Anima dan Presdir A. tidak pernah berniat untuk menikah, jika bukan karena kesalah pahaman tante Amira yang mengira Anima dan anaknya itu melakukan hubungan terlarang. Melihat dari sisi Presdir A. yang sebenarnya tidak cukup kenal dengan Anima. Dan dari sisi Anima yang sepertinya agak sedikit kaku karena sepupunya itu sangat dingin dan cuek. Lalu bagaimana jadinya kalau keduanya harus rela mempertahankan pernikahan demi adik Anima yang menginginkan keduanya tetap bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Menemuinya
Ketika cipratan air membasahi bagian muka Anima dengan perlahan, dan suara getaran alarm membuat perlahan kesadaran Anima bangkit. Tapi ia tidak langsung membuka matanya, karena jelas matanya masih ingin terpejam apalagi ia tahu kalau tidurnya tidak terlalu lama. Tapi getaran itu seolah memaksa Anima untuk bangun, makannya ia segera meraih barang apa saja untuk mengetahui sekarang pukul apa saja. Setelah dirasa menemukan benda pipih itu, ia melihat sekarang pukul tiga dini hari. Dan ia juga sudah berniat untuk salat sunnah tahajud.
Anima perlahan mengedarkan padangan dan begitu kesal ketika melihat bocah kecil itu yang menciptakannya air dengan air minumnya sendiri. Aldado sedang tersenyum polos melihat Anima yang baru saja bangun.
"Kamu udah bangun, jam segini?" tanya Anima sambil melihat ke arah jendela yang jelas masih terlihat malam. Anak ini memang sering sekali bangun kalau sudah mimpi buruk. Tapi sekarang ia nampak ceria, seperti memang tidak sengaja bangun di tengah malam. Tapi Anima berniat mengajarkan anak ini untuk menurut, dan salat juga.
"Iya kakak, tadi aku teringat nenek maksudnya ibu," kata Aldado sambil terduduk di kasur Anima dengan wajah cemberut yang membuat Anima gemas. Ia tahu Aldado mungkin merindukan nenek maksudnya ibunya, sebenarnya Anima juga lelah dengan status itu. Tapi ia akan sekuat tenaga melindungi Aldado dan hak - haknya.
"Kenapa kamu tiba - tiba ingat sama dia?" tanya Anima ingin tahu, dan meringankan rasa rindu Aldado yang pastinya akan merengek jika terulang lagi. Mau jam berapapun kalau ia sudah kangen, pasti harus di kabulkan.
Aldado menggeleng seperti tidak mau memberitahukannya pada Anima, jelas ia marah pada kakaknya itu. Jelas wajah cemberutnya memberitahukan semuanya. Hanya saja untuknya anak itu tidak meminta Anima mengirimnya pada ibunya sekarang.
"Kamu cemberut kenapa sih, boleh ceritakan dulu sampai kakak bantu kabulkan keinginan kamu," ucap Anima sambil mendekati Aldado dan memeluk tubuh kecil itu seperti seorang ibu mengasihani anaknya. Aldado nampak tidak mau menjawab dan menghindar.
"Aldado kangen kakak dan kepengen main lagi di rumah itu, di rumah kita sambil bermain mainan Aldado. Ayok ka pulang," ujar Aldado sambil merajuk dan meraih tangan Anima untuk mengajaknya ke suatu tempat. Ia ingin kembali ke rumah Anima yang dulu.
"Nanti pagi kamu pulang ke rumah ya, kakak antar sampai kamu selesai makan, baru kakak kerja ke kantor gimana?" tawar Anima tapi bocah itu malah menggeleng seolah opsi itu sama saja dengan keberadaannya di sini. Jelas ia hanya ingin Anima kembali Anima dulu, dan sering meluangkan waktunya untuk Aldado. Tapi sekarang Anima sudah berkerja dan punya suami, ia tidak bisa memperhatikan Aldado sepenuhnya. Itu juga untuk masa depan Aldado nantinya.
"Enggak kak, kakak keluar lagi aja dari kantor. Terus kakak kita bisa main tiap hari di rumah sama bibi dan teman - teman ku," Aldado nampak merengek suara rengekannya itu mampu membuat Alvenjair terbangun. Jadi Anima segera menenangkan bocah itu dengan menutup mulutnya.
