Laura seorang gadis cantik yang beruntung dalam segala hal, entah itu keluarga, pertemanan maupun percintaan.
Laura memiliki 4 sahabat diantaranya 2 laki-laki dan 2 perempuan. Namun, siapa sangka salah satu sahabatnya mencintai dia secara diam-diam.
Tetapi, ada seorang perempuan yang lebih mencintai laki-laki tersebut dan perempuan itu menderita penyakit kanker. Sehingga, kakak dari perempuan tersebut mengancam Laura agar Laura bisa menjauh dari laki-laki yang adiknya cintai.
Bukan perjuangan yang mudah untuk mereka bersatu, banyak kenyataan pahit yang memaksa langkah mereka untuk berhenti. Namun, keduanya selalu yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam memberi cobaan untuk hambanya.
penasaran dengan kelanjutannya? yuk baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
100 juta, deal?
Setelah selesai mandi, Rifka menyuruh Wafa untuk keluar kamar karena dirinya akan mengenakan pakaian.
"Keluar, gue mau pake baju" titahnya
Wafa melihat Rifka dari atas sampai bawah. Rifka yang dilihat seperti itu oleh sahabatnya langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Setan, keluar ga!" titah Rifka untuk kedua kalinya
Wafa berdiri dari duduknya "Iya, gue keluar. Gue tunggu di depan pintu kamar, 5 menit ga keluar gue dobrak" ancamnya
"Dih, waras lo" ucap Rifka
"Lu kali, kalau mau ngomong yo intro dulu to mas" ujar Wafa dengan kaki yang terus melangkah menuju pintu
"Bodo" final Rifka
Sesampainya di depan pintu kamar, Wafa memegang knop pintu lalau membukanya, ia keluar dan kembali menutup pintunya dengan rapat.
Sebelum pintu di tutup rapat, Wafa menyembulkan kepalanya ke dalam kamar "Awas lo kalau lama" setelah itu,ia menutup pintunya dengan rapat
Wafa berdiri di depan pintu kamar Rifka sesuai dengan apa yang ia katakan tadi, sambil menunggu Rifka mengenakan baju, ia mengeluarkan handphonenya dari saku celana.
"Buset, Bu Anisa telpon gue sampai 8 kali" dengan langkah kaki yang panjang, Wafa berlari menuju ruang tamu dengan tangan kanan yang memegang handphone.
Laura, Haya, Wita dan Kayla menatap kearah Wafa yang baru saja datang dengan wajah yang panik.
"Ada apa? Kok kayak panik gitu" tanya Laura dengan penasaran
Wafa menyerahkan handphonenya ke Laura "Baca"
"Duduk dulu duduk" titah Kayla
Wafa duduk di kursi sebelah Haya
"Ha, astagfirullah lu ga ngabarin bu Anisa kalau kita kerumah Rifka?" tanya Laura dengan terkejut
Haya dan Wita yang berada di sebelah Laura, langsung merebut handphone milik Wafa yang berada di tangan Laura "Gue dulu" ucap Haya dengan menarik handphone tersebut
"Gue dulu" Wita menarik handphone tersebut kearahnya
"Gue dulu Wita, bentar" Haya kembali menarik handphone tersebut kearahnya
"Gue, bentar banget" ucap Wita yang tak mau kalah
Laura melirik kedua sahabatnya yang berada di sebelah kanan dan kiri dirinya.
