoman.
"Bangunlah.." ucap Pak Adit pelan, " Mari bicara.." lanjutnya dan berjalan menjauh dariku, kemudian berbalik mengahadapku lagi seraya menjentikan jari telunjuknya agar aku mengikutinya, langkah kecilku mengekorinya hingga sampai di ruang kerja dan dengan keras dia menutup pintu.
"Katakan apa dia Ibumu.." tanyanya lagi sembari mendudukan diri di kursi kebesaranya, aku diam sesaat kemudian mengagguk pelan dengan masih berdiri di tempatku.
"Kenapa kamu membelanya..?"
"Karna saya tidak sengaja telah merusak kebahagiaanya, sungguh Pak saya tidak ada maks.."
"Kenapa kamu masih perduli padanya, sedang dia saja tidak perduli sama sekali dengan mu.."
"Karna tanpa dia saya tidak akan terlahir di dunia ini Pak.." jawab ku lirih.
"Kalau dia bisa setega itu dengan darah dagingnya sendiri, lalu bagaimana dia dengan anak ku.." katanya dengan frustasi sembari mengacak rambutnya dengan kasar, langsung saja cerita Bik Mimin mengenai masa kecil Anoman yang sering di perlakukan kasar oleh Maslikah berseluncur bebas di kepalaku dan itu membuatku langsung beringsut maju lalu mendudukan diriku tepat di depan kaki Pak Adit.
"Saya mohon maafkan kekeliruan Ibu saya Pak.." kata itu terus terulang ulang keluar dari bibirku meski Pak Adit sudah berulang kali mengatakan bahwa aku jangan melakukan hal seperti ini kepadanya, namun aku masih bersikukuh tetap pada posisi ku sampai Pak Adit meraih tubuh kecil ku dan mengangkatnya ke sofa.
"Kembalilah ke kamarmu, istirahatlah.." ucapnya pelan, saat di lihatnya aku sudah tenang.
"Pak, biarkan Ibuku tetap bahagia bersama Njenengan.." ucapku pelan sebelum meninggalkan ruang kerja Pak Adit namun tidak di jawabnya dia hanya memandangku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
Saat pintu ku buka nampak Anoman tengah berdiri di samping pintu, mata kami sempat bertemu sebalum ahirnya aku kembali menunduk dan berjalan berlahan melewatinya..
"Zill.." panggilnya namun tak ku hiraukan dan memilih terus melangkah menjauh darinya, lalu dia masuk ke ruang kerja Papanya.
Sampai di kamar ku lihat Maslikah juga Nadira tengah memasukan pakaian ku ke dalam tas bajuku, dan ada juga yang di masukan ke dalam kantong plastik besar serta beberapa barang yang pernah di belikan olehnya atau pemberian dari Nadira, tatapan nyalang menghujam ke arahku dan tak luput pula Nadira yang ikut menatapku penuh benci.
"Pergi dari sini sekarang.." desisinya masih dengan memasukan baju bajuku.
"Buk, Zill..." kataku pelan namun segera di potong olehnya.
"Aku bukan Ibumu,.." triaknya dengan nada yang sangat kasar, lalu di lemparnya tas ke arahku hingga membuatku terjatuh.
"Kamu mau uang, ini ambil, dan cepat pergi dari sini.." ucapnya lagi dan melempariku uang berlembar lembar pecahan seratus ribuan.
"Jangan pernah sekalipun menunjukan mukamu di hadapanku.."
"Maafkan Zilla, maafkan Zilla.." hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirku, rasa bersalah yang begitu besar karna telah merusak kebahagaiaanya sungguh mampu membuatku mengabaikan segala kebahagiaan ku sendiri.
"Apa uang itu masih kurang.." ucapnya.
"Ambil sesukamu.." lanjutnya lagi.
Aku berjalan berlahan mendekat ke arah meja dekat tempat tidurku, lalu mengambil foto usang tanpa bingkai dalam laci meja.
"Trimakasih karna sudah mengandung Zilla, karna sudah melahirkan Zilla, setidaknya Zilla lahir atas nama cinta.." ucapku saat langkahku tepat berada di depanya, tapi justru di luar perkiraanku dia malah menyahut foto yang berada di tangan ku, melihatnya sebentar lalu tersenyum miring ke arahku.
"Oh.. jadi ini.." desisinya pelan, lalu dengan sekejap mataku dia menyobek kecil kecil foto di depanku tanpa menghiraukan permintaanku.
"Jangan ambil satu satunya yang tersisa dariku Bu, Zilla mohon.." kataku dengan berusaha merebut foto dari tanganya, namun sia sia belaka tubuhku yang sedang sakit di tambah dengan Nadira yang memegangiku membuat Maslikah semakin leluasa melakukanya, hingga saat semua sudah menjadi sobekan kecil di lemparkan foto itu ke mukaku.
"Pergi dari sini sekarang, sebelum mereka keluar dari ruang kerjanya.." katanya lagi, lalu di seretnya aku dari kamar dengan Nadira membawa tas berisi pakaian ku, sempat Bik Mimin mencoba membelaku saat melintasi dapur namun ultimatum keras dari Maslikah membuat Bik Mimin kembali hanya bisa diam di tempatnya.
Dari pintu belakang dia terus membawaku keluar sampai pintu gerbang meski hujan sedang deras sekali sehingga membuat kami basah kuyub, dan di balik pintu gerbang ternyata sudah ada taksi yang menunggu, dengan sentakan kuat di lemparnya aku di samping taksi tersebut sembari memberi uang juga alamat pada sopir taksi tersebut
"Antar dia ke tempat itu Pak, tunggui dia sampai masuk ke dalam tempat yang di tujunya.." katanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku, namun mataku masih saja memandanganya hingga pintu gerbang tertutup rapat di belakangnya.
Dia benar benar ingin aku jauh darinya, dia benar benar menganggapku sebagai perusak kebahagiaanya dan dia benar benar tak menginginkan ku ada di dalalam hidupnya.
"Kenapa kau mereggut satu satunya yang tersisa dariku Bu.." pelan kata ku keluar di tengah gemetaran bibir serta tubuh yang mengigil karna kedinginan, hingga sopir taksi memayungi dan membukakan pintu untuk ku, lalu membawaku jauh meninggalkan rumah yang sebelumnya menjadi mimpi dan harapanku.
Bersambung...
####
Kembali Zilla berurai airmata,jahat banget sih Emak sama Zilla yah..🤭🤭🤭
Like, Coment serta Votenya enggak akan sejahat Emak kan yah..😘😘😘
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862