"Sayang udah," bujuk Anima dengan senyum yang mampu membuat Aldado berhenti. Senyum manis itu jelas sangat membuat Aldado terhibur, karena kakaknya ini terlihat imut.
"Mendingan sekarang kita habiskan waktu berdua gimana? Tapi paginya kakak harus berangkat, nanti kakak kirim kamu ke ibu," ucap Anima meyakinkan. Aldado menghembuskan nafas pasrah lalu mengiyakan meskipun hanya separuh hati.
"Iya," jawab Aldado yakin.
"Ya udah kita salat dulu ya, kamu kakak ajarin shalat gimana mau?" tanya Anima dengan wajah berseri - seri yang membuat Aldado bersemangat.
"Mau," jawab Aldado ceria seperti tidak tahu apa - apa.
Anima membawa Aldado ke kamar mandi, mengajarkan wudhu dan fardu. Meskipun nampak ngantuk Aldado tetap mendengarnya. Setelah dirinya wudhu juga Anima langsung segera membawa Aldado ke tempat shalat yang ada di sebelah kamar Alvenjair, bukan tempat shalat ini adalah perpustakaan suaminya. Anima mengelar dua sejarah yang besar dan kecil, sembari memasangkan Aldado kopiah dan baju koko. Lalu ia duduk di depan Aldado di atas sajadah, lalu menggunakan mukenanya.
"Kamu ikuti kakak shalat ya, jangan ketawa dan jangan nangis, karena ketika salat kamu dilarang melakukan itu. Karena kamu sedang berdoa, karena kamu belum hafal, biar kakak yang bimbing," ucap Anima mengajarkan Aldado shalat. Tapi karena ia masih kecil jadi Aldado hanya mengangguk saja.
Anima mengawali shalat dengan niat dan melanjutkan shalat Sunnah tahajud itu. Sebenarnya setalah ini sembari menunggu shubuh ia akan mengajarkan Aldado ngaji. Anima nampak khusyuk dan Aldado juga menuruti semua perintah kakaknya, jadi terciptalah keheningan hanya sedikit suara dari bacaan shalat Anima. Diluar kamar nampak pintu perpustakaan itu terbuka sedikit, sehingga Alvenjair yang mengintip bisa melihat dengan jelas. Betapa rukunnya Anima dan Aldado, yang sudah Alvenjair anggap sebagai anak dan istrinya. Tapi Alvenjair merasa tersanjung atas itu semua itu, memang saat ini dirinya bukan lajang lagi. Dan sudah menikah dengan baik - baik Alvenjair jadi merasa malu karena dirinya tidak shalat, seharusnya dia mengimami mereka. Tapi apa Alvenjair bersedia melakukan itu semua, Alvenjair juga tidak yakin.
Semua itu karena Syakila gadis yang setia di hatinya. Dan gadis yang sudah mengacaukan masa depannya dengan memilih pria lain, meskipun telah lama Alvenjair bersamanya. Gadis yang perlahan masuk dan membuatnya menjadi pria dingin yang tidak banyak bicara. Alvenjair berjanji akan menyelesaikan ini semua. Mengikhlaskan kepergiannya, dan memintanya untuk menjauhinya.
Tapi ini bukan untuk Anima, ini untuk citranya sebagai suami. Dan juga untuk menjadi suami yang lebih baik dari biasnya, setidaknya menghapus nama wanita lain di hatinya.
Setelah itu Alvenjair nampak kembali ke kamar, karena niatnya hanya melihat apa yang dilakukan Aldado dan Anima di malam seperti ini.
**
Tiga jam kemudian matahari segera menampakan sinarnya bahkan tanpa disadari Aldado yang sekarang masih terlelap. Karena kecapean akibat ia diajarkan ngaji oleh Anima, tapi Aldado sungguh terhibur dan ingin bisa ngaji. Berbeda dengan Anima yang sudah rapi menggenakan pakaian kerja, dan memasuki kamar Aldado. Ia ingin Aldado tahu kalau pagi ini ia akan menemui ibunya.
"Kamu mau ikut ke rumah ibu nggak, katanya mau pulang?" tanya Anima pada bocah yang tertidur itu.
"Dek bangun udah mau berangkat nih, katanya mau pulang," kata Anima sambil mengguncang tubuh kecil Aldado. Sontak saja ia terkaget dan membuka matanya dengan perlahan.