"Berisik, gue yang pegang kalian mendekat" titah Laura dengan tatapan yang tajam
Keduanya langsung menuruti perkataan Laura "Omo Wafa, bisa-bisa kita jadi daging cincang" histeris Wita setelah melihat 8 panggilan tak terjawab dari bu Anisa
"Telepon balik Lau" titah Haya
Laura mengerutkan keningnya "Yakin?kalau yakin gue telepon tapi ngomongnya bareng-bareng" ujar Laura
Haya menganggukan kepalanya "Iya, Laura"
"Awas lo pada kalau cuma nelpon doang tapi ga ngomong apa-apa terus abis itu dimatiin, gue lempar pake panci" ancam Wafa yang memiliki handphone
"Biar ibu yang ngomong" saut Kayla yang sedari tadi menyimak omongan keempat remaja di depannya
Laura dan Haya tersenyum mendengar perkataan Kayla "Noh, denger" ucapnya sambil melihat kearah Wafa
"Baik, ndoro" Wafa menyatukan kedua tangannya didepan dada
Laura menekan tombol telepon di nomor bu Anisa. Tak lama dari itu, telepon langsung tersambung "Assalamuallaikum bu" ucap Laura
"Loudspeaker, Lau" titah Haya
Laura mengangguk lalu mengaktifkan loudspeaker
"Eh siapa ini, ouh waallaikumsalam. Wafa, kamu lihat Rifka tidak? Daritadi ibu cariin ga ada, terus sama itu Laura, Haya dan Wita mereka juga tidak ada" omel bu Anisa di dalam telepon
"Ini bu, ana-"
Kayla belum selesai berbicara, namun bu Anisa sudah kembali bertanya "Kamu lagi dimana?ibu telepon daritadi ga diangkat"
"Anak-anak lagi dirumah Rifka karena tadi Rifka gamau sekolah" jawab Kayla dengan cepat
"Ini siapa?" tanya bu Anisa
"Saya ibunya Rifka, sebentar lagi mereka juga ke sekolah. Maaf ya bu" ujar Kayla
"Ouh iya baik, tidak apa kalau begitu" jawab bu Anisa di sebrang sana
Keempat remaja yang sedang menyimak perkataan antara Kayla dan Anisa menggerlingkan bola matanya dengan malas.
"Yasudah kalau begitu, saya tunggu secepatnya di sekolah" Bu Anisa langsung mematikan teleponnya sebelah pihak
"Buset dah, kalau bukan Bukay yang ngomong udah diterusin itu ngomelnya" ujar Wafa
Laura, Haya dan Wita menganggukan kepalanya seraya mengiyakan perkataan Wafa.
"Salah lu juga sih, ga ngomong dari awal ke Bu Anisa kalau kita mau kerumah Rifka" ucap Haya
Wafa melirik kearah sumber suara "iya deh sipaling salah"
"Yuk berangkat" Ucap Rifka yang tiba-tiba berada di hadapan mereka
Lantas, kelima orang yang berada di ruang tamu langsung melihat kearah Rifka dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Waras lo, pakai baju PSAS?" tanya Wafa dengan lirikan maut
"Terus? Gue ga kebagian tugas, jadi gue pakai PSAS, emang salah?" jawab Rifka dengan pertanyaan kembali
Wafa berdiri dari duduknya lalu mendekati Rifka "Lo lupa ingatan apa pura-pura ga ingat?"
"RIFKANA, GANTI BAJU LAGI YANG BENAR!" teriak Kayla dengan tangan yang menunjuk kearah kamar
"Engga, orang pake baju ini juga cakep" kekeuh Rifka dengan tampang tanpa dosa
Laura yang sudah lelah dengan tingkah Rifka, ia berdiri dari duduknya dengan tangan kanan yang meraih kunci motor miliknya yang tergeletak diatas meja lalu ia mendekati Kayla dan menyalami tangannya.
Setelah menyalami tangan Kayla, Laura langsung melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa berbicara sedikitpun.
Haya langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Laura yang berjalan keluar rumah "Lau, mau kemana" panggilnya
"Sekolah, acara udah mau mulai. Gue duluan" jawab Laura dengan pandangan yang lurus kedepan tanpa melihat kearah orang yang bertanya kepadanya
"Laura aravia" panggil Rifka
Tidak ada jawaban sama sekali dari Laura, yang terdengar hanyalah langkah kaki yang mulai samar.
"Kenapa? Puas lo, semalaman dia ga tidur gara-gara cari MUA terbaik buat acara ini, tapi ini balasan dari lo!" ucap Haya dengan nada yang cukup tinggi, ia langsung berlari keluar rumah setelah menyalami Kayla untuk menemui Laura.
