Dea si gadis kota terdampar di pedalaman Australia - tanpa adanya toko sepatu atau department store dalam jarak puluhan kilometer! Untungnya, ia terperangkap di sana bersama cowok keren yang tampaknya siap menerima tantangan. Jadi untuk menghilangkan kejenuhan dan membangkitkan semangat, Dea melontarkan tiga tantangan pada cowok itu.
Bagaimana bujangan yang punya harga diri sepertinya menghadapi tantangan itu? Mengambil langkah seribu atau balas menantang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesha Rasyida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Part 3
"Kalau begitu," Dea tersenyum saat ia menyerah pada godaan, "kurasa aku berubah pikiran tentang bagian pertama tantanganku."
Dea berhenti tersenyum saat bibir Chase bertemu dengan bibirnya. Ia hanyut dalam gulungan gelombang tipis kenikmatan yang hangat dan tanpa henti saat Chase menariknya ke pangkuan dan mereka berciuman, lagi, lagi, dan lagi, persis seperti bayangan yang Dea coba abaikan selama ini.
Bagaimana ia bisa menolak sesuatu yang rasanya begitu nikmat? pikirnya, tapi itu adalah pikiran jernih terakhirnya untuk waktu yang lama.
"Kurasa sekarang saatnya kita melucuti pakaian, ya kan?" akhirnya Chase berkata dengan suara bergetar.
Butuh beberapa lama karena mereka berhenti beberapa kali untuk berciuman dalam perjalanan tapi akhirnya Chase berhasil menarik Dea masuk ke kamar, memeluknya, dan merapatkan punggung Dea di pintu. Mereka berciuman semakin dalam hingga Dea tersengal dan melayang karena gairah. Ia gemetar membuka kancing kemeja Chase, menariknya lepas dari celana hingga ia dapat menyelipkan tangan dipunggungnya yang telanjang dan mencium leher Chase, sementara tangan Chase terus bergerak di sekujur tubuh Dea.
Chase sedang mencoba mencari jalan untuk melepaskan baju Dea dan akhirnya berhasil menemukan ritsleting di bawah lengan.
"Ah!" gumamnya puas, mencium Dea sepanjang pundak, dan menurunkan ritsleting setelah sesaat frustasi membuka kaitannya. Tapi akhirnya ia berhasil melepaskan gaun itu dan membiarkannya jatuh di seputar kaki Dea.
Kemudian mereka berdua melintasi ruangan, berciuman dan melucuti sisa pakaian mereka sambil bergerak, sampai akhirnya jatuh bersama ke ranjang. Dea lupa diri dan ia tidak peduli. Yang ada hanya tubuh Chase dan sentuhan kulitnya, hanya tangannya yang dengan kuat dan pasti membuka dirinya, mulutnya membuat Dea mendekatkan diri padanya. Perbedaan di antara mereka terlupakan dalam gairah yang mengentak, saat mereka bergerak bersama dalam irama degup semakin cepat yang hanya berakhir setelah Dea merasa semua indranya meledak dalam kenikmatan.
Sesudahnya, mereka terbaring kehabisan napas, tubuh Dea masih merinding karena kenikmatan tadi. "Kurasa kita baru saja membuat May dan Ron sangat senang," katanya setelah sanggup berbicara.
"Siapa peduli dengan mereka?" gumam Chase di leher Dea. "Kita baru saja membuatku sangat senang."
Hati-hati, pikir Dea saat hatinya jungkir-balik. Ini hanya percintaan jangka pendek. Tidak boleh melupakan hal itu. Tapi ia tidak bisa mengentikan tangannya mengelus punggung Chase, merasakan tubuhnya yang kencang dan bagaimana ototnya bereaksi merespons sentuhannya.
Ia meregangkan tubuh dengan nyaman di bawah Chase. "Aku sudah cukup lama membayangkannya," aku Dea, dan Chase mengangkat sedikit tubuhnya, bersandar pada sebelah siku hingga ia bisa melihat wajah Dea dan tersenyum perlahan.
"Aku juga. Sejak aku tiba di Mackinnon dan melihatmu berdiri di sana dengan sepatu hak tinggi dan hidung terangkat."
"Aku tidak percaya!"
"Yah, mungkin bukan tepat pada saat itu," aku Chase, mengelus rambut di wajah Dea, "tapi tidak lama setelah itu. Pastinya setelah kita pergi ke danau."
"Sayang kau tidak lebih cepat mengatakannya."
Chase berguling menelentang. "Katamu kau tidak tertarik," ujarnya mengingatkan.
Masa sih Chase semudah itu menyerah!
