Indonesia
NovelToon NovelToon
Pergi Untuk Melupa

Pergi Untuk Melupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Persahabatan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Been

Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.

follow ig: @rohidbee07

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua Akan Terbiasa

Aku sudah berpikir ... sebagai seseorang yang terutama menggunakan Instagram untuk menulis, muncul di Facebook merupakan sebuah angin segar. Sejujurnya aku tidak tahu apakah aku akan menikmatinya, tetapi pendapatku pasti berubah. Ada suasana yang berbeda di sini dan aku sangat menghargai rasa kebersamaan dan dukungan. Akhir-akhir ini, Instagram terasa seperti panci bertekanan tinggi. Mungkin, karena budaya hiruk—pikuk yang selalu ada di wajahku.

Bisa jadi karena aku di—hadapkan pada konten yang secara tidak langsung memberi tahuku bagaimana aku harus berbicara. Mungkin, karena tingginya persaingan yang mendorong aktivitas sehari-hari. Mungkin karena aku berulang kali teringat akan ratusan buku yang dibuang oleh pencipta lain seolah-olah tidak ada apa-apanya.

Aku telah mengerjakan buku pertamaku yang berisi prosa dan refleksi singkat, terus-menerus selama beberapa tahun sekarang. Aku mengubah tema dan arah buku beberapa kali. Ada beberapa hal yang telah aku tulis dan aku hapus seluruhnya. Ada bulan-bulan di mana aku tidak menulis apa pun dan ada hari-hari ketika aku mungkin hanya menyusun dua atau tiga baris kata.

Aku tidak selalu termotivasi atau terinspirasi, dan aku tidak malu mengakuinya. Aku sering ditanya di Instagram kapan buku itu akan dirilis, dan aku belum punya jawaban pasti. Aku memberi tahu orang-orang bahwa buku itu akan siap jika sudah siap. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang mengeluarkan sesuatu demi hal itu.

 Aku ingin apa yang aku hasilkan benar-benar bermakna bagiku dan bukan hanya bagi pembaca.Jika itu membutuhkan lebih banyak waktu di pihakku biarlah. Idealnya aku ingin menyelesaikannya dalam waktu dekat, namun aku tidak akan menyalahkan diri sendiri karena tidak berada di tempat yang aku inginkan.

***

"Abang kebiasaan setiap di ruang tamu bengong! Itu kopinya dingin tahu, Kak," celetuk Rina menyadarkanku dari lamunan.

"Ehh ... Rina sejak kapan kamu di samping, Bang?" balasku kaget melihat Rina mengejutkanku.

"Sejak negara kita merdeka, Bang hehe."

"Hmm, kamu ini ada-ada aja, Rin."

"Iya adalah, Bang. Lagian sih Bang Raihan ngelamun terus, memang lagi mikirin apa? Jangan bilang mikirin Kak Alinda?"

"Ti—tidak kok, Rin. Aku hanya memikirkan Ibu saja!"

"Loh kenapa mikirin Ibu, Bang?" tanya Rina keheranan.

"Semenjak Bapak tidak ada Ibu jadi lebih pendiam dan tidak ceria seperti dulu, Rin."

"Hmm, iya sih Bang. Rina ngerasa itu bener, apa Ibu merindukan Bapak, Iya?"

"Tentu saja, Rin. Bagaimana mungkin, seorang yang dia cintai dan banggakan dilupakan begitu saja."

"Apa Ibu suruh nikah lagi aja, Bang?"

"Hushhh ... kamu ini bicara asal saja, Rin! Tentu Abang belum siap dan enggak mau Ibu salah memilih pasangan hidup. Iya sebagai anak kita harus memahami hal itu, tetapi alangkah baiknya kita pertimbangkan hal ini. Bagi Abang, Bapak tidak tergantikan posisinya di hati kita semua."

"Hmmm, maafin Rina, Bang! Rina mengerti maksud Bang Raihan. Aku harap sebelum kita memutuskan menikah dan berkeluarga masing-masing, Ibu sudah menikah lebih dahulu, Bang."

"Iya, Rin. Ta—tapi kamu masih sekolah, kok pikiran kamu terlalu jauh ha-ha," kelakarku menggoda Rina.

"He he iya engak apa-apalah, Bang. Lagian perempuan jauh lebih dewasa pemikirannya dari laki-laki. Apa Abang lupa?"

"Iya juga sih, Rin. Pinter Adikku ini!"

"He he siapa dulu, Rina! Oh, iya Abang udah makan siang?"

"Hemm mulai ... mulai! Belum sih, Rin. Lah kamu udah makan?"

"Belum juga sih, Bang. Kayanya Ibu belum masak deh, dia buru-buru jualan gorengan di alun-alun kota."

"Iya udah enggak apa-apa, Rin. Kamu mau makan apa?"

"Kayanya mau makan bakso atau mie ayam deh, Bang."

"Iya sudah nih beli, di tempat langganan Abang!"

"Iya mana duitnya, Bang?"

"Itu ambil di atas lemari es kembalian tadi beli bensin!"

"O—oke, Abang mau pedas apa original?"

"Pedas aja kali, Rin! Soalnya cuaca lagi dingin."

"Siap, Bang.