Wita ikut mengekor dibelakang Haya.
"Balik lagi ke kamar kalau gamau sekolah. Udah tinggalin aja dia, kalian kembali ke sekolah kasian yang lain udah pada nungguin" titah Kayla kepada Rifka dan Wafa dengan nada yang pasrah
"Maaf, ibu udah ngerepotin kalian. Makasih sudah menyempatkan waktunya" Kayla melangkahkan kakinya menuju kamar tidur dengan tangan kanan yang memegang kepalanya
Wafa menatap kearah Rifka dengan tajam "Kalau lo mau ngecewain semua orang, lo boleh balik lagi ke kamar dan tidur. Tapi, kalau lo masih peduli sama semua orang yang udah berusaha buat acara ini, gue tunggu lo buat ganti baju"
Rifka langsung menjawab perkataan Wafa "Gue ganti baju, lu tunggu disini" ia langsung berlari menuju ke kamar untuk ganti baju
Wafa tersenyum penuh arti ketika mendengar perkataan Rifka, ia kembali duduk di sofa dan menelpon Wita agar kembali masuk kedalam rumah.
"Tambahkanlah rasa sabarku ya Allah" ucap Wafa.
Wita kembali kedalam rumah sesuai apa yang diperintahkan oleh Wafa "Dua lagi kemana?" tanya Wafa ketika melihat Wita datang seorang diri
"Pulang, kayaknya Laura udah cape banget. Kasian gue liatnya" Wita mendudukkan bokong nya di atas sofa yang berada di sebelah Wafa
Wafa menarik napas panjang "Huft, gue takut dia sakit setelah ini. Fisik dia engga sekuat seperti yang dia tunjukkan kepada semua orang"
"Iya benar, kata bunda Nia juga begitu. Tapi, dia selalu berpura-pura kuat di depan orang-orang termasuk kedua orangtua-" Wita tidak menyelesaikan perkataannya karena Wafa sudah menutup mulutnya.
Wita menyingkirkan tangan Wafa yang menutup mulutnya "Anjir, bau bawang"
"Sudah, yuk berangkat" saut Rifka yang sudah mengenakan pakaian lengkap dengan jas yang dikasih oleh Laura waktu malam tadi.
"Yuk" Wafa berdiri dari duduknya lalu menarik Wita untuk berdiri
Wita melihat Rifka dari atas sampai bawah, ketika melihat kebawah ia salfok ke sepatu yang dikenakan oleh sahabatnya itu.
"Masa pake sepatu sekolah" ujar Wita
Wafa langsung melihat kearah kaki Rifka yang dibungkus oleh sepatu, ia mengerutkan keningnya.
"Sepatunya dibawa Laura, kata dia nanti dipakainya di sekolah" jawab Rifka
"Ohhh, yaudah yuk" ajak Wita
Ketiganya melangkahkan kaki menuju keluar rumah. Sesampainya di depan rumah Wita dan Wafa langsung menaiki motor milik Wafa yang berada di depan bagasi
"Tunggu, gue ambil motor" ujar Rifka
"Supir lo nganggur?" tanya Wafa sambil memakai helm
"Nganggur, emang kenapa?" tanya Rifka dengan heran
Tanpa menjawab pertanyaan Rifka, Wafa langsung berteriak memanggil nama supir yang bekerja di keluarga Rifka "Pak Mamat oh pak Mamat"
Pak Mamat keluar dari pos satpam yang berada di dekat gerbang rumah Rifka "Apa den?" tanyanya
"Tolong anterin anak ini ke sekolah" ujar Wafa
Rifka melirik kearah Wafa "Ga perlu dianter, gue bisa sendiri"
"Ga malu lo, pake baju gini terus bawa motor?" tanya Wafa dengan kekesalan yang sudah diujung kepala
"Vibesnya kayak pengantin melarikan diri cuy" saut Wita
Wafa menganggukan kepalanya "Betul itu"
Rifka menggerlingkan bola matanya dengan malas "Pak Mamat" teriaknya
"Apa den?" tanya pak Mamat
"Anter ke sekolah" pinta Rifka
"Gue duluan, awas aja lu kalau melipir" ancam Wafa
"Pak Mamat, bawa anak ini ke sekolah kalau dia minta ke tempat lain jangan di dengerin" pesan Wafa kepada pak Mamat
"Baik" jawab pak Mamat
Setelah itu, Wafa menarik gas motornya untuk kembali ke sekolah.