"Kakak mau ke rumah dulu," rengek Aldado lagi. Yang membuat Anima segera membawanya ke kamar mandi dan memandikan anak kecil itu dengan air hangat. Karena ia juga harus terlihat rapi ketika bertemu ibunya, setelah itu ia memakaikan Aldado baju ganti dan memakaikannya penghangat badan juga bedak tabur.
"Wangi banget kak," ucap Aldado sambil menghirup aroma parfum Anima yang kemarin lalu di belinya. Anima langsung membawa bocah lima tahun itu keluar kamar, dan membantunya sarapan. Ia juga sarapan di meja makan bersama Kencani, Alvenjair dan Darla.
Saat ini memang Alvenjair sangat buru - buru terlihat jelas kalau ia sarapan dengan kencang dan sudah mengenakan pakaian kantor yang rapih. Anima hanya memerhatikan tanpa berniat bertanya, ia selalu paham kalau suaminya ini punya kerjaan di kantor. Diketahuinya kalau kemarin ia baru saja menandatangani untuk pembuatan reset yang baru.
"Alvenjair kamu buru - buru amat, biasanya Anima duluan. Kamu ada urusan apa?" tanya Kencani ingin tahu. Ia yang selalu tahu masalah anaknya.
"Aku mau ke kantor ma ada meeting dadakan dan ada yang harus aku temui di kantor," jawab Alvenjair dengan senyum kecil. Alvenjair memang ada banyak meeting termasuk meeting pagi jam tujuh sekarang. Tapi ia juga ada waktu untuk berbicara dengan Syakila secara tatap muka. Makannya harus lebih pagi.
Kencani hanya mengiyakan tatapannya langsung pada Anima, "Kalau kamu Anima tumben banget udah rapih banget, dan kenapa Aldado juga ikut rapih ini masih pagi lho," ucap Kencani.
Anima hanya tersenyum, "Aku mau nganter Aldado ke rumah katanya mau balik dulu, nanti dia bakalan sering main ke sini kok. Em.. aku juga harus bangun pagi biar tepat waktu datang ke kantor," jawab Anima.
"Ya ampun sayang ngapain kamu balik ke rumah itu, kamu udah nggak sayang lagi ya sama tante Kencani?" tanya Kencani manja pada Aldado namun anak itu hanya cuek bebek saja yang membuat mereka tertawa bersama.
"Mau pulang, Aldado sayang sama mama Kencani. Tapi kangen ibu," jawab Aldado cadel yang membuat Kencani tersenyum penuh arti dan langsung memeluk anak itu. Ia menghampirinya dan memberikan kecupan di kedua pipi tembam Aldado.
"Kenapa nggak pulang sama tante saja, sama mobil pribadi Tante yang BMW kamu suka kan?" tanya Kencani dengan antusias. Sayangnya Aldado hanya bisa cemberut, seolah tidak suka dengan tingkah Kencani satu ini. Ia beneran bosan dengan rumah ini.
"Enggak mau sama kakak aja," ujar Aldado sambil merengek manja dan menarik kemeja baju Anima untuk segera pergi. Lantas Anima segera menyelesaikan sarapannya. Ia juga membawa tas kerjanya dan membawa Aldado untuk keluar rumah. Sebelumnya ia juga sempat pamitan, dan langsung pergi ke halte terdekat mencari taksi.
Sama halnya dengan Alvenjair yang sudah selesai sarapan. "Ma aku berangkat sekarang ya," ucap Alvenjair sambil merapikan buku dan berkas dan memasukannya ke dalam tas kerjanya. Kencani mengangguk, lantas Alvenjair mencium tangan Kencani dan Darla sebelum keluar rumah.
Ia memasuki mobilnya dan segera meminta supir untuk mengantarkannya ke kantor. Supir langsung menginjak pedal gas menuruti keinginan bosnya. Di persimpangan jalan Alvenjair menemukan Anima yang sedang menunggu taksi, terdapat senyum manis di bibirnya ketika melihat gadis itu. Rasnya hatinya memanas dan detak jantungnya tidak terkendali. Apa kehadirannya saat ini, begitu berpengaruh pada hatinya?