***

Aku bukanlah mesin dan tidak apa-apa untuk memperlambat gerak. Menonton orang-orang mempertahankan kesibukan mereka dan mencapai hal-hal besar adalah menginspirasi. Namun, jika aku tidak berhati-hati, itu bisa berubah menjadi keyakinan beracun tentang bagaimana hidupku seharusnya terlihat. Aku melihat pekerjaanku sebagai jalan buntu, namun aku bertanya-tanya mengapa aku tidaklah bahagia.

Justru itu membayar tagihan dan memiliki tujuan, tetapi jauh di lubuk hatiku tahu bahwa aku mampu lebih dan aku menginginkan lebih. Pikiranku memberi tahuku untuk tetap tinggal, karena itu lebih mudah—(daripada) memulai dari awal dan mencoba membangun sesuatu yang baru serta untuk mengejar mimpi baru. Aku terkadang lupa bahwa mimpi tidak terbatas.

Aku sembuh sedikit dan sedikit lagi sampai aku tiba di tempat di mana orang-orang atau hal tidak lagi mempengaruhiku seperti sebelumnya. Bisa jadi ini adalah proses bertahap, tetapi kadang-kadang atau bahkan aku menemukan diriku melangkah mundur sebelum dapat melangkah maju lagi. Aku mungkin pemicu atau mengingat peristiwa tertentu secara tak terduga dan itu selalu ada di tanganku. Maka berilah diriku kesabaran dan kasih sayang selama prosesku.

Tindakan memaafkan diriku sendiri telah menjadi bagian intim dari pekerjaan penyembuhan diriku sendiri. Aku tidak selalu akan memiliki jawaban dan memperbaiki semuanya. Usahaku tidak selalu akan berubah secara total. Namun, mencoba adalah yang terbaik yang bisa aku tanyakan pada diriku sendiri. Merangkul tinggi dan rendah dan membiarkan hal-hal mengalir secara alami, menghilang tekanan dari kebutuhan—untuk muncul dengan cara tertentu atau demi memiliki semuanya untuk aku pahami.

Pastikan satu hal tidak ada yang berutang apa pun kepadaku. Jadi, ketika seseorang melakukan upaya aktif untuk menunjukkan kepadaku bahwa mereka peduli—segeralah aku tanggapi dengan serius. Karena, meskipun tampaknya tidak banyak bagi seseorang untuk hadir bersamaku, itu sangat berarti bagi mereka. Tentu mereka melakukannya, karena itulah yang menurut hati mereka secara alami terpanggil untuk melakukannya.

Bisa jadi hati seperti ini pantas diperlakukan hanya dengan cinta. Sangatlah istimewa berada dalam pikiran seseorang. Aku hanya berharap jika aku mengenal seseorang yang terus-menerus menuangkan cinta ke dalam perasaanku, aku sama-sama memeriksa dia dan menunjukkan kepada dia bahwa aku peduli. Ada kemungkinan besar tidak banyak orang yang menunjukkan cinta yang sama kepadaku, sehingga gerakan yang tampaknya kecil bisa sangat samar sekali untuk dirasakan.

"Ini, Bang pesanannya!"

"Wah ... kayanya enak tuh, Rin"

"Kayanya sih enak, Bang. Tapi, jangan menilai dari tampilannya aja."

"Kamu mencoba melakukan banyak hal untuk seseorang tersebut, mencoba agar membuatnya jauh dari kata kesepian dan berusaha supaya dia selalu terlihat. Sementara kamu kini telah sadar, setelah jauh-jauh hari terlambat menyadari itu—bahwasanya kamu sesuatu yang rentan buat dilupakan."

-Rohid Bachtiar

1
Cita Anastasya
Impian anak ingin membahagiakan ortunya thorrr
Cita Anastasya
raihan bucin parah sama alinda wkwkwk 😁
Penulis Buku
Semangat updatenya ceritanya bagus;(
Penulis Buku
👍👍👍
Penulis Buku
semangat berimijansi!!!!!!!
Penulis Buku
Rekomendasi buat yang diksi puitis😅
Penulis Buku
lega jika di utarakan ⚡🔨
Penulis Buku
mantap ceritanya😀
Penulis Buku
nicee
Penulis Buku
sendu
Penulis Buku
Keren thor
Penulis Buku
keren diksinya, thorr
Cita Anastasya
quotesnya bgs!
Cita Anastasya
semangat Thor ceritanya kerennnn!
Cita Anastasya: Sama-sama
total 2 replies
Cita Anastasya
Yuhu bahagaia ending.
Cita Anastasya: hehe iya kk
total 2 replies
Bintun Arief
benaaaar, alangkah mengerikannya menjadi dewasa. Andaaaiiii waktu bisa berhenti saat aku masih bersama ayah dan kakak laki2ku thor, alahai jadi curhat 🤣
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?
Rohid Bee: ada sdkit Kak hhe
total 1 replies
Cita Anastasya
😉😉😉
Rohid Bee: /Smile/
total 1 replies
Cita Anastasya
😔😔
Rohid Bee: /Chuckle/
total 1 replies
Cita Anastasya
✍😂
Rohid Bee: /Applaud/
total 1 replies
Cita Anastasya
next ⚡🔨
Rohid Bee: 👌ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!