"Aku tidak ingin hanya menjadi salah satu koki yang ada dalam barisan," kata Dea jujur, dan Chase menolehkan kepalanya yang terbaring di atas bantal. Di bawah cahaya bintang, Dea bisa melihat air muka Chase yang serius.
"Kau tidak akan pernah sama dengan mereka, Dea."
"Tidak apa-apa." Dea tiba-tiba takut ia terlanjur membuka diri terlalu banyak. Sangat mudah, misalnya, bagi Chase untuk menyalahartikan cara Dea menyerukan namanya. Caranya meraba seluruh tubuh Chase penuh gairah. Caranya mencium Chase seolah-olah ia mencintai pria itu.
Chase tidak boleh berpikir begitu. Itu akan merusak segalanya.
"Aku bukan mengatakan bahwa aku berbeda," Dea berkeras. "Aku akan segera pergi, dan ini hanya urusan fisik, kan?" Jika ia cukup sering mengatakannya, mungkin dirinya akan percaya.
"Ya." jawab Chase setelah diam sesaat.
"Inilah aku, akhirnya hidup dalam bahaya!"
"Tidak terlalu berbahaya, kita tadi berhati-hati."
"Bukan itu maksudku. Maksudku melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya dan apa yang akan terjadi di masa depan, dan kau tahu?" kata Dea, menggeser tubuh hingga ia bisa menelusuri perut Chase yang rata dengan tangannya. "Rasanya sangat menyenangkan. Bahkan lebih dari menyenangkan. Rasanya sungguh luar biasa!"
Chase menarik punggung Dea mendekat sembari membiarkan jarinya membelai menggoda. Saat ini ia tidak akan berpikir tentang masa depan. Karena saat ini Dea ada dalam pelukannya, dan itu sudah cukup. "Tentu saja!" gumamnya.
Dea melayang melalui beberapa hari berikutnya, hanyut dalam rasa hangat yang memuaskan. Ia melarang dirinya berpikir tentang masa depan. Ia tidak bisa memikirkan hal lain kecuali datangnya malam, dan Chase dengan tangannya yang kuat, tubuhnya yang kokoh, dan mulutnya yang memabukkan. Begitu melihatnya saja, seluruh tulang Dea luruh dalam gairah. Rasanya sulit dipercaya bahwa ia tidak pernah menyukai Chase dan menganggapnya sama sekali tidak istimewa.
"Kenapa sekarang kau tidak pernah meluruskan rambutmu?" tanya Chloe suatu pagi.
"Aku tidak punya waktu lagi karena Emily tidak ada," jawab Dea tanpa menatap mata Chloe. Sebenarnya ia tidak meluruskan rambutnya karena Chase senang membelitkan jari dalam ikal-ikalnya.
Chloe masih curiga dengan tingkah Dea yang tidak biasanya. "Sekarang kau selalu bersenandung," tuduhnya.
"Itu karena aku bahagia."
Dan hal ini memang benar. Banyak keuntungan yang didapat dari hubungan jangka pendek tanpa arti, kata Dea pada diri sendiri. Tidak ada keruwetan, tidak ada rasa waswas karena bertanya-tanya bagaimana perasaan Chase sebenarnya. Mereka tidak mengharapkan apa-apa dari satu sama lain, cukup menikmati saja bagaimana segala perbedaan mereka larut dalam malam-malam manis penuh gairah yang membuat jantung berhenti berdetak.
Jika sesekali pikiran Dea melayang kepada apa yang akan terjadi setelah waktunya di Callula Downs habis, pikiran itu segera dienyahkannya sebelum mewujud, dan ia menutup benaknya rapat-rapat dari bayangan akan mengucapkan selamat tinggal.
Chase juga tidak pernah membahas hal itu. Kenapa ia harus membahasnya? Mereka kan tidak saling mencintai, Dea mengingatkan dirinya sendiri. Hubungan mereka semata-mata atas dasar fisik, mereka berdua tahu itu, dan untuk saat ini, hal itu cukup.
Percintaan mereka semakin lama semakin luar biasa. Dea sangat terpengaruh oleh sentuhan Chase, oleh mulutnya, oleh tubuhnya. Chase membuatnya merasa cantik, seksi, dan bergairah dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan Phil. Setiap malam ia duduk di seberang Chase, tubuhnya bergejolak menanti malam yang menjanjikan, dan ia menginginkan para pekerja itu segera menghabiskan puding mereka dan pergi.
Pada pertengahan minggu, Dea sama sekali hilang kesadaran akan waktu karena siang dan malam bergerak lamban bergantian.
Bersambung...