**
Suara orang bergemuruh ketika melihat mobil van hitam yang mengilap terparkir di depan perusahaan Alvenjair. Itu terjadi karena sebentar lagi mereka akan melihat seseorang yang tak lain adalah Presdir A keluar dari mobil itu. Kalau bukan karyawannya siapa lagi yang memuja ketampanan Presdir A tersebut. Langsung saja semua pasang mata yang melihat begitu keluar Alvenjair dari mobilnya langsung membelalak, setelan jas kerjanya hari ini hanya balutan toxedo dan kameja tipis dengan celana mode kekinian yang membuatnya nyaris seperti pangeran dari negeri dongen. Tapi pria itu langsung meninggalkan parkiran di ikuti dengan ajudan - ajudannya.
Alvenjair berjalan dengan gontai memasuki perusahaan yang ia pimpin. Dan tepat di aula lantai pertama ia nampak celingukan mencari seseorang yang sudah familiar di matanya. Tapi karena tidak menemukan gadis itu Presdir A langsung menyentuh pundak salah satu ajudannya.
"Kemana perginya Syakila sekarang, saya membutuhkannya sekarang," bisik Alvenjair dengan penuh penekanan seperti tidak mau lama menunggu keberadaan gadis itu. Lantas ajudan yang paling tinggi itu mencari sosoknya. Tapi yang pasti dia tidak ada di sini.
"Baik Presdir akan saya cari," ucap ajudan itu sambil menunduk lalu meninggalkan Presdir dengan tampang tidak mau tau. Setelah menunggu hampir lima menit lamanya, karena ajudan itu adalah kepercayaan Presdir A, ia datang dengan tangan kosong.
"Saya meminta kamu untuk mencarikannya," heran Alvenjair sambil mengepalkan tangannya. Entah mengapa sedari dulu Alvenjair tidak pernah suka jika nama Syakila di libatkan oleh ajudan - ajudannya. Rasanya terlalu berharga, mungkin sampai rasa dihatinya hilang ia akan melihat Syakila seperti yang lainnya.
"Maaf Presdir tapi sepertinya dia sedang berada di taman dekat lobby, ada yang mau anda sampaikan?" tanya ajudan itu dengan sedikit bingung.
"Biar saya kesana sendiri," jawab Presdir A lalu meninggalkan tempatnya sekarang ke taman lobby yang disebut ajudannya. Di taman lobby Presdir A melihat Syakila sedang melihat - lihat tanaman yang ditanam di sana. Lalu Alvenjair menghampirinya dengan perlahan.
"Maaf mengganggu Sya, boleh saya berbicara dengan mu?" tanya Presdir A jelas dengan suara yang gugup. Syakila langsung menoleh meski awalnya ia sempat tidak bisa menahan senyumnya karena dirinya bisa berduaan lagi dengan Presdir A. Setelah seharian berpikir apa menariknya Anima sampai bisa menjadi sekretaris Presdir A.
"Boleh," jawab Syakila pura - pura polos tapi Alvenjair belum bisa membenci sikap manja itu.
"Saya mau memutuskan kamu sekali lagi Sya, dan tolong jangan mengenal saya lagi. Karena kita telah berakhir, dan semua itu tidak dapat di ulang lagi," ucap Presdir A tanpa basa - basi. Syakila nampak termangu namun jelas hatinya hancur.
"Kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Syakila ingin tahu dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya. Sungguh Alvenjair tidak menyukai ini.
"Maafkan aku, semenjak dulu aku tidak pernah mencintai kamu. Sekarang aku tahu itu karena aku terlalu obsesi karena tidak dekat dengan cewek manapun," jawab Alvenjair dengan penuh tekad. Tekad melupakan semuanya dan beralih pada kehidupannya sekarang.
"Apa jadi kamu sudah punya cewek lain, apa itu Anima gadis yang pendiam itu?" tanya Syakila menggebu - gebu.
"Terlepas siapa yang ada di hatiku sekarang, mau itu Anima atau bukan. Jangan ganggu aku lagi, dan jangan menyentuh kehidupan Anima!" jelas Presdir A dengan tegas dan menatap Syakila dengan mata penuh tekad. Seperti kalau Syakila membantah ia akan menerima akibatnya. Dan Syakila hanya mampu menutup mulutnya ketika langkah lebar Presdir A meninggalkannya sendiri, dengan wajah yang ingin menangis.
**