"Tiati nyungsep lu" ucap Rifka dengan cukup kencang
"Skip, temen laknat gatau terimakasih" ujar Wafa dengan pelan.
Setelah 15 menit, mereka akhirnya sampai di depan gerbang sekolah.
Wafa menarik jas Rifka menggunakan tangan kanannya "Ngapain si, lu" kesal Rifka
"Biar ga kabur, udah capek gue hari ini sama lu. Kalau aja lu bukan sahabat gue, mungkin udah gue buang ke empang yang banyak buayanya" Wafa terus memegang jas Rifka dengan kedua kaki yang terus melangkah
Sedangkan Wita sudah berjalan terlebih dahulu karena tadi dirinya di telepon oleh Haya untuk langsung menemui mereka setelah sampai di sekolah.
"Sejak kapan empang banyak buayanya, Samsul?" Rifka melirik kearah Wafa yang berjalan di depannya dengan tangan kanan yang masih setia menarik jas yang ia kenakan
"Lu diem!" ujar Wafa
"Gue kasih lu 10 juta sekarang juga, tapi lu gantiin gue jadi pengantin. Mau ya, langsung gue transfer" tawar Rifka dengan mengangkat kedua halisnya
Wafa melirik kearah sahabatnya "Emang punya duit segitu?" tanyanya
Rifka langsung memperlihatkan isi saldo rekeningnya yang berada di dalam handphone.Wafa membelalakkan matanya ketika melihat angka 5 diiringi dengan 8 nol dibelakangnya.
"Abis ngepet di daerah mana lu?" tanya Wafa
Rifka menatap malas sahabatnya "Tahun lalu dikirim nyokap karena dapet juara 2 OSN kimia" jawabnya
"Stres, ga basi tu uang" ujar Wafa
"Lu yang stres, maana ada uang basi tolol" kesal Rifka
Wafa menundukan pandangannya seraya berkata "Ampun, ndoro. Bukannya mau sombong, tapi 10 juta mah gue juga punya"
"100 juta, deal?" ujar Rifka dengan santainya
Wafa memberhentikan langkah kakinya, ia menatap Rifka dengan dalam "Ga salah ngomong lu? Hanya karena lu gamau jadi pengantin praktik, lu rela ngasih 100 juta ke gue?"
"Engga, sejak kapan gue bohong atau bercanda" jawab Rifka dengan tampang yang datar
"Gue gamau, nanti yang ada gue diteror sama perempuan yang jadi pengantin itu. Lagian kan semalam lu cerita sama gue, kalau ini adalah permintaan terakhir kakaknya sebelum tu orang metong di tangan manusia. Iya kan?" ujar Wafa dengan jelas
Wafa kembali melangkahkan kakinya dengan tangan kanan yang masih menarik jas Rifka.
Rifka berjalan dengan malas sambil terus memohon kepada Wafa "I-iya sih, tapi gue tetap gamau. Kasian Laura"
"Woy, buruan udah mau mulai" teriak Haya dari tengah lapang
Wafa mempercepat langkahnya sambil menarik jas Rifka "Buru anjir, jangan banyak drama" kesalnya
"Tarik aja kalau bisa" ucap Rifka yang membuat niat Wafa semakin bulat untuk membuangnya ke empang
"Kalau bukan ni anak yang ngomong, udah gue kasih ke buaya darat yang kelaparan" gerutu Wafa